Showing posts with label Tips Belajar. Show all posts
Showing posts with label Tips Belajar. Show all posts

Monday, July 13, 2015

Pendidikan Sistem Jadul - Lulusan SMA Bakal Mandul

Sistem pendidikan di Indonesia itu selau meributkan pergantian kurikulum dan lainnya yang berkaitan dengan sistem belajar-mengajar. Tapi lupa, tidak banyak perubahan materi dari yang tersifat teoritik ke bersifat praktik. Membangun skill itu sulit dan bisa mahal, bukan mainan! Bila mau menguasai dunia bahasa dan sastra, harus punya kumputer dan lainnya. Begitu juga bila mau menguasai ilmu-ilmu lainya. Kalau pengeluaran hanya difokuskan untuk hal-hal yang tidak penting, haduh bakal akan menelantarkan hal-hal yang dianggap penting.

Saya ingin bertanya kepada lulusan SMA, "Ilmu sekolah ente buat apa?" Ini, pertanyaan ini rata-rata tidak terjawab dengan baik oleh lulusan SMA yang lebih ke arah produktifitas keilmuan. Padahal sudah selama 12 tahun belajar ilmu "ini ono" eh ujung-ujungnya "kucrut", bekhkh.

Di situ ada Ilmu bahasa dan sastra, maka berpotensi membangun novelis. Di situ ada ilmu fisika, maka akan menghasilkan pakar elektro dan mekanik. Di situ ada ilmu geografi, yang akan menghasilkan pakar arsitek dan pembangunan. Dan masih banyak lagi...

Manajemen tentang pembangunan skill kurang diperhatikan, padahal ini era online yang berpotensi menghasilkan berbagai informasi yang berkaitan dengan skill yang dibutuhkan. Karena tidak ada perhatian, siswa pun akan kesulitan mendalami informasi yang tesebar di internet. Lah, masih saja ribut memikirkan pergantian sistem belajar-mengajar.

Friday, October 19, 2012

5 Kaidah Kegiatan Keilmuan

Kisah Ibu RT dan Anak dalam Suasana HOME SCHOOLING:

“Bacalah nak”

“Aku gak bisa baca, Mamah”

“Bacalah, nak. Mudah kok.”

“Aku gak bisa baca, Mamah. Sulit.”

“Bacalah, nak. Mudah kok. Pasti bisa.”

“Aku gak bisa baca, Mamah. Sulit. Apanya yang bisa?”

Dengan kasih-sayang Ibu sampai akhirnya memeluk erat anaknya demi TERCAPAI kesempurnaan PIKIRAN ILMU yaitu si anak bisa membaca.

Dari kisah tersebut, maka saya akan MEMBUAT 5 KAIDAH (aturan) KEGIATAN KEILMUAN.

5 KAIDAH KEGIATAN KEILMUAN:

KAIDAH KEILMUAN:
Keilmuan adalah terjalinnya pengetahuan teratur disertai dengan terjalin teraturnya orang-orang berilmu yang saling bersandar dan memberi sandaran.

KAIDAH PENGAJAR:
Pengajar sebagai sandaran bagi pelajar maka keharusan pengajar sebagai sandaran yang benar harus selalu diperhatikan demi keilmuan.

KAIDAH PELAJAR:
Keharusan pelajar untuk belajar yaitu dengan memahami pengetahuan yang saling terjalin teratur besama orang yang sebagai sandaran untuk sampai pada kesempurnaan pikiran ilmu.

KAIDAH KEPUSTAKAAN:
Apa yang termuat dalam “kaidah pengajar dan kaidah pelajar” maka keharusan mengumpulkan buku/kitab untuk belajar harus memiliki jalinan yang teratur antar buku, juga memiliki kualitas sandaran yang benar. Apa yang disebut buku atau kepustakaan adalah sama halnya dengan pengajar.

KAIDAH WAKTU BELAJAR:
Demi pencapaian hasil belajar yang sesuai “kaidah pelajar” maka pengaturan waktu harus mendapat perhatian demi kepentingan belajar yang sistem disiplinnya termuat dalam “kaidah pelajar” dan kaidah kepustakaan.

Masing-masing 5 KAIDAH ini akan MELAHIRKAN BUTIR-BUTIR KAIDAH.

Tuesday, May 24, 2011

Makna yang Hidup dalam Kata

Ini merupakan teknik belajar membaca buku. Teknik ini adalah cara kita memahami kata sebelum dihubungkan dengan kata lain untuk membentuk makna. Bila kita termasuk seorang awam, tentu banyak sekali kata-kata yang masih asing terdengar dan sulit diartikan. Sehingga sulit bagi seorang awam untuk bisa membaca cepat apalagi memahaminya. Karena faktor kata yang masih asing dalam otak yang membuat sulit mencerna makna tulisan.

Saya contohkan pada tulisan seperti ini:
Belajar mengajar adalah kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antar guru dengan anak didik. Interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan sebelum pengajaran dilakukan. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sisrematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran.
Lihat kata-kata yang berwarna hijau. Itu sebagai contoh kata-kata yang belum tahu maknanya. Bila kita masih awan tentang kata-kata itu, maka akan sulit pula memaknai sebuah kalimat. Saya ambil kalimat, “Belajar mengajar adalah kegiatan yang bernilai edukatif”. Coba baca dan cerna maksudnya di saat belum paham arti kata edukatif. Pada akhirnya kita akan bertanya, “Apa maksud edukatif?” “Lalu bernilai apa?”.

Itulah sebabnya kita perlu teliti membaca kata-kata walaupun secara samar-samar tahu makna dari kata yang kita baca. Seperti pada kata edukatif, maka kita perlu melihat kamus, apa arti edukatif? Ternyata edukatif berasal dari kata edukasi yang artinya pendidikan. Kalau kata edukatif itu artinya seperti apa? Ternyata setelah lihat kamus, edukatif artinya kepengajaran atau bidang pendidikan. Intinya, edukatif itu adalah masalah pendidikan. Lalu apa arti pendidikan, maka lihat kamus lagi untuk lebih jelasnya.

Kalau ingin diartikan lagi dari tulisan contoh di atas, maka akan lebih memperdalam arti tulisan. Kita artikan, apa arti belajar? Apa arti mengajar? Apa arti kegiatan? Apa arti nilai? apa arti edukatif? Dan seterusnya. Dengan memahami makna/arti tiap kata, akan lebih memperdalam makna dan meminimalisir kesalahan penafsiran atau disebut juga kesalahan logika.

Teknik pemahaman kata ini sangat efektif untuk melatih berpikir logis. Karena setiap kata yang dibaca maupun juga ditulis, telah dipahami artinya menurut ketentuan yang berlaku. Sehingga, setiap menulis dan berbicara akan lebih terhindar dari kesalahan.

Tentu, saya menulis teknik ini bukan berarti saya seorang yang sudah ahli berlogika. Tapi, setidaknya saya tahu bahwa memaknai tiap kata itu sangat penting.

Silahkan baca juga Belajar Membaca dan Persiapan.

Salam Cerdas!

Monday, April 11, 2011

Belajar Membaca dan Persiapan

Waktu belajar, apakah Anda pernah membaca buku sampai selesai? silahkan menjawab. Kenapa saya bertanya seperti itu? dalam kebanyakan kasus, para pembelajar tidak menyelesaikan membaca buku sampai selesai (walau yang sampai selesai pun banyak). Alasannya banyak, banyak alasan tentunya. Daripada membahas alasan kenapa tidak selesai membaca buku, lebih baik saya memberikan tentang kesiapan dalam membaca buku sampai selesai.

A. Niat Sampai Selesai
Kita perlu niat untuk membaca selesai. Apa lagi belajar membaca buku tebal sebanyak 500 lembar. Niat yang begitu kuat harus tertanam di dalam hati. Bila tidak mempunyai niat untuk bisa menyelesaikan buku, bisa jadi kita akan berhenti di tengah jalan.

Pengertian niat menyelesaikan bukan berarti kita membaca sedikit demi sedikit sampai menjadi bukit. Buku yang kita baca bukan hanya satu, tetapi banyak. Kita perlu cepat menyelesaikan. Pengertian niat yang dimaksud adalah cepat dalam proses penyelesaian buku.

