Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Sunday, July 26, 2015

Ektrimis Kaum Anti Islam Indonesia - Teks Dalam Tempurung Kaum Modernis

Kaum modernis ada berbagai macam aliran dan organisasi. Baik kaum modernis aliran liberal atau modernis aliaran radikal. Berbagai macam kaum modernis, namun pada intinya adalah "Anti Tradisi Bermadzhab 4". Namun, kaum modernis yang dimaksusd lebih kepada kaum "Tekstualis", yang bersifat tertutup, anti pluralis kebenaran dan cenderung radikal.

Bermula dari "Anti Madzhab 4". Menurut mereka tradisi bermadzhab adalah tradisi "jumud". Mereka tidak sadar, bahwa kejumudan itu datang ketika menganut "Anti Madzhab". Kenapa jumud? Karena tidak mengenal toleransi kebenaran, bersifat tertutup. Karena yang mengajarkan toleransi kebenaran adalah "Imam 4 Madzhab". Dan toleransi ini diwariskan kepada murid-muridnya, sampai sekarang. Sudah maklum adanya, menjadi tradisi, dimana mayoritas bermadzhab Syafi'i, maka yang bermadzhab Malik akan menghormati mereka dan lebih memilih untuk tidak membuat perubahan, begitu sebaliknya.

Namun berbeda, gara-gara kaum modernis datang ke Indonesia, di mana mayoritas itu adalah Safi'iyah, kaum modernis yang berjumlah minimal mencoba untuk membuat perubahan dan cenderung radikal. Setiap masjid, harus dikuasai. Kalau masjid tidak dikuasai kaum modernis, maka batallah solat berjama'ah dibelakang orang yang bermadzhab. Karena menurut mereka, bermadzhab adalah bid'ah dan haram berjama'ah dengan orang ahli bid'ah. Ahli bid'ah itu bangkai yang hidup, tidak ada nilainya.

Karena Imam madzhab mengajarkan kebolehan:
- Tradisi Tawasullan
- Tradisi Maulidan
- Tradisi Tabarukkan
- Tradisi Membuat Hal Baru yang Baik
- Tradisi Tahlilan (Trasnfer pahala)
- dll

Menurut mereka, tradisi-tradisi Islam yang subur di Indonesia akibat pengaruh imam madzhab, dianggap bid'ah dan mengajarkan syirik.

Imbasnya, segala yang berbau tradisi, khususnya tradisi di Indonesia dalam Islam, langsung alergi dan dianggapnya penyakit dalam agama Islam.  Tragisnya, mereka yang alergi tradisi seperti belum memahami makna tradisi dan budaya. Seolah tidak ada tradisi dalam Islam padahal Islam sebagai ajaran tradisi juga. Islam mengajarkan untuk mempertahankan tradisi "Hubungan Ketuhanan dan Hubungan Kemanusiaan (baik yang masih hidup atau mati)". Adapun variasi tradisinya bisa saja berbeda-beda. Termasuk tradisi bermadzhab.

Secara otomatis, mereka anti Islam Indonesia, Islam yang dibingkai tradisi-tradisi khas Indonesia yang tetap pada jalur Ahlussunnah Wal Jama'ah.

Secara kajian ilmiah, siapa yang berotak jumud, beku, statis dalam berpikir? Kaum modernis yang anti madzhab atau kaum bermadzhab yang modernis?

Friday, July 24, 2015

Ektrimis Kaum Islam Indonesia - 'Itu Mah Bermain Sukuisme

Mengatasnamakan Islam Indonesia, jangan ektrim lah. Sampai berkata pada orang ahli jubah, imamah, ahli jenggot, ahli cadar, "Lah, kok Islam Arab?" Lah, siapa yang mengatakan Islam Arab? Ente sendiri kan? Jadi ente bermain Sukuisme. Orang Arab yang kental dengan ke-suku-annya, yang membedakan suku, tidak pernah berkata, "Anta Islamulindunnisi, Ana Islamularobi"

Memang ada yang salah dengan tampilan yang mirip Sayidina Nabi SAW dan Sayidah Fatimah? Lah, seorang mengucapkan, "Kok Islam Arab?" seolah ucapan yang benar padahal itu ucapan membeda-bedakan suku, negara. Padahal Islam, ya Islam Nabi SAW.

Cuma dalam pengembangan tradisi, ada amalan-amalan tertentu seperti yang sudah umum dilakukan. Tradisi dalam kelahiran, tradisi dalam pernikahan, tradisi dalam acara haul, tradisi dalam merayakan hari besar, dan sebagainya, memang ada perbedaan antara Indonesia dan Arab. Inilah yang disebut "Islam Indonesia". Islam yang memiliki tradisi-tradisi khas Indonesia sesuai pedoman "Ahlussunnah Wal Jama'ah".

Lebih jelas lagi, maksud Islam Indonesia adalah Muslim Indonesia yang mengamalkan ajaran keislaman khas lokal, menurut Kiai Ali (Imam Besar masjid Istiqlal, Pejuang Aswaja Indonesia).

Jadi bukan membeda-bedakan dalam segala hal dan membuat alergi yang berbau Arab. Kalau sudah ektrim, ya sudah berarti "Sukuisme". Nanti kata orang Arabnya, "La Islam Anta, Anta Min Indunisia..."

Arab memang bukan Islam tetapi Islam berasal dari Arab karena Nabi SAW adalah orang Arab. Jadi bukan arabisme tetapi muhammadisme. Tidak mau dianggap muhammadisme? Maunya apa? Yesusisme? Itu kan Yesus, Bukan Isa AS. Isa AS nabinya orang Islam bukan nabinya orang Kristen.

Dengan adanya orang-orang "Alergi Arab", kita patut pertanyakan tujuan mereka, "Apakah ini upaya pendangkalan simbolisasi keislaman di Indonesia untuk menyeimbangkan dengan agama lain yang miskin simbolsasi?"

Thursday, July 23, 2015

Islamisasi Akting Sinetron/Film

Saya tidak menjamin, ada sinetron/film yang "100% Islami" walau alur ceritanya sangat islami. Alur cerita mah, bisa dibuat sedemikian rupa tergantung keinginan sutradara dan bagaimana penulis naskah meraciknya. Namun yang jadi masalah adalah perjalanan pembuatan sinetron itulah yang perlu diperbaiki. Namun setidaknya, dengan mengislamisasi sinetron tidak terjadi "liberalisasi" terus-menerus sepanjang kemajuan (masa depan) zaman.

Sebagai contoh, salim (bahasa Buntet Pesantren: Sebah; Bahasa Indonesia: Salaman) anak dengan orang tua itu memang islami. Tapi lain ceritanya bila ini dikemas dalam sinetron, yang membutuhkan akting. Dalam dunia nyata, memang ini benar. Namun dalam dunia nyata aktifitas akting, ini yang menjadi masalah. Karena pemain yang menjadi anak dan orang tua belum tentu se-mahram (bukan muhrim karena muhrim artinya orang yang sedang ihrom).

Bila melihat cerita sinetron, rata-rata itu mengajarkan mengajak kebaikan dan menghindar keburukan. Ini yang sudah umum kita lihat. Dalam kasus ini, ini termasuk jenis sinetron yang islami walau tidak ada embel-embel ustad, ajaran agama, dll. Masalah ada berbagai kesalahan dalam memahami kebaikan, ini masalah pengetahuan si penulis. Dan, ini kan hanya "akting", salah atau benar, ya akting. Tinggal di awal-akhir cerita dituliskan, "Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka".

Jadi yang perlu diperbaiki adalah hasil atau aktifitas dalam akting sinetron. Seperti jabat jangan, ciuman, tidur satu kamar, mandi, dll.

Masalah jenis sinetron, kan sekedar cerita fiksi? Misal, akting menjadi "Abu Jahal", sah-sah saja (mungkin) bila kita berakting seperti Abu Jahal. Cuma karena berkaitan dengan hati (tetap saja walau akting, alam bawah sadar tidak kenal akting atau beneran), maka jangan dibuat seperti cerita Abu Jahal sesungguhnya.

1. Akting Salaman:

Walau akting menjadi anak dan orang tua, kalau bukan se-mahram, ya tetap haram. Karena tidak mengenal akting atau beneran dalam hal sentuhan. Cuma, zaman sekarang serba canggih dalam membuat ilustrasi jabatan tangan. Bisa saja tidak ada sentuhan namun dikasih "sensor" yang bertuliskan "Tidak Sentuhan". Atau bagaimana lah bisa diatur.

Kalau sinetronnya-nya berjenis komedi, lebih mudah lagi. Tinggal ada kalimat lucu,

"Nak, cuma akting, tuh lihat kamera. Jangan sentuhan dong"

"Eh iya mamah, lupa. Gak jadi deh... Ya udah, salaman ama kameramen, haha..."


2. Akting Berbusana:

Ilmu akting sudah canggih lah, bisa membuat akting berganti busaha tetap bagus walau tanpa perlu memperlihatkan kebugilan. Rata-rata sinotron di Indonesia, tidak menampilkan 100% ke-bugil-an. Hanya memperlihatkan dada, kepala, betis. Nah, kalau di islami lagi, maka tentu akan lebih bisa lagi.

Dalam berbusana, tentu harus memakai jilbab semua bagi pemain wanita yang terlibat walau cerita tidak menonjolkan 100% Islami. Walau menceritakan tentang kehidupan biasa, tanpa embel-embel agama, tentu tetap bisa menggunakan jilbab alias menutup aurot. Si pemeran antagonis, tetap bisa menggunakan jilbab, apalagi yang prontagonis.

Desainer sekarang sudah maju-maju dalam membuat rancangan baju menutup aurot sesuai karakter si pemilik dan kondisi wilayah.

