Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

Friday, July 17, 2015

Anak Genk Belagu, Gertak Saja! Ciut!

Kekuatan preman (lebih tepat anak genk) itu berjama'ah, dan memang segala macam kekuatan fisik akan semakin kuat kalau berjama'ah. Walau si preman itu krempeng-krempeng (kurus) doyan nyimeng, tetap saja beraninya setengah mampus menghadapi satu orang yang berotot. Namun ketika si individu preman itu sedang sendirian atau memakai kekuatan sendiri, dia itu ciut ketika melihat fisik agak berotot sedikit. Liciknya, preman bisa menggunakan taktik jahat yang membuat leluasa dan orang baik tidak bisa membuat taktik jahat yang membuat tidak leluasa. Beraninya si preman karena berani melanggar aturan hukum.

Saya sangat lucu waktu mendengarkan cerita-cerita teman kampus yang katanya anak preman, lebih tepatnya anak genk, yang menceritakan kegiatan dirinya yang suka tawuran, sok menjadi pahlawan, dll tentang kegiatan konyol anak genk brandal. Kenapa lucu? badan loyo dan culun saja sok cerita kebanggaan2 menjadi jagoan gila.

Nih, sikap menghadapi si anak genk yang resek, tanpa basah-basih langsung sikat:

"Dikira saya tuan rumah yang belagu di sekolah SMA, dan dia (santri) berani berkata, 'Jangan mentang-mentang orang sini', dikira saya belagu padahal dia yang belagu. Kebetulan ada dua kejadian. Yang pertama tanpa basah-basih, saya jepit lehernya, gak bisa nafas. Pada kejadian kedua, langsung tanpa basah-basih berkata , "Mau ente apa? Nanti hadapi saya saat pulang sekolah.' ketika bertemu, langsung saya berkata sambil mendorong, dan berrrrr.... dia gelapakan mundur kebelakang hampir jatuh. Selesai tanpa perlawanan"

"Ketika saya sedang duduk, waktu SMA kelas 3, tiba-tiba ada si anak genk menyentuh (keras) kepala saya. Mentang-mentang saya sedang loyo karena ada masalah fisik, dia berani menantang. Dikira saya diem saja ketika itu. Langsung saya dorong habis-habisan tanpa suara dan basah-basi fisik. Andai pernafasan saya kuat menghajar, bakalan bonyok habis-habisan."

"Saat kuliah ketemu lagi sama orang-orang genk resek, yang suka mengusik ketenangan orang lain. Langsung saya dorong kursi saat menghadapi dia. Hampir saja kursi mental jauh namun terhalang. Dan ujung-ujungnya ciut juga."

Dan masih ada lagi menghadapi orang-orang resek, sekali gertak bisa jadi ciut.

Jadi, sikap individu si anak genk tidak ada apa-apanya. Menjadi kuat ketika memang terjalin kesatuan kekuatan. Namun perlu mengukur nilai kekuatan dan keberanian, tentunya. Langsung saja LAWAN TANPA BASAH-BASIH!

Wednesday, July 15, 2015

Bukan Terapi Tertawa, Tapi Terapi Menangis

Banyak sekali hadist Nabi SAW yang menyatakan tertawa bisa menyebabkan bahaya, bisa membuat hati keras, bisa dianggap meludahi ilmu, dan sebagainya. Tentu, tidak semua tertawa bisa menyebabkan bahaya. Lah, bagaimana judulnya bila ada "terapi tertawa"? Tentu akan mengalami yang namanya tertawa yang disengaja, yang bisa jadi justru mengalami volume dan jumlah tertawa yang berlebihan. Kalau pun tidak dalam standar berlebihan, ya buat apa melakukan teori tertawa?

Padahal ada kaidah "Perbanyak menangis dan jangan perbanyak tertawa". Kaidah ini sebagai kaidah dasar dalam terapi kesehatan lewat menangis yang ditinjau dalam segi keislaman. Sekarang, coba melakukan kegiatan menangis dan terawa selama satu menit. Coba bandingkan, lebih segar tertawa atau menangis?

Setelah saya menguji-coba, ternyata saya merasakan bahwa lebih segar melakukan kegiatan menangis daripada tertawa walau saya mencoba dalam waktu yang sebentar. Kalau saya melakukan terapi tertawa dan menangis, akan mengalami ketegangan otot. Ternyata, efek dari ketegangannya berbeda. Tentu, ketegangan ini akan berpengaruh terhadap perasaan dan pikiran.


Study Kasus:
Si Rojul, Si Fulan dan Si Rijal sama-sama memiliki masalah besar yang cukup menggangu pikiran dan perasaan. Si Rojul memaksakan diri untuk tetap tertawa walau memiliki masalah besar. Berbeda dengan Si Fulan yang bereaksi menangis karena masalahnya. Namun untuk Si Rijal, tetap memenangkan pikiran seolah-olah tidak memiliki masalah besar.


Kadar Gelombang Pikiran:
1. Si Rojul: Tetap dalam kondisi gelombang Bheta (Tertawa) untuk mengatasi gelombang Bheta (Masalah)
2. Si Fulan: Berusaha untuk menurunkan gelombang Bheta (Masalah) namun tidak sanggup karena gelombang Bheta(Masalah) terlalu besar.
3. Si Rijal: Berusaha untuk menurunkan gelombang Bheta (Masalah) namun sanggup melakukannya karena memang sudah terbiasa.