B. Kekuatan Pikiran
Kita butuh kekuatan pikiran sebagai persiapan membaca. Bayangkan kita menghadapi kata-kata yang sangat banyak; kita menghadapi jumlah lembaran buku sampai terlihat tebal; kita juga menghadapi perkataan penulis yang cukup menyulitkan. Bisa jadi, pembelajar yang tidak sanggup menyelesaikan buku dikarenakan pikiran sudah tidak kuat alias pusing, jenuh.

Cara sederhana adalah sering olah raga yang khusus mengolah nafas. misalnya joging, senam, meditasi.

Mata juga berhubungan dengan otak. Sehingga mata harus dilatih agar tidak mengganggu pikiran. Kita harus melatih pandangan mata. Cara melatih pandangan mata adalah melihat ke semua pandangan tanpa gerak badan dan mata (jangan memandang pada satu titik benda). Berguna untuk kekuatan mata dalam melihat kata-kata dalam buku dan mengcegah mata min.

C. Ketabahan
Seringkali otak kita tidak mampu menyimpan banyak informasi yang ada dalam buku. Menurut Agus Setiawan (2010 : 81) setelah membaca, kita hanya mampu mengerti sekitar 50% dari seluruh informasi dalam buku dan disimpan dalam hipokampus (tempat penyimpanan memori sementara). Setelah 48 jam, kita hanya mampu menyimpan 10%―di alam bawah sadar― informasi yang kita baca dalam buku.

Kasus seperti itu adalah yang banyak dialami manusia. Lalu, apakah kita akan menyerah dalam membaca buku? Kebanyakan memang menyerah dalam membaca buku. Apakah pantas menyerah? Ya terserah masing-masing individu. Yang jelas, kita jangan menyerah dalam membaca buku karena ilmu pengetahuan terdapat dalam buku.

Maka dari itu, kita perlu ketabahan hati dalam membaca buku. Tidak ada ketabahan hati, bisa jadi termasuk dalam golongan penyerah. Walau sekedar membaca buku, tetapi ketabahan dalam hati perlu kita tanamkan. Bila ketabahan selalu mengiringi para pembelajar, maka apapun hasil dari membaca, kita tetap tabah tidak menyerah. Jangan sampai kita menjauh dari kegiatan membaca buku. Bila menjauh, apa kata dunia?

Salam Cerdas!

Thursday, April 7, 2011

Belajar: Merangkul Buku atau Mati Kutu!

Setelah kita menentukan impian, tahap selanjutnya adalah belajar. Belajar (merupakan bentuk usaha) ini harus memiliki Nilai Penyesuaian. Belajar itu terikat dengan uang, tenaga dan waktu. Perlu kita atur itu, jangan boros! Jika impian kita ingin menjadi Guru Besar Biologi, jangan optimalkan belajar Ilmu Ekonomi.

Permasalahan pemborosan sering terjadi pada persoalan buku. Kita perlu perhatian khusus pada makhluk yang namanya buku. Kita perlu memikirkan tentang buku yang akan kita pelajari. Masalah buku adalah masalah impian. Sesuaikan buku dengan impian kita. Dengan begitu, adalah tips yang harus diberikan.

A. Buku Sekolah

Biasanya masing-masing guru menjualkan buku dari penerbit untuk pelajar. Bila keadaan orang tua tidak mampu, jangan paksa membeli buku bila buku itu tidak sesuai dengan impiannya. Pinjam buku saja tapi jangan ngelunjak (dirusak atau diumpet).

Bila orang tua termasuk golongan mampu, silahkan membelinya. Buku sekolah memang harus kita respon dengan membelinya (walau tidak sesuai dengan impian kita). Karena ini masalah nilai (nilai apa saja lah).

Akan tetapi, bila sudah membeli buku yang tidak sesuai impian, maka pemanfaatan buku jangan menandingi pemanfaatan buku yang sesuai impian.

B. Buku Toko
Kita harus mengimbanginya dengan membeli buku di toko buku. Membeli buku yang sesuai dengan impian kita.

Sebelum membeli, kita harus meninjau terlebih dahulu agar tidak menyesal dikemudian hari. Caranya saya kutip dari Agus Setiawan dalam buku Baca Kilat (2010: 97):
1. Judul dan Penulis
Masalah judul bisa kita lihat jelas bagaimana kalimatnya, misal: Baca Kilat. Judul buku tersebut membahas tentang membaca secara kilat. Judul adalah awal kita melihat isi buku. Tapi, hati-hati, ada judul yang mengecoh pembeli.

Lihat juga penulisnya. Bila ingin buku yang berkualitas bagus, biasanya penulis yang sudah mempunyai nama besar. Tapi jangan melulu membeli buku dengan penulis besar. Penulis besar kita dijadikan referensi utama.

2. Teks di Sampul Depan dan Belakang
Jangan lupa membaca teks di sampul depan dan belakang. Baca dengan teliti maksud dari buku itu. Tentang judul Baca Kilat masih menimbulkan pertanyaan besar. Bila kita membaca teks sampul depan dan belakang akan memberikan gambaran isi dari buku. Buku membahas tentang sesuatu bisa disimpulkan lewat teks sampul.


Lihat juga ada testimoni apa tidak dalam buku tersebut. Buku berkualitas bagus akan lebih meyakinkan bila ada testimoni.

3. Daftar Isi
Lihat daftar isi. Bila memang ada buku yang sudah dibuka pembungkusnya... Tapi, ini tidak terlalu penting... Terlalu pusing dilihatnya. Ya, silahkan saja dicoba.

C. Informasi Internet
Mencari informasi di internet (walau berbentuk artikel, bukan buku) tetap perlu kita perhatikan. Cari sesuatu sesuai kata kunci, misal: Tutorial Blog. Bila sudah, lihat alamat URL-nya untuk menyesuaikan dengan kata kunci.

Bagaimana menentukan kualitas informasi? Hmm...baca saja lah.

Kemudian save dan kumpulkan dalam satu menu: Tutorial Blog.

Setelah satu menu itu penuh dengan file, bagi lagi sesuai sub menu agar tidak pusing mencarinya bila kita ingin membacanya.

Itulah pembahasan tentang Belajar: Merangkul Buku atau Mati Kutu!

Salam Cerdas!

Konsentrasi Belajar dan Gangguan

Hati-hati dalam mengalihkan konsentrasi belajar untuk para pelajar!

Sudah maklum adanya kita dihadapkan pada banyak ilmu pengetahuan. Dengan banyaknya ilmu pengetahuan yang diberikan, kita mempunyai keharusan untuk mengerjakan tugas yang banyak itu. Energi yang kita butuhkan menyesuaikan diri dengan banyaknya ilmu pengetahuan; kita membutuhkan banyak energi untuk mempelajari banyak ilmu pengetahuan.

Lantas, dari bersibuk ria kita mempelajari semua ilmu pengetahuan, konsentrasi dalam hal apa yang kita tetapkan? Konsentrasi kita tentu bisa terganggu dengan banyaknya ilmu yang ada di hadapan kita.

Apakah pernah konsentrasi Anda terganggu akibat banyak ilmu pengetahuan yang harus dipelajari? Silahkan Anda jawab sendiri.

Pembahasan ilmu pengetahuan belum sepenuhnya paham, dihadapkan lagi dengan pengetahuan yang lain yang tentu harus dipelajari. Sampai akhirnya tak lagi mempelajari banyak ilmu pengetahuan. Belajar pun hanya sedikit materi atau malah tidak belajar sama sekali.

Hati-hati dalam mengalihkan konsentrasi belajar untuk para pelajar!

Pendidikan formal−khususnya sekolah−sangat mudah mengalihkan konsentrasi pelajar (secara paksa). Kita dihadapkan dengan tugas harian; kita dihadapkan dengan ulangan; kita dihadapkan dengan ujian tengah semester; kita dihadapkan dengan ujian semester; dan kita dihadapkan dengan Ujian Nasional. Tentunya, kita dihadapkan banyak tugas dari ilmu pengetahuan.

Belum paham pada materi yang satu, sudah pindah pada materi selanjutnya. Belum paham pada materi yang telah diajarkan, dihadapkan pada ulangan, ujian tengah semester, dan ujian semester. Setelah tugas, ulangan, atau ujian itu selesai, maka materi yang dianggap belum paham, dilewatkan begitu saja; melanjutkan pada tingkat materi yang belum diajarkan.

Dampak dari mudahnya mengalihkan konsentrasi (karena faktor tuntutan) akan sangat terlihat. Apakah Anda selalu menyontek? Selalu menyontek salah satu dari mudahnya mengalihkan konsentrasi (tidak punya pendirian).

