Showing posts with label Jejak-Jejak. Show all posts
Showing posts with label Jejak-Jejak. Show all posts

Monday, May 16, 2011

Jejak #12: Belajar Baca Buku, Sah Saja!

Pernahkah waktu belajar, para pembelajar membaca buku setebal 500 lembar dalam jangka tujuh (tujuh) hari? Yang jelas saya pernah. Tapi, apa yang terjadi? Dalam waktu tujuh hari hanya digunakan untuk membaca buku setebal itu. Di rumah, di kampus, di rumah lagi, di kampus lagi, saya terlalu sering membaca buku setebal itu sampai selesai dalam waktu tujuh hari. Ya, cukup membuat pikiran lelah saja.

Tetapi, ada sih teknik membaca cepat. Cuma modal beberapa jam, mampu menyelesaikan buku setebal 500 lembar. Silahkan cari di Google dengan kata kunci Baca Kilat.

Setelai selesai membaca buku, apakah banyak informasi yang masuk ke otak? Tidak! Bahkan hanya sedikit saja yang saya ingat. Pertama, yang saya ingat adalah nama pengarang yaitu Robert T Kiosaki. Kedua, nama penerbit yaitu Gramedia. Ketiga, judul buku yaitu Guide To Investing. Keempat, hanya bayangan-bayangan kata dalam buku itu.

Pertanyaannya, apakah saya menyesal membaca buku setebal itu? Jawabannya tidak! Saya tidak merasa menyesal walau buku setebal itu tidak banyak informasi yang saya ingat. Karena saya memang sudah punya niat untuk menyelesaikan membaca buku. Saya pun sudah siap kalau nanti banyak informasi yang tidak tersimpan di kepala saya walau merasakan pusing seakan-akan informasi telah penuh di kepala.

Walau informasi buku banyak yang tidak melekat di kepala, tetapi tetap punya alternatif lain dari sekedar menyimpan informasi. Saya yang sebagai penulis, wajib pula memahami gaya penyampaian informasi seorang penulis. Dalam banyak buku karya Robert T Kiyosaki, saya menemukan banyak tulisannya yang menyajikan gaya bercerita. Tentu, penyajian seperti itu, saya merasa terbantu untuk membuat cerpen yang lebih bermakna pengetahuan. Saya pun terinspirasi, untuk membuat buku seperti itu.

Belum lagi manfaat lainnya. Secara tidak sadar, otak telah mampu mengenal banyak kata. Jika kita terbiasa membaca, kemampuan memahami pun semakin tajam. Bila tidak ingat semua informasi, minimal otak pernah paham apa-apa yang saya baca.

Jadi, walau banyak informasi yang tidak saya ingat dari hasil membaca buku, saya tidak menyerah untuk tetap membaca buku. Kemungkinan saya tidak lagi membaca buku karena salah pilih membeli buku; tidak menggunakan tips merangkul buku.

Silahkan baca Belajar Membaca dan Persiapan di dalam kategori Tips Belajar.

Salam Cerdas!

Sunday, May 15, 2011

Jejak #11: Kisah Merangkul Buku

Membahas belajar tidak lengkap kalau tidak membahas tentang buku pelajaran (buku untuk belajar). Tetapi setelah membahas tentang gangguan konsentrasi belajar, untuk melanjutkan menulis, saya masih mikir tentang pembahasan berikutnya. Memang tidak mudah melanjutkan pembahasan pada blog ini yang memang bertujuan (kebanyakan) saling berkaitan. Tetapi, akhirnya, ide tentang buku muncul dalam pikiran.

Setelah menemukan ide yaitu tentang buku, tentu yang paling awal adalah membeli buku. Untungnya saya punya cara untuk memilih buku, yaitu dari buku Baca Kilat Karya Agus Seriawan. Untuk lebih jelasnya bagaimana panduan dalam memilih buku, silahkan ngintip Tips Merangkul Buku atau Mati Kutu!

Tentang cara memilih buku-sebelum dari buku Baca Kilat-sebelumnya saya iseng mencari di internet. Saya mencari, dan memang ada. Saya bandingkan dengan cara dari buku Baca Kilat. Dipikir-pikir lebih simpel dari buku itu dan cukup mewakilkan cara-cara memilih buku dari internet.