Walau demikian, agak sulit sepertinya bila masalah busana. Karena, ada perbedaan agama pemain dan cerita sinetron. Perlu mikir panjang agar bisa melakukan hal ini.

3. Akting tidur bareng

Teknologi per-film-an sudah canggih. Seorang yang berakting menjadi kembar saja bisa berhadap-hadapan  dengan berbeda posisi. Ini tandanya bisa juga untuk digunakan akting tidur bersama. Hasilnya mah tidur bersama, tetapi tidak. Namun akting tanpa tidur bersama bisa dan sudah banyak yang melakukannya.

4. Akting Mabuk

Dalam sinetron "Preman Pensiun", tidak mengajarkan tentang minuman "beralkohol" dan "mabok". Masak, sinetron yang islami menonjolkan akting mabok? Lampiaskan saja ke kafe atau bagaimana lah, sambil seperti berekresi seperti orang yang sedang kepusingan menghadapi masalah. Jadi, tidak perlu pergi ke diskotik.

5. Akting pacaran dan berzina.

Namanya juga sinetron yang islami, masak menceritakan tentang dunia pacaran dan perzinahan? Realita mah realita, banyak orang pacaran dan berzina. Cerita pacaran dan perzinahan dalam sinetron bisa diatasi dengan "status" atau "cap" saja.

Apa ada adegan dua orang dalam kamar berdua sambil telanjang bulat? Saya rasa, KPI tidak bisa menyetujui sinetron yang seperti ini. Apalag sinetron yang islami, masak kalah sama sinetron yang tidak islami?

---

Dan masih banyak lagi. Saya rasa, islami atau tidak dalam akting sinetron, bergantung si pemuat filmnya bagaimana. Bila yang mau membuat seorang yang sadar agama, tentu akan memperhatikan baik-baik dalam menjalankan akting.

Lalu bagaimana membuat penonton melejit karena kebanyakan sinetoron yang islami kurang diminati? TONJOLKAN KUALITAS CERITA DAN MARKETING!!! Sudah, orang lihat tuh karena ceritanya dan karena terpengaruh marketingnya.

Wednesday, July 22, 2015

Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar??? Penting Ikut Khalifah Madzhab 4

Ucapan "Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar" adalah ucapan yang sering didengar untuk (seolah) menetlarisir pertentangan. Namun apa kesimpulan dari ucapan itu? Kesimpulannya adalah "Semua itu benar". Lah, ketahuan sekali bahwa orang yang mengucapkan kalimat tadi pun sudah membuat "Klaim Pembenaran Baru". Tidak sadar ya? Belajar lagi deh (ucapan khas orang-orang menggoblokkan orang lain di sosial media dan lainnya).

Kebenaran Tepung + Kebenaran Telur + Kebenaran Syuran = Kebenaran Martabak Telur. Inilah kebenaran orang yang sering dengan mudah mengucapkan "Jangan Mengkaim Diri Paling Benar atau Benar"

Ahli Sunnah Wal Jama'ah cukup mentolerir dalam hal perbedaan, namun tidak kebablasan. Titik tekannya adalah, selagi berpedoman pada "4 Madzhab Besar", maka perbedaan itu dianggap benar. Namun bila perbedaannya itu atas nama "Anti Khalifah Madzhab 4", itu akan lain.

Contoh:
Madzhab Khalifah Malik: Tidak membaca basmalah dalam Fatehah
Madzhab Khalifah Safi'i: Wajib membaca basmalah dalam Fatehah

Keduanya sama-sama benar, karena masing-masing mengikuti imam (khalifah) madzhab. Walau kedua-duanya sama-sama benar, tidak benar berpindah-pindah dalam maksud "Mencari keringanan" tanpa hajat yang penting.

Namun berbeda bila seseorang tidak bermadzhab dari salah satu "4 Madzhab", bahkan menganggap bermadzhab adalah perbuatan bid'ah. Mereka yang tidak memakai madzhab, akan membuat hukum dengan sistem "Perbandingan Madzhab". Inilah, sumber "Klaim Pembenaran" yang membuat kebenaran lain dianggap salah sampai derajat "Bid'ah". Golongan anti madzab 4 inilah "kaum modernis".

Jadi akhirnya:
Tidak membaca basmalah dalam Fatehah: Sunnah
Wajib membaca basmalah dalam Fatehah: Bid'ah

Jadi ada dua:
- Ektrimis Pluralis Kebenaran (Liberal)
- Ektrimis Depluralis Kebenaran (Radikal)

Saturday, July 18, 2015

Humanisme Khilafah, Bukan Anarkisme Khilafah - Jangan Munafik!

Sering sekali kalau melihat komplotan pegiat khilafah lebih mencerminkan "Anarkis" walau tidak seanarkis para preman yang rebutan kekuasaan lahan. Kecuali Ijis (Iblis Najis) yang sudah menunjukkan anarkis preman. Bahasanya pakai tanda seru lalu diakhiri takbir "Allahu Akbar!" seolah yang sebagai penjuang tauhid sejati adalah mereka. Nafsunya sendiri sebagai musuh mereka tidak diperangi. Padahal ada kaidah, "Lindungi dirimu dan keluargamu dari tempatnya nafsu jelek (neraka), sebagai jihad akbar"

Tetapi kalau sudah "Anarkisme", menurut KBBI, yang bermakna ajaran (paham) yg menentang setiap kekuatan negara; teori politik yg tidak menyukai adanya pemerintahan dan undang-undang. Maka komplotan pegiatan khilafah yang ada di Indonesia seperti memiliki ajaran "Anarkisme". Jelas, mereka menganggap bahwa Negara Indonesia adalah negara yang tidak sah. Padahal, menurut Ahlussunnah Wal Jama'ah, sistem pemerintahan di Indonesia sudah sah walau tidak berhukum syareat.

Lah, mereka licik, mereka merangkul madzhab Ahlussunnah Wal'jama'ah sebagai sumber pemasukan kekuatan mereka. tetapi sisi lain menolak keyakinan madzhab Ahlussunnah Wal'jama'ah. Jelas, ini otok preman, yang sering menggunakan cara licik. Lebih licik lagi, mereka tidak konsisten dengan ajaran mereka, yang kini mulai mencair dengan mengadakan trik "IKUT PEMILU".

Kewajiban kita dalam menegakkan syareat dan lebih besar adalah khilafah adalah sebuah kewajiban yang seperti menegakkan syareat di tengah keluarga kita. Dengan cara humanis dan tidak anarkis. Dan memang tugas kita sebagai kaum yang tidak punya kekuasaan adalah berjuang untuk diri dan keluarga. Urusan dalem-dalem yang berkaitan sosial-politik, itu bagi yang mampu masuk dalam wilayah tersebut dan cara perjuangannya pun bukan dengan bentuk anarkisme.

Thursday, July 16, 2015

Tradisi Budaya Islam Nusantara Versi Aswaja

Apa itu budaya dan apa itu tradisi? Agar tidak terjadi "Liberalisasi Makna", maka saya berujuk pada kamus bahasa Indonesia sebagai bukti "Cinta Tanah Air" Indonesia dan tidak paham bahasa Inggris karena saya tidak "Cinta Bara-T". Pakai bahasa Arab? Bahasa Arab tidak mesti Islam tapi Islam pasti serba bahasa Arab. Jadi saya "Cinta Islam" bukan "Cinta T-Arab. Sebuah kalimat permainan teka-teki :-)

Budaya:
1. pikiran; akal budi: hasil --;
2. adat istiadat: menyelidiki bahasa dan --;
3. Sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg --;

Tradisi:
1. adat kebiasaan turun-temurun (dr nenek moyang) yg masih dijalankan dl masyarakat;
2. penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan -- , haruslah dihayati maknanya;

Nah, bisa disimpulkan bahwa tradisi adalah "pergerakan" dan budaya adalah "kendaraan". Paham? Bila kita mentradisikan budaya maknanya adalah menggerakkan kendaraan. Ada budaya fisik dan ada budaya non fisik.

Jadi, apa makna Tradisi Budaya Islam Nusantara? Maknanya adalah menggerakkan kendaraan keislaman yang ada di Indonesia, ciri khas Indonesia walau bukan (mengutip musik dangdut) asli 100% Indonesia.

Di sinilah ada dua versi Islam Nusantara.

Ada versi Aswaja (Ahlussunnah Wal Jama'ah) yang memiliki konsep yang jelas dalam hal kebenaran Islam Nusantara dengan panduan madzhab-madzhab Aswaja yang sudah terkenal sampai ke wilayah Indonesia. Versi Aswaja adalah mengislamkan dalam budaya Indonesia bukan mem-budayaindonesia-kan dalam Islam.

Ada versi liberal yang tidak jelas konsep Islam Nusantara, karena sifat liberalisme adalah memang ketidakjelasan (relatif) demi menuju titik "pluralis". Karena menurut mereka, tidak ada "Hukum Islam" yang ada adalah "Nilai Islam". Sehingga muncullah Islam Nusantara alias Islam Indonesia versi liberal.


Tradisi Islam Nusantara Versi Aswaja - Selayang Pandang Nisfu Sya'ban

Ternyata, Islam mengajarkan "Spesialisasi Waktu Amaliah". Nisfu Sya'ban adalah sebagai salah satu bukti "Spesialisasi Waktu Amaliah". Walau demikian, jangan "menspesialkan" amaliah di waktu tertentu (Nisfu Sya'ban) dan mengabaikan waktu yang lain karena waktu spesial tadi. Makna "Spesialisasi Waktu Amaliah" adalah sebuah upaya "Penguat Ketakwaan" bukan malah "Pengendoran Ketakwaan".