Efek Samping:
1. Si Rojul: berusaha mengatasi masalah dengan menambah aktifitas pikiran yaitu melakukan tertawa, bergembira riang, walau hati sedang dalam masalah. Justru, akar masalah tidak sedang diatasi, yaitu masalah hati. Ketika tertawa dipaksakan di saat hati sedang dalam kondisi bermasalah, justru akan menambah beban hati. Tentu ini berbahaya karena mengalami kontradiksi. Itulah sebabnya, kenapa para komedian tidak menjamin bahagia.

2. Si Fulan: karena tidak sanggup dengan masalah besar yang dihadapi, membuat pikiran kacau-balau. Namun apa daya karena tidak bisa menenangkan pikiran, sehingga timbullah reaksi menangis atau bersedih saja. Reaksi sedih atau menangis adalah "Pertolongan Pertama" untuk orang-orang yang bermasalah. Perasaan sedih tidak kontradiksi dengan kenyataan yang sedang dialami.

Itulah sebabnya, ketika menghadapi orang punya masalah, jangan disuruh "Tertawa", tetapi menyuruh menumpahkan tangisan kalau memang mau menangis.

3. Si Rijal: Menghadapi gelombang Behta (Masalah) bukan dengan menambah gelombang Behta. Justru harus berusaha tenang menuju kondisi Alfa-Theta. Karena efeknya akan mengurangi beban dalam hati walau masalah yang sedang dihadapi belum juga hilang. Dengan ketenangan pikiran, tidak sedih dan juga tidak tertawa, maka pintu-pintu solusi akan keluar.

Itulah sebabnya, kalau terjadi masalah yang menyebabkan bertengkar, jangan dilanjutkan, tetapi dihentikan dan mencoba untuk saling memenangkan pikiran.


Fungsi Terapi Menangis:
Tentu, terapi menangis adalah salah satunya sebagai pertolongan pertama bagi orang-orang yang memiliki masalah besar namun tidak bisa menenangkan pikiran dan membahagiakan hati. Lakukan menangis atau reaksi perasaan sedih dengan maksud untuk menghilangkan ketikdaenakan dalam hati bukan untuk "meratapi". Reaksi menangis boleh, namun sekedar menghilangkan ketidakenakan. Karena, ada masalah atau tidak, hati harus tetap dalam keadaan "enak".

Fungsi lain terapi menangis adalah "Penjebol" hati yang keras dan hal yang negatf lainnya. Mengobati hati sombong, dengki, iri, susah dinasehati, rajin bermaksiat, dll, bisa dilakukan dengan terapi menangis dengan mengimajinasikan sesuatu yang membuat sedih akibat keburukan dirinya.

Tuesday, April 14, 2015

Cara Berdebat dengan Orang Liberal

Ucapan khas orang liberal adalah, "Itukan kata anda...", "Jangan mengklaim diri paling benar.", "Kebenaran itu relatif", dll.

Tanggapan:
Ada orang yang berkata, bahwa jangan mengangap diri kita paling benar dan orang lain salah. Maka perlu selidiki, "ente keyakinannya apa? dan siapa keyakinan ente yang ente tolak?" Maka orang itu akan mengeluarkan jurus "Pembenaran", dan itulah sebenarnya klaim pembenaran juga. jadi INKOSISTEN. Di saat inilah saatnya untuk menyerang habis-habisan. Hasilnya ego alias harga diri mereka bisa saja merasa terinjak: MARAH ATAU SAKIT. Konsekuensinya adalah mereka juga mengalami yang namanya "Klaim Kebenaran"

Dalam proses berdebat, mereka biasanya akan menggunakan segunang pemikiran filosofis dalam mengungkapkan kebenaran dirinya. Maka kita pun harus masuk dalam pemikiran filosifis. Sudah kita ketahui bahwa, segudang ilmuan dan filsuf telah memberikan kontribusi pemikiran untuk mereka dan juga untuk kita, jadi sama-sama memiliki bekal dalam adu kebenaran. Tinggal kita terus mengasah kemampuan pikiran saja.

Kalah atau menang dalam berdebat, itu masalah kepintaran atau kebodohan ilmu saja. Namun kalau sudah sering kalah berargumen maka itulah tanda bahwa kebenarannya patut diragukan. Maka bila sudah tidak bisa mengelak dengan fakta bahwa kebenarannya itu dianggap menyimpang, tidak benar maka akan mengelurkan jurus kalimat, "Ini keyakinan saya".

Friday, April 10, 2015

Bagaimana Cara Debat di Facebook?

Saya tidak suka melakukan debat di komentar Facebook kalau dicampuri banyak orang, baik mendukung atau menentang. Konsentrasi akan pecah dan malah merugikan saya sendiri (terlepas orang lain merasa rugi atau tidak). Kecuali hanya saya dan 1 lawan debat saja yang berdialog. Memang pernah meladeni adu pendapat di komentar Facebook, tapi tetap konsentrasi terpecah karena melihat komentar-komentar lainnya.