Penting juga kita tahu cara membeli buku, bila memang itu menyangkut kesuksesan di masa depan. Tetapi, untung saja, walau dulu saya belum tahu cara memilih buku, saya selalu tepat memilih buku sesuai dengan cara dari buku Baca Kilat. Salah satunya tujuh buku karya Robert T Kiyosaki yang sesuai dengan kebutuhan saya. Akhirnya, saya telah memenuhi kebutuhan untuk meraih kesuksesan di masa depan.

Bila asal-asalan memilih buku, apa yang terjadi pada saya? Saya akan mati kutu! (bukan kutu buku). Saya tidak bisa berkutik pada buku yang sudah terbeli. Mau dibaca, merasa tidak saya butuhkan. Tidak dibaca, saya merasa rugi! Maka saya mati kutu!

Dari penjelasan tersebut, sangat cocok bila saya membahas tentang tips memilih buku.

Salam Cerdas!

Jejak #10: Sulitnya Konsentrasi, Belajar!

Sekarang jejak tentang gangguan konsentrasi. Saya menuding kegiatan belajar yang telah dianggap mempunyai faktor pengganggu. Tetapi, mohon jangan salah pengertian mengenai belajar yang membuat konsentrasi terganggu. Bila ingin tahu penjelasannya, silahkan klik di sini.

Saya menemukan ide konsentrasi lalu menuliskannya tentang konsentrasi dan gangguannya berdasarkan pengalaman saya dahulu. Waktu saya masih sekolah SMA-waktu kelas satu sampai lulus-, saya mengalami gangguan fisik yang cukup parah dan mengganggu aktifitas belajar. Bahkan untuk berbicara saja, saya tidak cukup mampu. Aktifitas di sekolah dan di rumah, saya hanya melakukan aktifitas seperti layaknya orang yang sakit.

Di sisi lain, saya menghadapi berbagai mata pelajaran yang menuntut untuk dikerjakan oleh saya. Apa yang terjadi? Tentunya, saya tidak mengindahkan aturan-aturan belajar walau saya rajin berangkat sekolah. Apa yang terjadi bila saya paksa untuk melakukan kegiatan belajar? Tentu saya akan tambah sakit! Untungnya, sekolah saya tidak banyak menuntut, cukup bebas. Apa jadinya bila saya dipaksa mengerjakan semua perintah?

Tentu, kisah saya hanya diperuntukkan untuk si sakit (sakit yang mengganggu aktifitas). Karena orang yang sakit, tidak banyak tugas pun sudah cukup terganggu konsentrasi belajarnya.

Dengan alasan itu, saya mudah untuk merasakan bagaimana tidak enaknya menghadapi banyak ilmu pengetahuan yang disertai berbagai aturan kedisiplinan belajar. Banyak ilmu pengetahuan yang ada memang saya merasakan siap untuk belajar. Tetapi kalau disertai berbagai aturan kedisiplinan belajar, saya tidak siap.

Saya merasakan pula, sulitnya konsentrasi walau kenyataannya saya tidak banyak belajar. Aura penekanan tetap saya rasakan. Ya, karena saya selalu aktif masuk kelas. Saya jarang tidak berangkat sekolah. Akhirnya, terganggunya konsentrasi tetap saya rasakan.

Karena itulah, saya menuliskan tentang Konsentrasi dan Gangguan Belajar.

Salam Cerdas!

Tuesday, May 10, 2011

Jejak #9: Visual Impian yang Tidak Jelas!

Jejak artikel kali ini akan membahas tentang postingan Visual Impian dan Kejelasan Impian dari label Tips Belajar. Saya akan menjelaskan latar belakangnya, kenapa saya membuat postingan itu.

Saya mengakui, saya bukanlah penghayal yang baik. Saya tidak mampu menikmati jalannya hayalan secara teratur. Ada beberapa faktor yang membuat saya tidak begitu baik hayalannya. Sehingga, sampai saya mencoba untuk visual impian pun yang terjadi adalah saya tidak mampu membuat visual yang baik.

