Showing posts with label Sajak. Show all posts
Showing posts with label Sajak. Show all posts

Thursday, April 9, 2015

Pamflet Revolusi Mental Penguasa Metal

Sajak dalam gejolak, seruan memandang keadaan.
Bukan tanpa alasan, ini dalam ancaman.
Jalan kebenaran sudah terbegal-begal tangan kekuasaan,
merampas hak dan mengabaikan kewajiban.
Bukan lagi toleransi berbungkus demokrasi!
Sejatinya egois berbau hedonis, ini para metalis negeri!

Acungkan penuduh, pemerintahan bermain modus!
Bukan lagi menjunjung HAM kebenaran, politikus bermain gigitan tikus!
Namun sudah lumrah, anak bangsa terdidik dengan matematika yang tak berlogika!
Hukum hanya aturan permainan perasaan, tergantung faktor kali dari pesanan pihak bajing bangsa.

Acungkan penuduh, pemerintahan bermain teroris sistemis!
Deradikalisasi bukan dengan membangun sistem radikal.
Mengatasnamakan deradikalisme, pemberantasan maksa.
Radikalisasi berada di tubuh negara sendiri, mengancam massa.
Tanpa sadar, saling mengancam keselamatan!

Para sufi menangis histeris, barangkali nilai surga dianggap bengis.
Karena anak bangsa tahu, kekuatan revolusi mental berada dalam genggaman agamis.
Sekuat tenaga mereka dalam bentang, menghadang.
Bahkan dengan sistem terwakilkan, berjudul melepas tangan pertanggungjawaban.

Sajak dalam gejolak, seruan memandang keadaan.
Bukan tanpa alasan, ini dalam ancaman.
Jalan kebenaran sudah terbegal di atas kekuasaan,
merampas hak dan mengabaikan kewajiban.
Bisa jadi, mereka akan terbegal jiwa metal sendiri.
Revolusi mental adalah perubahan kehendak ilahi, bukan manusiawi.

Saturday, September 3, 2011

Sajak Mawar Berdarah

Setangkai bunga terlihat jatuh ditaman.
Bunga yang selalu hadir dalam percintaan
Tak di sangka, tak ada siapa dalam pandangan.
Lihat mawar merah berbalut darah, mengejutkan.

Darah siapa dalam mawar layu?
Mencekan suasana sore hati sayu.
Betapa jejak yang masih berkabut.
Bukanlah ini hal yang istimewa
Tentang mewah yang menusuk raga.
Tetapi, kejadian ini dalam mengulangan.

Sepi sendiri di taman buram percintaan.
Menatap kisah lalu dalam taman ini.
Seseorang yang mati tertusuk mawar berduri.
Bukanlah ini istimewa, tetapi ia mati saat cinta menekan.

Mawar berdarah menjadi kisah.
Hadir sebagai hantu saat ada hati keluh-kesah.
Hantu itu hadir, tanpa aku panggil
Saat aku masih sendu cintaku yang terpenggal.

Saturday, August 20, 2011

Sajak SALOME, Satu Untuk Semua

Berilah aku nama keluargamu.
Siapakah mereka dalam istana?
Aku dalam tanya
dirimu dalam jawab menanggap.
Diriku berharap tepat dalam jawab.
Lembut senyummu menyambut hangat

Dan dirimu berucap,
“Siapakah yang utama?
Dirimu dalam keutaman memilih,
aku dalam keutamaan menjawab.”

Kataku berucap melesat tepat di hadapmu.
Silahkanlah dirimu menjawab.
Kau wanita bunga hatiku.
Emosimu lebih memahami arti wanitamu.

Laksana busur panah yang melesat cepat
Kau cepat menanggap dan menjawab, “Ibu!”
Katamu dalam mulut yang bersuara hormat.

Marilah kau sebut nama keluargamu
maka kita adalah dalam ikat keluarga
yang menatap kita penuh doa.

Kau berkata,
“Ibuku bernama pohon bunga yang melahirkan kehidupan.
Ayahku bernama petani yang menjaga indah taman.
Saudara kandungku bernama bunga
yang mengindahkan
yang mengharumkan
yang memeriahkan
penuh warna dalam istana.”

Kau memberikan satu untuk semua.
Kau pasti merasakan arti kehadiran mereka dalam satu jiwa.
Kehadiran mereka adalah kerelaan jiwamu untuk semua
bagai sayang ibu yang melahirkan beberapa bunga kehidupan.