Sebuah Solusi
Belajarlah ilmu pengetahuan seperti kita mempelajari bahasa. Kita tidak akan bisa berbahasa Inggris kalau ada satu bab abjad dari kamus yang tidak dibaca/hafal. Belajarlah seperti kita mempelajari bahasa, maka akan tetap konsisten walau ilmu pengetahuan lain mengganggu konsentrasinya.

Kemungkinan cara ini akan menimbulkan kontroversi karena kita perlu adanya pengorbanan: ilmu-ilmu mana saja yang tidak (atau belakangan) dipelajari? Tentu, kita perlu impian yang tetap (untuk) mendasari langkah belajar. Tapi sayang, pendidikan formal menuntut kita untuk tetap mempelajari semua pelajaran yang telah disediakan. Silahkan cari solusi lain di tengah menjalani pendidikan formal.

Hati-hati dalam mengalihkan konsentrasi belajar untuk para pelajar!

Salam Cerdas!

Sunday, April 3, 2011

Tips Menjalankan Impian Pelajar!

Sebelum membahas Tips Belajar tentang menjalankan impian pelajar, marilah kita ambil nafas terlebih dahulu agar otak kita jernih kembali (tidak ngeres!). Sudah??? Lanjut!

Kita patut menyadari kalau dalam pendidikan sekolah Indonesia banyak sekali tentang ilmu pengetahuan tapi tidak saling berkaitan (IPS dan IPA jelas berbeda). Yang terpenting, kita patut sadar bahwa kita sulit untuk fokus pada impian kita karena terganggu oleh banyaknya ilmu (yang tidak saling berkaitan)... Kita patut sadar itu!

Bagaimana solusi agar impian pelajar tetap kita pentingkan, tetapi tentang banyak ilmu tidak sampai ditinggalkan???

Sebenarnyaa bila kita sudah memiliki impian, berarti kita rela untuk mengorbankan sesuatu... Kalau untuk pelajar berarti yang dikorbankan adalah ilmu yang tidak sesuai dengan impian pelajar. Anda mau berkorban? Tapi nanti ada yang marah, yaitu guru.

Tapi bila kita tidak mau meninggalkan ilmu sekolah yang lain tetapi tidak juga sampai meninggalkan impian kita, saya akanmemberikan tips. Ya, tips yang bagaimana lagi, kecuali tips yang sudah umum dijelaskan (mungkin) oleh pakar. Ini dia tips yang katanya sudah umum dalam menjalankan impian pelajar.
1. Membagi Waktu
Membagi waktu tentunya penting. Caranya adalah sempatkan selalu ilmu yang kita impikan (sesuai impian kita) agar dipelajari setiap hari. Kita punya jadwal mata pelajaran kan??? Misal hari ini ada pelajaran: Biologi, Bahasa Indonesia, Matematika. Maka, pelajari 3 ilmu itu sembari mempelajari ilmu yang kita impikan.

2. Membagi Pembahasan
Kita pernah mengalami mempelajari materi kan? Tapi kita pun sering melukapan materi sesuatu setelah selesai pembahasan (paling kalau mau ujian, baru mengulang). Benar kan? Nah, itu dia yang menyebabkan lulusan pelajar indonesia tidak produktif (dampaknya jadi pengangguran,hehe).

Okelah kalau mau kita seperti yang di atas. Tapi, manfaatkan untuk menjalankan impian kita. Seharusnya, jangan sampai ilmu (yang sesuai impian) kita yang ditinggal begitu saja seenaknya. Walau pembahasan sudah selesai, tetap harus mengulang bila memang masih belum paham. Kalau pun sudah paham tetap kita jalankan selalu.

Saya contohkan. Misal ilmu yang sesuai dengan impian (misal: menjadi cerpenis, penyair, dan penulis drama) kita adalah Bahasa Indonesia. Lalu guru membahas tentang cara membuat karya sastra. Nah, setelah selesai membahas tentang membuat karya sastra, janganlah meninggalkan materi itu... Walau kita sudah paham pun jangan sampai kita meninggalkannya. Kenapa? Ya ea lah, secara, pelajaran Bahasa Indonesia itu kan sesuai impian kita...

3. Membagi Jurusan
Sekarang, kelas dua (di tempat saya sekolah) sudah ada pembagian jurusan. Usahakan kita masuk ke jurusan yang sesuai impian. Misalkan jurusan bahasa. Jangan sampai kita dimasukkan ke jurusan yang salah (IPS). Bila kita masuk jurusan yang sesuai, itu lebih baik dari pada tidak masuk.
Sekian!

Salam Cerdas!

Friday, April 1, 2011

Visual Impian dan Kejelasan Impian

Berhubung pembahasan Tips Belajar menggunakan sistem berkelanjutan. Artinya, dari awal sampai selanjutnya, saya berusaha membuat postingan untuk saling berhubungan. Tentunya, pembahasan kali ini adalah kelanjutan dari postingan sebelumnya yaitu Tips Visual Impian. Mengingat, pada postingan itu belum dijelaskan tentang kejelasan impian kita.

Kita akan mengerti, kenapa saya perlu menjelaskan tentang Visual Impian dan Kejelasan Impian.

Begini, cobalah kita melakukan visual impian. Apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah kita pasti mempertanyakan apa impian kita?

Bila kita sudah menemukan tentang impian kita―misal menjadi penulis―cobalah sekali lagi melakukan visual impian. Apa yang akan terjadi? Yang terjadi adalah kita mempertanyakan, tentang apa kita menulis?

Bila sudah menemukan tentang apa kita menulis―misal menulis Sastra―, cobalah jangan bosan untuk tetap memvisualkan impian. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kita akan lebih jelas memvisualkan impian kita.

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Tentukan Impian Spesifik
Bila mempunyai impian yang spesifik, kita akan merasakan kejelasaan tentang maksud impian kita. Kegiatan visual impian akan terasa mudah.

2. Tentukan Jumlah Impian
Bila mempunyai impian spesifik, jelas, tetapi mempunyai impian banyak, maka diibaratkan kita tidak mempunyai impian yang spesifik. Kegiatan visual impian akan melelahkan kita sendiri. Benar kan?

Tentukan saja beberapa impian yang memiliki nilai tambah. Nilai Tambah yang saya maksud adalah terletak pada 4 kuadran pekerjaan. Bila belum membaca tentang Nilai Tambah, baca dibaca.
Apakah Anda sudah mengerti tentang penjelasan visual impian di atas? Saya harap kita mengerti mengenai penjelasan di atas. Karena saya menulis tentang kejelasan.

Salam Cerdas!

Monday, March 28, 2011

Tips Visual Impian

Sekarang saatnya bervisual impian. Saya sudah menjelaskan tentang tips membahasakan impian. Pembahasan impian yang kemarin masih berkaitan dengan pembahasan kali ini. Akan tetapi, pembahasan kali ini lebih menghidupkan impian. Kenapa mampu menghidupkan impian? Karena terletak dari kegiatan visual impiannya.

Bila kita hanya menuliskan impian (seperti trik saya), maka impian sebatas tulisan saja. Impian belum memiliki kehidupan. Memang, dalam melakukan menulis, kita pun sudah melakukan visualisasi. Akan tetapi, kita lebih banyak melakukan kegiatan tangan dan pembicaraan hati dari pada kegiatan visual impian. Visual impian pun tak dirasakan baik oleh kita.

Maka dari itu, saya ingin mencoba menjelaskan agar kita lebih fokus pada visual impian. Bagaimana seharusnya kita melakukan visual impian? Seperti di bawah ini tahap-tahapnya.
1. Visualkan dalam Tulisan
Tahap ini sama dengan pembahasan mengenai tips membahasakan impian. Klik saja di sini

2. Visualkan dalam Keadaan Tenang
Setelah kita memvisualkan impian dalam bentuk tulisan, maka kita beralih pada kegiatan memvisualkan dalam keadaan tenang.

Tahap ini adalah untuk merasakan tentang impian kita yang tergambar dalam pikiran. Caranya kita harus dalam keadaan tenang. Kita tidak bisa menikmati visual impian bila pikiran sibuk dengan berbagai kesibukan.

Boleh melakukan sembari mata terbuka dalam visual impian yang diinginkan. Atau lebih baik kita pejamkan saja mata kita. Karena membayangkan dalam kondisi mata terpejam, kita akan fokus merasakan ketenangan visual impian.