Dari nilai (salah satu) Nisfu Sya'ban inilah, muncullah tradisi-tradisi Islam Nusantara alias Islam Indonesia. Berikut beberapa tradsi waktu spesial dan tradisi simbolisasi di waktu spesial khas Islam Nusantara yang berpedoman Ahlussunnah Wal Jama'ah:

Tradisi Waktu Spesial:
- Tradisi Nisfu Sya'banan: biasanya membaca yasin 3 kali. Berdoa untuk mati Iman-Islam, Panjang Umur dan Kesehatan.
- Tradisi Muludan: Biasanya membaca solawat Nabi dalam bentuk syair, membaca sejarah Nabi, dan berbagi sedekah berkat (berkah).
- Tradisi Rajaban: Biasanya mengkaji tentang Isro Mi'roj dan berbagi sedekah berkat (berkah)
- Tradisi Takbir Berjamaah Atau Keliling Berjama'ah: Biasanya menghimpun jama'ah untuk mengadakan takbiran di saat dua hari raya: idul fitri dan adha.
- Dll, masih banyak lagi

Tradisi Simbolisasi Waktu Spesial:
- Siram Pengantin: Mengadakan pengajian untuk air siram pengantin, di kasih bunga untuk aroma terapi, dan memandikan sang calon pengantin sesuai syareat.
- Ngupati: membuat ketupat di bulan ke empat sebagai simbolisasi doa dan rasa syukur.
- Ngelolosi: sedekah bubur lolos (atau simbol licin seperti minyak), sedekah meminyaki rambut anak-anak, sebagai simbolisasi doa dan bersyukur.
- Dll, masih banyak lagi.

Tuesday, July 14, 2015

Al-Qur'an Besifat Terbuka, Namun Ini Zaman Buka-Buka'an, Jadi?

Nanti dulu, sebelum menafsirkan Al-Qur'an sesuai konteks zaman, artikan dulu dan perhatikan dulu "Zaman itu buatan siapa dalam konteks kemakhlukan?" "Zaman yang seperti apa?" dan "Apa saja jenis zaman yang ada di zaman sekarang?". Sekarang zamannya "Buka-bukaan", apakah harus berganti hukum "Jilbab tidak wajib?" Nanti kalau zamannya tertutup, apakah mau mengganti "Jilbab itu wajib?" Hayo...

Terjadinya zaman buka-bukaan itu ulah siapa? Bukankah ini ulah orang yang tidak memiliki ajaran tentang menutup aurot? Lalu kalangan muslim meniru gaya seperti orang tersebut? Apakah penafsrian Al-Qur'an akan mengikuti konteks zaman yang seperti ini? Jelas, dungu sekali otak menus jenis ini.

Kalau pun memang mengikuti konteks zaman, apakah ada kesatuan jenis zaman? Di Indonesia sebelah sana mungkin membudaya buka-bukaan namun belum tentu di Indonesia sebelah sini yang justru menentang budaya buka-bukaan.

Di Indonesia sedang marak budaya "Hijabisasi" kok, kalau kita mau jujur menafsirkan dalam konteks zaman sesuai zaman yang ada di Indonesa. Di Indonesia juga sedang marak "Aktifitas Online" yang lebih bisa membudidayakan "Produktifitas Perumahan" untuk para wanita.

Lah, konteks zaman yang seperti ini kenapa tidak menjadi hal utama dalam penafsiran dan lebih memilih budaya "Barat" sebagai simbol nyata "Anti Arab"? Kenapa ini, konteks zaman tidak terpakai untuk penafsiran Al-Qur'an yang bersifat terbuka (namun tidak bebas orang membuka)? Jangan-jangan benar adanya, "Munafikun".

Sunday, July 12, 2015

Ta'afullan Nisfu Sya'ban - Tradisi Dakwah Islam Nusantara

Apa sih maksud Islam Nusantara? Jangan berkata "Madzhab Nusantara", karena nanti melepas diri dari madzhab yang sudah populer dan mengklaim berganti dengan madzhab khas Nusantara. Madzhab Nusantara ini produknya orang "Liberal" karena memang orang liberal gaya politiknya melakukan teknik "Penyamaran" identitas. Madzhab Nusantara namun lebih ke Madzhab Western, anti Arab (katanya, jilbab itu budaya Arab, dll).

Maksud Islam Nusantara ya seperti yang sudah mendtradisi dari masa ke masa, menghasilkan berbagai bentuk budaya keislaman khas lokal yang berbeda-beda, namun dalam standar Madzhab Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah. Sumber budaya keislaman yang sudah mendradisi khas lokal adalah salah satunya berbentuk "Ta'afullan". Banyak sekali ta'afullan khas Islam Nusantara seperti Siram Pengantin, Ngelolosi (7 bulan kelahiran), Ngupati (4 bulan kehamilan), Ngrujaki (Siram 7 bulan kelahiran di awal kehamilan saja), Turun Tanah (Saat anak mau berjalan), dll.

Ta'afullan adalah bentuk doa yang disimbolkan dengan sesuatu dengan maksud tertentu. Ta'afullan memang bersumber dari ajaran Nabi SAW karena Nabi SAW sendiri pernah melakukan ta'affulan seperti "Siram Pengantin", gonta-ganti posisi sorban. Sekarang pun di Indonesia subur mentradisikan "Siram Pengantin" walau caranya banyak yang tidak bener seperti membuka aurot. Ini jenis ta'afullan yang sudah menjadi "Tradisi Nusantara". Apakah ini harus berkata, "Ini tradisi murni lokal"? Tidak, ini tradisi dari Arab yang sudah mentradisi di lokal.

Terlepas di atas, teringat tradisi waktu masih kecil ketika menjelang malam Nisfu Sya'ban. Ketika itu, banyak sekali anak-anak kecil yang berburu sumur ketika mau memasuki waktu maghrib. Tujuan meminum air yang katanya sedang menjadi "Air Zamzam" agar mendapat berkah Nisfu Sya'ban. Jelas, air sumur menjadi air zamzam hanya mitos saja. Tujuan utama dari "Ta'afulan" minum air sumur adalah mengharapkan agar "dibersihkan jiwa-raga" memasuki Nisfu Sya'ban". Tentu, dengan cara ini anak-anak akan mengerti tentang Nisfu Sya'ban dengan cara dakwah yang unik khas Islam Nusantara.

Sekarang, tradisi "Minum Air Zamzam Sumur" itu hilang karena sudah banyak yang memakai sanyo, hehe. Tentunya nilai kebersamaan anak-anak kecil memaknai Islam itu pudar. Namun tidak masalah, karena inti utama adalah mengenalkan dan menghayati makna Nisfu Sya'ban.

Kalau orang dulu cara dakwahnya hanya sekedar ceramah, saya tidak tahu bagaimana ketertarikan orang non Muslim dahulu kepada Islam. Namun faktanya adalah para ulama dulu, Wali Songo, selalu mempoulerkan simbolisasi-smbolisasi (ta'afullan) keislaman khas lokal untuk menarik perhatian pada Islam.

Tuesday, June 30, 2015

Islam Nusantara Aswaja - Bagian 2

Islam Nusantara Aswaja - Tradisi Terjemahan Arab Pegon:

Menurut kamus KBBI, pegon artinya "aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa; 2 tulisan Arab yg tidak dng tanda-tanda bunyi (diakritik); tulisan Arab gundul". Inilah salah satu tradisi ngaji kitab kuning "Muslim Jawa" yang menggunakan teknik penerjemahan Jawa-Arab. Coba, yang mengaku "AHLI ARAB", terjemahan menggunakan bahasa apa dalam memahami suatu kitab? Paling Indonesia tok, bukan Indonesia-Arab. Mungkin Arab pegon Khas Sumatra, Khas Kalimantan, Khas lainya mungkin ada. Namun, di Cirebon sendiri, khususnya Buntet Pesantren Cirebon menggunakan Pegon khas Jawa. Kenapa memilih Jawa? Karena salah satunya agar alumni Buntet siap mondok di "Pondok Besar" yang ada di Jawa seperti Lirboyo, dll. Nah, bisa mengadakan "pegon Nasional" dengan bahasa Indonesia-Arab (tapi nanti tambah definisi mengenai pegon).


Islam Nusantara Aswaja - Jubah Potongan Khas Nusantara:

Ini sering digunakan "Kaum Sarungan". Bukan diartikan NU, tetapi di luar NU juga banyak yang sebagai kaum sarungan. Biasanya, bagian atas menggunakan baju lengan panjang dan bawahnya memakai sarung. Kalau wanita itu bawahannya memakai rok panjang atau sarung wanita (bisa disebut sarung tapih). Kalau dilihat dari jauh, persis seperti orang yang menggunakan jubah, apalagi disertai memakai imamah. Ada sebagian golongan mengatakan bahwa sarung berasal dari Hindu Jawa. Maka kita tanya, "Apakah celana cingkrang tidak mirip Kristen Belanda walau pakai jubah cingkrang?" Celana panjang cingkrang kan inspirasi dari orang Belanda begitu juga sarung berasal dari (mungkin) orang Jawa.


Islam Nusantara Aswaja - Tradisi Ber-Jas Solat Hari Raya:

Rupanya, secara khusus pemerintah, tidak memiliki baju khusus khas Indonesia untuk solat hari raya. Iseng saja, becanda. Coba perhatikan para pejabat, khsusnya presiden, rata-rata akan memakai Jas rangkap baju untuk melakukan solat hari raya. Dan di Cirebon sendiri pun demikian, rata-rata. Biasanya yang memakai itu orang-orang yang sudah memiliki jabatan tinggi di mata masyarakat. Memang tidak dilarang. Ini juga sebuah alternatif lain, bagaimana gaya "pejabat pemerintahan" dalam solat hari raya. Asal jangan lupa rakyat yang kesulitan baju.