Bila saya melakukan visual impian, saya merasakan kesulitan. Apalagi saya melakukan visual impian dengan tidak ada kejelasan impian, maka pastinya saya bingung mau memvisualkan tentang apa. Tentunya, bukan saya saja yang tidak mampu memvisualkan impian tetapi kebanyakan orang, bila impian itu masih tidak jelas. Maka dari itu pada postingan tersebut, saya memberi lampu kuning sebelum melakukan visual impian. Kita harus punya kejelasan impian sebelum visual impian.

Bila tidak punya kejelasan impian, saat visualisasi impian, kita pun sulit merasakan kenikmatan-kenikmatan saat memvisualkan impian. Padahal, kegunaan visual impian salah satunya adalah untuk merasakan kenikmatan-kenikmatannya. Saat visual impian, kita seolah-olah telah berhasil meraihnya. Tentunya, bila kita membayangkan keberhasilan, maka akan dirasakan kenikmatannya, kebahagiaannya.

So, itulah tentang alasan saya membuat postingan Visual Impian dan Kejelasan Impian.


Salam Cerdas!

Wednesday, April 27, 2011

Jejak #8: Oh... Indahnya Visual Impian

Seperti biasa, saya menjalankan tips Ide Menulis, Menulis Ide. Dengan begitu, pembahasan Jejak-jejak kali ini masih tentang impian. Jejak-jejak kali ini, saya akan membeberkan sejarah yang masih terpendam dalam sangkar dunia. Anda mau tahu? Baiklah, sejarah yang akan terkuak dalam pembahasan ini adalah mengenai latar belakang penulisan Tips Visual Impian.

Dahulu kala, saat masih penjajahan zaman modern (zaman sekarang kali ya?), saya sempat lahap membaca buku Quantum Ikhlas sampai habis. Tak disangka dan tak diduga, di situ ternyata membahas tentang visual impian walau tidak secara jelas membahas visual impian. Saya kira, buku itu hanya membahas tentang keikhlasan. Ternyata lebih dari keikhlasan yaitu keikhlasan impian.

Saya melakukan meditasi dengan dibantu audio—bonus dari buku Quantum Ikhlas—sembari melakukan visualisasi seperti saran dari buku itu. Saya visualkan apa-apa yang diinginkan saya walau sempat pikiran terganggu. Saya memvisualkan seolah-olah telah mendapatkan dan menikmati sesuatu yang saya inginkan.

Atas dasar peristiwa bersejarah tersebut, saya menuliskan tentang Tips Visual Impian.

Lagi pula, bila kita hanya menuliskan impian saja, impian itu tidak ada artinya. Impian seakan mati suri. Kita pun tidak merasakan bagaimana dampak impian kita pada diri kita: bahagia atau malah menderita. Memang, saat menuliskan impian pun kita sudah visual impian. Tapi, lebih baik kita melakukan visualisasi dalam keadaan tenang. Kenikmatan visual akan dirasakan dalam hati.

Salam Cerdas!

Monday, April 11, 2011

Jejak #7: Saya Terjebak Impian

Impian lagi, lagi-lagi impian. Saya terkena dampak rutinitas tema akibat mendalami trik ide menulis dan menulis ide. Pada akhirnya saya menuliskan tentang impian lagi. Ide muncul kembali dari tulisan yang membahas tentang impian yang sudah dibahas.

Walau saya terjebak dalam jebakan pembahasan impian, tapi ada untungnya juga. Karena jebakan ini berguna untuk menjebak pikiran agar pikiran mau sadar tentang impiannya. Pikiran sadar bahwa yang namanya impian itu penting! Sampai-sampai impian itu harus dibahasakan dalam bentuk tulisan. Yang saya tulis dalam tips belajar tentang impian adalah Tips Membahasakan Impian.

Alasan saya menulis tentang membahasakan impian karena untuk menguatkan jiwa saya agar lebih berani menuliskan impian. Juga―bila pembelajar mau―untuk memberanikan jiwa para pembelajar. Tentunya, agar kita tidak mengabaikan impian. Bagi saya, impian adalah aset pertama yang harus dipertahankan. Kalau kita tidak membahasakan sama halnya seperti ingin melepaskan aset.