Saya sering menawarkan berdialog dengan mereka, lewat INDOX FACEBOOK, ketika melihat ada pendapat yang bertentangan. Namun pernah ada beberapa orang berkata, "Ah, takut ketahuan kalah dialog ya?" Salah satu prinsip berdebat atau berdialog adalah "RELA KALAH" karena toh keyakinan siapa yang memilih, salah atau benar? Masalah kalah atau tidak, bisa jadi karena faktor kurangnya ilmu ketika menghadapi lawan.

Saya menginginkan berdebat lewat inbox Facebook adalah untuk memenuhi, salah satunya: Menjaga nama baik mereka atau saya sendiri, bila mereka atau saya kalah dialog. Bukan karena takut kalah, tapi prinsip menjaga nama baik adalah sebuah kemuliaan.

Sehebat apapun berdebat dengan orang yang berlainan agama, sampai kalah sekalipun, kalau keyakinan mereka tetap memilih yang salah, tetap saja bukti kebenaran hasil debat tidak terpakai mereka. Jadi, memprivasi debat dengan mereka lewat inbox Facebook, masih memiliki celah untuk meresapi kebenaran yang telah disampaikan - terlepas ada di pihak yang mana kekuatan pengaruh hasil debat.

Kembali ke kisah saya. Saya menjelaskan alasan saya berdebat di inbox Facebook kepada mereka, namun mereka tetap ngotot mau terbuka agar semua tahu. Ketika itu membahas masalah aqidah (padahal masih cetek ilmunya, alakedernya).

Entah yang menang atau kalah itu siapa, yang jelas saya tidak memiliki rasa menyerah mengungkapkan pendapat. Namun si dia menyarankan untuk berhenti dialog tentang akidah. Kalau sudah begini, ditonton banyak orang. Ujung-ujungnya, dia meminta membahas masalah hal-hal amaliah NU yang dianggap spele lah, masalah khilafiah (walau mereka meyakini bid'ah dan syirik).

Saya sering menawarkan dialog lewat inbox lagi kepada mereka-mereka yang berkoar-koar seolah sedang berjihad. Namun entah karena malas atau tidak, mereka tidak menyetujui tawaran saya. Padahal, ukuran dakwah kebenaran, seharusnya mereka semangat. Buktinya berkoar-koar di Facebook seolah sedang berperang. Masak, dialog adem lewat inbox Facebook malah gak mau?

Jalan Untuk Merevolusi MENTAL BERPIKIR

Kalau bicara seharusnya merevolusi mental berpikir, maka tidak ada kata lain selain harus BELOK TAJAM KE-AKHERAT-AN. Karena tidak ada pemikiran lain terkecuali menumpang dalam wilayah ke-akherat-an (NIRWANA). Sehebat-hebatnya pemikiran, tidak ada nilai bila pemikiran memperburuk nilai ke-akhieratan. Atau sehebat-hebatnya pemikiran namun masih bersifat keduniaan, maka lebih kepada pemikiran yang sia-sia belaka.

Lantas, pemikiran yang seperti apa sehingga dalam hal berpikir tidak merusak citra keakheratan? NAH, INILAH SEBUAH KONFLIK.

Mereka dengan mental pikirannya, seolah pemikirannya dengan nilai keselamatan akherat. Namun menurut sebagian mereka yang berbeda, justru pemikiran mereka sudah keluar dari jalur keselamatan akhirat. Kedua atau ketika golongan saling tuding siapa yang punya nilai keselamatan dalam pemikirannya.

Lantas, ada dimana mental pemikiran anda sekarang?

Liberalisme pemikiran dan radikalisme pemikian adalah sebuah fakta pemikiran yang tak bisa disangkal ada, bahwa mereka berada disekeliling pemikiran moderat yang juga saling bertentangan, memiliki kebenaran mental pemikiran sendiri-sendiri.

Klaim bahwa "SEMUA BENAR" dalam hal pemikiran tentu tidak bisa dibenarkan karena nyatanya mereka yang mengklaim ini pun melakukan pelanggaran yang sangat serius yaitu memprovokasi pemikiran lain yang tidak sejalan dan menentang mereka. Ini hal yang tidak logis, ketika kenyataan mendapati sebuah pengkhianatan pemikiran yang sudah diyakininya.

Klaim bahwa "KEBENARAN HANYA SATU" pun tidak bisa dibenarkan karena nyatanya, banyak yang berbeda-beda antar mereka sendiri yang meyakini bahwa kebenaran pemikiran hanya satu. Mereka mengalami "DISFUNGSI KEBERSAMAAN" karena memang merasa dirinya paling benar dan mereka yang pemikirannya tidak sejalan bahkan dianggap sudah keluar dari jalur kebenaran, tidak ada nilai keselamatan akherat. Seolah tidak ada tawar toleransi - sebagai nilai khilafiah - dalam hal kebenaran pemikiran.

Lantas, ada dimana mental pemikiran anda sekarang?

TROBOSAN REVOLUSI MENTAL BERPIKIR JALUR MODERAT

MODERNIASASI PEMIKIRAN dalam kaidah "Mentradsikan pemikiran kebenaran dan mengambil atau membuat yang baru yang baik atau lebih baik". Bukan modernisasi pemikiran untuk menghancurkan tradisi dan mengambil - yang katanya - PEMBAHARUAN yang justru membuat keadaan pemikiran mengalami kolap, dan menjadi tidak ada kejelasan.