Setelah cukup dalam visual impian, bersyukurlah. Kita bersyukur karena telah diberikan kesempatan untuk visual impian. Kita bersyukur karena telah diberikan kebahagiaan saat visual impian. Jangan lupa itu. Bila rasa syukur terus-menerus dilakukan, saat belum menggapai impian pun kita sudah merasakan kebahagiaan. Kita sudah paham bahwa bersyukur menambah kenikmatan.

Bila kita belum merasakan kebahagiaan, ulang kembali tentang impian kita. Barangkali impian kita tidak sesuai dengan hati nurani kita. Barangkali yang kita impikan hanya keterpaksaan saja!

3. Mempelajari Visual Impian
Mempelajari visual impian dimaksudkan untuk mengaktifkan pikiran dalam mencari jalan keberhasilan. Saat kita memvisualkan impian dalam bentuk tulisan atau dalam keadaan tenang, ada saja ide-ide cemerlang yang datang. Bila kita mendapatkan ide...maka kita bisa melakukan itu.
Saya rasa cukup sekian saja pembahasan kali ini. Yang jelas, visual impian penting untuk kita lakukan! perlu juga melihat Visual Impian dan Kejelasan Impian.

Salam Cerdas!

Sunday, March 20, 2011

Tips Membahasakan Impian

Ternyata, membahas impian/cita-cita masih tidak cukup bila hanya membahas resep impian sukses yang sudah dijelaskan sebelumnya. Selanjutnya, dalam Tips Belajar kali ini saya ingin membahas tentang impian yang dibahasakan. Apa maksud dari impian yang dibahasakan?

Begini. Konon, kata para ahli (oh...ahli apa ya?) impian/cita-cita itu harus dituliskan. Kenapa impian harus dituliskan? Katanya, bila menuliskan impian, maka akan mempunyai pikiran fokus pada impian; impian tidak dilupakannya.

Memang, bila kita menuliskan impian, berarti kita sudah mencetak keberhasilan sebelum berhasil. Sebab, banyak orang yang tidak menuliskan impiannya. Terutama saya sendiri tidak menuliskannya. Bukan tanpa alasan. Alasannya sederhana, “terlihat aneh”. Coba lihat contoh menulis impian di bawah ini:

“Saya targetkan untuk meraih 1 juta dalam jangka satu tahun”
“Saya ingin punya mobil dalam jangka lima bulan.”
“Saya ingin menjadi dokter.”

Tulisan itu ditulis dalam selembar kertas. Lalu disimpan bak berlian. Secara berkala dibacakan kembali impian itu bak buku panduan. Ada dialog antar batin pada diri pribadi. Begitu kiranya, yang saya tahu tentang menulis impian.

Bila tulisan impian seperti di atas ketahuan teman, mungkin teman bisa ketawa kali ya? Tapi, kita seharusnya membahasakan impian, apa pun caranya.

Tapi ada cara lain dalam membahasakan impian. Dan cara ini yang saya lakukan. Tapi saya menyarankan, bila Anda termasuk orang yang alergi menulis atau tidak suka menulis, lebih baik Anda mencoba untuk menulis. Karena cara saya dalam membahasakan impian itu dengan menulis. Dan tidak akan ditertawakan orang bila ketahuan.

Untuk lebih hidup dalam menuliskan impian, tipsnya begini:
1. Tetap menulis
Hanya saja, model menulisnya bukan seperti di atas. Kita menulisnya dalam bentuk cerita. Nah, bila kita sering menulis kisah pribadi di buku diari...Cobalah menulis tenang impian kita. Seperti menulis tentang kenapa kita memilih impian ini, dll. Tentu, akan lebih kreatif.

Akan ada dua manfaat yang didapat. Pertama, kita akan mampu menulis dengan baik. Kedua, kita akan dekat dengan impian di hati kita(jatuh cinta kali ya?).

2. Tetap menulis
Kok sama dengan yang di atas? Beda lah. Yang ini lebih kepada pokok keilmuannya. Bila kita punya impian ingin menjadi dokter...cobalah menulis tentang dunia kedokteran/kesehatan. Bila kita ingin menjadi guru, cobalah menulis tentang dunia pendidikan. Menulis tanpa memperdulikan kebenaran tulisannya. Yang penting menulis!

Akan ada dua manfaat yang di dapat. Pertama, kita akan mampu menulis dengan baik. Kedua, kita akan dekat dengan impian di hati kita(jatuh cinta kali ya?). Lho, kok sama dengan yang di atas?

3. Tetap menulis
Menulis, menulis, dan menulis. Teringat waktu ikut pelatihan menulis di kampus. Huft... masih tetap sama dengan yang di atas. Tapi, mungkin beda kali ya? Begini, kita tetap menulis...tapi kita harus berani membicarakan impian kita pada teman dekat...

Akan ada dua manfaat yang didapat. Ops...nanti sama lagi dengan yang di atas. Tapi santai, ini berbeda. Pertama, kita akan lebih berani menulis dengan lebih baik. Kedua, kita akan lebih berani untuk tetap dekat dengan impian di hati kita.

Walah... masih sama toh! Ya sudah para pembelajar, cukup segitu saja?
Demikianlah penjelasan tentang Tips Membahasakan Impian. Silahkan membaca Tips Visual Impian sebagai kelanjutannya.

Salam Cerdas!

Saturday, March 19, 2011

Resep Impian Sukses Pahit!!!

Tips belajar mengenai resep impian sukses kali ini membahas tentang resep impian sukses yang rasanya pahit. Postingan terdahulu saya sudah membahas tentang resep impian sukses rasa manis-pahit dan rasa manis. Berasa nikmat di hati, bila kita merasakan ke-manis-an. Tapi pembahasan kali ini malah bertentangan dengan postingan sebelumnya. Sekarang berasa pahit di hati. Kenapa sampai pahit? Berikut ini penjelasannya.

1. Bahan-bahan
  1. Kumpulan makanan pokok berupa pelajaran kehidupan (bisa dikunjungi di luas kehidupan)
  2. Bumbu utama yaitu Nilai Keharusan dan Nilai Penyesuaian (ada di dalam manusia terdekat)
  3. Bumbu penyedap rasa yaitu Nilai Tambah (ada di dalam manusia terdekat).
  4. Egois sebagai pelengkap rasa pahit.
2. Aba-aba
Berbeda dengan pembahasan aba-aba pada resep impian sukses sebelumnya. Mengapa berbeda. Karena kali ini tidak melibatkan pelajaran sekolah. Semua pelajaran sekolah disingkirkan dan beralih pada pelajaran sesuka hati; pelajar yang ada di setiap kehidupan.

Tapi, pelajaran yang di maksud bukan berarti benar-benar lepas dari pelajaran sekolah. Hanya saja, tidak pernah perhatian pada pelajaran sekolah. Yang diperhatikan hanya pada kemauan/hobi dirinya sendiri. Bila kemauan/hobi ada pada pelajaran sekolah, maka pelajaran sekolah bisa dipentingkan. Tapi, bila hobi/kemauan tidak ada pada pelajaran sekolah, maka pelajaran sekolah disingkirkan oleh si pelajar.