Tapi, masalah minat itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya tidak berminat membahasakan impian seperti cara dari kebanyakan orang pintar dalam menuliskan impian. Saya tidak suka bila saya hanya menulis impian dalam beberapa kalimat lalu setelah itu di simpan/ditempel dalam ruang yang dianggap sakral: di dalam tanah, lemari, meja belajar atau di tempat lain (asal jangan di WC). Apakah para pembelajar berminat cara seperti ini?

Maka dari itu saya membuat alternatif lain dalam membahasakan impian. Saya lebih suka membahasakan impian dalam bentuk kalimat cerita atau bentuk artikel yang dirasa hidup dan bermanfaat. Dengan begitu, saya tetap menjalankan penulisan impian dan juga memiliki minat dalam menuliskannya.

Salam Cerdas!

Jejak #6: Resep Impian? Hm...

Resep impian? Ini dia yang akan saya tulis di Jejak-jejak kali ini: Resep Impian Sukses.... pembahasan mengenai resep impian sukses sebenarnya sangat panjang dan ada tiga resep yang saya buat. Akan tetapi, saya hanya ingin menampilkan satu resep saja pada para pembelajar. Pusing bila ditampilkan semua.

Tulisan resep impian sukses merupakan hasil kolaborasi antara tukang mimpi dan dan tukang masak. Ya, seperti itu.

Tukang mimpi dan tukang masak adalah saya sendiri. Tukang mimpi karena saya punya impian berat dan besar. Saya ingin punya lembaga pendidikan mandiri seperti sebesar Primagama. Alasan membuat blog ini tentunya untuk mengasah kemampuan. Bukan hanya itu, saya pun ingin menerbitkan buku cetak dan ebook agar bisa diakui sebagai penulis profesional dan tentunya, buku-buku itu akan saya jadikan sebagai bisnis dan investasi saya.

Mengenai tukang masak, ya karena saya bisa masak. Setengah serius! Masak air, masak mi dan masak otak-otak agar matang dalam berpikir, haha... Intinya, waktu menulis tentang resep impian sukses, saya ingat makanan. Jadi, akhirnya saya menambahkan kata resep sebagai bumbu kenikmatan menulis, hm...

Di samping itu... sepertinya, menambah tentang kata resep membuat saya bernafsu untuk membaca. Apakah para pembelajar seperti itu? Ya terserah selera masing-masing lah.

Walau hanya sekedar membahas tulisan mainan, tetapi saya cukup sulit memikirkan tentang resep apa saja yang akan saya berikan. Pertama, memikirkan bahan-bahannya. Klik di sini bila ingin tahu kesegaran dari bahan-bahan. Kedua, memikirkan tentang aba-aba. Klik di sini bila ingin ikut balap memasak. Dan ketiga, memikirkan tentang mengolah-olah resep impian sukses. Klik di sini bila ingin mencium aroma masakan.

Lihat selengkapnya tentang resep impian sukses di tips belajar

Salam Cerdas!

Wednesday, March 30, 2011

Jejak #5: Membahas Patuh Impian

Sebelum bertindak belajar, kita seharusnya membahas tentang impian. Bila sudah kita tentukan, maka kita harus patuh pada impian kita; kita harus melakukan usaha sesuai yang kita impikan.

Ngomong-ngomong membahas kepatuhan pada impian, saya sudah menjelaskan pada postingan terdahulu. Pada postingan Jejak-jejak ini, saya hanya ingin menceritakan tentang latar belakang pembuatan artikel tentang Patuhi Impian Sekarang!

Sebenarnya, banyak yang melatarbelakangi pembuatan artikel tersebut. Hanya saja saya ingin membatasinya.

Salah satu yang melatarbelakanginya adalah tentang pemimpi yang hanya sekedar mimpi ingin sesuatu, akan tetapi tidak pernah melangkah untuk berusaha. Mereka yang tidak berusaha banyak memberi alasan kenapa mereka tidak melakukan. Salah satu alasannya adalah karena belum ada kepastian berhasil bila melakukan usaha.

