Monday, July 27, 2015

Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi (Wahabi)?

"Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi (Wahabi)?" - Kok Bertanya, Lupa Sejarah Ya?

Sebenarnya, "Pembuka Pintu" persatuan sebenarnya ada di tangan "Salafi". Orang NU (perwakilan Aswaja) sudah mengasih kunci untuk membuka pintu persatuan, namun tetap saja selalu dibuang kuncinya oleh mereka, tidak dibuka-buka pintunya. Sudah bertahun-tahun, di Indonesia, orang Salafi tidak mau membuka pintu persatuan. Sampai sekarang, dan sekarang malah makin menjadi dengan (seolah) membuat pertanyaan, "Kenapa NU Tidak Mau Bersatu?" Lah, antum lupa sejarah atau memutarbalikkan sejarah?

Yang jadi Kiai NU, Ustad NU, mohon lah jangan mengaburkan pembahasan dan seolah yang membuat ketidakbesatuan adalah kaum NU. Mereka banyak mengutip ucapan-ucapan Kiai, Ustad untuk menguatkan mereka. Padahal fakta di lapangan ada, dan banyak kasus "Pembid'ahan dan Pengkafiran" - tanpa perlu menjelaskan dan mencap bahwa itu kaum wahabi/salafi - terhadap ajaran kaum NU. Jelas, inti penentangan dari kaum NU adalah ajarannya bukan nama atau merek. Kebetulan yang bersiulan adalah kaum wahabi. Kalau bukan wahabi, terus siapa? Syiah? Syiah jelas masuk dalam daftar kaum "lawan", sama seperti wahabi.


Silahkan cek perbandingan antara NU (Pro Bid'ah Khasanah) dan Salafi (Anti Bid'ah Khasanah):

NU:
1. Kaum Ta'wil (memalingkan makna) Silahkan - Kaum Tafwid (penyerahan makna) Silahkan = Khilafiah
2. Tahlilan Silahkan - Tidak Tahlilan Silahkan = Khilafiah
3. Mauludan Silahkan - Tidak Maulidan Silahkan = Khilafiah
4. Tawasullan Silahkan - Tidak Tawasullan Silahkan = Khilafiah
5. Tabarukkan Silahkan - Tidak Tabarukkan Silahkan = Khilafiah
6. Bermadzhab Silahkan - Tidak Bermadzhab Silahkan = Asal Jangan Jadi Sumber Perpecahan
7. dll

Salafi-Wahabi:
1. Kaum Ta'wil (memalingkan makna) Bid'ah - Kaum Tafwid (penyerahan makna tapi embel-embel pemakhlukan) Haq = Anti Khilafiah
2. Tahlilan Bid'ah - Tidak Tahlilan Haq = Anti Khilafiah
3. Mauludan Bid'ah - Tidak Maulidan Haq = Anti Khilafiah
4. Tawasullan Syirik - Tidak Tawasullan Haq = Anti Khilafiah
5. Tabarukkan Syirik - Tidak Tabarukkan Haq = Anti Khilafiah
6. Bermadzhab Haram, Bahkan Bid'ah - Tidak Bermadzhab Haq = Malah Menjadi Sumber Perpecahan
7. dll

Apakah ini perbedaan untuk membangun persatuan? Apakah ini? Enak saja, kita menganggap dengan mereka hanya perbedaan furuiyah (cabang) tetapi mereka menganggapp perbedaan furuiyah ada furu yang dianggap bid'ah. Karena faktanya, dalam lapangan mereka membuat kegaduhan di tengah masyarakat, membuat fitnah yang tidak-tidak, umat seperti harus saling beradu.

Sadarkah wahai kaum yang mempertanyakan "Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi?" Sadarkah? Antum sendiri yang membuang kunci pembuka pintu persatuan. Antum sendiri yang membid'ahkan sebagian besar amalan NU. Antum sendiri yang menyesatkan atau bahkan mengkafirkan ajaran Asy'ariyah. Kenapa antum seolah seperti orang yang baru lahir, orang yang tidak tahu apa-apa? Apakah ini TRIK BARU untuk memuluskan ajaran antum-antum?