Islam Nusantara Aswaja - Tradisi Sedekah Bumi:

Sesuai bahasa, "Sedekah Bumi", memang terlihat baik. Namun, mungkin, setahu saya, justru melakukan sedekah dengan cara yang tidak benar. Misal, dengan bersedekah mengubur kepala kambing, sapi atau lainnya. Maka dari itu, proses sedekah bumi harus dialihkan, diganti, yaitu dengan memberikan sedekah untuk ternak ayam, sapi atau ternak ikan. Dalam memberikan sedekah bumi, bisa menyesuaikan dengan makanan ternak. Atau sedekah bumi bisa dimaknai "Membumikan Sedekah", jadi yang benar-benar diurus adalah kaum fakir, miskin yang derajat dunia mereka berada di bawah, seperti bumi. Hal yang baik tentunya, memperbaharui niat dengan benar.


Islam Nusantara Aswaja - Budaya Pewayangan Nusantara:

Saya dahulu senang melihat wayang golek, khas Jawa Barat. Namun ketika ada adegan muntah, kepala jadi mumet dan tidak mau melihat wayang golek. Adegan wayang, benar-benar adegan yang hanya menandalkan benda wayang. Kalau pewayangan orang, lebih modern yaitu di dunia film, melakukan adegan ya harus melibatkan orang sungguhan. Bagaimana bila adegan ciuman? Apakah wayang akan dihukumi berbuat dosa ketika adegan ciuman? Tidak! Nah, berbeda kalau adegan ciuman antar orang, yang bukan mahram, maka akan dihukumi dosa walau adegan dengan orang yang dianggap orang tuanya. Pewayangan sebenarnya sebagai sarana dakwah Islam waktu di zaman Sunan Wali. Sekarang, pewayangan sudah bercerita vulgar. Alasannya, gak ada yang minat dengan wayang. Gak harus selamanya budaya dunia itu berdaya. Maka perlu buat budaya baru, khas Indonesia, yang lebih baik.


Islam Nusantara Aswaja - Sang Kiai, Tokoh Nusantara:

Mulut alergi "Bid'ah" biasanya latah mengucapkan bid'ah pada istilah atau amaliyah. Tak heran, sebutan gelar "Kiai" pun dianggap "Bid'ah", karena gelar tersebut tidak ada di zaman rasul. Kalau mau main bid'ah-bid'ahan, maka sebutan gelar ustad pun tidak ada di zaman rasul. Tidak pernah para sahabat di sebut Ustad Umar, Ustad Utsman, Ustad Ali. Coba, beranikah embel-embel ustad di hapus karena itu bid'ah? Itu gelar dunia yang memiliki keuntungan tersendiri. Gelar ustad, adalah gelar mulia, sehingga orang yang diberi gelar "Ustad" maka ia adalah orang mulia. Bisa banggalah sang ustad, diberi julukan "Yang Mulia".


Islam Nusantara Aswaja - Peci Hitam Nusantara:

Peci hitam sudah menjadi tradisi Muslim Nasional. Walau, banyak juga peci sejenis khas tiap daerah Indonesia. Di Jakarta, orang Kristen kalau merayakan Natal memakai peci "Hitam". Karena menurut ajaran mereka pun tidak ada pelarangan khusus, setahu saya. Kecuali, orang Islam merayakan hari raya khas Natal, memakai pakaian mirip pastur, dan lainnya yang mencirikan ajaran agama lain, maka tidak boleh karen ada pelarangan. Apakah tidak ada makna toleransi? Lah, orang Kristen yang baik yang memahami perbedaan ajaran agama pasti akan mengerti. Namun ada catatan: sifat manusia berbeda-beda, maka pahamilah Psikologi dalam membahas kesamaan dan perbedaan agama.


Islam Nusantara Aswaja - Tradisi Ketupat Idul Fitri:

Lupa tentang makna dari ketupat. Intinya adalah ini sebuah suguhan makanan khas hari raya Idul Fitri. Kalau di Buntet Pesantren Cirebon, tradisi ketupat tidak di hari Idul Fitri, tetapi di hari syawalan atau disebut "raya kupat", hari untuk menyambut para santri dan orang tuanya. Di hari raya kupat atau hari syawalan, akan datang para santri dan orang tuanya untuk silaturahmi ke pondoknya (atau disebut asrama) masing-masing. Karena tradisi ini cukup merih, banyak tamu, seperti biasa hidung pedagang tajem-tajem yang akhirnya berjualan di situ sampai mendapat istilah "Jawa Gendong", walau tidak paham maknanya. Ketupat pun sudah menjadi tradisi untuk selametan bulan ke empat bayi dalam kandungan.


Islam Nusantara Aswaja - Menjaga Tradisi Baik dan Ambil Tradisi Baru Yang Baik:

Coba, kenapa ada Islam modern? Kok, berani sekali berkata, "Modernisasi Islam". Memang Islam gak modern? "Islam ya Islam saja," katanya. Tapi kok ada Islam modern? Islam itu agama tradisional, sejak Nabi Adam sudah ada Islam dalam segi "Teologis". Nah, Islam Nusantara Aswaja untung sekali tidak berkata seperti itu. Kalau memiliki prinsip: Ahlussunnah Wal Jama'ah Asyariah, Sufiah, Syafi'iyah, maka (Insya Allah) tidak akan bingung memahami tradisi dalam Islam dan Islam dalam tradisi.


Islam Nusantara Aswaja - Kitab Sosial-Budaya Nusantara Di Pesantren:

Kurangnya karya tulis mengenai sosial-budaya Nusantara yang bernafas Islam yang diajarkan pondok pesantren, membuat para alumni hanya sekedar menjalani sesuatu yang sudah menjadi tradisi namun tidak tahu hakekat tradisi yang dilakukannya. Sebagai contoh, tradisi "Tahlilan". Apa sih tentang pengetahuan tahlilan? Paling yang mengetahui hakekat tahlilan dan caranya hanya orang yang sudah mondok belasan tahun. Seharunya, pesantren memiliki karya yang membahas seputar ini, atau mengandalkan karya orang lain yang sudah beredar. Tujuannya, bila ada golongan yang mencoba mengusik tradisi tahlilan, maka sudah tahu apa yang harus dilakukannya.


Islam Nusantara Aswaja - Kolaborasi Kitab Impor Untuk Buku Pribumi:

Di luar sana mencoba mempribumikan kitab keislaman impor, dalam arti meng-indonesia-kan kitab impor (kitab kuning Arab). Justru akan tidak tahu dengan keadaan teks asli. Apalagi kondisi pemikiran orang-orang berbeda, bila terjemahan sudah dirubah dengan pembahasan sendiri, maka bisa akan lain. Maka cara yang terbaik adalah membangun karya kitab karya pribumi hasil kolaborasi kitab Impor. Artinya, membuat karya tulis, bukan meng-indonesia-kan kitab klasik bahasa Arab. Bila masalah membahas solat, maka berbagai kitab kuning yang membahas solat bisa digabungkan menjadi satu. Banyak sekali, orang paham solat namun tidak tahu perkembangan dan perbedan dalam soal solat walau dalam satu madzhab (Syafi'i).


Islam Nusantara Aswaja - Apakah Berbeda, Adab Pada Kitab dan Buku Islam?:

Kitab, menurut tradisi adalah sebuah karya tulis yang bertuliskan Arab. Kitab biasanya membahas masalah persoalan agama. Buku, menurut tradisi biasanya adalah sebuah karya yang bertuliskan bahasa Indonesia atau Inggris. Buku biasanya membahas berbagai hal, termasuk buku keislaman. Namun, apa yang terjadi dengan perlakukan terhadap dua media karya tulis? Banyak orang yang hanya memperlakukan dengan hormat pada "Kitab" namun seolah tidak memperlakukan dengan hormat pada "Buku" walau isinya ada dalil2 berbahasa Arab. Saya kira, perlu perlakukan sama. Bahkan, kalau membahas Ilmu Umum, selagi tidak bertentangan dengan Islam, maka perlu dihormati buku tersebut. Itulah adab yang justru diajarkan kitab Ta'lim Muta'allim dan lainnya.


Islam Nusantara Aswaja - Adakah Identitas Desain dalam Baju Muslim?:

Aneh, ketika ada identitas dalam baju muslim (bukan muslimah) dengan ciri-ciri yang di luar ajaran Islam. Sering, kalau dikatakan baju muslim, ya salah satunya desain baju berjenis "koko". Kalau mau jujur, itu kan inspirasi baju orang Cina. Tapi, baju biasa yang jelas-jelas sama, namun seperti tidak dianggap baju muslim. Inilah kesalahan pikir orang Islam Indonesia. Untuk itu, perlu menjelaskan bahwa baju daerah yang menutup aurot, tidak ketat, tidak merayang, dan tidak ada gambar yang bertentangan dengan agama pun dianggap baju Muslim. Pokoknya, jangan mengambil alih identitas baju muslim ke baju jenis desain tertentu.


Islam Nusantara Aswaja - Adakah Identitas Bahasa Dalam Musik Islami?:

Aneh, ketika alat musik rebana menyanyikan lagu Arab "Magadir" maka akan dianggap musik islami. Padahal, makna dari lagu "Magadir" adalah katanya lagu peluapan tentang gejolak syahwat dirinya. Namun ketika lagu Jawa, Sumatra, Sunda, menyanyikan tentang "Kasih Ibu" dengan musik-musik khas daerah yang mirip rebana namun "katanya" tidak dianggap Islami. Ini kesalahan pikir orang Islam Indonesia. Perlu penjelasan khusus mengenai musik, karena penjelasan untuk musik islami memang panjang. Salah satu cirinya adalah tidak mengudang "syahwat". Bagaimana dengan lagu Arab "Magadir"? Ya, untung saja tidak mengerti maknanya, kalau paham, bisa nge-nes dan bergejolak syahwatnya.