Resep impian sukses ini bisa juga dimanfaatkan oleh anak yang tidak (mampu) sekolah.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
  1. Ilmu tetap dijadikan kepentingan.
  2. Jadikan kebebasan untuk kepentingan belajar yang lebih kreatif bukan bebas untuk bermalas-malasan.
  3. Tetap dalam nilai keharusan, niai penyesuaian, dan nilai tambah.
3. Mengolah-olah Resep Impian
Bangkitkan jiwa-raga untuk mengolah-olah resep sukses impian!
  1. Olah-olah terus sampai berhasil. Sesuaikan dengan nilai keharusan. Dalam hal ini, saya misalkan kita menyukai tentang dunia IT teknologi informasi. Cari apa saja yang melengkapi belajar IT. Kegiatan ini adalah untuk nilai penyesuaian. Sebelum mengelolahnya, perhatikan bahan pengolahnya:
    • Siapkan uang. Memang, segalanya harus pakai uang walau uang bukanlah segalanya.
    • Siapkan buku yang ingin dipelajari.
    • Siapkan media lainnya seperti komputer dan sambungan internet.
    • Silahkan mencari lagi apa-apa saja yang bersangkutan dengan ilmu IT.
  2. Pastikan tahap awal, utamakan tentang pengertian sesuatu. Sebagai pelajar yang baik―yang menghormati ilmu dan ilmuwan―harus mengenali dahulu tentang pengertian.
  3. Masih tahap perkenalan. Telusuri dengan kegiatan membaca. Jangan memikirkan tentang pemahaman dulu (atau silahkan langsung pemahaman). Berkenalan dahulu dengan kosakata yang masih asing untuk otak.
  4. Sering-sering mencari arti dari “kata” yang masih asing. Misal kata: hadware, software, dll. Biasanya sulit memahami bacaan karena ulah satu kata yang tak jelas. Solusinya? Kunjungi tempat online seperti: Wikipedia, Kamus Bahasa Indonesia Online, Artikata. Atau kunjungi tempat ofline seperti Gramedia untuk membeli kamus bahasa Indonesia dan kamus ilmiah.
  5. Pahami yang kita baca.
  6. Bertanya kepada yang ahli bila merasa kesulitan.
  7. Praktekkan materi!
  8. Tentunya, akan membentuk kelompok pendukung impian. Ingat kata kuncinya, pendukung impian. Kelompok belajar bukan untuk mengerjakan tugas saja tetapi juga untuk kegiatan praktik ilmu sehari-hari.
  9. Kita harus egois dosis tinggi. Memang terasa pahit sekali. Perjuangan terasa pahit! Tapi pertahankan itu. Kita hanya memikirkan ilmu sesuai kita... Maka, kita perlu sabar bila guru atau orang tua memarahi kita. Beri penjelasan dengan hormat. Dan harus siap kalau UN (Ujian Nasional) tidak lulus!
  10. Ukur usaha kita. Caranya, lihat saja praktik kita seperti apa... Apakah sudah ada peminat apa belum?
  11. Pikirkan nilai tambah!
  12. Kembangkan lagi ya?
Selesai juga membahas tentang resep impian sukses dengan tiga rasa. Yang terakhir adalah Resep Impian Sukses Pahit!!! Tapi, saya tidak menyarankan anda melakukan hal seperti ini! Terserah mau melakukan cara belajar yang seperti apa! Ok!

Salam Cerdas!

Sunday, March 13, 2011

Resep Impian Sukses Manis dalam Rasa

Agar mengerti pada pembahasan ini, saya saranakan untuk melihat resep impian sekses bagian 1, bagian 2, bagian 3.

1. Bahan-bahan
  1. Kumpulan makanan pokok berupa Pelajaran Sekolah (bisa dikunjungi pada masing-masing guru).
  2. Bumbu utama yaitu Nilai Keharusan dan Nilai Penyesuaian (ada di dalam manusia terdekat).
  3. Bumbu penyedap rasa yaitu Nilai tambah (ada di dalam manusia terdekat).
  4. Menurut pada semua perintah sebagai pelengkap rasa untuk rasa manis.

2. Aba-aba
Untuk Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis, aba-aba yang digunakan masih sama dengan resep impian sukses pada postingan sebelumnya. Anda bisa melihat pada postingan sebelumnya di sini.
  1. Bahasa
  2. Pada item aba-aba sebelumnya, dijelaskan bahwa ilmu bahasa tidak bisa dipotong kecil-kecil atau dibagi-bagi. Saya katakan, memang mustahil dilakukan pembagian. Mengingat sudah menjadi satu-kesatuan yang utuh dalam satu rangkaian. Atau lebih jelasnya, kita tidak akan bisa berbahasa Indoensia kalau ada satu bab abjad yang tidak dimengerti/tak diingat. Itulah sebabnya, kita harus bersikap menyeluruh ke segala pembahasan dalam kegiatan belajar bahasa.
  3. Matematika
  4. Mengenai pemotongan/pembagian pada ilmu Matematika walau terlihat tak bisa dibagi lagi, tapi menurut saya, ilmu Matematika masih bisa dibagi lagi. Beberapa bagian yang sering muncul dalam pembahsan Matematika yaitu: Trigonometri, Aljabar, Logaritma, dll. Kita bisa menjadi ahli dalam satu bidang, misal ahli dalam Aljabar. Walau saya mencoba untuk mengkotak-kotakkan, tapi saya hanya ingin menentukan titik fokus untuk belajar.

3. Mengolah-olah Resep Impian
Tentang mengolah-olah resep impian sukses, caranya pun masih seperti resep impian yang sebelumnya. Bisa dilihat di sini. Hanya saja ada perbedaan dalam hal mempelajari pelajaran di sekolah. Pada Resep Impian Sukses Rasa Manis, kita menjadi pelajar yang penurut pada semua guru. Artinya, kita mempelajari semua mata pelajaran yang telah ditentukan. Terlebih mata pelajaran yang di-UN-kan, maka keuletan harus melebihi yang lain.

Biasanya untuk mengukur bagaimana prestasi belajar hanya dengan melihat pada nilai angka. Bila indeks prestasi bagus kemungkinan memiliki kepintaran yang bagus.

Pelajar yang seperti ini sangat disenangi oleh semua guru, bahkan orang tuanya. Memang guru/orang tua mengharapkan pelajar yang seperti ini. Betapa manisnya seorang pelajar yang menurut pada perintah semua guru. Tidak ada keegoisan dalam mempelajari ilmu.

Sebagai Nilai Tambah, pelajar seperti ini berpotensi menjadi pekerja/karyawan teladan di tempat kerjanya. Tapi sayangnya, ia tidak mempunyai keterampilan yang mampu untuk bekerja mandiri. Alasannya, karena tiap belajar jarang sekali mengandalkan praktik; hanya fokus pada tugas-tugas dari guru; menuntut mengerjakan semua mata pelajaran. Dengan begitu, tidak mempunyai keterampilan khusus yang menjual/bisa diandalkan untuk mencari kepentingan hidup (uang).

Sekian saja tentang postingan kali ini. Tunggu Resep Impian Sukses Rasa Pahit di postingan berikutnya.

Tentunya, saya tidak menyarankan Anda untuk melakukan cara belajar seperti ini. Cara belajar menurut kepentingan pribadi masing-masing.

Salam Cerdas!

Wednesday, March 2, 2011

Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis-Pahit (Bagian 3)

Aduh, saya lupa. Kenapa saya tidak menjelaskan pada postingan sesudahnya kalau ada kelanjutan lagi tentang resep impian sukses? Ya sudah, yang penting saya sudah memberi tahu Anda. Apa sih kelanjutannya? Inilah kelanjutannya.

3. Mengolah-olah Resep Impian
Bangkitkan jiwa-raga untuk mengolah-olah resep sukses impian!
  1. Olah-olah terus sampai berhasil. Sesuaikan dengan Nilai Keharusan. Cari apa saja yang melengkapi belajar pelajaran Biologi yang membahas tentang kesehatan. Kegiatan ini adalah untuk Nilai Penyesuaian. Sebelum mengelolahnya, perhatikan bahan pengolahnya:
    • Siapkan uang. Memang, segalanya harus pakai uang walau uang bukanlah segalanya.
    • Siapkan buku yang ingin dipelajari.
    • Siapkan media lainnya. Sekedar contoh: alat pengobatan tradisional, bahan obat herbal, dll.
    • Silahkan mencari lagi apa-apa saja yang bersangkutan dengan ilmu kesehatan.
  2. Pastikan tahap awal, utamakan tentang pengertian sesuatu. Sebagai pelajar yang baik―yang menghormati ilmu dan ilmuwan―harus mengenali dahulu tentang pengertian.
  3. Masih tahap perkenalan. Telusuri dengan kegiatan membaca. Jangan memikirkan tentang pemahaman dulu (atau silahkan langsung pemahaman). Berkenalan dahulu dengan kosakata yang masih asing untuk otak. Bila nafas kita kuat, (boleh) ditambah dengan baca kilat.
  4. Sering-sering mencari arti dari “kata” yang masih asing. Misal kata: metabolisme. Biasanya sulit memahami bacaan karena ulah satu kata yang tak jelas. Solusinya? Kunjungi tempat online seperti: Wikipedia, Kamus Bahasa Indonesia Online, Artikata. Atau kunjungi tempat ofline seperti Gramedia untuk membeli kamus bahasa Indonesia dan kamus ilmiyah.
  5. Pahami yang kita baca.
  6. Bertanya kepada guru yang bersangkutan (atau pada seorang yang paham) bila merasa kesulitan.
  7. Praktikkan materi! Khusus untuk pelajar yang memilih bidang study IPS, jangan ada pikiran, “Ah, IPS, mana bisa dipraktikkan?” Pikiran itu salah. Perluaskan pengertian praktek maka akan mengerti praktek itu apa. Memang, ada pengetahuan―tidak hanya IPS―yang hanya untuk kepentingan ilmu itu sendiri―tidak dipraktikkan.
  8. Tentunya, akan membentuk kelompok pendukung impian. Ingat kata kuncuinya, pendukung impian. Kelompok belajar bukan untuk mengerjakan tugas saja tetapi juga untuk kegiatan praktik ilmu sehari-hari.
  9. Bila teman mengajak belajar di luar impian kita, pastikan pelajaran itu ada sangkut pautnya dengan pelajaran UN (Ujian Nasional). Tapi, jangan hadapi dengan perasaan merendahkan, seperti Hallah, ngapain belajar MTK? Kalau begitu caranya, bisa tebak sendiri apa akibatnya.
  10. Kita harus egois. Memang terasa pahit. Tapi pertahankan itu. Kita tidak memikirkan mata pelajaran di luar keinginan kita... Maka, kita perlu sabar bila guru atau orang tua memarahi kita. Beri penjelasan dengan hormat.
  11. Ukur usaha kita. Caranya, lihat saja praktik kita seperti apa... Apakah sudah ada peminat apa belum?
  12. Pikirkan Nilai Tambah!
  13. Kembangkan lagi ya?
Itulah Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis-Pahit. Saya rasa, penjelasan ilmu Biologi di atas hanya sekedar contoh. Bisa untuk semua ilmu.