Sunday, July 26, 2015

Ektrimis Kaum Anti Islam Indonesia - Teks Dalam Tempurung Kaum Modernis

Kaum modernis ada berbagai macam aliran dan organisasi. Baik kaum modernis aliran liberal atau modernis aliaran radikal. Berbagai macam kaum modernis, namun pada intinya adalah "Anti Tradisi Bermadzhab 4". Namun, kaum modernis yang dimaksusd lebih kepada kaum "Tekstualis", yang bersifat tertutup, anti pluralis kebenaran dan cenderung radikal.

Bermula dari "Anti Madzhab 4". Menurut mereka tradisi bermadzhab adalah tradisi "jumud". Mereka tidak sadar, bahwa kejumudan itu datang ketika menganut "Anti Madzhab". Kenapa jumud? Karena tidak mengenal toleransi kebenaran, bersifat tertutup. Karena yang mengajarkan toleransi kebenaran adalah "Imam 4 Madzhab". Dan toleransi ini diwariskan kepada murid-muridnya, sampai sekarang. Sudah maklum adanya, menjadi tradisi, dimana mayoritas bermadzhab Syafi'i, maka yang bermadzhab Malik akan menghormati mereka dan lebih memilih untuk tidak membuat perubahan, begitu sebaliknya.

Namun berbeda, gara-gara kaum modernis datang ke Indonesia, di mana mayoritas itu adalah Safi'iyah, kaum modernis yang berjumlah minimal mencoba untuk membuat perubahan dan cenderung radikal. Setiap masjid, harus dikuasai. Kalau masjid tidak dikuasai kaum modernis, maka batallah solat berjama'ah dibelakang orang yang bermadzhab. Karena menurut mereka, bermadzhab adalah bid'ah dan haram berjama'ah dengan orang ahli bid'ah. Ahli bid'ah itu bangkai yang hidup, tidak ada nilainya.

Karena Imam madzhab mengajarkan kebolehan:
- Tradisi Tawasullan
- Tradisi Maulidan
- Tradisi Tabarukkan
- Tradisi Membuat Hal Baru yang Baik
- Tradisi Tahlilan (Trasnfer pahala)
- dll

Menurut mereka, tradisi-tradisi Islam yang subur di Indonesia akibat pengaruh imam madzhab, dianggap bid'ah dan mengajarkan syirik.

Imbasnya, segala yang berbau tradisi, khususnya tradisi di Indonesia dalam Islam, langsung alergi dan dianggapnya penyakit dalam agama Islam.  Tragisnya, mereka yang alergi tradisi seperti belum memahami makna tradisi dan budaya. Seolah tidak ada tradisi dalam Islam padahal Islam sebagai ajaran tradisi juga. Islam mengajarkan untuk mempertahankan tradisi "Hubungan Ketuhanan dan Hubungan Kemanusiaan (baik yang masih hidup atau mati)". Adapun variasi tradisinya bisa saja berbeda-beda. Termasuk tradisi bermadzhab.

Secara otomatis, mereka anti Islam Indonesia, Islam yang dibingkai tradisi-tradisi khas Indonesia yang tetap pada jalur Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Secara kajian ilmiah, siapa yang berotak jumud, beku, statis dalam berpikir? Kaum modernis yang anti madzhab atau kaum bermadzhab yang modernis?

Saturday, July 25, 2015

Resiko Jadi Wanita Cantik - Susah Tenang dan Bikin Bodoh

Ini era dimana dunia pacaran merajalela. Ketika wanita cantik berbaur dalam dunia yang didalamnya menjalankan aktifitas pacaran, maka kehidupan si wanita cantik harus siap "Digoda". Jelas, kata "digoda" bukan kata yang sepertinya tidak disetujui para wanita. Namun faktanya, dengan moto pria "Kalau cinta harus dipejuangkan karena siapa cepat dia dapat", maka si wanita akan mengalami ketidaktengan dalam hidup, diganggu terus, digoda terus. Jelas tidak tenang.

