Showing posts with label Menulis dan Berbicara. Show all posts
Showing posts with label Menulis dan Berbicara. Show all posts

Monday, November 16, 2015

Belajar Menulis Buku Tidak Mudah dan Solusinya

Kenapa belajar menulis buku tidak mudah? Ada yang bisa menjawab untuk solusi menulis buku? Nah, bila sudah menjawab maka saya akan bertanya, kenapa kalau menulis itu mudah tetapi banyak yang frustasi dalam menulis buku, tulisan selalu ditolak penerbit, menjual buku online lewat self publishing sulit laku, dan sebagainya. Itu artinya, menulis buku tidaklah mudah. Setuju?

Belajar menulis itu mudah bahkan sangat mudah bila sekedar menulis. Anda tidak perlu mikir tulisan Anda berkualitas atau tidak, salah atau tidak. Yang penting enjoy dalam menulis. Saya sendiri menulis dengan enjoy saat menulis artikel di dalam buku online ini. Namun, apakah tulisan buku yang saya tulis bisa diterima oleh pihak lain? Bisa jadi dikatakan belum dan sangat belum layak dianggap tulisan yang bagus.

Ada pihak luar yang membuat Anda sulit, tidak mudah untuk menulis buku. Bila Anda menyadari hal ini, maka akan berkata, “Benar juga ya? Menulis buku itu tidak mudah”. Bahkan pihak luar yang menghambat kemudahan Anda menulis buku bukan hanya pihak yang masuk dalam dunia tulisan saja tetapi pihak lain seperti pertemanan, keluarga, dan lembaga/perusahaan yang membuat Anda tidak punya waktu untuk menulis dengan maksimal.

Ada sebuah logika biar Anda setuju dengan hal ini. Anda  setuju bila solat atau pergi ke gereja itu mudah? Mudah kalau diukur secara logika tetapi kenapa banyak yang tidak melakukannya secara konsisten? Nah, masalah emosional yang membuat solat atau ibadah mudah lainnya terasa sulit dijalankan. Masalah emosional yang terganggu oleh pihak luar yang membuat perkara mudah menjadi sulit. Begitu juga menulis buku.

Untuk itu, saya akan memberikan beberapa tips mudah solusi belajar menulis untuk buku agar bisa sebagai pewaran kesulitan Anda dalam menulis buku.

Berikut Adalah Solusi Belajar Menulis Untuk Buku Agar Mudah dalam Menulis

1.    Memiliki Semangat Finansial Dalam Menulis Buku

Matre sedikit tidak apa-apa, menulis dengan niat mencari keuangan tidak masalah. Niat kita memang berbagi ilmu lewat buku. Namun niat kita dikembangkan lagi menjadi berbagai macam seperti berbagi ilmu agar mendapat pahala, berbagi ilmu agar mendapat pengakuan, berbagi ilmu agara mendapat keuangan. Itulah inti.

Namun yang ditekankan di sini agar semua pembaca blog setuju adalah memiliki semangat Finansial dalam menulis buku. Karena kalau tidak memiliki semangat ini, wah, kurang seru. Anggap saja menulis buku adalah perlombaan menulis. Sehingga perlu ada semangat dalam berlomba yang tujuannya mendapat hadiah.

Karena memiliki semangat finansial dalam menulis buku maka akan mau berjalan mengikuti permintaan pasar. Walau mengikuti permintaan pasar namun tidak juga sampai meninggalkan tentang diri kita dalam menulis buku.

2.    Latihan Menulis Setiap Saat Dengan Teknik ATM Dengan Mencontek Buku Tekenal

Amati+Tiru+Modivikasi = Rewrite. Menulis buku dengan teknik ATM alias rewrite sudah teruji kualitasnya. Sebenarnya ini sebuah trik pemaksaan mengikuti gaya, kemampuan dan pengetahuan orang lain. Memang bila masih pemula yang kesulitan dalam menulis, jalan terbaik adalah memakai teknik ATM.

Saran terbaik adalah gunakan teknik ATM pada buku yang dianggap berkualitas. Orang-orang terbaik belajar dari orang yang terbaik. Selalu begitu.

Namun, jangan dikirim untuk penerbit. Jadikan buku hasil rewrite sebagai bonus atau sekedar pembelajaran menulis buku.