Lantas, yang mendasari mental pemikiran moderat untuk keakheratan itu apa? Kembali kepada jalur keagamaan yang benar. Pemikiran tentang kebenaran keagaman itu seperti apa? Maka secara ilmiah, mana yang paling ilmiah dalam kebenaran suatu agama?

Wednesday, August 24, 2011

Teknik Menggunakan HDR/PM, Apa Itu?

Silahkan Anda pahami kutipan langsung dari Les Giblin (Liat judul buku terjemahan, di sini). Seperti ini.

“Bagi yang mempunyai harga diri rendah bahkan pandangan yang mengandung celaan atau sepatah kata kasar pun bisa menjadi bencana.”

Anda mengerti? Bila kutipan langsung belum begitu paham, saya akan jelaskan secara tidak langsung.

Maksud dari Les Giblin adalah Si “A” yang harga dirinya rendah bila melihat pandangan dari seseorang (pada diri Si A) mengandung celaan terhadap dirinya atau kata-kata yang kasar atau menghina padanya, maka akan menjadi bencana alias timbul pertikaian.

HDR/PM artinya harga diri rendah berarti pertikaian dan masalah.

Sering kita melihat seseorang mengejek temannya. Karena temannya merasa tersinggung, akhirnya ucapan ejekan yang terlihat sepele menjadi sebuah permusuhan. Akhirnya temannya menghajar bahkan membunuhnya hanya karena ucapan ejekan itu. Dapat dipastikan temannya itu mempunyai harga diri yang rendah. So, ini bukan ucapan saya tetapi Les Giblin yang berkata.

Menurut Les Giblin seseorang yang sudah berada di “puncak” lebih mudah untuk diajak berurusan dengan orang lain daripada seseorang yang masih berada pada kelas “bawah” (bawahan).

Sebuah contoh kasus seorang prajurit waktu perang dunia I berkata “Berikan geretan itu sialan!”. Tetapi prajurit itu malu setelah tahu yang dibentaknya itu jenderalnya sendiri. Prajurit itu pun minta maaf dengan perasaan bersalah. Lantas jendral itu pun berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Bersyukurlah karena aku bukan letnan dua.” Bisa kita perhatikan, status jendral yang ia pegang tidak terganggu oleh ucapan kasar dari prajuritnya.

Sehingga dalam pembelajaran pengembangan diri yang baik dalam menghadapi seseorang yang harga dirinya rendah adalah mengingat-ingat tentang kata kunci HDR/PM. Bila kita selalu ingat, maka tiap menghadapi seseorang yang harga diri rendah, kita tidak menambah masalah baru. Perkataan dan perbuatan kita harus terjaga baik-baik agar tidak terjadi sesuatu yang kasar, menyinggung pada seseorang yang harga dirinya rendah.

Salam Cerdas!

Monday, August 15, 2011

Manusia Egois dan Harga diri Rendah

Sebuah pernyataan terbalik dari yang kita kira dari pernyataan Les Giblin. Ia mengatakan orang egois menderita karena memang harga dirinya terlalu rendah bukan karena harga dirinya terlalu tinggi.

Sehingga bila kita menghadapi orang egois (terlalu) maka seakan-akan kita merasa tidak punya harga diri. Padahal seperti yang dikatakan Les Giblin orang egois itu menderita kerendahan harga diri.

Entah benar apa tidak pernyataan Les Giblin, yang jelas pernyataan tersebut telah membantah anggapan yang telas diyakini sejak dahulu. Keyakinan itu adalah tentang orang egois yang merasa kesulitan karena terlalu memandang tinggi dirinya dan memiliki harga diri yang terlalu besar. Sehingga dalam tiap hubungan antarmanusia menimbulkan pertikaian-pertikaian dengan dirinya dan orang lain tiap kali harga diri orang egois terancam.

Bila kita punya hubungan baik dengan diri kita maka akan punya hubungan baik dengan orang lain. Tentu, kita mempunyai harga diri yang baik dan menjaga egois kita dengan bijaksana.

Bonaro Overstreet dalam buku Les Giblin (Judul bulu klik di sini) menceritakan contoh pertikaian individu dengan dirinya sendiri dan pertikaian dengan orang lain. Terbukti dari pertikaian tersebut masalah utamanya adalah karena kurangnya harga diri. Tentu, obatnya adalah dengan memulihkan harga dirinya.

Tetapi bila seseorang tersebut menyukai dirinya maka akan bisa menyukai orang lain. Begitu seseorang berhasil mengatasi ketidak-puasan (dalam memenuhi harga dirinya) yang menyakitkan pada dirinya, seseorang tidak akan terlalu suka mencela dan lebih toleran kepada orang lain.

Orang egois adalah orang yang miskin akan harga diri. Tetapi bila kita bijak mengatur ego kita, maka yang terjadi adalah kesejahteraan hubungan dengan diri kita sendiri dan orang lain. Tentu, ini adalah pembelajaran terbaik tentang bagaimana mengatur egois kita.

Salam Cerdas!

Manusia Egois dan 4 Kenyataan Hidup

Sering kita membicarakan tentang egois. Dalam membahas egois yang ada dalam pikiran kita adalah kenegatifan. Ya, sering juga kita menuduh teman atau seseorang yang kita kenal sebagai orang yang egois. Bila kita menghadapi orang egois seakan kita merasa emosi, marah karena ia tidak mengerti tentang diri kita. Ia lebih mementingkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain.