Siapa sih pria yang tidak mau memiliki atau berteman dengan wanita cantik? Wanita cantik ibaratnya adalah gula, maka akan berdatangan para penghisap gula. Wanita cantik selalu menjadi bahan rebutan. Setiap hari selalu datang orang-orang yang sekedar "Hai, jalan yuk" atau sebagai "usaha pemikat hati".

Bila tidak memutuskan siapa pacarnya, maka akan menjadi bahan rebutan dengan disertai ucapan menyakitkan, "Dasar sok jual mahal", "Berapa sih harga lu? Gue bayar?" "Cantik segitu saja, sombong.". Akhirnya, putuskan 1 pacar.

Namun, apakah masalah selesai? Tidak!

Siapa sih yang tidak percaya, "Kalau janur kuning belum melengkung, semua berhak untuk berharap?" Ya, kali saja si wanita cantik putus dengan pacarnya sehingga peluang rebutan dibuka kembali. Peluang untuk merebut pun sudah menjadi hal "Permainan Asyik". Sehingga, sembari menunggu jomblo, ya si pria melakuan aksi pemutusan hubungan secara halus. Sah dong? Pacaran kan haram? Kok pake dilarang merebut?

Resiko pacaran yang sudah dilakukan sejak dini, sejak masih remaja, tentu sering mengalami berbagai kejadian "putus pacaran". Dan terus berulang sampai dewasa, sudah mengalami banyak kejadian "putus pacaran". Berbagai perasaan buruk sudah tertampung penuh di hati dan pikiran. Artinya, bisa dilihat bahwa inilah resiko jadi orang cantik: Tidak tenang dengan kehidupan dan pergaulannya.

Tentu, resiko lain lagi adalah bisa bikin bodoh. Kenapa bikin bodoh? Ya elah, tiap hari dari sejak remaja sampai dewasa kerjanya pacaran melulu, cinta-cintataan melulu. Gimana gak bikin bodoh? Pacaran itu membuat seseorang mudah stres, ketimbang pertemanan. Bila mudah stress, vitalitas otak bisa menurun. Pantas, rata-rata wanita cantik itu bodoh.

Friday, July 24, 2015

Ektrimis Kaum Islam Indonesia - 'Itu Mah Bermain Sukuisme

Mengatasnamakan Islam Indonesia, jangan ektrim lah. Sampai berkata pada orang ahli jubah, imamah, ahli jenggot, ahli cadar, "Lah, kok Islam Arab?" Lah, siapa yang mengatakan Islam Arab? Ente sendiri kan? Jadi ente bermain Sukuisme. Orang Arab yang kental dengan ke-suku-annya, yang membedakan suku, tidak pernah berkata, "Anta Islamulindunnisi, Ana Islamularobi"

Memang ada yang salah dengan tampilan yang mirip Sayidina Nabi SAW dan Sayidah Fatimah? Lah, seorang mengucapkan, "Kok Islam Arab?" seolah ucapan yang benar padahal itu ucapan membeda-bedakan suku, negara. Padahal Islam, ya Islam Nabi SAW.

Cuma dalam pengembangan tradisi, ada amalan-amalan tertentu seperti yang sudah umum dilakukan. Tradisi dalam kelahiran, tradisi dalam pernikahan, tradisi dalam acara haul, tradisi dalam merayakan hari besar, dan sebagainya, memang ada perbedaan antara Indonesia dan Arab. Inilah yang disebut "Islam Indonesia". Islam yang memiliki tradisi-tradisi khas Indonesia sesuai pedoman "Ahlussunnah Wal Jama'ah".

Lebih jelas lagi, maksud Islam Indonesia adalah Muslim Indonesia yang mengamalkan ajaran keislaman khas lokal, menurut Kiai Ali (Imam Besar masjid Istiqlal, Pejuang Aswaja Indonesia).