Saya pun memberikan pernyataan tentang masa depan pada Inspirasi Kata dengan judul Mengetuk Masa Depan. Berikut pernyataannya:
Masa depan adalah samudera kerahasiaan.
Samudera yang akan mengantarkan
kita ke arah ketidakpastian.
Maksudnya, kita tidak tahu masa depan kita seperti apa. Masa depan penuh dengan rahasia-rahasia. Tidak ada yang bisa menebak masa depan kita karena ketidakjelasan pada masa depan.

Akan tetapi, masa depan tidak lepas dari masa sekarang. Kita bisa melihat masa depan kita lewat masa sekarang. Oleh karena itu, bila kita ingin meraih impian, maka kita harus mematuhi impian, sekarang! Jangan di tunda-tunda.

Saya pun kadang enggan melakukan usaha dalam kesehariannya. Alasannya seperti pada umumnya orang yaitu hawatir mendapat kegagalan di masa depan. Bila saya gagal meraih impian, rasanya sia-sia usaha kerja keras kita. Masa depan menjadi pertanyaan yang tak terjawab. Tapi bila saya tidak melakukan usaha, maka keberhasilan akan lebih tidak pasti lagi. Sehingga, apapun masa depannya, mematuhi impian sekarang adalah keharusan.

Salam Cerdas!

Saturday, March 12, 2011

Jejak #4: Tentang Belajar: Kenapa dan Bagaimana

Sebelum Anda membaca, silahkan sedikit melihat postingan tentang Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu? (Bagian 1), Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu...? (Bagian 2) dan Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu...? (Bagian 3). Bila sudah, saya ingin mencoba menjelaskan, kalau Jejak #4 ini membahas tentang latarbelakang saya dalam menulis arti penting belajar.

Okey, bila sudah melihatnya, maka proses pem-belajar-an kali ini akan lebih dimengerti.

Sebuah sikap penting dalam belajar. Awalnya, sebelum menemukan pembahasan tentang pentingnya belajar, saya ingin membuat postingan tentang hakikat belajar. Dipikir-pikir, berat juga untuk ukuran pikiran saya bila menuliskannya. Tapi, seringnya mendengar kata penting dari tiap mulut manusia, saya pun mencoba untuk mengurai ide tentang penting belajar.

Judul pertama Arti Penting Belajar. Tapi terlihat kaku. Teringat judul buku diperpustakaan yang tak sempat saya baca karena faktor judul. Memang sepele, tentang masalah judul. Tapi, ampuh juga untuk mematikan minat atau membangkitkan minat. Akhirnya, saya membuat judul yang non baku, Pentingnya Belajar? Kenapa Gitu? Mungkin judul ini terlihat lebih nyaman dan ringan, hm...

Setelah saya sudah menemukan judul yang tepat menurut pandangan pikiran saya, saya pun langsung membahasnya. Saya sudah tahu jalan penulisannya yaitu membahas mengenai pertanyaan kenapa dan bagaimana. Kenapa saya membahas pertanyaan kenapa dan bagaimana? Dulu sempat membaca bahkan membeli 6 buku dari karya Robert T Kiyosaki dalam seri Rich Dad di Gramedia. Pada salah satu bukunya, sempat ia membahas tentang pertanyaan kenapa dan bagaimana.

Salah satu contoh nyatanya yang mempraktikkan pertanyaan kenapa dan bagaimana adalah beliau sendiri. Dalam jiwanya ia memiliki jawaban atas pertanyaan kanapa yang begitu kuat dan penting. Ia ingin mempunyai kebebasan finansial, dan ia ingin pensiun dini dengan kaya raya.

Tentang pertanyaan bagaimana, ia pun melakukannya dengan baik. Tiap langkah usaha selalu menyesuaikan diri dengan pertanyaan kenapa. Ia sampai rela―setelah terjadi kebangkrutan usahanya―tidak menerima tawaran untuk bekerja dan lebih memilih hidup ala kadarnya dengan biaya hidup yang masih tersisa. Tapi jiwanya kaya, kaya akan segala kekuatan pertanyaan kenapa dan kaya akan segala peluang-peluang dari pertanyaan bagaimana.