Friday, August 19, 2011

Sajak Kebersamaan

Bising kehidupan masih terngiang.
Tapi taman keindahan,
harumnya bunga-bunga sedikit membekukan suara-suara.
Mentari kian kantuk dalam terang.
Burung-burung terbang kembali
pada istana-istana keluarga.

Dalam kantuk mentari
Gaduh dalam hidup terlihat mata.
Betapa 2 sosok muda-mudi bertengkar hati.
Di taman indah bunga-bunga.

Mentari tetap tak sudi menatap
Melanjutkan kantuk yang kian terlelap.
Kita berdua menatap resah.
Di saat isyarat mentari tertulis di awan putih
“Jangan ganggu, aku dalam lelah”.

Pertengkaran tetap dalam bara.
Burung terbang menghindar gersang.
Betapa kebersamaan menjadi 1001 dilema.
Dan kini aku duduk dalam harap terang.

Sang waktu memanggil
dan menyuruhku berkisah.
Tentang arti kebersamaan yang masih berkabut tebal
Pada Purnama yang nampak cerah.

Kita dalam kebersamaan.
Mereka yang bertikai dalam kebersamaan.
Kebersamaan kita penuh mutiara.
Kebersamaan mereka yang bertikai hancur mutiara.
Apa beda aku dan dirinya?
Kita dalam tema kebersamaan.

Betapa hidup adalah pilihan.
Pilihan berkisar damai dan permusuhan.
Hadir pilihan di tengah kebersamaan.
Akan nampak jalan hidup, pilihan kebenaran.

Kebersamaan adalah kecocokan kebenaran.
Lihat saja 2 muda mudi bertikai hati.
Mungkin, mereka dalam perebutan hak kebenaran.
Saling menentang memisah diri.
Tak ada kesamaan asa dalam hati.

Tatkala penjahat berkumpul di suatu tempat
Menatur taktik jahat, pengacau jagat.
Betapa kebersamaan mereka menabur damai jiwa.
Tak ada tusuk pisau sesama atau hancur rencana.

Kebersamaan adalah dengan kedamaiannya
Walau pilihan permusuhan
selalu menawar mesra dihadapnya.
Tak ada yang lain pilihan jiwa
hanya kedamaian dan permusuhan
hanyalah pilihan fatamorgana.

Thursday, August 18, 2011

Sajak : Cukup dalam Bincang

Waktu dengan dengan 3 zamannya.
Hari dengan pengulangannya.
Bumi dan rembulan dengan putarannya
Aku dan kamu dalam ikatannya

Tak kusangka dengan binar-binar mentari sore hari
Tak kusangka dalam taman surga dengan hisapan wangi.
Tak kusangka kita dalam jauh waktu berbincang hati.
Merangkai baik-bait sajak sampai kantuk mentari.

Marilah nanti dalam renung malam secara sendiri.
tatkala bincang kita sementara sampai disini.
Merenung kenangan siang menelusuri bincang berbalut kotor di hati
Dan kita dalam sadar, arti hidup adalah kisah yang terlewati.

Bincang hati cukuplah sampai di sini.
Perpisahan adalah catatan bersejarah.
Kenangan akan mengetuk pintu bertamu di istana hati.
Menemani kita bercengkrama penuh belas kasih.

Wednesday, August 17, 2011

Sajak Persembahan 17 Agustus Indonesia 66

Merah putih, sejarah kibarkan bendera.
Penghormatan dalam kibaran raya angkasa
Pengagunganku tanpa penyembahan padamu.
Sedu duka lara menemani pandang bendera.

17 Agustus Indonesia 66.
Hanya kenang darah merah dendam.
Mengalir sampai tega ke kaum sengsara.
Putih kain hanya balut luka
sumbat darah amarah jiwa.

Agustus Indonesia 66.
Pengulangan rayakan kemerdekaan.
Tetapkan pengulangan hari penjajahan.
Esok hari hanya penantian reformasi
Tak perlu lagi aksi busuk spanduk orasi!

Lupakan sejenak polemik politik.
Hari ini, hari lahir bangsa Indonesia.
Agustus Indonesia 66 dalam usia.
Aku sambut dengan hati merdeka!

Tuesday, August 16, 2011

Sajak Bayang-bayangan

Diriku dan Purnama telah berpisah dunia.
Di saat mentari merah padam terlihat mata.
Diriku dan dirinya lepas pandang.