Jadi bukan membeda-bedakan dalam segala hal dan membuat alergi yang berbau Arab. Kalau sudah ektrim, ya sudah berarti "Sukuisme". Nanti kata orang Arabnya, "La Islam Anta, Anta Min Indunisia..."

Arab memang bukan Islam tetapi Islam berasal dari Arab karena Nabi SAW adalah orang Arab. Jadi bukan arabisme tetapi muhammadisme. Tidak mau dianggap muhammadisme? Maunya apa? Yesusisme? Itu kan Yesus, Bukan Isa AS. Isa AS nabinya orang Islam bukan nabinya orang Kristen.

Dengan adanya orang-orang "Alergi Arab", kita patut pertanyakan tujuan mereka, "Apakah ini upaya pendangkalan simbolisasi keislaman di Indonesia untuk menyeimbangkan dengan agama lain yang miskin simbolsasi?"

Thursday, July 23, 2015

Islamisasi Akting Sinetron/Film

Saya tidak menjamin, ada sinetron/film yang "100% Islami" walau alur ceritanya sangat islami. Alur cerita mah, bisa dibuat sedemikian rupa tergantung keinginan sutradara dan bagaimana penulis naskah meraciknya. Namun yang jadi masalah adalah perjalanan pembuatan sinetron itulah yang perlu diperbaiki. Namun setidaknya, dengan mengislamisasi sinetron tidak terjadi "liberalisasi" terus-menerus sepanjang kemajuan (masa depan) zaman.

Sebagai contoh, salim (bahasa Buntet Pesantren: Sebah; Bahasa Indonesia: Salaman) anak dengan orang tua itu memang islami. Tapi lain ceritanya bila ini dikemas dalam sinetron, yang membutuhkan akting. Dalam dunia nyata, memang ini benar. Namun dalam dunia nyata aktifitas akting, ini yang menjadi masalah. Karena pemain yang menjadi anak dan orang tua belum tentu se-mahram (bukan muhrim karena muhrim artinya orang yang sedang ihrom).

Bila melihat cerita sinetron, rata-rata itu mengajarkan mengajak kebaikan dan menghindar keburukan. Ini yang sudah umum kita lihat. Dalam kasus ini, ini termasuk jenis sinetron yang islami walau tidak ada embel-embel ustad, ajaran agama, dll. Masalah ada berbagai kesalahan dalam memahami kebaikan, ini masalah pengetahuan si penulis. Dan, ini kan hanya "akting", salah atau benar, ya akting. Tinggal di awal-akhir cerita dituliskan, "Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka".

Jadi yang perlu diperbaiki adalah hasil atau aktifitas dalam akting sinetron. Seperti jabat jangan, ciuman, tidur satu kamar, mandi, dll.

Masalah jenis sinetron, kan sekedar cerita fiksi? Misal, akting menjadi "Abu Jahal", sah-sah saja (mungkin) bila kita berakting seperti Abu Jahal. Cuma karena berkaitan dengan hati (tetap saja walau akting, alam bawah sadar tidak kenal akting atau beneran), maka jangan dibuat seperti cerita Abu Jahal sesungguhnya.

1. Akting Salaman:

Walau akting menjadi anak dan orang tua, kalau bukan se-mahram, ya tetap haram. Karena tidak mengenal akting atau beneran dalam hal sentuhan. Cuma, zaman sekarang serba canggih dalam membuat ilustrasi jabatan tangan. Bisa saja tidak ada sentuhan namun dikasih "sensor" yang bertuliskan "Tidak Sentuhan". Atau bagaimana lah bisa diatur.

Kalau sinetronnya-nya berjenis komedi, lebih mudah lagi. Tinggal ada kalimat lucu,

"Nak, cuma akting, tuh lihat kamera. Jangan sentuhan dong"

"Eh iya mamah, lupa. Gak jadi deh... Ya udah, salaman ama kameramen, haha..."