3.    Tingkatkan Skill Dan Pengetahuan

Tidak ada cara yang lain kecuali meningkatkan skill dan pengetahuan bila ingin menghasilkan buku yang berkualitas. Namun dalam membangun skill dan pengetahuan harus sesuai dengan buku yang akan ditulis. Atau lebih tepatnya buku yang akan ditulis harus menyesuaikan diri dengan skill dan pengetahuan yang dimiliki.

Sepandai-pandainya tupai meloncat, pasti terjatuh juga. Sepandai-pandainya Anda merangkai tulisan, namun tidak akan berkualitas bila tanpa skill dan pengetahuan.

Tiga tips menulis buku di atas cukup kiranya membantu memudahkan Anda menulis buku. Karena 3 tips di atas bila dilakukan akan menghasilkan  peningkatan walau sekitar 20. Lebih baik meningkat hanya 20 daripada tetap nol kan? Walau ada gangguan dari dalam dan luar, anda tetap mudah menulis. Silahkan mencoba untuk memudahkan menulis buku.

Baca: Belajar Menulis Puisi

Friday, July 10, 2015

Penulis, Bukan Berarti Mahir Menulis - Rahasia Sang Blogger

Kegiatan bangun blog tidak hanya sekedar menulis, namun harus cepat dalam menulis. Kenapa? Ya, memang fakta bahwa dunia blogging saja sudah terjadi "persaingan ketat" sesuai kata kunci blog yang menjadi target. Seorang blogger harus mampu minimal menulis satu artikel per hari dengan panjang 500+. Dalam satu tahun akan menghasilkan artikel minimal 350 artikel. Bila sudah 300+ artikel, itu artinya potensi menghasilkan trafik berlimpah bisa terjadi, asal semua artikel sesuai standar SEO.

Bila sudah membuat blog utama, buat blog jaringan yang tentunya akan menguras tenaga mengetik, menulis menjadi pekerjaan melelahkan. Walau saya punya trik rahasianya agar tidak perlu lelah-payah menulis, ehehe...

Kalau membuat artikel blog sistem lambat, saya rasa ini kelasnya kaum yang bermodal gede. Karena, bermain iklan berbayar sudah mengasilkan trafik puluhan bahkan ratusan dalam sehari walau isi artikenya cuma di bawah sepuluh dengan kualitas yang bagus.

Sudah menulis sistem lambat, desain blog dan artikel blognya tidak sesuai standar SEO, tidak bermain modal untuk iklan, bagaimana bisa bersaing dengan blog lain?

Nah, dari kegiatan blogging, bisa dapat dinilai, "bagaimana kemahiran penulis dalam menulis? Untuk melatih kemahiran penulis dalam menulis, teknik yang ampuh untuk dilakukan adalah teknik "Rewrite". Namun harus paham, mana tulisan yang jelas penulisnya dan mana tulisan yang hasil kerja penulis admin yang tidak tercantumkan namanya. Teknik rewrite memang ada makna menjiplak (walau secra SEO,tidak masalah), namun sebisa mungkin harus dirubah 80% sampai benar-benar asli karya sendiri. Kalaupun harus menyertakan referensi, sertakan saja di akhir tulisan.

Monday, May 18, 2015

Hakekat Tuhan Perlu Dibela - Hakekat Tuhan Tidak Perlu Dibela

Dalam kamus KBBI menjelaskan bahwa kata "Bela" "Membela" adalah menjaga baik-baik; memelihara; dan merawat. Lalu bagaimana hakekat "Tuhan perlu dibela"? dan bagaimana ucapan "Tuhan tidak perlu dibela?"

Sekarang, kita ambil ucapan manusia yang sebagai orang lemah, bukan maksud menyamakan dengan Alloh. Ada dua kalimat yaitu hakekat "Tuhan Perlu Dibela" dan "Tuhan Tidak Perlu Dibela."


A. Tuhan Perlu Dibela

"Saya akan berjuang membela Tuan dalam menghadapi serangan mereka."

"Anda tidak perlu membela saya. Saya tidak perlu pembelaan anda. Saya mengerti bahwa anda menghormati saya. Tapi, tanpa pembelaan dari Anda, saya memang berkuasa memelihara diri sendiri, menjaga nama baik diri sendiri dan merawat diri sendiri."

"Tapi ijinkan saya tetap membela Tuan sebagai sebuah kewajiban seorang prajurit kepada panglima, kepada Tuan sendiri yang memang perkasa dalam penyerangan musuh-musuh."

"Itu adalah hak kemanusiaan anda karena saya pun mengajari hal itu."