Kini tinggal bayang gelap menari dalam pikiran.
Aku menari bersama bayangan kawan
menuai kehidupan khayalan.
Tak lepas bayangan kawan
lekat erat bersama langkahku
bersama bayang ragaku
bersama kehidupanku.

Suara Purnama yang terus bersyair
indah kata pujangga.
Tak mungkin aku menutup telinga.
Aku dan dirinya adalah kesatuan kehidupan yang nyata.

Dalam kendaraan kini dalam laju.
Menapaki perjalanan masa depan.
Terlihat pemandangan menuju masa lalu.
Diriku sendiri dalam bayang-bayang kehilangan
Khawatir waktu tak memberi aku jumpa.
Aku tinggalkan Purnama seorang diri.
Tak tega rasa hati, dalam bayang paras lugu gadis itu.

Melihat jasad ini masih terduduk melemas
Meratapi nasib tak mengikut langkah bersama
Dengan dirinya, gadis tak berhias nyala.

Setengah jam diri ini dalam perjalanan.
Mentari pun terlihat tertidur lelap
Pulang keistana walau di rasa hampa.
Dalam kamar diriku masih membayang
pada gadis berparas sederhana.
Gadis itu mengikis gelap istana
Sehingga ruang sepi tak menghantui jiwa.

Sayup-sayup suara kendaraan
masuk di ruang telinga
membawa pikirku pada kisah terminal itu.
Tempat aku dan Purnama dalam jumpa.

Aku hanya Mencatat dalam lembar kisah
Merenung pada kisah di malam hari.
Mencapai maksud dalam penyadaran diri.

Saturday, August 13, 2011

Sajak Pamflet yang Terlupakan, Kawan

Terang kehidupan kini redup kembali.
Ruang sepi kini menghantui kembali.
Kenapa tidak? Diriku ini dalam kealpaan.

Tali hubungan seakan genting
Terancam putus dalam ikatan.
Kenapa diri ini lupa dalam tanya.
Mana media penghubung kita
di kala menjauh tak berjumpa?
Kenapa aku tak merangkai tanya pengharapan itu?

Gelap malam seakan menyudutkanku.
Acungkan telunjuknya dalam salahkanku.
Diriku semakin menggigil kesedihan.
Tak ada belas kasihan di ruang kemegahan.
Satu ada di sini, tapi ia dalam pergi.

Betapa manisnya perjumpaan hanya sekejap rasa.
Perpisahan menusuk begitu menyakitkan.
Gadis teman kehidupan seakan hanya khayalan
Apakah dirinya merasa kealpaan?

Betapa diriku akibat masa lalu,
Karena diriku selalu hanyut mengingat kedukaanku.
Diriku duka kehilangan.
Tak kuasa diriku dalam kesunyian.
Sehingga hidup tak selalu aku hirau.
Biarkan saja mereka bergurau dan diriku dalam igau.
Pada segumpal duka, diriku berbalut lupa.

Tapi aku tak sanggup mengulang waktu.
Berjumpa gadis yang mengerti diriku.
Tapi hilang gadis itu bersama masa lalu.
Kini, aku tak kuasa mencari,
kemana diriku bertemu.

Friday, August 12, 2011

Sajak : Malam Menunggu

Dalam sunyi, menghias ruangan kerinduan.
Dalam kesendirian tak ada sambut kehadiran.
Di saat detik membunuh masa kini
di saat itu, pikiran melayang jauh keluar batas keduniaan.
Mencari hadir ibu, juga ayah yang kutunggu.
Hati ini dalam harap bertemu.
Tapi terbentur jazad yang masih menunggu waktu.
Apa daya, malam hanya hadirkan pengganti ibu.
Tapi kini, tak ada sambut kehadiran di ruang penantian.

Hadirmu aku tunggu.
Aku bermanja padamu
walau diriku dalam kedewasaan.
Belai damai untuk hatiku, mengajari kesabaran.
Kini, menunggu dalam soal ujian
yang harus terjawab dengan kesabaran.
Betapa kesabaran adalah ketetapan hati menunggu kepastian.
Sehingga aku dalam pelaksana perkataan.

Malam gelap, ikut setia menunggu.
Walau tingkah malam warna bunga terhijab gelap, tak terlihat aku.
Tapi nuansa malam cukup sejukkan raga di saat gerah gelisah
sehingga menunggu adalah kesegaran raga, di istana megah.