Tetapi pernyataan Les Giblin (klik di sini untuk liat judul bukunya) telah menyudutkan orang yang tidak merasa egois. Justru menurut Les Giblin semua manusia adalah egois. Semua manusia mementingkan dirinya sendiri.

Sebuah nasihat dari Les Giblin untuk pembelajaran pengembangan diri. Ia mengatakan, bila kita berurusan (bergaul) dengan orang lain, apakah dengan anak-anak, istri (atau para istri) dan suami, tetangga, bos, teman, saudara, keluarga bahkan penjahat sekalipun kita bisa melakukannya dengan baik kalau memperhatikan 4 kenyataan hidup. Seperti ini.
  • Semua manusia egois.
  • Semua manusia lebih tertarik kepada kepentingannya sendiri daripada apa pun yang ada di dunia.
  • Setiap orang yang kita temui ingin merasa penting dan ingin unggul dalam “segala urusan”.
  • Ada keinginan besar pada setiap manusia untuk mendapatkan persetujuan orang lain agar dia bisa menyetujui dirinya sendiri (pendapatnya sendiri, keyakinannya sendiri, dll).
Sebuah 4 kenyataan hidup yang perlu kita ingat agar dalam berhubungan dengan orang lain selalu berjalan lancar. Tentu dalam memperhatikan ke-4 itu tentu kita lebih merasakan arti pertentangan, arti permasalahan yang selama ini pernah kita hadapi dengan orang lain.

Tetapi yang perlu kita garis bawahi adalah, semua manusia menginginkan harga diri. Lebih jelasnya menginginkan harga diri kita dihormati. Kita menginginkan orang lain memperhatikan harga diri kita dengan penuh penghormatan. Tetapi, menurut Les Giblin setelah keinginan kita terpenuhi maka kita akan “melupakan diri sendiri”. Setelah itu kita akan menaruh perhatian di luar kita, memperhatikan orang lain.

Untuk pembelajar, agar kita tidak terlalu mementingkan diri sendiri dan mengabaikan orang lain maka kita harus belajar menyukai diri sendiri akar mampu bersikap dermawan dan mampu bersahabat dengan orang lain.

Salam Cerdas!

Sunday, August 14, 2011

Metode Interaksi: Kuda dan Pesawat Jet

Metode interaksi menurut Les Giblin dalam bukunya (liat judul buku, klik di sini) terbagi dalam dua istilah yaitu “metode kuda” dan metode “pesawat jet”.

Metode kuda menurut pengertian saya adalah hubungan antarmanusia zaman dahulu sedangkan metode pesawat jet adalah hubungan antarmanusia zaman modern.

Menurut Les Giblin, pada zaman dulu, sebagai misal seorang industriawan, boleh saja bersikap tidak peduli dalam menghadapi konsumen tanpa harus takut bisnisnya bangkrut. Karena pada zaman itu masih belum menjamurnya usaha-usaha yang akan menyaingi industrinya. Walau sikap tidak menghargai atau tidak peduli pada konsumen, konsumen tetap akan menjadi pelanggan setia karena tidak punya banyak pilihan lagi kecuali bergantung pada industri itu.

Sedangkan pada zaman sekarang, zaman modern yang penuh dengan persaingan dan penuh kerumitan, maka sikap seorang industriawan seperti di atas misalnya, justru akan mengancam bisnisnya sendiri. Para konsumen tidak perlu lagi bergantung pada industriawan yang tidak bersikap menghargai, menghina dan sikap negatif lainnya pada konsumen. Para konsumen akan dengan cepat berpindah pada industri lain dalam menikmati hasil produksinya.

Melihat perbedaan di atas, kita patut memikirkan hal ini untuk pembelajaran di masa modern ini. Menurut Les Giblin, bila seseorang masih menggunakan cara lama (metode kuda) pada zaman modern ini maka akan segera tersingkirkan oleh cara seseorang yang menggunakan pesawat jet yang lebih canggih.

Di zaman modern ini, orang lain menjadi semakin penting bagi kita. Kebutuhan keterampilan berhubungan dengan orang lain merupakan kebutuhan yang bukan hanya diperuntukkan untuk Tuhannya saja, tetapi juga sebagai syarat bagaimana meraih kesuksesan dan mempertahankan kesuksesan di zaman modern ini.

Salam Cerdas!

Kesuksesan dan Kebahagiaan Diri Manusia

Pembelajar yang bijak, mari kita sama-sama melihat perkataan langsung dari Les Giblin dalam bukunya (penjelasan judul pada postingan sebelumnya) tentang kesuksesan dan kebahagiaan diri manusia.

“...Orang yang paling sukses dan yang paling menikmati kehidupan adalah mereka yang punya “cara khusus” ketika berurusan dengan orang lain.”

Ketika membaca kutipan langsung dari Les Giblin pasti kebanyakan dari kita akan mengatakan hal yang sama dengannya alias setuju.

Tentu, dengan begitu kesuksesan bukan diraih hanya oleh orang yang punya kemampuan intelektual bagus. Kebahagiaan bukan juga diraih hanya bagi orang yang memiliki kekayaan yang melimpah. Tetapi meraih kesuksesan dan kebahagiaan hidup tatkala hidup dengan orang lain masih dengan kepribadian yang baik.