B. Tuhan Tidak Perlu Dibela

"Saya TIDAK akan berjuang membela Tuan dalam menghadapi serangan mereka."

"Anda tidak perlu membela saya. Saya tidak perlu pembelaan anda. Saya mengerti bahwa anda menghormati saya. Tapi, tanpa pembelaan dari Anda, saya memang berkuasa memelihara diri sendiri, menjaga nama baik diri sendiri dan merawat diri sendiri."

"Tapi ijinkan saya tetap TIDAK membela Tuan sebagai sebuah kewajiban seorang prajurit pada panglima, kepada Tuan sendiri yang memang perkasa dalam penyerangan musuh-musuh."

"Itu adalah hak kemanusiaan anda karena saya pun TIDAK mengajari hal itu."

----

Secara bahasa, mana yang lebih pantas diucapkan oleh seorang hamba, anak buah, bawahan kepada tuannya? Apalagi ucapan kepada Tuhan yang maha perkasa, tanpa pembelaan manusia pun tetap perkasa? Hati nurani yang berbicara untuk menjawab...

Wednesday, April 27, 2011

Menulis dan Edit Tulisan

Kita, katakanlah seorang yang sangat mahir dalam menulis. Tiap kali ide datang, segera ide itu dimasukkan dalam kandang dan dijaga. Setelah saatnya menulis, kita pun sangat lihai mengolah-olah ide dalam tulisan sampai akhirnya menjadi tulisan yang menarik dan bermanfaat. Kita, katakanlah seperti itu: ahli menulis.

Perlu di ingat, betapa pun kita ahli dalam menulis, realita dunia penulisan tidak pernah lepas dari poses editing. Setiap kali kita selesai menulis, bukan berarti kita selesai dalam tugas. Malah kita menemukan tugas berat baru. Proses editing harus kita lakukan. Proses editing sama beratnya dengan kegiatan menulis. Maka dari itu, kita perlu melatih agar kita menjadi editor yang baik.

Mengenai editing, dalam pembahsan ini saya tidak bermaksud untuk mengajari bagaimana menjadi editor yang baik. Hanya saja, saya ingin berbagi tips dari hasil pengalaman saya. Proses editing yang akan diberikan hanyalah kegiatan membenarkan kata-kata.

Selama menulis, pastinya ada saja kata-kata yang salah. Maka ada tips yang pernah saya lakukan dalam mengedit. Caranya begini.

Andai saja kita menulis seperti ini:
Memang judul di atas bukan maksud nelusuri sejarah artikel itu sendiri. Ini hanya ngebahas jejak artikel yang saya tulis di blog ini. Dalam artian, saya berusaha ingin ngejelasin proses kegiatan pembuatan artikel yang saya buat.

Alasan saya bikin jejak artikel karena emang berawal dari rasa penasaran saya; penasaran sama tulisan-tulisan orang yang pernah saya baca. Saya mikir dan berkata dalam hati, “Apa aja kegiatan yang ngebentuk tulisan itu? Ampe tulisan itu sangat mempesona, menggugah, kagum dan rasa sedep lainnya; atau malah tulisan itu rasanya hambar sekali
.
Bila kita ingin mengedit tulisan di atas, biasanya kita hanya membaca. Tetapi, masih saja menemukan kata yang salah walau beberapa (5) kali pemeriksaan (ya, itu pengalaman saya sendiri). Maka, kita perlu menambah cara—sebelum membaca—sekedar untuk membantu mencari kesalahan. Caranya yaitu memasukkan tulisan ke alat translator (penerjemah). Contohnya seperti di bawah ini.


Kita bisa lihat, perubahan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Bila ingin mengedit tulisan, kita hanya membaca pada tulisan berbahasa Inggris. Dengan begitu, kita bisa tahu, mana kata yang benar atau salah dari perubahannya.

Lihat kata yang dilingkar warna hijau. Di situ tidak terjadi perubahan. Ada kata-kata yang tidak bisa diterjemahkan yaitu: makud, nelusuri, ngebahas, dan ngejelasin. Seharusnya terjadi perubahan. Dengan begitu, kata itu salah menurut terjemahan. Lalu, kita periksa pada naskah asli, apa memang salah atau sengaja disalahkan.

Seringkali kata yang benar juga tidak bisa berubah seperti kata berlari-lari. Akan tetapi, kita perlu memeriksa ke naskah yang asli.