Resep Impian Sukses Dengan Rasa Manis-Pahit berpotensi untuk menjadi pekerja mandiri atau karyawan.

Tentunya, pilihan cara belajar ada pada diri pribadi masing-masing. Nantikan resep impian berikutnya.

Salam Cerdas!

Friday, February 25, 2011

Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis-Pahit (Bagian 2)

2. Aba-aba
Tips belajar tentang resep ini adalah kelanjutan dari poin 1 (satu) yang membahas tentang bahan-bahan.
Mari kita meraciknya. Caranya gampang. Tidak harus kursus online atau ofline.
  1. Pertama, memilah-milah mata pelajaran yang ada di tempat sekolah masing-masing. Pastikan tidak ada mata pelajaran yang terlewatkan. Karena ilmu adalah mutiara: berharga. Perhatikan cara memilahnya.
    • Bidang Study/Pelajaran IPS:
      Bagian-bagiannya adalah seperti pelajaran Sosiologi, pelajaran Antropologi, pelajaran Geografi, pelajaran Ekonomi+Akuntansi, Sejarah, dan yang lainnya (sesuaikan saja dengan kurikulum).
    • Bidang Study/ Pelajaran IPA:
      Bagian-bagiannya adalah pelajaran Fisika, pelajaran Kimia, Pelajaran Biologi, dan yang lainnya (sesuaikan saja dengan kurikulum)
    • Bahasa: Bagian-bagiannya adalah pelajaran Bahasa Inggris, pelajaran Bahasa Indonesia, dan yang lain (sesuaikan dengan kurikulum)
    • Matamatika:
    • Bahan pelajaran tambahan (yang ada di sekolah)
    Itu hanya sebagian.Misalkan kita sekolah di SMK yang tidak ada mata pelajaran di atas, ya, mari... disesuaikan sajalah.
  2. Setelah kita memilah-milah, potong kecil-kecil masing-masing pelajaran. Maksudnya begini. Setelah kita memilah, ambil salah satu mata pelajaran. Misalkan IPA, bagian-bagian pelajarannya telah diketahui yaitu: Biologi, Fisika, dan lain-lain. Lalu potong masing-masing pelajaran. Misalnya begini:
    • Biologi:
      Kita potong mata pelajaran menjadi beberapa bagian: ilmu tentang pertanian, ilmu tentang makhluk hidup, ilmu tentang kesehatan, dan yang lainnya. Tanya sama guru, bagian-bagian pelajaran Biologi itu apa saja.
    Untuk mata pelajaran yang lainnya bisa menggunakan cara seperti ini. Kegunaan potongan mata pelajaran adalah untuk kegiatan praktik kita sehari-hari. Akan tetapi untuk mata pelajaran bahasa tidak perlu kita potong; tidak ada peng-khusus-an ilmu.
  3. Setelah semua mata pelajaran kita potong, pilih pada titik fokus ilmu yang mengandung nilai keharusan menurut hati kita. Bila Anda lupa tentang pembahasan nilai keharusan, lihat kembali di sini. Pastikan semua ilmu kita anggap penting. Akan tetapi, pilihan memilih adalah hak pribadi.
  4. Misalkan kita memilih: Ilmu Kesehatan (bagian dari mata pelajaran Biologi)
  5. Berarti kita akan menyingkirkan mata pelajaran yang ada dan lebih memilih mata pelajaran Biologi dengan konsentrasi praktek jatuh pada pangkuan Ilmu Kesehatan. Duh, ternyata ilmu itu bercabang-cabang ya? Itulah, kenapa saya mencoba untuk membuat titik fokus ilmu yang dipelajari.
  6. Lalu, lakukanlah nilai penyesuaian. Bila Anda penasaran lagi. Penasaran masalah nilai penyesuaian, sok atuh meluncur di sini.
  7. Kemungkinan kita tidak memcicipi rasa manisnya perintah guru dalam belajar secara maksimal. Kita hanya memilih mata pelajaran yang kita fokuskan saja: mata pelajaran Biologi dengan konsentrasi tentang kesehatan. Terkadang/sering merasakan pahitnya tidak menuruti perintah guru: guru marah-marah, nilai anjog, dll.
  8. Tapi sebagian guru cukup lega, karena kita masih merasakan manisnya perintah belajar dari guru. Kita mengambil mata pelajaran untuk UN (Ujian Nasional). Disamping itu, ia tetap gigih pada titik fokus belajarnya: Biologi dengan konsentrasi tentang kesehatan. Salam Cerdas!

Monday, February 21, 2011

Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis-Pahit (Bagian 1)

Tips Belajar ini sedikit nge-lucu. yaitu belajar meramu resep impian sukses.

1. Bahan-bahan
Ok! lanjut. Untuk meramu impian, terlebih dahulu mengetahuai apa-apa saja bahan-bahan yang diperlukan
  1. Kumpulan makanan pokok berupa pelajaran sekolah (bisa dikunjungi pada masing-masing guru)
  2. Bumbu utama yaitu Nilai Keharusan dan Nilai Penyesuaian (ada di dalam manusia terdekat)
  3. Bumbu penyedap rasa yaitu Nilai Tambah (ada di dalam manusia terdekat).
  4. Egois sebagai pelengkap rasa untuk rasa pahit. Dan menurut perintah sebagai pelengkap rasa untuk rasa manis.
Saya rasa, cukup sederhana saja memberi tahu tentang bahan untuk meraih impian sukses dengan rasa manis-pahit. Saya kasih rasa manis-pahit biar ada nuansa perasaannya. Membaca pembahasan di atas, mungkin sebagian pembaca tertawa-tawa. Ya, biarkan saja dong. Memang ada sedikit menghibur dalam pembuatan tips belajar ini. Agar saya tidak membahas kritik untuk pendidikan Indonesia. Wah!

Pembahasan mengenai “Resep Impian Sukses dengan Rasa Manis-Pahit” akan dilanjutkan pada postingan berikutnya. Ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak tulisan. Masalahnya, Kalau tulisan ini disatukan dengan postingan berikutnya bisa mencapai 800 kata, hm... Jangan hawatir, saya cantumkan judul yang sama agar tidak membingungkan pembaca.

Salam Cerdas!

Friday, February 18, 2011

Patuhi Impian Sekarang!

Apapun keadaan hidup kita, pasti mempunyai impian yang ingin diraihnya. Entah menjadi dokter, psikolog, guru, dokter, programer, atau tentang cita-cita keilmuan lainnya. Tidak ada manusia yang hidup tanpa impian/cita-cita. Mustahil bila seseorang hanya mengandalkan usaha-usaha semata; tidak memikirkan tentang masa depan dibalik usahanya. Kita sekolah, pasti ada pikiran tentang impian masa depan; kita ingin menjadi orang pintar di kemudian hari.

Bila manusia terlihat malas-malasan, bukan berarti tak ada pikiran tentang impian. Hanya saja, orang yang malas tidak peduli tentang impiannya. Mungkin perasaannya meyakini tentang ketidakberhasilan meraih kesuksesan.