Jam menunjuk di angka 21.00.
Ragamu tak kunjung pulang.
Dering khabar tak terdengar.
Tak biasa sangkar malam tak ada gurau riang.
Senyap semakin menguasai.
Menunggu masih tak terjawab waktu.
Pertanyaan-pertanyaan bertebaran dalam alam pikiran.

Sajak : Menyambut Ulang Tahun

Pagi yang cerah ini
kuhembus semilir angin nafasku
berisikan rangkai kata indah
sebagai sambutan untuk ulang tahunmu.

Kau dalam hari-hari yang bahagia.
Seluruh ucapan istimewa tertuju padamu.
Hatimu mengembang raya dari ucapan istimewa itu.
Tawa riangmu selalu melayang ke tepi telinga teman-teman.
Kau dalam hari-hari yang bahagia.

Pada hari ini
kutermenung menatap dunia yang berputar.
Menjadikan putaran itu adalah putaran tahun.
Berlalunya kisah menjadi sejarah.
Kutermenung menatap harimu yang melaju
berputar mengikuti sang waktu.
Kini pergantian tahun datang menyambutmu.
Sambutku dalam ulang tahunmu.

Selamat untukmu dalam ulang tahunmu.
Selamat ulang tahun.
Selamat menggapai kebahagiaan.
Semoga jalan hidupmu adalah dalam kebenaran.
Gapailah asa, dan kau pun akan tahu apa arti putaran tahunmu.

Sajak : Peluh dan Cermin

Lihat pada beningnya kaca
sejenak kau lupakan penat hidup yang kau rasa.
Peluhmu mengalir lelah.
Lau terbanglah ke alam pikiran.
Di situ kau akan mengambil beberapa mutiara
Aku berkata padamu
seperti sang bijak dalam kata
“Kenalilah dirimu sendiri”.

Lihatlah peluhmu
Peluhmu adalah perjuangan hidupmu
yang mengalir deras.
Bumi sebagai saksi bisu.
Kau berjuang demi hidup yang berderu.

Tapi lihatlah peluhmu
pada cermin-cermin kehidupan.
Apakah kau sempat berpikir?
Tatkala makna juangmu kau pikirkan
kebijaksanaan akan kau peroleh.

Saat kau mengenal peluhmu
melihat peluh orang lain adalah kau dalam peduli.
Kau bernasib sama.
Kau bernasib juangkan hidup
demi berlangsungnya kehidupan.

Di kala kau dalam hasil
dan menikmatinya
kau tak menutup mata.

Di kala kau sengsara
lelah dalam hidup dan terlintas di hadapanmu
seorang pembawa beban
kau tak akan tawarkan beban itu
untuk kau bawa demi ringan hidupnya
karena kau sendiri akan terhimpit sempit.

Biarlah dirimu kau urus
dan matamu tetap kau buka.
Melihat pada lalu lalang manusia.

Sajak: Maafmu Untukku

Aku memandangmu
dalam jarak umur.
Akulah tinggi darimu.
Tapi tatkala umurku tertutup salah
tak mampu melihat arah petunjuk
sehingga berjalan lunglai dalam menapaki hidup
betapa diriku dalam tunduk
aku rendah walau terpandang tinggi umurku.

Diriku tersalah
sehingga kumerendah.
Aku tak berucap kata membantah.
Di hadapmu aku memandang pilu karena salahku.
Tak pantas aku dongakkan kepala
seakan-akan aku adalah tuan raja.
Betapa pun raja
bila tersalah pada rakyat jelata
menunduklah sang raja
atau akan mati dalam hina.

Maafmu untukku.
Meminta diriku padamu
agar kabut-kabut hitam hilangkan dari mataku.
Kamu lebih tinggi dariku.
Maafmu untukku dalam kedukaan hati.
Derasnya harap
mengalir sampai di bejana hatimu
agar kamu tahu riakku
agar kamu mau memaafkan salahku.

Thursday, August 11, 2011

Sajak : Malam dengan Tangis

Langit malam
dengan rembulannya
dengan bintang-bintangnya
yang cahayanya adalah lukisan kedamaian.
tak ada kegerahan dalam hidup
hanya kesejukan menyelusup lembut.

Tatkala malam melihatmu
yang kini dalam niat sucimu
haru menyelimuti di tiap kedip matamu.
Pancaran cahaya malam adalah tetesan air mata
yang kini membasahi hamparan lantai dunia.