Bila kita menggunakan alat translator, naskah 1000 kata masih bisa menerima. Akan tetapi, bila dimasukkan semua, kita akan mengalami kesulitan untuk mengedit naskah. Apalagi tulisan berupa cerpen yang akan diedit. Sulitnya itu saat kita akan menyesuaikan kata yang salah (tidak ada perubahan terjemahan) dengan kata di naskah asli. Maka dari itu, perlu alat bantu. Seperti di bawah ini.


Caranya, klik Ctrl+F di dalam naskah asli (MS Word). Lalu, kita masukkan kata yang dianggap salah (tidak ada perubahan terjemahan) dan klik Find Next.

Lihat gambar di atas. nomer satu adalah kata di dalam naskah asli. Sedangkan nomer dua adalah kata yang dianggap salah. Akhirnya, ketemu juga kata yang harus diperbaiki.

Saya tekankan. Cara seperti ini hanya untuk memperbaiki kesalahan menulis kata bukan kesalahan dalam merangkai kalimat.

Salam Cerdas!

Thursday, April 7, 2011

Ide Udara dan Aliran Menulis

Sebenarnya judul itu terbalik. Seharusnya: Aliran Udara dan Ide Menulis. Agar terlihat unik saja. Tapi, dipikir-pikir tidak terbalik juga. Ada benarnya juga judul seperti itu.

Bisa jadi ide udara adalah aliran kepercayaan menulis saya. Hmm... aneh. Maksud saya, ide tidak perlu dicari. Banyak ide beterbangan seperti udara. Ya, kita tinggal menghirup udara saja. Nanti juga dapat ide menurut keinginan kita. Tentunya, kita perlu energi untuk otak dalam menghasilkan ide menulis dan mengembangkannya.

Caranya bagaimana agar mendapat energi untuk menghasilkan ide dan mengembangkannya? Caranya memang melakukan pernafasan. Tidak percaya? Silahkan melanjutkan membaca.

A. Ide Udara
Para Pembelajar, silahkan saja hirup udara yang beterbangan, maka kita akan mendapatkan oksigen yang mencukupi; oksigen akan tersalurkan ke otak kita. Latihlah pernafasan setiap hari atau beberapa kali seminggu. Tentunya, kita melatih pernafasan menggunakan cara yang benar agar tidak mengakibatkan kerusakan pada tubuh.

Ada yang mengatakan (dari internet, tapi lupa), bila lubang hidung sebelah kanan menghirup udara maka oksigen tersalurkan ke otak kanan. Begitu sebaliknya, bila lubang hidung sebelah kiri menghirup udara maka oksigen akan tersalurkan ke otak kiri. Otomatis, bila kedua lubang hidung bersamaan menghirup udara, maka akan mempengaruhi kedua otak itu untuk bekerja sesuai fungsinya.

Kenapa saya menyarankan para pembelajar untuk mengolah pernafasan sebaik-baiknya? Karena dengan melakukan pernafasan, maka otak kanan―yang berfungsi sebagai penghasil ide―akan mendapat kekuatan dalam usaha menangkap ide. Juga otak kiri akan mendapat kekuatan untuk mengolah ide-ide.

Kita tidak perlu pusing-pusing bagaimana mencari ide dan mengembangkannya. Otak pun tidak mudah lelah mencari dan mengembangkan ide bila latihan pernafasan terus kita lakukan.

B. Aliran Menulis
Aliran menulis ini diibaratkan sebagai oli. Tentunya untuk memperlancar kegiatan menulis agar tidak banyak mengeluarkan tenaga. Tiap kata akan mengalir terus-menerus. Dalam hal ini saya mengutip pendapat Pak Jonru. Caranya sebagai berikut:
  1. Jadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada mood, atau hanya ketika ada sisa waktu. Dengan kata lain, jadikanlah kegiatan menulis menjadi bagian dari gaya hidup kita.
  2. Rajin-rajinlah menulis. Tulislah apa saja yang bisa ditulis.
Salam Cerdas!

Tuesday, April 5, 2011

Ide Menulis, Menulis Ide

Belajar menulis kali ini berkisar pada ide dan menulis. Sebelum membahas, saya ingin memberikan pertanyaan: Apakah ide untuk menulis atau menulis untuk ide? Pertanyaan ini yang harus dipecahkan oleh para pembelajar. Silahkan menjawab pertanyaan tersebut sekedar memberikan kesempatan dalam memilih jawaban.