Islam Nusantara Aswaja - Adakah Identitas Bahasa Dalam Nama Islami?:

Ada judul buku dengan judul "Nama-Nama Bayi Islam". Pas dilihat, munculnya nama Arab semua. Memang bagus, menamai dengan bahasa Arab dengan makna yang bagus. Tapi jangan dianggap yang islami itu nama yang berbahasa Arab. Nama dalam bahasa apapun, kalau maknanya bagus dengan niat yang bagus sesuai syareat, maka dianggap nama Islami. Percuma saja menamakan "Islamil", walau artinya bagus namun yang kebayang adalah agar mirip artis bernama Ismail. Walau bernama "Abdi Pengasih" (Abdurahman), dengan tujuan agar mudah bersedekah, berbaik hati pada sesama, dll maka akan mendapatkan keberkahan dari pemberian nama.


Islam Nusantara Aswaja - Adakah Identitas Bahasa Dalam Panggilan?:

Katanya, terkesan islami kalau sudah memanggil "Ana", "Ukhty", "Umi", "Abi". Bukan, itu bukan simbol keislaman. Ini sekedar alternatif panggilan. Tidak wajib, tidak sunnah panggilan khas Arab. Panggil "Isun", "Saya", "Aku", "Reang", "Enyong", kalau niatnya bersyukur karena fitrahnya seperti ini, justru bagus. Percuma saja panggil "Ana", "Ukhty", "Umi", "Abi", tapi buat kesombongan, pembeda-beda muslim, buat panggilan sayang ke PACAR katanya islami (abi-umi), dll.


Islam Nusantara Aswaja - Arabisasi Bahasa Khas Nusantara:

Patut diakui, bahasa Arab memiliki keistmewaan. Di samping sebagai bahasa di Surga, katanya, juga bahasa yang diucapkan Nabi SAW. Jadi, ada keberkahan tersendiri bila kita mempelajari bahasa Arab. Tetap, niat mempelajari Bahasa Arab disambungkan kepada Nabi SAW bukan karena artis Arab. Banyak sekali jasa bahasa Arab dalam mengkayakan kosakata Indonesia. Tentu, ini jasa para ulama dulu, yang mencoba mengarabisasi bahasa dan berubah menjadi bahasa Nusantara. Banyak sekali arabisasi untuk menjadi bahasa Nusantara, sampai sulit dihitung.


Islam Nusantara Aswaja - Arabisasi dan Pribumisasi:

Ada yang estrim kiri, yang seperti hal-hal yang bersimbol Islam dikira "Arabisasi". Ada yang esktrim kanan, yang seperti hal-hal yang bersimbol tradisi dikira "Pribumisasi". Kalau sudah estrim, ya serba "berlebihan". Islam Nusantara Aswaja adalah sebagai upaya kolaborasi Arab-Nusantara, yang saling melengkapi. Pada hakekatnya akan menjurus pada "Muhamadisasi" bila memang mau berbau Islam. Maka perlu rumusan dalam Islam Nusantara yaitu dengan rumus: Syafi'iyah, Asyariyah, dan Sufiyah. Walau sudah menggunakna rumus ini, jangan mencoba-coba membuka ijtihad sebebas-bebasnya.


Islam Nusantara Aswaja - Islam Tentu Serba Arab:

Tidak dikatakan semua yang berbau Arab adalah Islam. Abu Jahal berbahasa Arab tetapi bukan orang Islam walau ia percaya bahwa Nabi SAW adalah Rasul. Namun kalau sudah Islam, pasti serba Arab yang terkondisikan secara kajian ilmiah. Ingat, Islam serba Arab bukan serta-merta menganggap begitu namun sudah diatur sedemikian rupa sesuai kajian Ilmiah karena Islam adalah sumber ilmiah. Dan tentu, kita perlu sebuah kajian ilmiah yang berdasarkan pakar yang memahami Islam dan Arab. Sehingga disinilah "Wajib" bermadzhab dari salah satu 4 madzhab agar paham Islam Arab atau Arab Islam. Bila Islam Arab, tentu tradisi Islam khas Arab. Bila Arab Islam, berarti orang Arab yang mengikuti Nabi Muhammad. Tentu, bila Islam Nusantara, maka maknanya adalah tradisi Islam khas orang nusantara. Bila Nusantara Islam, berarti orang nusantara yang mengikuti Nabi Muhammad. Gitu aja kok repot.


Islam Nusantara Aswaja - Islam Nusantara Memecah-Belah Umat?:

Nusantara besarnya seberapa sih daripada kampanye "Modernisasi Islam" yang membuat muslim dunia keyakinannya terkoyak dalam memilih salah satu madzhab dan membuat terpercah antar kaum modernis sendiri? Banyak kaum modernis sekarang menjelma menjadi kaum yang seakan "Menjaga Persatuan". Giliran ditanya, "Boleh Akidah Asy'ariyah?" malah dijawab dengan sangat bagus, "Kok Asy'ariyah? Aqidah Ya Sesuai Al-Qur'an dan Sunnah". Belum paham bahwa maksudnya adalah bermadzhab Asy'ariyah. Dan bila dalam dialog mereka terdesak akan berkata, "Mau Asy'ariyah boleh, Mau Salafi boleh, ini sebuah perbedaan". Ya, kalau begitu antum agak mirip jaringan liberal. Jadi inginnya persatuan Islam adalah versi mereka. Lah, kami pun menginginkan persatuan versi kami.


Islam Nusantara Aswaja - Men-jawa-kan Kalender Islam:

Bagi orang Jawa dulu, bahasa Arab susah diucapkan dan susah diingat. Tentu, saking inginnya para ulama dulu mengenalkan Islam berupa kalender Islam, akhirnya berinisiatif membuat perubahan bahasa kalender. Apakah ini sebuah hal yang terlarang? Terpenting adalah substansi dari tiap bulan dan adanya kesamaan perjalanan kalender, karena yang berubah hanya nama saja. Misal, Hijriah diganti Suro, Ramadhan diganti Poso, Rajab diganti Rejeb, dan lainnya. Ini sebagai alternatif pengenalan kalender Islam versi nama Jawa.


Islam Nusantara Aswaja - Tradisi Penting Tiap Perjalanan Bulan:

Dalam mengislamkan nusantara, ulama dulu sepertinya punya alternatif jitu yaitu dengan membangun tradisi keislaman di setiap perjalanan bulan. Ini benar-benar membuat alam bawah sadar benar-benar diputar-putar alias diulang-ulang oleh bulan keislaman yang berisi tradisi keislaman. Kalau di bulan Hijriah (Suro) maka membangun tradisi 10 Suro, di bulan Rajab (Rejeb) membangun tradisi Rajaban (Isro Mi'roj), di bulan Syawal (Sawal) membangun tradisi Sawalan, di bulan Maulid (Mulud) dibangun tradisi Muludan, dan lainnya. Hal ini menginspirasi umat Islam dalam menulis sesuatu sesuai bulan.


Islam Nusantara Aswaja - Islam Ramah Bukan Islam Marah:

Orang kampanye "Islam Ramah" tetapi pekerjaannya marah-marah terus, apalagi memarahi orang yang telah menghina tuannya (manusia). Ini bagaimana? Punya slogan bagus tetapi tidak punya ilmu dan amal, ya percuma saja. Jujur saja, melihatnya saja menjadi serem ketika keramahannya adalah bentuk kemarahan. Bagaimana bentuk kemarahannya? Bisa jadi gempa Indonesia raya. Tapi girilan bergaul dengan orang selain Islam, ramahnya bukan mainan, sampai kebablasan bermain permainan agama. Kalau begini ceritanya, ini bukan Islam Nusantara wariasan orang Islam dulu, tetapi Islam Nusantara warisan penjajah Belanda. Toleransi itu dengan ilmu, dan ilmu itu bervariasi, bukan hanya ilmu "Natal Bersama".


Islam Nusantara Aswaja - Dialog Perbedaan Islam-Non Islam Nusantara:

Kedamaian dan persatuan ada dalam perbedaan, ini rumus yang diajarkan "Bhineka Tunggal Ika". Kalau mengingkari, belajar lagi saja. Ketika perbedaan itu menimbulkan konflik, maka perlu adanya "dialog perbedaan" alias musyawarah agar saling memahami. Maka ketika dialog perbedaan mengharuskan mengambil keputusan maka disinilah makna "Keadilan Sosial" dibutuhkan. Apa sih makna adil? Adil itu tidak harus sama namun berbeda dalam konteks kesamaan dalam pemberian keadilan. Sebagai contoh pemberian keadilan yang berbeda, yaitu sama-sama menghargai ibadah mereka tanpa perlu "Jilatan Gulasem" (Gula-Asem), artinya tidak perlu memberi sambutan, ikut merayakan dan sebagainya namun faktanya masih beragama lain dan menimbulkan persaingan juga walau mengatasnamakan Pluralisme Agama.