Memang pada kenyataannya banyak yang gagal dalam meraih sukses dan bahagia walau kepribadian manusia sudah bersikap baik selama berhubungan dengan manusia. Tetapi, bila kita bedah sikap hati dan pikiran terhadap diri sendiri (manusia yang gagal tersebut) maka akan menemukan segumpal masalah pada diri manusia. Hal yang paling gampang adalah menyalahkan diri manusia sendiri yang membuat kegagalan tetap didapatkannya.

Seperti dikatakan Les Giblin bahwa baiknya kita dalam berhubungan dengan orang lain bila memang kita sudah merasakan kebaikan sikap pada kita sendiri. Menyalahkan diri sendiri tetapi mengagungkan orang lain adalah tahap awal kehancuran dalam berhubungan dengan orang lain.

Sehingga tidak perlu disangkal lagi perkataan dari Les Giblin bahwa kesuksesan dan kebahagiaan bisa diraih bila kita sudah punya kepribadian baik dengan orang lain. Tentu, setelah kita bersikap baik pula dengan pribadinya.

Salam Cerdas!

Pengembangan Diri yang Gagal, 90%

Sebuah pembelajaran pengembangan diri dari Les Giblin dalam bukunya dengan judul Kunci Sukses Meyakinkan dan Mempengaruhi Orang Lain dalam Berbagai Urusan (versi Indonesia), tentang bagaimana sikap diri pada lingkungan hidup agar meraih keberhasilan dalam hidup.

Dalam hal ini saya menjelaskan terlebih dahulu dari kebanyakan orang yang gagal. Sebagai bukti riil, saya akan memperlihatkan kutipan dari buku tersebut yang merupakan hasil penelitian. Seperti ini.

Menurut penelitian yang dilakukan Institut Teknologi Carniage tentang 4000 orang kehilangan pekerjaan dalam satu tahun. 10% atau 400 orang diberhentikan dari pekerjaan karena tidak bisa melakukan pekerjaan. Lebih mengejutkan dari penelitian itu, 90% atau 3600 orang kehilangan pekerjaan karena mereka tidak mengembangkan kepribadian yang baik dengan orang lain.

Ini kegagalan dalam segi pekerjaan sebagai sampel. Kegagalan dari pekerjaan yang terbesar ternyata bukan dari faktor kebodohan dalam bekerja (tidak bisa melakukan pekerjaan) tetapi karena tidak mampu berurusan dengan orang lain secara baik.

Tentunya, dalam pembelajaran pada pengembangan diri, faktor yang paling penting adalah bagaimana belajar berurusan dengan orang lain dengan baik. Karena kegagalan terbesar adalah dari faktor tersebut.

Juga dalam hal meraih kesuksesan pun lebih berpengaruh pada bagaimana sikap kita berurusan dengan orang lain. Dari Institut yang sama, telah menganalisis 10.000 orang dan sampai pada kesimpulan bahwa kesuksesan orang berkat dari latihan teknik hanya sebesar 15% sedangkan kesuksesan orang berkat kepribadian dan kemampuan mereka berhubungan yang baik dengan orang lain sebesar 85% lainnya.

Tentu, pembahasan dari Les Giblin ini mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran pengembangan diri lebih mengutamakan bagaimana kepribadian kita dalam bergaul dengan orang lain.


Salam Cerdas!

Saturday, April 30, 2011

Pengembangan Potensi Diri

Dalam pengembangan diri kali ini adalah memanfaatkan kekuatan dalam meningkatkan potensi diri secara optimal. Lima kekuatan itu adalah yang saya kutip dari pendapatkan Adi W Gunawan. Berikut ini penjelasannya.

A. Kekuatan Keyakinan
Masalah keyakinan tidak pernah habis dibahas di segala acara yang berbau kata kesuksesan.

Bila pembicara atau motivator sedang membicarakan tentang keyakinan seakan-akan sampai tidak peduli lagi tentang takdir Tuhan. Keyakinan harus tetap tertanam pada diri seseorang bila ingin meraih kesuksesan. Walau sering, apa yang kita yakinkan malah tidak menghasilkan keberhasilan alias mendapat kegagalan.

Bila keyakinan kita tidak sesuai dengan kenyataan, patutkah kita menyalahkan keyakinan itu? Silahkan saja menyalahkan keyakinan itu. yang jelas, pembuat keyakinan itu adalah diri manusia sendiri. Yang harus kita salahkan adalah manusia itu sendiri.

Seharusnya, kita koreksi diri, untuk apa kita yakin? Untuk meriah kesuksesankah? Bila kegagalan memang harus hadir pada diri kita, apa yang akan kita katakan? Kita tidak bisa membantah tentang apa yang kita yakini adalah salah. Kita patut melihat kenyataan yang ada.

Lalu buat apa kita yakin tentang kesuksesan bila kegagalan bisa hadir kapan saja untuk menyalahkan keyakinan kita? Ini pertanyaan yang harus dijawab.

Untuk membantu menjawab, silahkan teruskan membaca.

B. Kekuatan Semangat
Setelah kita yakin tentang kesuksesan, secara otomatis kita akan semangat untuk meraih apa yang diinginkannya. Usaha peras keringat, banting tulang akan dilakukannya. Tidak mungkin bisa maksimal semangat bila tidak ada keyakinan dalam pribadi manusia. Kita mutlak perlu keyakinan untuk kebangkitkan semangat. Bila kita semangat, pekerjaan yang berat tentu akan terasa ringan.