Apakah sudah menjawab pertanyaan di atas? Bila sudah, baiklah, sekarang giliran saya untuk menjawab apa maksud dari memberikan pertanyaan seperti itu. Pertanyaan di atas, sekali lagi, adalah pertanyaan yang perlu dipecahkan untuk para pembelajar.

Mengenai ide untuk menulis, saya memberikan penjelasan begini.

Terkadang, atau bahkan sering, sebelum memulai pembelajaran menulis kita selalu mengawalinya dengan memunculkan ide yang akan dijadikan bahan tulisan nantinya. Memang seharusnya begitu.

Tapi, setelah ide itu ditulis sedemikian rupa; menjadi lembaran tulisan yang menarik dan bermanfaat dibaca, lantas tulisan itu diam-pasif tak lagi berkembang. Pembelajar berhenti dalam pengembangan tulisan dari ide yang didapatnya. Tulisan itu tak lagi memberikan ide untuk pembelajar atau malah memandang tak perlu mencari ide dari tulisan itu. Toh, tulisan itu brasal dari ide.

Bila kita seperti itu, pandangan kita harus segera ditambah bila ingin menjadi ahli dalam bidang keilmuan. Kita perlu menambahkan tentang menulis untuk ide.

Anda tahu karya penulis besar? Mereka adalah contoh orang yang menerapkan ide untuk tulisan dan tulisan untuk ide. Mereka melakukan pengembangan ide dalam bentuk tulisan. Lantas, mereka tidak melupakan tentang apa yang dituliskannya. Mereka menjadikan tulisan itu sebagai penghasil ide baru dalam usaha mengembangkan tulisan baru. Akhirnya, mereka memiliki sebuah buku yang patut dijadikan bahan bacaan dan bahan rujukan keilmuan.

Bila ingin belajar menulis dari seorang pakar menulis yaitu Pak Jonru, klik di sini untuk mengunjungi blognya. Beliau mendirikan sekolah menulis online.

Bila ingin tahu contoh ide untuk menulis dan menulis untuk ide, lihat di kategori tips belajar. Pembahasan di kategori itu berusaha untuk berurutan dari awal sampai akhir.

Salam Cerdas!

Tuesday, March 15, 2011

Kiat Menulis dan Berbicara Bebas: Kiat agar Bebas dalam Salah!

Judul di atas terinspirasi dari judul Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu agar Kita Selalu Lancar Menulis!. Judul itu saya ambil dari blog Pak Jonru. Walau dengan judul yang berbeda tetapi intinya sama yaitu menulis dengan diawali dengan otak kanan.

Dalam postingan kali ini, saya tampilkan memang benar-benar bebas. Dan kebebasannya pun tidak tanggung-tanggung yaitu melakukan kebebasan dalam kesalahan. Entah luar biasa atau memang penghancuran dalam dunia komunikasi. Tapi yang jelas, saya bebas untuk menerangkan menulis dan berbicara bebas!

Kiat ini sangat berbau otak kanan. Tenang saja, saya didukung oleh Pak Jonru. Beliau mengatakan, “Secara naluriah, sebenarnya setiap manusia sudah “diprogram” oleh Tuhan untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri, DALAM HAL APAPUN.”

Saya akan memberi tahu contoh untuk menulis dan berbicara salah. Kemungkinan melanggar kaidah bahasa, melanggar kaidah keilmuan, atau melanggar pergaulan yang normal, hehe... Contohnya seperti ini:
Menulis salah adalah kebenaran yang terjadi bila seorang yang terbaik dalam kehidupan yang akan datang merupakan kehidupan yang dalam kesalahan yang intinya jika kita mengurai suatu lembah keburukan maka tidak mustahil akan berdampak pada kelangsungan hidup memikirkan kekeliruan yang serta merta menyelimut dalam pikiran yang intinya adalah keperkasaan bertindak yang akan menghancurkan perlawanan musuh bila itu yang akan terjadi maka sanggupkan jiwa raga dalam merayakan kemenangan.
Bila tulisan dan pembicaraan kita dengan kalimat seperti itu, mungkin akan ditertawakan. Makanya, banyak sekali yang berusaha untuk menulis benar agar tidak ditertawakan, tidak diremehkan.

Ada yang mengatakan kalau menulis itu susah karena dituntut untuk memenuhi kaidah kebenaran. Tapi, menulis dengan menuntut kaidah kesalahan pun susah. Di bawah ini cara untuk menulis salah.