Islam Nusantara Aswaja - Hak Pencalonan dan Pemilihan:

Sebagai kasus hak pencalonan Gubernur Jakarta yang mengalami kontroversi karena ada calon "Non Islam", maka status masih sebagai "Hak Pencalonan" bukan "Hak Kepemimpinan". Selagi masih ada teknik pemilihan umum maka Hak Kepemimpinan diserahkan pada keyakinan para pemilih. Inilah yang benar. Maka dari sinilah banyak "Pemutarbalikkan" demi untuk mendapatkan suara terbanyak. Sebagai seorang Muslim, seharusnya tahu dan diberikan hak memilih pemimpin yang sesuai dengan keyakinannya. Hal ini jangan dipolitisir mengatasnamakan membalas politisir yang lain. Karena Hak Pemilihan didasarkan pada "Sila Ketuhanan Yang Maha Esa". Siapa pemimpin yang meyakini dualisme ketuhanan atau bukan hakekat Tuhan walau monoteisme, maka "Haram Dipilih" bahkan bisa "Kafir".


Islam Nusantara Aswaja - Sila Ketuhanan Yang Maha Esa:

Kita patut berterimakasih kepada pencetus Pancasila yang mengurutkan sila pertama dengan sila "Ketuhanan Yang Maha Esa". Tujuannya untuk menjaga NKRI dengan selain non Muslim, namun di sisi lain justru menguntungkan "Orang Islam" itu sendiri, dalam konteks politik. Tanpa bermaksud menutupi - bisa dikatakan menipu - namun faktanya seperti ini yang disepakati dalam perjanjian dahulu. Namun ini keadilan, mengingat yang menjadi mayoritas adalah Muslim ketika itu. Kenapa dianggap menguntungkan orang Islam itu sendiri? Kalau dikaji secara teologis, maka orang Islam yang diuntungkan adalah "Islam Ahlussunnah Wal Jama'ah Asy'ariyah". Walau orang Islam, namun khayalannya masih seperti "dualisme Tuhan", menganggap Tuhan berjisim, tentu konsep "Ketuhanan Yang Maha Esa" diragukan.


Islam Nusantara Aswaja - Liberal Terjebak Ide Sendiri:

Katanya Islam Nusantara adalah ide kelompok liberal, menurut isu yang berkembang. Bahkan dikalangan NU sendiri banyak yang tidak setuju ide Islam Nusantara walau PBNU sendiri menyetujui hal ini. Walau secara politik, ide ini berasal dari kelompok liberal, namun secara kultur sudah ada sejak dahulu mengenai Islam Nusantara. Kalau kelompok liberal menawarkan ide Islam Nusantara, justru akan terjebak ide sendiri. Kenapa? Karena mereka belum memiliki kejelasan konsep Islam Nusantara sedangkan secara kultur, konsep Islam Nusantara adalah mengacu pada manhaj yang sudah umum dianut kalangan nahdiyin dan kalangan lainnya. Konsep yang sering digunakan adalah berdasarkan 3 Unsur: Fiqih, Akidah, dan Tasawuf. Biasanya akan menganut sistem madzhab dalam konsep Islam Nusantara yaitu: Syafi'iyah, Asy'ariyah, dan Ghazaliyah.


Islam Nusantara Aswaja - Upaya Penguatan NKRI:

Indonesia yang katanya beridiologi Pancasila namun lemah dalam hal-hal praktis kepancasilaan. Terbukti, banyaknya liberalisasi pemikiran, baik dari kalangan moderat, radikal atau liberal yang tidak bisa dibendung secara benar dan sering terjadi konflik di segala hal. Tentu, secara teori Bhineka Tunggal Ika, maka bangsa Indonesia akan menjadi "mandul" karena memang tidak ada persatuan yang benar dalam perbedaan untuk memajuan Indonesia. Resiko, tentu akan mengancam keutuhan NKRI itu sendiri. Solusi adalah segera membuat keputusan yang benar, mana yang menjaga NKRI dan mana yang merusak NKRI.


Islam Nusantara Aswaja - Penipuan Atas Nama Dakwah:

Adakah di bulan Romadhan terjadi penipuan yang mengatasnamakan lomba untuk dakwah? Orang tertipu pun bingung, karena mengikuti lomba karena dakwah. Dan kasus penipuan atas nama dakwah sudah banyak terjadi di Indonesia. Termasuk penipuan atas nama dakwah adalah pemutarbalikkan fakta kebenaran. Seperti kasus Buya Yahya (Pengasuh Lembaga Dakwah Al-Bahjah Cirebon) yang mendirikan dakwah tentang Maulid dan mengadakan acara maulid di alun-alun Cirebon ketika tahun baru namun diputarbalikkan sebagai orang yang merayakan tahun baruan, menyalkan kembang api, teriup terompet, dll. Jelas, ini penipuan atas nama dakwah.


Islam Nusantara Aswaja - Gejolak Dunia Yang Menghawatirkan:

Kalau belum berjiwa sufi dalam diri sang pendakwah, sang politisi dan lainnya, saya rasa akan diragukan kualitas perjuangan dalam menegakkan Islam di Indonesia. Pada hakekatnya, perebutan kekuasaan hanya faktor "Dunia". Bila belum dipangkas masalah kepentingan dunia, berbagai solusi pun tidak seperti tidak akan ada gunanya. Orang ribut solusi mengatasi banjir ketika datang banjir namun panggal banjir tidak diatasi maka percuma saja.


Islam Nusantara Aswaja - Benarkah Tidak Menyesatkan dan Mengkafirkan?

Sebagian orang tidak mudah mengkafirkan dan menyesatkan ajaran lain, bahkan menganggap semua juga benar karena datang dari Tuhan. Terkesan bagus kebenaran mereka, damai, namun pernahkan berpikir, "Bagaimanakah definisi kafir dan sesat menurut mereka?" Nah, bisa mencoba mengetes defenisi mereka. Bila memang tidak punya definisi "kafir" dan "sesat", maka bila mereka mengecap seseorang sebagai "Pelanggar HAM" "Diskriminatif" dan "Manipulatif" maka hakekatnya mereka mengecap seseorang tersebut sebagai sesat atau kafir. Silahkan uji argumen dalam hal ini.


Islam Nusantara Aswaja - Jangan Mudah Menyesatkan dan Mengkafirkan:

Ada dua pengertian dalam hal ini dalam kontek tidak mudah mengkafirkan dan menyesatkan. Pertama, jangan mudah menyesatkan atau mengkafirkan dalam hal diri pribadi orang sebelum terjadi sebuah dialog dan pemahaman. Hati orang siapa yang tahu? Nah, dari sini juga termasuk jangan mudah "menuduh syiah", "menuduh wahabi" dan lainnya. Namun banyak yang mudah menuduh, maka ini bencana. Kedua, jangan mudah menyesatkan dan mengkafirkan dalam hal ajaran. Sekarang ini banyak ajaran yang mudah mengkafirkan dan menyesatkan ajaran lain walau hakekatnya mereka tidak menyesatkan atau mengkafirkan diri pribadi orang.


Islam Nusantara Aswaja - Ajaran Tauhid Pancasila:

Sila "Ketuhahan Yang Maha Esa", bila mendialogkan maka akan memunculkan siapa yang berhak menyandang gelar Tauhid Murni. Tidak bermaksud membeda-bedakan, namun bila mau mendialogkan maka akan mengetahui tentang pemilik keyakinan "Tauhid Murni". Bahkan orang Islam sendiri tidak menjamin memiliki "Tauhid Murni" bila ke-Esa-an Tuhan masih terbayangkan zatnya dengan sesuatu yang mereka yakini sebagai bagian dari zat Tuhan. Padahal ke-Esa-An Tuhan terlepas dari apa yang kita rasakan dan kita pikirkan. Sebagai contoh, mereka meyakini Tuhan memiliki jizim walau mereka meyakini kejisimannya terserah Tuhan itu sendiri. Jelas, terlintas tentang zat Tuhan seperti itu menimbulkan "Dualisme Ketuhanan" karena hakekat Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan dan kita rasakan. Segala kesempurnaan adalah sifat Tuhan yang makna kesempurnaan tersebut tidak seperti yang kita pikirkan dan kita rasakan.

Saturday, June 27, 2015

Islan Nusantara Aswaja - Bagian 1

Islan Nusantara Aswaja Menyambut Puasa Ramadhan:

Islam Nusantara bukan bermaksud mengotak-ngotak antar daerah dan negara. Cuma karena ada 2 kutub esktrim yaitu liberal dan radikal sehingga Islam Nusantara terkesan tertutup dan membeda-bedakan. Orang Islam Garis Radikal atau Liberal akan bingung sendiri memahami Islam Nusantara, karena keduanya sama-sama ektrim membahas "Islam Nusantara". Kalau orang yang berpegang pada Madzhab Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), akan mudah memahami bagaimana Islam Nusantara. Karena Madzhab Ahlussunnah Wal Jama'ah adalah sebuah konsep untuk Islam Nusantara. Berpuasalah walau berbeda-beda sesuai (walau tidak wajib) tradisi daerah masing-masing dengan tetap manut (taqlid) pada konsep Ahlussunnah Wal Jama'ah dan nenek moyangnya (Imam Madzhab).


Islam Nusantara Aswaja - Kejayaan Islam dan Pelajaran Ramadhan:

Lucu sekali dengan orang-orang yang selalu mengharapkan kejayaan Islam namun kejayaan Islam untuk sendiri dan keluarga tidak (kebanyakan) tidak terurus dengan benar. Islam itu terkhusus untuk dirinya sendiri, bukan hanya Islam untuk (kejayaan) Islam itu sendiri. Jelas, mereka cuma penghayal sejati karena konsep kejayaan Islam yang diharapkan belum dipahami dengan benar sesuai konsep yang Ahlussunnah Wal Jama'ah (Aswaja). Bila ingin mengetahui bagaimana kejayaan Islam, pelajari "Hikmah Ramadhan". Awalilah dengan puasa makanan dunia, dan makanlah makanan lezat akhirat. Karena, perjuangan diri pribadi kita, sehebat apapun kalau hanya mengikuti hawa nafsu maka akan menjadi sia-sia, sedikit saja mendapat manfaat. Nabi bersabda kurang lebih (lupa), "Saya tidak takut kaumku berbuat syirik, tetapi aku takut kaumku berebut dunia.", sebagai pemecah umat (tidak Aswaja).