2. Akting Berbusana:

Ilmu akting sudah canggih lah, bisa membuat akting berganti busaha tetap bagus walau tanpa perlu memperlihatkan kebugilan. Rata-rata sinotron di Indonesia, tidak menampilkan 100% ke-bugil-an. Hanya memperlihatkan dada, kepala, betis. Nah, kalau di islami lagi, maka tentu akan lebih bisa lagi.

Dalam berbusana, tentu harus memakai jilbab semua bagi pemain wanita yang terlibat walau cerita tidak menonjolkan 100% Islami. Walau menceritakan tentang kehidupan biasa, tanpa embel-embel agama, tentu tetap bisa menggunakan jilbab alias menutup aurot. Si pemeran antagonis, tetap bisa menggunakan jilbab, apalagi yang prontagonis.

Desainer sekarang sudah maju-maju dalam membuat rancangan baju menutup aurot sesuai karakter si pemilik dan kondisi wilayah.

Walau demikian, agak sulit sepertinya bila masalah busana. Karena, ada perbedaan agama pemain dan cerita sinetron. Perlu mikir panjang agar bisa melakukan hal ini.

3. Akting tidur bareng

Teknologi per-film-an sudah canggih. Seorang yang berakting menjadi kembar saja bisa berhadap-hadapan  dengan berbeda posisi. Ini tandanya bisa juga untuk digunakan akting tidur bersama. Hasilnya mah tidur bersama, tetapi tidak. Namun akting tanpa tidur bersama bisa dan sudah banyak yang melakukannya.

4. Akting Mabuk

Dalam sinetron "Preman Pensiun", tidak mengajarkan tentang minuman "beralkohol" dan "mabok". Masak, sinetron yang islami menonjolkan akting mabok? Lampiaskan saja ke kafe atau bagaimana lah, sambil seperti berekresi seperti orang yang sedang kepusingan menghadapi masalah. Jadi, tidak perlu pergi ke diskotik.

5. Akting pacaran dan berzina.

Namanya juga sinetron yang islami, masak menceritakan tentang dunia pacaran dan perzinahan? Realita mah realita, banyak orang pacaran dan berzina. Cerita pacaran dan perzinahan dalam sinetron bisa diatasi dengan "status" atau "cap" saja.

Apa ada adegan dua orang dalam kamar berdua sambil telanjang bulat? Saya rasa, KPI tidak bisa menyetujui sinetron yang seperti ini. Apalag sinetron yang islami, masak kalah sama sinetron yang tidak islami?

---

Dan masih banyak lagi. Saya rasa, islami atau tidak dalam akting sinetron, bergantung si pemuat filmnya bagaimana. Bila yang mau membuat seorang yang sadar agama, tentu akan memperhatikan baik-baik dalam menjalankan akting.

Lalu bagaimana membuat penonton melejit karena kebanyakan sinetoron yang islami kurang diminati? TONJOLKAN KUALITAS CERITA DAN MARKETING!!! Sudah, orang lihat tuh karena ceritanya dan karena terpengaruh marketingnya.

Wednesday, July 22, 2015

Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar??? Penting Ikut Khalifah Madzhab 4

Ucapan "Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar" adalah ucapan yang sering didengar untuk (seolah) menetlarisir pertentangan. Namun apa kesimpulan dari ucapan itu? Kesimpulannya adalah "Semua itu benar". Lah, ketahuan sekali bahwa orang yang mengucapkan kalimat tadi pun sudah membuat "Klaim Pembenaran Baru". Tidak sadar ya? Belajar lagi deh (ucapan khas orang-orang menggoblokkan orang lain di sosial media dan lainnya).

Kebenaran Tepung + Kebenaran Telur + Kebenaran Syuran = Kebenaran Martabak Telur. Inilah kebenaran orang yang sering dengan mudah mengucapkan "Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar"

Ahli Sunnah Wal Jama'ah cukup mentolerir dalam hal perbedaan, namun tidak kebablasan. Titik tekannya adalah, selagi berpedoman pada "4 Madzhab Besar", maka perbedaan itu dianggap benar. Namun bila perbedaannya itu atas nama "Anti Khalifah Madzhab 4", itu akan lain.