1. Cara untuk melakukan menulis dan berbicara salah.
  1. Tulis kata apa saja tanpa memikirkan kebenaran kata atau kalimat. Ini benar-benar otak kanan! Benar-benar spontan!
  2. Lakukan dengan cepat!
  3. Jangan ada paksaan. Lakukan dengan bebas.
  4. Disarakan jangan ada koma bahkan titik.
  5. Disarankan menggunakan komputer/mesin tik bukan pulpen!
  6. Perhatikan suara batin saat menulis.
  7. Jangan berhenti dengan alasan untuk memikirkan kata-kata yang akan ditulis dan diucapkan. Ingat! Kita sedang menulis salah!
Pada poin “f” kita dituntut untuk memperhatikan suara batin saat menulis. Dan bertanya, apa yang kita rasakan saat menulis salah? Saya sendiri merasakan ketidaknyamanan. Sejatinya, kita manusia menginginkan kebenaran. Maka dari itu, ada beberapa manfaat melakukan kegiatan menulis salah.

2. Manfaat Menulis Salah
  1. Agar mampu menulis benar. Dengan menulis salah berarti kita merasakan sendiri, bagaimana sulitnya memahami kalimat salah.
  2. Untuk memudahkan sambungan antar data dalam otak secara cepat. Tentunya memudahkan dalam membenarkan data.
  3. Memudahkan mendapat inspirasi. Karena dari kecepatan kita menulis kata, akan mempengaruhi kerja otak untuk memudahkan mendapat ide.
  4. Memudahkan menulis dan berbicara secara cepat. Walau tidak menjamin untuk bisa cepat menulis dan berbicara. Tapi setidaknya, usaha untuk cepat akan mempercepat menulis dan berbicara.
Salam Cerdas!

Monday, March 7, 2011

Tentang Menulis Dan Berbicara

Kenapa saya hanya mencantumkan menulis dan berbicara? Sebelum menjawabnya, saya ingin menggambarkan tentang pertanyaan itu. Pernahkah kita melihat guru mengajar? Saya kira, cukup satu pertanyaan itu saja. Di saat guru mengajar, apa yang dilakukan? Tentunya, yang dilakukan adalah aktifitas berbicara dan menulis. Sehingga dapat dipastikan bahwa kegiatan keilmuan lebih dominan pada aktifitas menulis dan berbicara (membaca itu termasuk kegiatan berbicara).

Lebih jauh lagi untuk menjawab kenapa saya hanya mencantumkan dua kata yaitu menulis dan berbicara. Ternyata, dari sekian lama dunia keilmuan berkembang, dua kata itu (menulis dan berbicara) adalah sebagai pembudidaya ilmu pengetahuan. Walau yang lebih menentukan perkembangan ilmu pengetahuan adalah menulis (tapi pada dasarnya menulis pun adalah berbicara). Sampai saya memberikan kepastian bahwa tidak ada ilmu pengetahuan bila tidak ada yang menulis dan berbicara.

Walau ada istilah pengamalan alias cuma mengandalkan kegiatan sikap/fisik sebagai ekpresi adanya ilmu pengetahuan, tetapi pengamalan hanyalah buah dari kegiatan menulis dan berbicara. Tetapi, menurut saya, kegiatan menulis dan berbicara pun merupakan praktek tersendiri (terlepas apakah ia mengamalkan apa yang dituliskan atau dibicarakan). Lagi pula, kegiatan menulis dan berbicara telah berjasa mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan.

Antara menulis dan berbicara, ada bahasa yang menyelimuti kedua itu. Tentang menulis, ada catatan kata-kata dalam tiap lembar. Tentang berbicara, ada suara kata-kata pada tiap mulut yang bergerak. Dapat dikatakan, bila kita ingin menguasai ilmu pengetahuan, maka kita harus menguasai bahasa. Yang perlu diperhatiakan adalah menguasai bahasa kita sendiri, menguasai bahasa orang lain, menguasai bahasa alam semesta. Tentunya, melatih berbahasa adalah melatih kedua itu―menulis dan berbicara.

Bila negeri ini ingin membudidayakan ilmu pengetahuan, didik saja para pelajar dalam latihan menulis dan berbicara. Bila ingin menghasilkan para cendekiawan sejak lulus SMA/SMK, terapkan saja kurikulum tentang pendidikan menulis dan berbicara sejak dini.

Apakah kedua itu terlihat remeh dipelajari? Silahkan menurut pribadi masing-masing untuk menjawabnya.

Salam Cerdas!