Kejayaan Islam Nusantara Aswaja Di Bulan Ramadhan:

Sebenarnya saya tidak pantas berbicara "Kejayaan Islam". Sekaligus menyindir orang yang tidak suka secara radikal Islam Nusantara. Karena sejak dulu sampai sekarang, "Islam Selalu Jaya". Namun saya hanya ingin mengikuti perkataan sebagian orang dengan selalu berkata, "Kejayaan Islam Dulu dan Nanti". Padahal, lebih tepat adalah "Kejayaan Islam Muslim". Begitu juga maksud Islam Nusantara adalah "Budaya Muslim Nusantara". Bagaimana hubungannya kejayaan Islam dan bulan Ramadhan? Jelas ada hubungannya, karena Indonesia jaya merdeka dari penjajahan saat bulan Ramadhan. Nanti (diharapkan) kejayaan Islam berada di Nusantara (timur) di bulan Ramadhan pula. Apakah anda menunggu kejayaan (orang) Islam nanti? Nanti kapan? Kelamaan! Sukses, Jaya itu sekarang bukan nanti!


Islam Nusantara Aswaja - Budaya Masjid Nusantara Bernilai Islam:

Mendirikan masjid adalah anjuran agama. Namun tidak dijelaskan, bagaimana harus bentuk masjid. Maka, tidak harus masjid itu berbentuk seperti "Kubah Arab". Kalau diselidiki, bentuk kubah itu inpirasi dari bangunan gereja namun (sebagian) orang Indonesia menganggap itu "bangunan khas Islam". Kubah masjid bukan dari Islam tapi berasal dari budaya arsitektur timur tengah. Nah, dari sini Islam (orang) Nusantara bisa (tidak wajib) membangun masjid sesuai budaya arsitektur tiap daerah. Seperti masjid khas Sumatra, masjid khas Bali, masjid khas Jawa dan lainnya.


Islam Nusantara Aswaja - Rebana, Band Tabok Nusantara:

Rebana adalah alat musik yang mutlak "halal". Rebana sendiri artinya gendang pipih bundar yg dibuat dari tabung kayu pendek dan agak lebar ujungnya, pd salah satu bagiannya diberi kulit. Biasanya dibunyikan dengan tangan. Ini menginspirasikan alat-alat musik lainnya yang mengandalkan Tabokan (pukulan), baik dengan tangan atau dengan alat. Tidak hanya sejenis rebana (genjring, dll) yang menggunakan pukulan karena banyak sekali alat musik khas Indonesia untuk mendukung musik Islami. Walau musik rebana kalau digunakan untuk menyanyikan "Aku Ingin Pacaran" dengan berbahasa Arab, tetap saja tidak Islami.


Islam Nusantara Aswaja - Lantunan Al-Qur'an Gaya Nusantara:

Gaya bahasa Nusantara itu sangat unik dan variatif. Coba perhatikan gaya bahasa Jawa, Sunda, Sumatra, Bali, dan khususnya blok Buntet Pesantren Cirebon. Sangat variatif gaya bahasanya.Ini akan mempengaruhi mereka bagaimana dalam membaca Al-Qur'an. Tentu, tidak dilarang melantunkan Al-Qur'an sesuai gaya bahasa berbagai daerah Indonesia. Asal, menurut Buya Yahya (Penceramah di MNCTV), terpenuhinya tiga syarat: Hak huruf, hak tajwid dan mengikuti Qiro'ah Sab'ah. Tapi kalau tidak terpenuhinya tiga syarat tadi, yakin itu salah!


Islam NUsantara Aswaja - Tradisi Ngaji Pasaran Ramadhan:

Ngaji pasaran, saya kurang paham makna tradisi pasaran. Namun ngaji pasaran yang saya maksud adalah ciri khas Buntet Pesantren Cirebon. Biasanya ngaji pasaran akan berlangsung selama bulan Ramadhan. Ngaji pasaran dengan pesantren kilat memang tidak sama. Dalam ngaji pasaran tidak ada pemondokan. Yang ada adalah bergantian mengunjungi tempat pengajian. Sehingga pantas disebut ngaji pasaran karena warga Buntet Pesantren Cirebon akan (seperti) berkeliling mengunjungi tempat pengajian. Ada banyak asrama yang membuka (perdagangan) pengajian untuk mengajar kitab kuning dengan varian judul kitab yang dipimpin ustad atau kiai.


Islam Nusantara Aswaja - Melongok Tadarusan Berjama'ah:

Yang sudah menjadi tradisi orang Indonesia, bukan hanya hasil perpaduan budaya nusantara dan ajaran Islam. Namun juga berasal dari ajaran Islam yang sudah ditradisikan. Seperti tradisi tadarussan. Memang dibolehkan dalam Islam mengenai tadarusan berjama'han. Budaya khas lokal tidak ada di sini yang memadukan dengan ajaran Islam. Namun karena budaya tadarusan jama'ahan sudah mentradisi maka sudah dianggap salah satu budaya khas lokal. Tentu ada sedikit ke-khas-annya yaitu dilakukan saat sehabis tarawih secara berjamaah dan bergantian: pihak yang membaca dan pihak yang mendengarkan.


Islam Nusantara Aswaja - Jubah dan Jilbab Batik Khas Nusantara:

Bila ingin meniru penampilan Kanjeng Nabi, pakai Jubah. Saya tidak mengatakan bahwa yang Islami hanya baju jubah. Pakaian Islami adalah pakaian yang tidak membuka aurot, tidak merayang kelihatan aurotnya, tidak ada gambar yang diharamkan, dan lainnya. Kalau sekedar jubah, pastur juga pakai jubah. Cuma, kalau jubah pastur itu ada salibnya. Namun karena Nabi SAW memakai jubah, tentu dianjurkan memakai jubah sebagai cinta Nabi dari negeri Arab. Pakai jubah saja, tidak disebut cinta Nabi SAW, karena Abu Jahal juga pakai jubah. Nah, untuk ciri khas lokalnya, bisa membuat jubah batik yang gambarnya tidak terlarang. Contoh batik "Mega Mendung" khas Cirebon. Bagaimana batik jubah daerah anda?


Islam Nusantara Aswaja - Salawat dan Taradhi Di Sela-Sela Tarawih:

Orang NU atau orang yang masih sejalur dengan madzhab Aswaja, akan mengenal tradisi "Salawat dan Taradhi" di sela-sela salat Tarawih, sebagai pemanfaatan waktu istirahat sejenak yang bernilai Islam. Tradisi ini sudah menjadi tradisi Islam Nusantara, tradisi orang Muslim Nusantara yang bernilai Islam. Memang, tidak ada dalil khusus mengenai pembacaan solawat dan taradhi di sela-sela solat tarawih. Dalil yang dipakai adalah dalil umum mengenai pembacaan solawat, zikir dan mengenang sejarah terhadap 4 sahabat sebagai bukti bahwa 4 sahabat adalah khalifah Islam (tidak seperti Syiah).


Islam Nusantara Aswaja - Syair dan Musik Genjringan:

Saya belum pernah tahu jenis musik hadroh, sejenis musik rebana (Atau kalau orang Buntet Pensantren bilang musik Genjingan), yang gaya suaranya mirip musik blok Buntet Pesantren Cirebon. Berbeda sekali musik genjringan dengan musik hadroh pada umumnya. Biasanya, musik genjringan ini dipentaskan sambil bersyair (solawat) ketika ada "Pengantenan" sehingga si penganten pria "Diring" (digiring, di iring) menuju tempat pelaminan. Sering juga digunakan ketika Khatam Al-Qur'an di bulan puasa, acara puputan (akekahan), acara mudun lemah, dan acara-acara lainnya.


Islam Nusantara Aswaja - Budaya Mudik Khas Nusantara:

Banyak cara dan waktu untuk bersilaturahmi (Ziarah) dengan keluarga, saudara dan teman. Namun yang unik di negeri Indonesia ini adalah bersilaturahmi ketika datang hari Raya Besar. Bahasa silaturahmi yang sering dikenal ketika menyambut hari raya adalah "Mudik" alias pulang kampung. Memang di berbagai negara pun ada, namun yang paling populer adalah mudik di Indonesia. Tentu, ini sebuah silaturahmi yang diajarkan dalam Islam namun tetap dalam khas Nusantara.


Islam Nusantara Aswaja - Tabur Bunga Ziarah Ramadhan:

Kalau di bulan Ramadhan, banyak sekali bermunculan penzirah. Kalau di hari biasa, paling hanya beberapa orang yang berziarah. Tentu, penghususan ini hanya sekedar tradisi bukan bagian dari ibadah. Sehingga hukumnya tidak wajib atau sunnah. Sebagian muslim menolak penghususan waktu dalam ibadah walau pada dasarnya mereka juga melakukannya (ta'lim hari tertentu). Dalam berziarah, sering orang-orang itu menabur bunga. Hal ini tidak dilarang dan merupakan bagian dari tradisi Muslim Nusantara, Indonesia. Hanya saja, perlu ada pengetahuan bahwa menabur bunga adalah untuk mewangikan lingkungan makam dan agar bunga segar itu berzikir diatas kuburan sehingga diharapkan si mayit mendapatkan keringanan siksa, ampunan atau tambah kenikmatan.