Contoh:
Madzhab Khalifah Malik: Tidak membaca basmalah dalam Fatehah
Madzhab Khalifah Safi'i: Wajib membaca basmalah dalam Fatehah

Keduanya sama-sama benar, karena masing-masing mengikuti imam (khalifah) madzhab. Walau kedua-duanya sama-sama benar, tidak benar berpindah-pindah dalam maksud "Mencari keringanan" tanpa hajat yang penting.

Namun berbeda bila seseorang tidak bermadzhab dari salah satu "4 Madzhab", bahkan menganggap bermadzhab adalah perbuatan bid'ah. Mereka yang tidak memakai madzhab, akan membuat hukum dengan sistem "Perbandingan Madzhab". Inilah, sumber "Klaim Pembenaran" yang membuat kebenaran lain dianggap salah sampai derajat "Bid'ah". Golongan anti madzab 4 inilah "kaum modernis".

Jadi akhirnya:
Tidak membaca basmalah dalam Fatehah: Sunnah
Wajib membaca basmalah dalam Fatehah: Bid'ah

Jadi ada dua:
- Ektrimis Pluralis Kebenaran (Liberal)
- Ektrimis Depluralis Kebenaran (Radikal)

Tuesday, July 21, 2015

Jurus Sapu Jagat - Mempelajari Ilmu Kebatinan Tingkat Tinggi

Buat apa sakti bisa memecah batu, mematahkan besi, dan bisa memukul jarak jauh, tapi tidak sakti dalam menghadapi "Fakta Kehidupan"? Fakta kehidupan adalah penuh dengan permasalahan-permasalahan yang dijadikan sebagai lawan tarung kita. Bukan fisik manusia yang sebagai lawan tarung! Melawan fisik manusia itu semudah membalikkan tangan, cukup dorong, gelapakan. Tapi yang sulit dilawan itu adalah dibalik fisik manusia itu sendiri: hati dan pikiran yang dipenuhi hawa nafsu.

Tragisnya, lawan terbesar yang ada dalam manusia itu dimiliki oleh kita sendiri. Kita melawan, berperang, bahkan sebagai "Jihad Akbar", ternyata melawan nafsu kita sendiri. Sesakti-saktinya "Limbad", pasti tidak akan dengan mudah melawan hawa nafsunya sendiri, kalau belum terlatih.

Untungnya, semakin bisa kita melawan hawa nafsu maka akan semakin "Digdaya", baik melawan nafsu atau melawan hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan fisik. Siapa sih yang bisa mengalahkan "Wali Allah"? Siapa coba? Tidak ada yang bisa mengalahkan wali Allah karena yang membela wali itu Allah itu sendiri. Siapa yang berani memusuhi Allah? Tidak akan ada yang berani memusuhi Allah.

Namun aneh, manusia itu takut dengan Allah, namun secara tidak langsung sedang melakukan hal-hal yang melawan dengan Allah, memusuhi Allah. Nah, keanehan inilah yang perlu diberantas, dibersihkan habis-habisan. Inilah jurus sapu jagat dari ilmu kebatinan.

Ilmu tasawuf bisa juga disebut ilmu kebatinan, ilmu kadigdayaan, ilmu yang untuk menyapu jagat dari kekotoran. Kalau orang ingin sakti lahir-batin, lakukan ilmu tasawuf. Memang ada ilmu hikmah untuk menguasai kadigdayaan. Namun ilmu hikmah masih sebatas ilmu untuk dunia, karena melakukan ibadah masih untuk kepentingan kesaktian, dll. Namun ilmu tasawuf, benar-benar ilmu untuk akhirat.