Antara keyakinan dan semangat harus berjalan bersama dan memang tidak bisa dipisakan. Kita memiliki keyakinan untuk menumbuhkan kekuatan semangat. Kita pun bisa menumbuhkan keyakinan dengan semangat untuk yakin seperti melakukan afirmasi-afirmasi. Entah pernyataan ini kebenaran apa tidak, yang jelas, keduanya memang harus berkaitan.

Kadang, dengan memiliki keyakinan dan semangat kuat, malah kita ceroboh. Seperti apa cerobohnya? Kita ceroboh dengan memiliki keinginan yang banyak. Belum berhasil meraih satu impian sudah muncul impian lagi, dan terus bertambah apa-apa yang kita impikan. Impian menumpuk dalam diri kita. Lalu, apapun impiannya kita sikat habis dengan penuh keyakinan dan semangat.

Maaf saja, bukan saya melarang memiliki banyak impian. Akan tetapi, memiliki banyak impian seperti tidak memiliki pendirian alias plin-plan. Belum lagi kita menghadapi waktu yang terbatas, tenaga yang terbatas, keuangan yang terbatas. Lebih baik kita memiliki impian sedikit dan meraih impian lain bila satu impian sudah sukses.

Lalu apa yang harus dilakukan? Teruskan membaca.

C. Kekuatan Fokus
Inilah penawar bagi seorang yang terlalu menggebu-gebu dalam meraih banyak impian. Kita perlu kekuatan fokus. Fokus atau disebut juga konsentrasi adalah memiliki keinginan pada hal yang sedikit. Bila kita mempunyai 10 impian, bisa kah untuk fokus? Hal-hal yang banyak justru akan sangat sulit untuk fokus.

Bila kita mempunyai 10 impian maka ada sedikit yang harus kita difokuskan. Bila fokus kita ingin menjadi dokter, fokuskan pada keinginan itu. Sembilan keinginan lainnya kita anggap tabungan sampai masa keberhasilan menjadi dokter.

Tujuan kekuatan fokus hanyalah untuk mencegah gangguan dari melakukan impian yang banyak. Kita memang selalu dalam godaan kehidupan sehingga perlu kekuatan fokus. Dengan adanya kekuatan fokus, kita hanya konsentrasi pada sedikit impian. Tenaga, waktu dan keuangan yang tercurahkan pada sedikit impian.

Walau sudah fokus. Tetep memerlukan kekuatan lagi. Silahkan membaca lagi

D. Kekuatan Ketenangan Hati dan Pikiran
Patut kita perhatikan! Keyakinan, semangat, dan fokus akan mempengaruhi kondisi jiwa dan raga kita. Apa yang kita yakinkan, semangat selalu bangkit, dan fokus yang terus dijaga, harus tetap kita pantau pengaruhnya pada diri kita. Khususnya pada pikiran dan hati kita.

Sering kali, apa yang kita usahakan dengan penuh keyakinan, semangat dan fokus, membuat hubungan dengan keluarga berantakan, membuat hubungan dengan suami/istri menjadi pisah ranjang, atau hubungan dengan teman membuat gulung tikar. Itu karena kita tidak mempunyai ketenangan hati dan pikiran dalam meraih impian. Kita terlalu menggebu-gebu sampai membuat kegagalan/kehancuran yang lain.

Apakah keyakinan kita, semangat kita, dan fokus kita membuat kita tidak merasakan ketenangan pada hati dan pikiran? Bila membuat tidak tenang, patut koreksi pada yang kita yakinkan, lalu semangat kita, dan fokus kita. Jangan-jangan semua itu karena kita mempunyai ketakutan pada kegagalan?

Ini kekuatan yang terakhir. Masih mau melanjutkan?

E. Kekuatan Kebijaksanaan
Megenai kekuatan kebijaksanaan, saya ingin mengutip langsung dari perkataan Adi Gunawan.
“Dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat melakukan evaluasi dengan baik, benar, akurat, dan tanpa melibatkan emosi. Jika hasil yang dicapai belum seperti yang kita inginkan maka dengan menggunakan kebijaksanaan kita dapat mengetahui permasalahannya dan dapat meningkatkan diri kita.”
Salam Cerdas!

Monday, March 14, 2011

Pengembangan diri: Untuk Pembentuk Harga Diri Kita

Saya ingin berkisah... kisahnya ini bukan kisah asli saya. Akan tetapi, kisah ini saya ambil dari buku Les Giblin dengan judul Kunci Sukses Meyakinkan dan Mempengaruhi Orang Lain dalam Berbagai Urusan (2009 : 16). Begini ceritanya:
“...Tentang seorang anak laki-laki yang berumur 17 tahun yang bersama dua orang temannya merampok sebuah bengkel mobil. Anak laki-laki itu mengaku bahwa sebenarnya dia tidak ingin merampok, tetapi alasan utama yang membuat ia merampok karena sepanjang hidupnya, teman-temannya selalu mengejek dan dia ingin membuktikan kepada mereka bahwa dia seorang ‘lelaki’.”
Kita bisa mengambil pelajaran dari cerita di atas. Cerita di atas memberikan gambaran bahwa kita terikat pada persoalan harga diri. Diri kita adalah dengan harga diri. Kita mempunyai perasaan harga dalam diri kita. Sehingga bila harga diri kita terancam pada keadaan, maka apapun bisa kita lakukan―cara positif atau negatif―demi mempertahankan harga diri.