Sampai akhirnya saya memberi nama tentang kata kenapa dan bagaimana Tentunya, tentang pertanyaan kenapa dan bagaimana memiliki nilai yang dikandungnya. Tak berpikir lama, saya menemukan nama untuk dua pertanyaan itu. Untuk pertanyaan kenapa, saya memberi nama dengan nilai keharusan dan untuk pertanyaan bagaimana saya memberi nama dengan nilai penyesuaian.

Tidak hanya kedua itu, saya pun menambahkan nilai kembali yaitu nilai tambah. Tentang nilai tambah pun saya mendapat ide dari buku Robert. Dalam beberapa bukunya ia menjelaskan tentang 4 kuadran yaitu: kuadran emlpoye (karyawan), kuadran self employe atau small business, business owner atau big business, dan terakhir adalah investor.

Nilai tambah dimaksud adalah mencari kepentingan hidup dengan ilmunya. Apapun ilmunya, pasti akan mencari kepentingan hidup. Sehingga tentang pertanyaan kenapa dan bagaimana, saya arahkan untuk memenuhi nilai tambah. Maka, 4 kuadran itulah bentuk-bentuk dari nilai tambah.

Setiap usaha kita yang ingin memenuhi pertanyaan kenapa dan bagaimana; melakukan dengan kesungguhan hati, dan penuh pengharapan mampu memenuhi kepentingan hidup, maka akan mendapatkan Nilai Tambah dari proses yang dilakukan. Bisa anda baca apa saja tentang Nilai Tambah yang akan diperoleh. Klik link di atas untuk membacanya.

Seperti itulah jejak #4 kali ini. Nantikan jejak berikutnya.

Salam Cerdas!

Wednesday, February 23, 2011

Jejak #3: Ketemu Ide dan Merevisi

Awalnya, saya sedang berdiam sendiri dalam masjid―masjid kampus. Tidak ada teman sama sekali. Sepi. Saya berbaring karena kelelahan sehabis mengurusi persiapan wisuda: membayar wisuda. Tak lama dalam sepi, dua teman saya,―sebut saja Aduy dan Omeng―datang menghampiri saya. Wuih, lumayan untuk menemani rasa kesepian saya. Saya berbicara macem-macam sama dua teman di situ.

Lalu, Omeng yang lumayan mahir dalam dunia online itu menunjukkan keanehannya; sisa pulsa limit, di bawah 10 rupiah. Aneh, pulsa yang sebenarnya tidak cukup digunakan, tapi ia malah asyik-asyikan berselancar di dunia maya.

“Bonus ya?” kataku.

“Gak,” katanya. Lalu ia menjelaskan yang sebenarnya. Ia menjelaskan, kalau itu semua hanya teknik hacking. Tinggal main-main kode, bisa mendapat pulsa gratis.

“Ampun. Ajaib dah. Baru saja saya baca buku hacker,” kata saya ke Omeng. Masalahnya, waktu hari Rabu saya pergi ke Gramedia dan membaca buku tentang dunia Hacker.

Memang, bila hati dan pikiran fokus pada sesuatu yang diinginkannya, maka akan menarik sesuatu yang diinginkannya pula. Itu terjadi pada diri saya. Karena, waktu saya membaca buku tentang teknik hacking, hati saya berkeinginan untuk mempelajari tentang hacker. Dan penting diketahui, mengingat saya sudah terjun ke dunia maya.

Lalu, kita berbicara tentang dunia hacker dan teknik penjebolannya. Saya katakan, memang teknik hacking sangat berbahaya. Mengancam keselamatan harta benda manusia. Banyak pembobolan yang dilakukan para hacker.

Ilmu hacking itu memang ilmu tentang “pencurian”, menurut pengetahuan awal saya.

Azan Jum’at pun berkumandang sampai selesainya salat. Lalu, saya berpisah dengan Omeng dan Aduy. Tapi, perpisahan tidak membuat saya melupakan pembicraan tadi.