Kita mewujudkan kesepakatan kalau manusia hidup adalah dengan impian-impiannya. Sehingga, tak ada lagi anggapan “tak memikirkan masa depan”. Semua memikirkan masa depannya. Semua memikirkan tentang masa depan yang dipenuhi kebahagiaan-kebahagiaan, kemuliaan-kemuliaan, dan lain-lain.

Tapi, perlu kita ketahuai, ada seorang yang gigih untuk meraih impian sampai berhasil meraihnya; ada juga yang sudah gigih dalam usaha tapi gagal meraihnya; ada yang berusaha meraih sesautu, tapi beralih ke sesuatu yang lain; ada juga yang usahanya setengah hati tapi nasib memberikan keberuntungan; dan ada juga yang tidak berhasil karena hanya memikirkan tapi tidak melakukan apa-apa. Semua bisa disimpulkan karena

“ketidakjelasan tentang masa depan”.


Stop! Jangan pikirkan tentang ketidakjelasan masa depan.

Semua manusia pasti ingin berhasil/sukses. Sekarang ini, yang kita pikirkan hanya pada keinginan untuk berhasil menggapai impian/cita-cita. Tidak perlu ada pikirin tentang ketidakberhasilan. Karena alasan apa kita tidak perlu perlu memikirkan tentang ketidakberhasilan? Karena

“ketidakjelasan tentang masa depan”

Apakah ketidakjelasan masa depan justru membuat kita tak yakin tentang keberhasilan/kesuksesan usaha kita? Lalu buat apa kita usaha gigih untuk meraih impian? Toh, bisa saja usaha kita tidak berhasil. Tetapi, buat apa juga kita gigih dalam kemalasan? Toh, barangkali si malas bernasib beruntung dikemudian hari.

Tapi, permasalahan tentang ketidakjelasan masa depan akan terjawab dengan sebuah kalimat penawar:

“kejelasan masa sekarang”

Ternyata, semua kembali ke masa sekarang. Apapun bentuk kesuksesan kita, apapun bentuk kegagalan kita, maka bisa dijawab oleh “kejelasan masa sekarang”.

Bila kita menginginkan keberhasilan meraih impian, maka penuhilah keinginan impian, sekarang! Bila kita menginginkan untuk tidak berhasil meraih impian, maka jangan penuhi keinginan impian, sekarang! Maka masa sekarang akan menilai tentang kita. Masa sekarang mampu menilai tentang keberhasilan atau kegagalan kita untuk masa yang akan datang karena

“kejelasan masa sekarang”

Kesuksesan adalah saat kita memulai usaha untuk meraih impian saat ini juga, di masa sekarang!

Kegagalan adalah saat kita tidak memulai usaha untuk meraih impian saat ini juga, di masa sekarang!

Salam Cerdas!

Wednesday, February 9, 2011

Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu...? (Bagian 3)

3. Nilai Tambah
Dua kali postingan belum juga selesai membahas mengenai sikap penting dalam belajar. Akhirnya, kesampaian juga membahas postingan ini. Pembahasan tips belajar kali ini mengenai Nilai Tambah. Sebelumnya, saya sudah membahas “Nilai Keharusan” (kenapa kita) dan juga membahas tentang "Nilai Penyesuaian”(bagaimana kita).

Nah, Nilai Tambah berkaitan dengan pertanyaan “Ada apa?”; tentang rasa dari “melakuakan”. Entah rasa “ke-kini-an” atau “rasa masa depan”.

Nilai Tambah tentang rasa selama usaha memperjuangkan nilai keharusan dengan nilai penyesuaian. Saya katakan, ini “rasa ke-kini-an”. Saya coba menjelaskan rasa nilai tambah.
a. Nilai Adaptasi.
Karena kita sudah merasa penting pada belajar tentang sesuatu, maka kita, so pasti punya sikap beradaptasi yang baik dengan ilmu (ilmu baru atau ilmu yang sudah dipelajari). Pembelajar sejati akan merasakan hal ini.

b. Nilai Kesatuan Wujud.
Dualisme antara dua wujud yaitu “diri pribadi” dan “kegiatan belajar” seperti sudah jadi satu-kesatuan. Apapun kesulitan belajar, maka tetap ada rasa konsentrasi penuh; seolah tak ada kesulitan. Belajar dianggap jiwa dirinya. Tentu, tidak ada yang ingin jiwannya melayang, bukan? Salah satu contoh yang punya “nilai kesatuan wujud” adalah Thomas Edison. Tahu kan beliau seperti apa?

c. Nilai Intuisi
Seorang yang bersungguh-sungguh belajar tentang sesuatu, maka sering kali mendapatkan ide-ide, solusi-solusi, atau pengetahuan yang tidak terduga-duga. Ingat itu!
Ini hanya beberapa. Masih banyak lagi tentunya. Ya ea lah, masih banyak lagi....

Nilai tambah selanjutnya mengenai menambah kolaborasi tentang Nilai Keharusan dan Nilai Penyesuaian”. Ini menyangkut “rasa masa depan”. Bisa dikatakan, ini sikap dalam pengamalan ilmu untuk bekal kehidupan. Saya coba menjelaskn pelajaran 4 kuadran yang harus diterapkan.
a. Pelajaran Pekerja Mandiri
Saya contohkan diri saya. Awalnya, ilmu Sastra yang saya pelajari agar “mampu” bekerja mandiri. Berhubung penghasilan dari kerja mandiri adalah ketidakpastian, maka kita perlu menambah pelajaran tentang dunia tenaga kerja/karyawan.

b. Pelajaran Karyawan
Tentu kita harus mengerti bagimana pandai menulis itu mampu untuk kerja ditempat orang lain. Yang sangat populer adalah menepuh pendidikan formal, lalu dapet ijazah. Tapi ingat! persaingan kerja sudah sesak di jagat Indonesia. Jadi, kita perlu menambah pelajaran lagi yaitu menjadi...Pengusaha.

c. Pelajaran Usaha
Mampukah kita membuka usaha sendiri dari kepandaian menulis? Entah penjualan e-book, mendirikan penerbitan buku, medirikan kursus online, atau yang lainnya. Kita bebas nentukan kekayaan. Tapi ingat, kebanyakan uang malah kesulitan mengatur keuangan. Pada akhirnya bangkut. Maka perlu memepelajari investasi.

d. Pelajaran Investasi
Investasikanlah uang kita. Dirikanlah lembaga-lembaga penulisan misal, sebagai tempat investasi. Tapi kita pun perlu mempelajari seluk-beluk investasi.
Keempat kuadran dari “a ampe d” saya ambil dari perkataan Robert T Kiyosaki. Menurut beliau, hidup di era informasi ini harus mampu menguasai lebih dari satu kuadran.

4 kuadran itulah sebagai persiapan menghadapi masa depan. Kita tidak tau, kita nanti kerja apa... Tapi yang pasti, kebutuhan hidup harus dipenuhi. Sangat bahagia bila ilmu kita bermanfaat untuk bekal kehidupan.


Salam Cerdas!

Monday, February 7, 2011

Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu...? (Bagian 2)

2. Nilai Penyesuaian
Tips Belajar sebelumnya kita sudah belajar mengenai Nilai Keharusan ya? Masih ingat? Kalau lupa tips itu, silahkan ngintip kembali di sini. Kali ini saya ingin membahas tentang Nilai Penyesuaian.


Nilai Penyesesuaian ini sudah mengarah pada landasan keterampilan ilmu. Kalau dalam hal Nilai Keharusan masih berdasarkan landasan teori ilmu.

Nilai Keharusan dan nilai penyesuaian itu saling berkaitan. Dan memang harus saling berkaitan.

Tentang nilai penyesuaian di sini adalah menyangkut pada pertanyaan bagaimana? Tentunya, jika sudah menemukan jawaban kenapa?, untuk cari jawaban bagaimana?, maka akan mudah mendapatkan jawabanya. Karena fokus pada titik persoalan, pada akhirnya menemukan warna-warni cara yang mendukung keberhasilan.

Misal. Saya punya alasan yang tepat mengenai kenapa saya. Seperti dalam profil, menjelaskan bahwa saya ingin meningkatkan keilmuan. Karena nilai keharusan memang (seharusnya) bersifat spesifik maka saya memilih dalam bidang Sastra Indonesia. Otomatis, kegiatan yang saya lakukan itu, ya, menulis.

