Showing posts with label NU. Show all posts
Showing posts with label NU. Show all posts

Monday, July 27, 2015

Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi (Wahabi)?

"Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi (Wahabi)?" - Kok Bertanya, Lupa Sejarah Ya?

Sebenarnya, "Pembuka Pintu" persatuan sebenarnya ada di tangan "Salafi". Orang NU (perwakilan Aswaja) sudah mengasih kunci untuk membuka pintu persatuan, namun tetap saja selalu dibuang kuncinya oleh mereka, tidak dibuka-buka pintunya. Sudah bertahun-tahun, di Indonesia, orang Salafi tidak mau membuka pintu persatuan. Sampai sekarang, dan sekarang malah makin menjadi dengan (seolah) membuat pertanyaan, "Kenapa NU Tidak Mau Bersatu?" Lah, antum lupa sejarah atau memutarbalikkan sejarah?

Yang jadi Kiai NU, Ustad NU, mohon lah jangan mengaburkan pembahasan dan seolah yang membuat ketidakbesatuan adalah kaum NU. Mereka banyak mengutip ucapan-ucapan Kiai, Ustad untuk menguatkan mereka. Padahal fakta di lapangan ada, dan banyak kasus "Pembid'ahan dan Pengkafiran" - tanpa perlu menjelaskan dan mencap bahwa itu kaum wahabi/salafi - terhadap ajaran kaum NU. Jelas, inti penentangan dari kaum NU adalah ajarannya bukan nama atau merek. Kebetulan yang bersiulan adalah kaum wahabi. Kalau bukan wahabi, terus siapa? Syiah? Syiah jelas masuk dalam daftar kaum "lawan", sama seperti wahabi.


Silahkan cek perbandingan antara NU (Pro Bid'ah Khasanah) dan Salafi (Anti Bid'ah Khasanah):

NU:
1. Kaum Ta'wil (memalingkan makna) Silahkan - Kaum Tafwid (penyerahan makna) Silahkan = Khilafiah
2. Tahlilan Silahkan - Tidak Tahlilan Silahkan = Khilafiah
3. Mauludan Silahkan - Tidak Maulidan Silahkan = Khilafiah
4. Tawasullan Silahkan - Tidak Tawasullan Silahkan = Khilafiah
5. Tabarukkan Silahkan - Tidak Tabarukkan Silahkan = Khilafiah
6. Bermadzhab Silahkan - Tidak Bermadzhab Silahkan = Asal Jangan Jadi Sumber Perpecahan
7. dll

Salafi-Wahabi:
1. Kaum Ta'wil (memalingkan makna) Bid'ah - Kaum Tafwid (penyerahan makna tapi embel-embel pemakhlukan) Haq = Anti Khilafiah
2. Tahlilan Bid'ah - Tidak Tahlilan Haq = Anti Khilafiah
3. Mauludan Bid'ah - Tidak Maulidan Haq = Anti Khilafiah
4. Tawasullan Syirik - Tidak Tawasullan Haq = Anti Khilafiah
5. Tabarukkan Syirik - Tidak Tabarukkan Haq = Anti Khilafiah
6. Bermadzhab Haram, Bahkan Bid'ah - Tidak Bermadzhab Haq = Malah Menjadi Sumber Perpecahan
7. dll

Apakah ini perbedaan untuk membangun persatuan? Apakah ini? Enak saja, kita menganggap dengan mereka hanya perbedaan furuiyah (cabang) tetapi mereka menganggapp perbedaan furuiyah ada furu yang dianggap bid'ah. Karena faktanya, dalam lapangan mereka membuat kegaduhan di tengah masyarakat, membuat fitnah yang tidak-tidak, umat seperti harus saling beradu.

Sadarkah wahai kaum yang mempertanyakan "Kenapa NU Tidak Mau Bersatu Dengan Salafi?" Sadarkah? Antum sendiri yang membuang kunci pembuka pintu persatuan. Antum sendiri yang membid'ahkan sebagian besar amalan NU. Antum sendiri yang menyesatkan atau bahkan mengkafirkan ajaran Asy'ariyah. Kenapa antum seolah seperti orang yang baru lahir, orang yang tidak tahu apa-apa? Apakah ini TRIK BARU untuk memuluskan ajaran antum-antum?