Pendidikan tasawuf adalah pendidikan untuk menyadari dengan sebenar-benarnya sadar bahwa kita ini hamba yang tidak punya apapun termasuk punya diri kita sendiri. Kita tidak punya kesaktian, jabatan, kekuasaan dan sebagainya. Kita ini makhluk yang "SANGAT BUTUH" Allah. Karena semuanya adalah milik Allah. Namun semakin kita menyadari kita ini hamba, semakin akan memiliki "Kadigdayaan".

Pendekar-pendekar di luar sana, yang katanya sakti, itu sakti hanya sekecil kuku. Ah, tidak ada apa-apanya bila untuk melawan ahli tasawuf yang sudah derajat "Hakekat", kekasih Allah.

Monday, July 20, 2015

Memulai dengan PDKT - Putuskan Dengan 'Nikah Yuk

Kalau mau jadi orang cerdas dalam memilih pasangan, lakukan pendekatan alias PDKT yang matang. Biar bisa menjawab, "Saya kan masih PDKT" kalau putus atau mau dimacem-macemin (recek, lecet, bengkak, nyesek). Kalau ternyata jodoh, "Ternyata, cukup PDKT, gak pakai acara dimacem-macemin".

"Nanti kalau ada yang ngerebut, bagaimana?"

Merebut apa? Merebut pacar kamu? Dia kan bukan pacar kamu. Kamu mengharapkan pacar atau istri?

"Aduh, tua banget mikirin nikah. Saya pacaran sekedar pengalaman saja!"

Nah, si dia yang kamu incar pun sekedar pengalaman dengan kamu. Kalau bosen dengan kamu dan ingin ganti yang lain, memang ada masalah?

"Tapi kan aku sudah cinta banget ama dia, sayang banget ama dia, dan aku berharap dia jadi pacar aku."

Lah, katanya sekedar pengalaman? Terus makna cinta itu seperti apa bila untuk pernikahan? Bukankah tidak selamanya hanya sekedar status pacar? Cinta apa nafsu? Yang namanya cinta, sayang, tidak ada makna yang berharga kecuali kata, "Nikah Yuk!" Kecuali kamu hanya sekedar menjalin pertemanan maka tidak masalah cinta tanpa pernikahan.

"Tapi aku kan sedang menjalani PDKT. Kalau sekedar PDKT, terus ujungnya bagaimana?"

Ujungnya tentu menikah. Memangnya tidak mau menikah dengan orang yang dicintai? Bohong sekali, mengaku cinta tapi tidak berani menikahinya.

"Aduh, saya masih fokus sekolah. Jangan tua banget lah pikirannya..."

"Fokus sekolah, kenapa kok mau pacaran? Bukankah sekedar PDKT, itu lebih bebas daripada status pacar?"

"Kan pengalaman..."

Nah, si dia yang kamu incar pun sekedar pengalaman dengan kamu. Kalau bosen dengan kamu dan ingin ganti yang lain, memang ada masalah?

"Tapi kan aku sudah cinta banget ama dia, sayang banget ama dia, dan aku berharap dia jadi pacar aku."

Lah, katanya sekedar pengalaman? Terus makna cinta itu seperti apa bila untuk pernikahan? Bukankah tidak selamanya hanya sekedar status pacar? Cinta apa nafsu? Yang namanya cinta, sayang, tidak ada makna yang berharga kecuali kata, "Nikah Yuk!" Kecuali kamu hanya sekedar menjalin pertemanan maka tidak masalah cinta tanpa pernikahan.

"Tapi aku kan sedang menjalani PDKT. Kalau sekedar PDKT, terus ujungnya bagaimana?"

Ujungnya tentu menikah. Memangnya tidak mau menikah dengan orang yang dicintai? Bohong sekali, mengaku cinta tapi tidak berani menikahinya.

"Aduh, saya masih fokus sekolah. Jangan tua banget lah pikirannya..."

"Fokus sekolah, kenapa kok mau pacaran? Bukankah sekedar PDKT... itu lebih bebas daripada status pacar?"