Tangis malam mengiringi lantunan ayat suci yang kamu baca
bersuara jernih suci.
Niatmu adalah menanjak tinggi meraih bintang mulia.
Bintang pun melihat tingkat derajat ketinggianmu
Di tiap kamu lantunkan ayat mutiara indah
yang beriringan dengan ikhlasmu.

Lihat pula diriku.
Bagai malam yang menitikan air mata haru.
Dalam tangis kebanggaan, aku derukan dengan rangkai doa
mengalir ke dalam hamparan jiwamu
demi dirimu dalam mulia.

Kini seisi malam penuh tangis.
Bangga akan dirimu.
Sebagai sambut hijrahmu di jalan kemuliaan.
Semoga kamu dalam lindungan Tuhan
di tiap kamu lantunkan rangkai kata suci itu.

Sajak>> Puisi Kisah Kita

Laju waktu
mengayun kaki kita dalam mengarumi hidup di bawah hamparan langit biru.
Pergantian antara malam dengan siang adalah rutinitas hidup kita.
Pancaran mentari adalah semangat dalam menghadapi hidup kita
Rembulan dengan cahaya yang lembut adalah kedamaian hati kita.
Tebaran bintang di jagat langit gelap adalah keberhasilan masa depan kita.
Itulah kisah kita, tercatat di tiap rangkai hari
sebagai rangkai puisi yang menghias di indah.

Puisi kisah kita
yang tak sekedar goresan ilusi
Puisi itu melayang, menghadap mesra
dirimu membawa bayang-bayang diriku.
Biarlah puisi sebagai lembaran sejarah
karena kita adalah anak dari sejarah
sehingga kita pun mampu mengukir sejarah
yang menghias indah dalam kamar hidup kita.
Teman di kala sunyi
teman di kala tersesat gelap malam
yang akan bercengkrama di ruang hati
penuh mutiara-mutiara kehidupan.

Puisi kisah kita.
Melihatku pada pandang jauh di hadapan.
Hamparan masa depan adalah bahan kenangan
yang bertebaran kosa kata kisah yang siap kita rangkai.
Kita tak mengetahui jalan mana harus menemui bahan kenangan yang kita dambakan.
Sehingga putaran hari kita lalui dalam ikatan kepasrahan
walau harap tetap bersarang di dalam darah merah.

Puisi kisah kita
adalah pena yang hanya mampu menggores
tatkala tangan memainkannya.

Putaran Tahun Sayang

Terkenang sudah.
Tangkai hari berwarna warni
yang berhubungan menuju hiasan tahun
berkisah jalinan kita.

Aku memetik bunga kasih sayang
berwarna menawan dalam pandang
tiap hela nafas mengisi hari.
Aku simpan dalam pusat hati.
Memberi sejuta rasa agar tetap terikat erat
antara kita yang menikmati tarian hidup
dalam putaran tahun.

Sajak_ Rindu dan Kehampaan

Sesak di ruang hati.
Terpenuhi rindu dan kehampaan.
Tak ada sapa dan di sapa.
Hanya hamparan sunyi.

Kumenapaki dengan kaki tertatih
menari dalam pelepas rindu
di tiap putaran waktu.
Tapi tarianku hanya penambah sesak ruang hati
tak ada kekasih yang menemaniku di tiap tarian.
Hatiku semakin merindu dalam kehampaan.

Tatkala yang kurindu
bayang-bayangnya masih menutup diri berselimut
bersama dengan rahasia angin kehidupan.
Dalam kehampaan rinduku semakin tak terjawab
walau semilir angin tak henti berbisik di telinga.
Bisikannya hanya siulan kosong, tak berkhabar nyata.

Biarlah rinduku hanya nyanyian tanpa irama musik.
Suatu saat, irama musik akan mengiringi nyanyian
dengan asik, menyatu dalam jiwa kebersamaan.

Rindu memang kehampaan.
Hanya erangan yang selalu hadir
sebagai panggilan untuk kekasih.
Tapi erangan itu tetap tak terjawab
hanya hamparan sunyi
dan bayangan-bayangan kekasih yang mengusik hati.

Rindu dalam kehampaan
Hadirlah kekasih di istana megahku.
Akan aku taburi bebungaan nan mewangi
agar hadirmu dalam tebaran senyum hati.
Hadirmu bukanlah arti kehampaan
Tapi hadirmu adalah pengisi jiwa kehampaan.
Kau yang pantas mengisi kekosonganku.