Saturday, April 11, 2015

Kaum SARUNGAN Sang Modernis Sejati - NU, Buktikan Disini

Kaum sarungan sering diidentikkan dengan kaum Nahdiyin NU walau sebenarnya tidak hanya NU, Islam Aswaja Indonesia pada umumnya. Sarung mensimbolkan tradisionalis dan kesederhanaan. Bila menjadi kalimat "kaum sarungan", maka artinya adalah orang yang mengikuti paham tradisional, yaitu yang tetap mempertahankan tradisi. Sehingga pendapat yang mengatakan kaum sarungan adalah kaum yang ketinggalan zaman, tidak modern, bisa juga benar adanya - pada perkembangan awal kaum modernis.

Tidak ada yang salah dalam sarung, ketika mereka menyerang NU dengan sebutan kaum sarungan. Yang mereka serang dibalik sarung adalah sikap tradisionalis mereka terhadap ajaran-ajaran - yang katanya - dari nenek moyang, tidak berdasar dalil yang soheh dan lainnya.

Islam Indonesia memang sudah dikuasai sudah sangat lama oleh kalangan Wali Songo. Sehingga, corak Islam Indonesia adalah yang sudah kita lihat dalam keseharian. Jadi, yang dimaksud kaum sarungan sebenarnya bukan kalangan NU saja. Melainkan kalangan warga Islam Indonesia. Hanya saja secara organisasi, NU lah yang paling menonjol menyuarakan untuk mempertahankan ajaran Wali Songo sehingga warga NU identik dengan kaum sarungan.

Lalu, bagaimana kaum sarungan adalah sang modernis sejati?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, apa sih makna modernisasi oleh kalangan modernis (pembaharu)? Saya lihat perkembangannya, justru kaum modernis bergerak sama dengan kaum tradisionalis dalam hal pembangunan pendidikan, dll. Dahulu ketika Indonesia masih dijajah, justru NU mendirikan sebuah lembaga-lembaga yang terbilang cukup modern di masanya. Bahkan sebelum ada NU, masih NW, pergerakan Islam tradisionalis cukup modern juga di masanya. Kalau konteks modernisasi adalah pengembangan ilmu dan budaya masyarakat.

Apakah makna modernisasi adalah menghilangkan konsep bermadzhab karena bermadzhab sudah terlalu kuno, tidak mengikuti perkembangan zaman? Lantas, itu ucapan siapa yang mengatakan konsep bermadzhab sudah ketinggalan zaman? Itukan ucapan sang pembaharu yang dulu, nenek moyang sang modernis sekarang. Sehingga kaum modernis yang sekarang justru mengikuti madzhab nenek moyang yang anti madzhab. Sang modernis sekarang membuat ramuan madzhab sendiri di dalam tubuh organisasi, bahkan lebih condong ke madzhab yang ektrim (membid'ahkan amalan NU).

Jadi, apa makna modernisasi oleh kalangan kaum modern? Pembaharuan? Pembaharuan yang bagaimana bila pembaharuan sudah basi beribu-ribu tahun?

Justru konsep modern yang diajukkan kaum modernis tidak sesuai fakta bahwa dirinya pun terikat sikap tradisionalis. Hanya saja sikap tradisionalis mereka berbeda dengan sikap tradisionalis kaum Nahdiyyin, NU. Kenapa demikian? Karena sama-sama mengikuti pendapat nenek moyang. Namun NU sendiri dengan tegas mengikuti salah satu dari 4 Madzhab bukan madzhab orang akhir zaman. Jadi, siapa yang lebih modern dalam berpikir dan ajaran kebenaran?

Apalagi ada dasar filosofi modernisasi yang pantas diterapkan dalam tubuh NU yaitu, "Mempertahankan Tradisi dan Mengambil yang Baru yang Lebih Baik" Tidak menghilangkan tradisi kebaikan namun juga tidak menolak pembaharuan yang baik untuk kemaslahatan.

Jadi, setujukah kaum sarungan sebagai kaum modernis sejati?

Salam Aswaja Lovers