"Dibilang pengalaman... Gak paham-paham"

Sunday, July 19, 2015

Pacaran Mendidik Jadi Keledai

Mereka yang menggeluti pacaran, apa sih yang dicari? Pasti hanya pengalaman-pengalaman pahit, sakit hati, dll. Putus lagi, cari lagi pacar seolah mencari cinta sejati. Sudah dapat cinta sejati, eh ada pemaksaan menikah sehingga gagal lagi. Cari lagi setelah sudah remek hati. Dapet pacar lagi yang cocok, putus lagi karena terlalu ini dan itulah. Berkali-kali gonta-ganti pacar sampai hati remek menjalani dunia pacaran. Namun, akhirnya menemukan jodoh tepat, saling-cinta. Nikmat dunia terasa ketika sudah menikah.

Mereka bercerita kepada anak-cucu tentang ketidakenakan pacaran agar anak-cucu berhati-hati dalam berpacaran. Seolah menjadi pahlawan cerita, mereka pun menjelaskan alasan kenapa sekarang menjadi tulang punggung keluarga - cerai - karena ternyata mereka klaim salah memilih pasangan (pacar) untuk menikah - setelah sudah berkali-kali, gonta-ganti pacar untuk pengenalan.

Lalu si anak-cucu pun merasa penasaran dengan dunia pacaran. Terjunlah dalam dunia pacaran. Dan menyadari ternyata pacaran ini penuh ketidakenakan, pahit, sakit hati. Akhirnya membentuk pengetahuan baru - yang sudah dialami kakek-neneknya - bahwa pacaran jangan hanya memilih pacar. Harus melihat bibit bobot bebet seseorang untuk dijadikan pacar. Nanti, seperti nasib keluarga teman si anak-cucu yang salah pilih mencari pacar, mereka menyesal menikah setelah sangat cocok dan saling cinta hasil pacaran.

Perkenalan lewat pacaran yang ironi!

Saturday, July 18, 2015

Humanisme Khilafah, Bukan Anarkisme Khilafah - Jangan Munafik!

Sering sekali kalau melihat komplotan pegiat khilafah lebih mencerminkan "Anarkis" walau tidak seanarkis para preman yang rebutan kekuasaan lahan. Kecuali Ijis (Iblis Najis) yang sudah menunjukkan anarkis preman. Bahasanya pakai tanda seru lalu diakhiri takbir "Allahu Akbar!" seolah yang sebagai penjuang tauhid sejati adalah mereka. Nafsunya sendiri sebagai musuh mereka tidak diperangi. Padahal ada kaidah, "Lindungi dirimu dan keluargamu dari tempatnya nafsu jelek (neraka), sebagai jihad akbar"

Tetapi kalau sudah "Anarkisme", menurut KBBI, yang bermakna ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Maka komplotan pegiatan khilafah yang ada di Indonesia seperti memiliki ajaran "Anarkisme". Jelas, mereka menganggap bahwa Negara Indonesia adalah negara yang tidak sah. Padahal, menurut Ahlussunnah Wal Jama'ah, sistem pemerintahan di Indonesia sudah sah walau tidak berhukum syareat.

Lah, mereka licik, mereka merangkul madzhab Ahlussunnah Wal'jama'ah sebagai sumber pemasukan kekuatan mereka. tetapi sisi lain menolak keyakinan madzhab Ahlussunnah Wal'jama'ah. Jelas, ini otok preman, yang sering menggunakan cara licik. Lebih licik lagi, mereka tidak konsisten dengan ajaran mereka, yang kini mulai mencair dengan mengadakan trik "IKUT PEMILU".

Kewajiban kita dalam menegakkan syareat dan lebih besar adalah khilafah adalah sebuah kewajiban yang seperti menegakkan syareat di tengah keluarga kita. Dengan cara humanis dan tidak anarkis. Dan memang tugas kita sebagai kaum yang tidak punya kekuasaan adalah berjuang untuk diri dan keluarga. Urusan dalem-dalem yang berkaitan sosial-politik, itu bagi yang mampu masuk dalam wilayah tersebut dan cara perjuangannya pun bukan dengan bentuk anarkisme.