Sajak Rumput Bergoyang

Wahai sahabat yang terhina!
Aku akan berkisah tentang rumput yang bergoyang.
Agar mengerti tiap gerak goyang yang ia beri.
Penuh pelajaran yang bermukim dari dasar kerendahan.
Kisahnya yang di pandang angin lalu.
Hanya tatapan kosong manusia
Tubuh hijau rerumputan terusir jauh.

Wahai sahabat yang luka.
Di kala dirimu dalam lara
Terinjak kaki kehormatan dan terhina dirimu
mengaduhlah dan kau berseru tanya
pada rumput yang bergoyang.

Dan rumput berkisah,
“ 1001 kaki bengis, kaki lalai,
menginjakku hingga daun kuasaku dalam lalu,
hina tak berdaya.
Tapi 1001 semangat hidupku
adalah hamparan luas hijau padang rerumputan
Tak akan mati di bawah injakan kaki.”

Wahai sahabat dalam harapan mulia!
Pelajaran mana yang kau dapat pada rerumputan?
Hanya kerendahan jiwa
agar sepadan dengan rendah rerumputan
kau akan menuai hijau daun kehidupan.

Sajak Penyesalan

Tatkala kau kekasihku, ku tetap cinta.
Kau remas hatiku
sampai kisahnya adalah goresan luka, ku tetap cinta.
Kau hisap darahku
hingga lemas tak berdaya, ku tetap cinta.
Kau kuras hartaku,
sampai kini aku miskin harta, ku tetap cinta.

Tapi di saat kau telah memanfaatkan hidupku, kau hati tega,
meninggalkan tubuh dan jiwaku di saat ku dalam terluka,
dan ku hanya kecewa membara.

Kini kucinta hanya penyesalan.
Rasa sesal kini hanya pisau
yang terus lukai di saat kuingat kau.
Tapi ku tetap mengingat
sehingga hari-hariku hanya hati lara karena kau.

Sajak - Sayang yang Setia

Seonggok sayangku, sayangku padamu.
Terkumpul dalam bejana hati
terungkap indah dalam kanvas
menceritakan tentang kisah kita.

Sayangku setia menemani dalam hari hati.
Melekat erat, memeluk mesra dalam jiwa.
Menjadikannya tarikan nafas hidupku.
Dalam sayangku padamu.

Rasa sayangku menyelusup lembut
menyebar di hamparan jiwamu.
Menabur penawar racun
dan hinggap di hatimu yang luka.
Sehingga hadirku membawa bahagia.

Sayangku yang setia
penuh kilau mutiara
yang memancar terang.
Petunjuk di kala gelap-gelap menghalang perjalanan.
Tatkala malam gelap
tak lagi menutup jalan kehidupan.
Kebenaran-kebenaran jalan kehidupan akan tampak
dan kita melangkah bersama.

Wednesday, August 10, 2011

Sajak: Kesembuh Kasih

Derai air mata seakan tumpah tak tersendat malu.
Betapa diriku memandang dirimu
di waktu sakitmu yang terbaring
melemah di kamar peristirahatan.
Kau nampak pucat pasi.
Kau tak lagi dalam pancaran mentari pagi.
Betapa diriku memandang dirimu
adalah sayap belas kasih mengusap keningmu.

Sembuh kasihku.
doaku selalu mengiringi di tiap peluh sakitmu.
Senduku adalah rasa harap yang menggunung
demi dirimu, demi sembuhmu.
Melihatmu, melihat kisah kanak-kanak pada umumnya
yang butuh usap kasih sayang orang tua.
Tapi kau jauh di mata mereka.
Biarlah kasih sayang terwakilkan olehku
agar kau terang kembali
mengukir sejarah baru di lembar hari
yang masih kosong rangkai kisahmu.

Sembuh kasihku.
Aku tahu kau dilema
mengangkat beban di saat umurmu beranjak dewasa
sampai kau terjatuh sakit.
Taruhlah dahulu bebanmu sejenak
Lepaskan fikiran dari beban kehidupan.
hidup pun mengerti melihatmu dalam pembaringan.

Sembuh kasihku.
kau tau sejak awal sakitmu aku ada di sisimu.
Menemanimu mengusap kening dengan hangat kasih sayang.
Aku adalah wakil orang tuamu.
Mereka pun dalam doa demi sembuhmu.
Aku ada dihadapmu di waktu sembuhmu.
Aku ada di hadapmu di waktu sakitmu.