Saya pun mencari cara, bagimana meningkatkan keilmuan pada bidang Sastra Indonesia? Waktu itu saya tidak berguru sama orang yang pandai nge-sastra (gak punya cukup duit). Sulitnya... bukan mainan. Tapi saya punya keinginan kuat untuk meningkatkan keilmuan. Apapun kesulitannya, saya tetap hadapi. Mulai dah beraksi.

Saya, mau tak mau berhadapan dengan komputer. Perih! Inilah Nilai Penyesuaian.

Bertumpuk-tumpuk buku di perpustakaan, saya pandang terus-menerus. Mata dan kepala sampai bergoyang-goyang. Pusing. Tapi, akhirnya menemukan juga. Inilah Nilai Penyesuaian.

Tak paham, saya pergi ke Gramedia, salah satu caranya. Lumayan dapat ilmu. Tapi malu, cuma manfaatkan gratisan. Walau akhirnya, saya beli buku juga yaitu kamus Bahasa Indonesia, buku EYD, 3 Novel. Inilah Nilai Penyesuaian.

Pencarian di internet tak kalah sering. Mencari arti menulis, teknik membuat cerpen atau puisi, dll. Sampai akhirnya, saya bisa membuat puluhan cerpen (20 cerpen dikirim ke Kompas. Alhamdulillah, semua tidak muat! ) dan puluhan puisi (5 Mei 2011 sudah 70 puisi).

Melihat komputer, di perpustakaan, dan di Gramedia, dan berselancar di internet mengalami penyesuaian diri demi kata kenapa?. Tentunya, semakin hari, saya semakin banyak beradaptasi dengan kata-kata Sastra.

Itulah Nilai Penyesuaian agar kita mewujudnyatakan nilai keharusan kita.
Merasa penting terhadap belajar. Terus saya melalukan apa pun ilmu baiknya. Dengan sendirinya, maka nanti saya ingin melanjutkan postingan tentang Nilai Tambah”.

Maaf deh, tidak kesampaian memebahas Nilai Tambah. Karena belajar itu penting, sehingga perlu membahas kembali

Salam Cerdas!

Sunday, February 6, 2011

Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu? (Bagian 1)

Para orang tua/guru sedang bersedih hati. Kenapa tuh? Mereka sedih melihat anak/anak didiknya rajin belajar. Seakan mereka gagal mendidiknya. Kenapa kok rajin belajar membuat mereka sedih?

Tapi, nanti dulu. Masih inget pengertian belajar menurut versi saya? Kalau lupa, coba lihat lagi.

Nah, berhubung belajar bukan pada hal-hal positif saja, maka mereka sedih karena anaknya rajin belajar olah tawuran, belajar kelompok kimia narkoba, dan para sekutu-sekutunya. Bagi kebanyakan pelajar, menyia-nyiakan pendidikan karena ilmu-ilmunya tidak punya kepentingan lagi untuk dipelajari. Ya, itu kata hati dan pikirannya.

Oh ya, sampai saya ingin membahas bagaimana sikap orang yang punyai kepentingan belajar(dan pembahasan tentang pentingnya belajar bisa dikatakan ketua dalam Tips Belajar). Kalau nanti ternyata pembahasan saya salah, silahkan protes sama Pak Guru.

Orang yang punya kepentingan belajar karena jiwanya sudah tertanam apa-apa yang penting dalam belajar. Dalam hal ini, saya akan bahas “tiga nilai” yaitu nilai keharusan, nilai penyesuaian, nilai tambah.

1. Nilai Keharusan
Kenapa orang tua banting tulang (wah, sakit kali?!) untuk menedidik/menafkahi keluarganya? Kenapa para cowo/cewe giat melancarkan rayuan demi mendapatin hati si target? Kenapa ingin kaya? Kenapa ingin miskin? Oh tidak. Kenapa, kenapa, dan kenapa?

Pertanyaan “kenapa” adalah untuk menanam sikap “keharusan” pada diri pembelajar. Pengalaman orang-orang yang terlebih dahulu menjawab “bagaimana”, kebanyakan tidak melakukan yang telah diketahuinya. Tidak ada “nilai keharusan” dalam jiwanya. Sia-sia!!!

Kenapa banyak para pelajar yang ogah belajar? Karena belum menemukan jawaban pasti dari pertanyaan “kenapa”. Tak ada jawaban pasti, maka dipastikan tidak ada nilai keharusan sejati pula. Malahan banyak yang hanya mengajukan pertanyaan keluahan seperti, Kenapa gue belajar Matematik?" "Apa gak pusing belajar MTK?" "Bisa gak belajar Matematika untuk kerja?" Dll.

Di saat pelajar belum menemukan jawaban “kenapa”, tidak ada juga pihak yang serius membantu menjawab “kenapa”. Tentu, pihak terkait yang dekat dengan pelajar adalah guru. Guru seharusnya serus membahas pertanyaan “kenapa” untuk pelajar. Maka, nilai keharusan untuk belajar tertanam baik pada jiwa pelajar.

Pembahasan pertanyaan “kenapa” bisa terjadi bila mata pelajaran mengarah pada kesiapan pengamalan ilmu. Di tambah adanya pembelajaran Psikologi Belajar, pengembangan Diri, Metode Berpikir, dll.

Tapi, karena guru terkait dengan kurikulum, lembaga, dan pemerintah, mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mengembangkan pengajaran yang lebih bebas-kreatif.

Kalau jawaban saya tentang “kenapa”, karena saya ingin meningkatkan keilmuan dalam (dan lewat) dunia penulisan. Kebetulan saya masih bodoh. Bila tidak belajar, lebih bodoh!

Tapi, walau pun kita tidak punya alasan tepat, saya yakin, bila kita melihat arti penting masa depan atau arti penting impian, maka pendidikan dianggap penting. Sehingga, kita punya alasan tepat kenapa harus, kenapa itu, kenapa begini, dll.

Untuk kedua “nilai”, dilanjutkan pada postingan berikutnya sebagai pembahasan tentang pentingnya belajar berikutnya.

Salam Cerdas!

Friday, February 4, 2011

Tentang Belajar: Membahas tentang Niat

Sudah saya jelaskan di awal postingan, belajar bukan hanya pada hal-hal positif saja. Akan tetapi pada hal negatif juga bisa. Dengan pengertian itu, memebuat saya tertarik untuk memebahas tentang masalah niat si pembelajar sebagai tips belajar berikutnya.

Orang yang belajar tentang tata cara membuat obat untuk penyembuhan penyakit, maka dikatakan mempelajari ilmu positif. Karena sejatinya ilmu membuat obat penyembuhan tidak ada hal negatif dalam tata caranya. Tentunya, yang bikin adalah ahli farmasi legal, bukan?

Tapi bila belajar mengenai teknik membuat pil terlarang (narkoba), dipastkan mempelajari ilmu negatif. Sejatinya, membuat pil terlarang ada hal negatif dalam tata caranya. Tahu tidak siapa yang membuat obat itu? Tentunya para mafia dong.

Walau sejatinya antara ilmu bikin obat penyembuhan dan ilmu obat terlarang, sama-sama punya kemuliaan (ketinggian) dilihat dari sisi keilmuannya. Karena ilmu lebih mulia daripada kebodohan. Itulah kata-kata yang saya comot dari orang ternama yaitu Imam Al-Ghazali dalam buku Risalah Ilmu Laduni.

Semua Tergantung Niatnya

Atas dasar kemuliaan ilmu, maka dibolehkan mempelajari ilmu yang dikatakakan negatif secara wujud ilmu. Tentunya, niat kebaikan itulah yang harus didahulukan sebelum mempelajarinya. Tentu, seorang dokter sangat butuh informasi mengenai tata cara membuat obat terlarang itu. Apakah dokter membuat obat itu? Tidak dong. Dokter mempelajari ilmu itu demi keselamatan manusia.

Penjahat yang terorganisir dengan ilmu akan menguasai kita yang nggak terorganisir dengan ilmu. Dengan alasan itulah kita dibolehkan untuk mempelajari ilmu terlarang demi keamanan. walau demikian, jangan sampai melakukan dan menjadikan kebiasaan.

Kita lebih tergerak dengan niatnya daripada tindakannya. Niat akan memperlihatkan wujud asli tindakan kita. Bila kita mempelajari ilmu dengan niat untuk kejahatan, maka tiap usaha yang dilakukan itu menggambarkan mengenai niat jahatnya Bila kita mempelajari ilmu dengan niat  baik demi keselamatan, maka tiap usaha yang dilakukan itu menggambarkan pada niat untuk  untuk keselamatannya.

Salam Cerdas!