Islam Nusantara Aswaja - Niat Berjama'ah Setelah Tarawih:

Apakah anda tahu sumber pembicaraan dari mana? Apakah bisa mulut berbicara namun hati tidak membicarakannya? Sumber pembicaraan adalah dari hati dan hati tentu bertingkat-tinggkat. Tingkat hati sadar (terbantu dengan pikiran) adalah untuk niat. Nah, bila membahas niat, maka sumber niat itu dari hati (sadar) walau kita mengucapkan keras-keras. Sebagian muslim salah kaprah berucap, "Niat itu di hati bukan dimulut". Itu betul, tetapi sumber ucapan itu darimana? Nah, tradisi Muslim Nusantara (termasuk tradisi niat tidak diucapkan) setelah selesai tarawih biasanya membaca niat dengan bersuara yang dipandu imam tarawih. Ada manfaatnya yaitu untuk mengingatkan orang yang lupa niat. Ingat! Harus diutarakan niatnya karena kita menganut Madzhab Syafi'i.


Islam Nusantara Aswaja - Puasa Mutih Tirakat Sufi:

Bagi yang mau belalar Ilmu Hikmah, biasanya akan berpuasa mutih. Puasa mutih adalah bentuk "ta'waful" yaitu dengan memakan nasi putih tanpa lauk. Tujuannya sebagai doa agar hati putih seperti nasi, plus sebagai latihan zuhud. Tentu ini boleh-boleh saja bahkan dianjurkan bagi orang yang terkena penyakit rakus. Namun sayangnya, sebagian muslim salah kaprah dalam berpuasa mutih. Puasa yang wajar saja jangan melanggar hukum puasa. Padahal puasa mutih ini untuk kegiatan tirakat dalam meningkatkan kedekatan dengan Allah bukan untuk meningkatkan hal yang berbau dunia. Bila ingin praktek puasa mutih untuk ilmu hikmah, sebaiknya harus belajar dunia tasawuf. Ilmu hikmah tanpa nilai tasawuf seperi ada bara dalam badan, hawa selalu panas.


Islam Nusantara Aswaja - Puasa Mati Geni Tirakat Sufi:

Sama hakekatnya dengan puasa mutih. Mati geni artinya, menurut saya, adalah melemahkan, mengguyur kobaran hawa nafsu yang sampai selalu berbuat mungkar, jahat. Karena puasa adalah untuk melemahkan hawa nafsu, tentu puasa mati geni sama dengan puasa pada umumnya. Hal yang bisa dilakukan tentu dengan cara puasa mutih namun dilengkapi dengan puasa untuk melemahkan nafsu yang selalu mengajak kemungkaran. Puasa ini cocok dilakukan untuk orang-orang yang sulit berbuat baik dan selalu mengajak kemungkaran, kejahatan. Tentu bisa dilakukan untuk preman yang tobat agar jiwa premannya melemah.


Islam Nusantara Aswaja - Puasa Mati Suara Tirakat Sufi:

Wanita-wanita yang suka menggosip membicarakan orang lain, bisa melakukan puasa mati suara. Memang berat, karena wanita itu karakternya doyan ngomong. Tentu, maksud melakukan mati suara adalah tidak membicarakan yang tidak penting bahkan yang menimbulkan dosa. Kalau bicara biasa seperti melantunkan al-Qur'an, tentu boleh-boleh saja bahkan dianjurkan dalam proses menjalankan puasa mati suara. Hal yang dilakukan adalah berpuasa biasa pada umumnya, namun ditambah dengan berpuasa suara dari suara yang negatif.

Friday, May 22, 2015

Kaum Mujassimah: Matahari Berputar Mengelilingi Bumi - Sungguh Bodoh! Bukti Vidio Antariska

Saya berani berkata, ulama-ulama kaum mujassimah yang menafsiri bahwa "Matahari Berputar Mengelilingi Bumi" adalah suatu kebodohan yang "memalukan" dan tidak melihat kebenaran ilmiah yang sudah maklum adanya.

Ajaran Islam tidak bertentangan dengan kebenaran ilmiah, kebenaran yang tidak bisa disangkal dengan apapun yang bersifat "Kemakhlukan". Bila fakta ilmiah demikian namun ajaran Islam demikian, bertentangan, Pasti ada kesalahan penafsiran!

Bumi itu berputar dalam konteks "putaran menggulung" di depan matahari, yang akan menghasilkan hukum pengulangan "Hari". Bumi itu berputar dalam konteks "putaran melingkar", yang akan menghasilkan hukum pengulangan "Bulan". Ini sudah menjadi kebenaran ilmiah yang tidak bisa dibantah walau memakai dalil!

Lalu bagaimana logika "Matahari Berputar Mengelilingi Bumi" di saat bumi itu juga "berputar menggulung"? Inilah keyakinan, yang mungkin sebagian kaum mujassimah. Mereka meyakini, bumilah pusat anariksa dan mereka pun meyakini bahwa bumi "berputar menggulung"? Sungguh akan mengalami kekacauan yang sangat luarbiasa.

Mereka meyakini bahwa terjadinya siang-malam karena matahari mengelilingi bumi. Dalam hal ini bisa saja masuk akal namun akan menimbulkan keyakinan bahwa perputaran matahari membutuhkan kecepatan berkali-lipat untuk "beganti hari" dari perkiraan penemuan para ilmuan tentang kecepatan perputaran bumi mengelilingi matahari. Belum lagi bumi itu "berputar menggulung" yang akan mengakibatkan terjadi kekacauan yang luarbiasa pada kehidupan.

Kecepatan bumi dalam "berputar menggulung" untuk berganti hari saja kecepatannya tidak seperti yang kita lihat di bumi. Dari bumi mah, seperti tidak sedang berputar. Bagaimana jadinya bila matahari yang berputar? Sehari bisa seperti ukuran dimana bumi mengelilingi matahari secara "full". Kalau mau cepat, maka matahari membutuhkan kecepatan ektra agar bisa menghasilkan hari.

Sebagai sedikit bukti ilmiah, baca dan lihat vidionya: http://www.muslimedianews[.]com/2015/02/bumi-tidak-mengelilingi-matahari-video.html

Catatan: Terlintas, bumi seolah tidak mengelilingi matahari. Namun ketika melihat pergerakannya, menghasilkan gelombang gerakan yang sepertinya bumi juga mengelilingi matahari. Matahari dan bumi beredar dalam porosnya masing-masing, seperti pesawat terbang. Namun demi hukum penanggalan harus ada kepastian "Siapa mengelilingi siapa"

Tuesday, May 5, 2015

Golongan Pegiat Khilafah, Mimpi atau Nyata?

Di saat dalam tubuh organisasi pegiat khilafah bercampur "Ahli Bid'ah" dan "Ahli Sunnah", apakah memang benar organisasi tersebut tidak memiliki pendirian terhadap ajarannya? Lantas, kalau tidak punya pendirian dalam ajaran organisasinya, "Lalu apa makna kampanye khilafah?" Saya kira, perlu kritik keras agar terbuka dan jangan sok berkata "Kami menyatukan madzhab" di saat di dalamnya terdapat "Makar". Ini bukan masalah spele (pernah saya diledek oleh pegiat khilafah ketika mengajukan kritik)

Tubuh organisasi pasti punya pedoman: Apakah liberalis ijtihad atau madzhabis ijtihad. Ketika memilih liberalis ijithad, maka hasilnya bisa menganggap "Salah" madzhab lain atau ajaran lain, bisa sampai derajat "Sesat", "Kafir". Ketika memilih salah satu dari 4 madzhab, maka tetap akan menganggap benar madzhabnya dan tetap juga menganggap benar madzhab yang lain.

TRAGIS: orang bermadzhab malah masuk dalam organisasi yang tidak jelas menganut salah satu madzhab hanya kerena iming-iming "Kihafah=Surga". Bukankah 4 madzhab besar bersatu walau ada perbedaan? Sehingga jika organisasi memilih salah satu dari 4 madzhab, maka akan tetap bersatu karena memang sama-sama benar menurut masing-masing madzhab selagi dalam 4 madzhab besar.

Sekarang kita katakan saja, khilafah wajib. Namun kewajiban yang seperti apa bila pembangunan khilafah harus dengan menyatukan seluruh negara-negara dalam bendera Islam? Apakah wajib dalam arti "Formalitas Khilafah" atau "Nilai Khilafah"?

Bila memang wajib dalam arti "Formalitas Khilafah", memang semampu apa menyatukan seluruh umat Islam dalam bendera khilafah ketika banyak sekali ajaran-ajaran yang saling menganggap sesat. kafir?

Dan bila memang mampu, khalifah siapa yang berhak menempati khilafah sedangkan berbagai golongan saling menyesatkan?

Bila khilafah didirikan, apakah akan muncul permusuhan baru yang justru lebih besar karena diduduki oleh kholifah dari golongan sesat, ahli bid'ah, semizal golongan Mutazilah?

Apakah hukum bunuh-membunuh akan bertebaran dimana-mana karena dipimpin oleh golongan yang menganggap golongan lain adalah sesat, kafir?

Ketika Mu'tazilah berkuasa di dalam tubuh Dinasti Abbasiyah, terjadi hukuman pada imam Ahmad Bin Hambal. Imam Ahmad berjuang membela ajarannya bahwa Al-Qur'an bukan makhluk. Hampir saja mati dihukum.

Sekarang, siapa coba yang merasa dirinya yang benar dan orang lain salah sampai derajat "KAFIR", darahnya halal? Apakah kalau "khilafah" didirikan oleh orang yang mudah mengkafirkan, membid'ahkan dan mensyirikkan, tidak akan menghukum mati orang yang berseberangan dengan orang yang seperti ini?

Golongan Pegiat Khilafah, Mimpi atau Nyata? Tebak saja sendiri!