Tahu tidak apa yang terjadi? Yang terjadi adalah saya mendapatkan ide tentang “niat/tujuan tentang mempelajari ilmu”. Dengan ide itu, saya melengkapi postingan tentang pengertian belajar. Saya merasa, penjelasan tentang pengertian belajar belum sempurna. Kanapa? Soalnya saya telah membagi tentang ilmu: ilmu yang boleh dipelajari dan ilmu yang tidak boleh dipelajari.

Wah, kalau saya melarang mempelajari ilmu hacker, mungkin saya bisa diprotes oleh para hacker sejati.

Akhirnya, hari itu juga, tulisan dengan judul Tentang Belajar: Membahas tentang Niat telah rampung. Membahas―sebagai contoh ilmu―tentang sejatinya ilmu hacking adalah ilmu mencuri. Menjelaskan bahwa keadaan pun bisa berubah jika dilihat dari segi keselamatan dan sisi positif lainnya. menjelaskan ilmu hacking dibolehkan untuk dipelajari.

Setelah itu, saya posting dan membagikan informasi itu pada teman Facebook.

Apa yang terjadi setelah itu? Saya merevisi kembali tulisan itu sesudah berselancar di dunia maya. Saya sengaja mencari kata kunci tentang pengertian hacker. Oh, lagi-lagi saya lupa mencari pengertian tentang sesuatu. Setelah membaca artikel tentang arti hacker, ternyata ilmu hacking bukan ilmu yang negatif.

Memang, sekarang citra hacker dipandang buruk. Tapi, yang membuat citra buruk hacker ialah orang-orang yang memanfaatkan ilmu nge-hack untuk hal-hal yang negatif. Orang-orang yang seperti itu bukanlah hacker, melainkan cracker, katanya.

Akhirnya, jadilah tulisan hasil revisi tulisan itu.

Silahkan, kalau ingin melihat postingan hasil revisi dengan judul Tentang Belajar: Membahas tentang Niat, klik saja.

Salam Cerdas!

Wednesday, February 9, 2011

Jejak #2: Awal Pembahasan, Ya, Pengertian.

Anda sudah baca mengenai pengertian belajar? Ya, kalau ingin menjenguk pengertian belajar itu lagi, lihat saja deh.

Kenapa postingan saya berawal dari pengertian? Mungkin Anda akan ngejawab, “Ya, biasanya kalau membahas ilmu berawal dari pengertian dulu.” Oke, kalau jawaban Anda demikian. Memang benar jawaban itu. Tapi (Weih, ada tapinya), bukan sekedar itu. Ini menyangkut pengalaman saya lho...

Satu misal (padahal banyak), dulu sebelum menyentuh dunia internet, saya diajak bicara (secara, punya mulut) mengenai blog. Kira-kira semester 6. Teman―sebut saja Jadul―saya menjelaskan kalau blog itu bisa mendapetkan duit. Wuih! Saya langsung terbengong. Apa iya? Lalu teman saya menawarkan untuk nge-blog.

Langsung saya menyetujui tawaran itu. Tapi saya tidak bertanya dulu, apa itu blog? Saya tau, kalo teman hanya menjelaskan tentang adsense. Tapi masih tidak mengerti. Lalu, teman saya menjelaskan tentang postingan/artikel yang bisa mendapetkan duit. Tapi, asal transfer duit per postingan ke pihak yang membayarkan (tidak tau aturannya bagaimana). Pokoknya, teman saya hanya menjelaskan sedikit tentang bisnis itu.

Berhubung saya mulai belajar menulis. Saya pun semangat. “Dul, bikinin blog ya?” jawabnya, “Oke dah.” Ampun, saya tidak bisa membuat blog. Membuat e-mail pun tidak bisa. Kepaksa saya meminta dibuatkan blog. Blog pun jadi.

Saya pun tergerak untuk belajar. Saya ingin yang posting artikel itu saya sendiri. Waktu itu, postingan pertama bukan artikel tapi tentang cerpen. Judulnya, “Keajaiban dibalik Impian”. Situsnya lupa apaan. Postingan itu yang membuat saya mengeluarkan duit 50.000 agar dapat duit lagi (hehe... lucu). Lalu saya berhasil posting artikel itu.

Saya pun berpikir dan bertanya ke hati, “Kapan ya blog saya ngasilin duit?”