Demi menjaga harga diri, seorang bisa berbuat bodoh (walau tidak mengembalikan harga dirinya). Seperti kasus di atas, si anak telah terancam harga dirinya, yang pada akhirnya ia sampai berbuat nekad (merampok). Demi harga diri pun bisa menjadikan seorang bertindak penuh kemuliaan. Padahal, bisa saja anak itu mengalihkan kegiatannya pada hal-hal positif demi pembelaan harga dirinya.

Sehingga dalam proses pengembangan diri ini adalah menyangkut penjagaan/peningkatan harga diri. Dalam proses pengembangan diri, kita hanya fokus pada cara-cara yang mulia. Kita tidak perlu melakukan hal-hal bodoh untuk menjaga/meningkatkan harga diri kita. Kegiatan pengembangan diri, diharapkan menjadi pribadi yang punya harga diri mulia.

Cara terpenting untuk meningkatkan atau mempertahankan harga diri adalah dengan ke-ilmu-an kita. Ilmu yang memang dinilai dengan harga mahal (terhormat) akan menjadikan diri kita berharga. Penuhilah rohani kita dengan ilmu. Ada kata bijak dari buku Ta’lim Muta’allim bahwa untuk menghadapi orang dengki cukup menambahkan kemuliaan dengan ilmu, maka orang dengki akan makin sulit menghadapinya.

Tentunya, ilmu yang dimaksud untuk harga diri bukan hanya terletak pada ilmu Biologi, Antropilogi atau yang lainnya. Tetapi ilmu yang bisa mengontrol diri terhadap segala problematika kehidupan. Tentunya, agar tetap melakukan hal-hal bijak di tiap persoalan. Seperti seorang guru/pengajar yang berilmu walau ia tak diberi imbalan, tetapi karena kewajiban dan rasa peduli maka ia pun tetap rela berbagi ilmu.

Bila kegiatan dalam hidup kita selalu diliputi dengan ilmu, maka apa pun ancamannya, apapun tekanannya, kemungkinan besar mampu bersikap tenang dan mampu mengalahkannya/mengatasinya.

Cukup sampai di sini dan terimakasih.

Salam Cerdas!

Friday, March 4, 2011

Pengembangan diri

Judul itu―yang di atas―terlihat sudah tak asing lagi di mata kita. Kenapa memangnya? Ya, karena tiap manusia sudah mengalami pengembangan/perkembangan. Betulkan? Hm... Maksud saya, kita pernah melihat kalimat pengembangan diri di toko buku seperti Gramedia.

Walau kalimat pengembangan diri pernah kita lihat di toko buku, tapi kenyataannya manusia mengalami perkembangan diri dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari bahkan dari jam ke jam. Kita tidak perlu merasa aneh tentang kalimat pengembangan diri itu. Kenyataan itu pun―yang kita rasakan―tentang perkembangan diri, hanya terlibat pada jasmani dan rohani kita. Ya, kita mengalami perkembangan pada kedua itu dan tidak perlu diperpanjang untuk mencarinya lagi... Ok!

Masalah jasmani dan rohani adalah benda yang menjadikan kita ada dan meng-ada-kan pembahasan tentang diri kita. Kita tidak bisa lepas dari pengembangan diri kedua itu. Sehingga, masalah yang timbul dari kedua itu pun akan selalu kita rasakan...atau kita mempermasalahkan kedua itu yang akhirnya dua benda pun bermasalah. Hm...

Ya sudah, tidak usah basa-basi. Karena pembahasan ini hanya untuk menjelaskan tentang tiap postingan yang akan saya tampikan dalam label Pengembangan Diri. Apa sih yang akan saya jelaskan dalam postingan label Pengembangan Diri? Dalam postingan berikutnya, pembahasan tentang pengembangan diri hanya fokus pada pengembangan ke-rohani-an. Bisa dikatakan membahas jiwa, hati, dan pikiran yang sifatnya tak kasat mata.

Tentang pengembangan diri ke-rohani-an, kita akan menghadapi pada hubungannya dengan sesama manusia, dengan alam, dan tentunya, yang utama adalah hubungan dengan Tuhan. Sehingga kita akan mengerti, pengembangan diri seperti apa yang terlihat lebih manusiawi bukan hewani. Ya, pengembangan diri di sini adalah untuk menghadapi berbagai hal yang akan membentuk sikap kemanusiaan kita.

Setelah saya pikir-pikir, kegiatan pembelajaran ilmu manapun, untuk menghasilkan yang terbaik adalah mengkaitkannya dengan pendidikan ke-rohani-an (non materi). Kita akan mengenali diri ini siapa; sampai akhirnya, menemukan cara belajar terbaik kita dan menghasilkan yang terbaik untuk kita. Kita akan merasakan bahwa tiap teori ilmu dan praktek ilmu, kita mampu memimpinnya dengan baik; tiap kemampuan kita mampu mengeruk kebutuhan hidup; dan lain-lain. sehingga perlu untuk pengembangan diri pada ke-rohani-an.

Salam Cerdas!