STOP! Selesai!

Ternyata blog saya gagal! Persepsi tentang blog yang menjelaskan duit itu salah. Baik saya maupun teman saya. Sama-sama tidak mengerti!

Secara istilah dasar saja―jangan dulu makan berbagai istilah―menurut kamus, blog itu artinya buku diary online. Kita bebas mencurahkan isi pikiran kita.

Maka terbentuklah persepsi, “Gimana mau ngasilin duit? Orang sekedar masih curahan pikiran, ide pikiran”. Bisa dapet duit, ya, harus seperti bisnis lain: ada promisi, penjualan, dll.

Tapi, yang jadi persoalan untuk saya sendiri, “keterlaluannya itu lho”. Perjalanan sudah lumayan jauh, pengertian blog itu tidak sempat dipikirkan oleh saya. Saya tidak mengerti blog itu apa. Seharusnya, sebelum terjun untuk nge-blog, lebih dahulu saya kenal apa itu blog. Yang pertama tentunya adalah pengertian. Dari pengertian maka terbuka jalan untuk pemahaman ke tahap selanjutnya.

Dalam postingan mengenai pengertian belajar, saya menjelaskan kalau kita selalu disuruh tentang belajar. Tapi, kebanyakan tidak mengerti arti dari belajar itu sendiri secara kalimat istilah. Termasuk saya sendiri baru tahu pas sudah kuliah.

Walau keliatannya memang tidak terlalu penting, tahu tentang pengertian sesuatu. Tapi, penting juga diketahui! Menurut kaca mata keilmuan, tidak sopan dong sama ilmu dan sama ilmuwan yang membuat pengertian. Bila tidak tahu mengenai pengertian sesuatu, waduh, tanyain aja deh mau ampe kemana ilmunya. Sikap seperti itu―mengabaikan pengertian―belum dianggap pembelajar sejati walau terlihat sudah sungguh-sungguh.

Bila Anda termasuk orang yang sering mengabaikan pengertian tentang suatu, anda pun sama seperti saya. Emang sulit serius sama hal-hal yang terlihat sepele. Tapi, marilah berusaha, ok!

Salam Cerdas!

Tuesday, February 8, 2011

Jejak #1: Jekak-jelak Artikel

Memang judul di atas bukan maksud menelusuri sejarah artikel itu sendiri. Ini hanya membahas jejak artikel yang saya tulis di blog ini. Dalam artian, saya berusaha ingin menjelaskan proses kegiatan pembuatan artikel yang saya buat.

Alasan saya bikin jejak artikel karena memang berawal dari rasa penasaran saya; penasaran sama tulisan-tulisan orang yang pernah saya baca. Saya mikir dan berkata dalam hati, “Apa aja kegiatan yang ngebentuk tulisan itu, ampe tulisan itu sangat mempesona, menggugah, kagum dan rasa sedep lainnya. Atau malah tulisan itu rasanya hambar sekali.

Ternyata tidak ada jawaban sama sekali (penulisnya jauh). Tidak ada penjelasan mengenai kegiatan dibalik tulisan itu...Padahal, buat saya sendiri, sangat penting mengetahui kegiatan di dapurnya. Mungkin rahasia kali ya?

Tapi sudahlah, saya tidak perlu mencari itu, karena memang saya pun bisa membuat sendiri.

Alasan saya membuat jejak artikel karena memang konten blog ini tentang “dunia pendidikan”. Lho kok? Maksudnya begini. Dengan menulis jejak-jelak pembuatan artikel, maka diharapkan saya dan Anda mengerti tentang proses hadirnya ide, ngebahas ide, dan sebagainya. Jadi, ada penjelasan pembelajaran yang saya lakukan.

Alasan saya bikin jejak artikel, tetap, saya jadikan pembahasan ini hanya sekedar curhat belajar saja. Biasanya, saya atau mungkin Anda akan tertarik bila mendengar kisah-kisah perjuangan orang yang sudah meraih kesuksesan. sampai saya merespon, “Wah! Wih! Wuh!”

Ya sudah, tunggu saja jejak-jejak artikel selanjutnya!

Salam Cerdas!