Showing posts with label Inspirasi Kata. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi Kata. Show all posts

Sunday, July 10, 2011

Inspirasi: Rankking 10 Besar Pembelajar

Tak sadar dan tak disangka.
Terkejut dan terperangah.
Senang dan bahagia,
google memberi 1 Pagerank untuk blog ini.
1 Pagerank berarti ranngking sepuluh besar.

Saya bersyukur pada Allah
ternyata usaha keras membuat postingan
dari bulan Januari sampai sekarang, membuahkan hasil.
Walau cuma mendapat satu, tetapi cukup menghibur.
Karena sebagian blog ada yang tidak yang mendapat ranking.

Dengan hadirnya pagerank, saya akan rajin posting kembali di blog ini.
Dan saya tahu apa saya yang harus saya optimalkan dari blog ini.

Terimakasih mbah google karena udah memberikan rankking 10 besar
untuk blog Mutiara Pembelajar

Friday, May 20, 2011

Hari Kebangkitan Pelajar Nasional!

Mari merenung untuk memperingati hari kebangkitkan nasional
Apa yang harus kita bangkitkan dalam mengisi kebangkitkan nasional?!
Bangsa kita tidak lagi harus bangkit dari penjajahan bangsa asing keparat!
Lalu apa yang harus kita bangkitkan dalam mengisi kebangkitan nasional?!

Dan di sini, saya ingin merenung
tentang kebangkitkan pelajar Indonesia.
Kita perlu bangkit untuk memajukan pendidikan Indoensia!

Lihat secara nyata mata kita pada contoh kasus pelajar!
Banyak para pelajar yang sibuk tawuran!
Adu kejantanan padahal adu kekerdilan!
Tawuran memang mengandalkan kekuatan
kelompok dan itu penakut yang berselimut!
Dan tragisnya, penakut pada kelompoknya sendiri!

Sudah! Bangkit segera!
Untuk memberantas moral buruk itu!
Berontak saja segala perintah
kelompok pelajar yang akan membuat onar
dari pada sibuk ikut tawuran!
Maka akan tahu seberapa besar keberanian kita
seperti halnya keberanian untuk tawuran.

Pelajar pun hanya sibuk menghambur-hamburkan
waktu sia-sia dan memelihara kemalasan belajar!
Dan itu menjadi kebanggaan karena memang
sudah menjadi budaya turun-temurun.
Tragisnya, kuatnya kemalasan itu dari pertemanan!

Sudah! Bangkit segera!
Untuk memberantas moral buruk itu!
Berani menolak ajakan kemalasan teman?!
Bila berani tetapi engga melawan, kita sendiri yang pemalas!
Tantang saja para pemalas itu untuk ikut dalam belajar
ilmu pengetahuan kita, maka akan tahu siapa pelajar pemalas itu?

Pelajar hanya sibuk bercinta sampai
cinta seperti layaknya cinta suami istri.
Adu kekuasaan demi merebutkan pasangan.
Persahabatan menjadi tarohan sehingga tak ada lagi artinya persahabatan.
Sakit hati bila cinta tergilas permasalahan sampai cengeng gara-gara cinta!!!

Sudah! Bangkit segera!
Jangan melulu sibuk pacaran!
Alihkan sepenuhnya memandang keberhasilan masa depan!
Jangan cengeng dan jangan sok pahlawan dalam percintaan!

Mari merenung untuk memperingati hari kebangkitkan nasional.

Salam Cerdas!

Monday, May 16, 2011

Inspirasi Setan: Ngobrol Belajar Kelompok

Sang guru selalu dalam perhatian;
tiap usai belajar memberikan beberapa tugas.
Dengar rasa perhatian,
sang guru mengharap kemajuan
untuk anak didiknya.

Gemuruh mengeluh dari diri pelajar menyebar
sampai tak melihat tugas itu adalah bentuk perhatian gurunya.
Tapi, pelajar yang baik adalah ketaatan perintah.
Pelajar-pelajar menerima dengan sambutan, “Baik Pak”.

Rencana-rencana kegiatan tersusun
dalam tiap-tiap kelompok belajar.
Rencana pun terlaksana.
Malam atau sore menjadi tempat berkumpul
kelompok pelajar dalam mengerjakan tugas sekolahnya.
Seharusnya tak perlu pakai kelompok untuk mengerjakan tugas.
Tapi, kemudahan akan didapatkan dengan cara bersama, katanya.

Mereka membicarakan tentang pemecahan masalah.
Mereka berusaha memecahkan soal,
yang pasti hanya ada satu jawaban yang benar.
Ada yang diam dan ada yang bicara tentang permasalahan.

Muncullah kemacetan.
Godaan ngobrol adalah biangnya.
Tak dapat dipungkiri,
belajar kelompok memungkinkan beralih sebutan,
dengan kalimat “belajar bermain kelompok”.
Sudah menjadi kebanyakan kasus pelajar,
belajar kelompok adalah ajang bermain
dan hanya sedikit kegiatan dalam belajar.

Perlu kita ketahui,
belajar kelompok merupakan kerja tim.
Dan kerja tim, mengharuskan adanya skil
pada tiap individu untuk kepentingan kerjasamanya.
Mengingat, menghadapi kelompok
adalah menghadapi berbagai pikiran.
Tapi apa daya, pelajar belum dalam pengetahuan
untuk memperdayakan kerja tim.
Hanya sebatas, “Yang penting belajar kelompok”.

Salam Cerdas!

Sunday, May 15, 2011

Orang Cacat Dilarang Sekolah!

Saat setelah saya mengitari buku-buku di Gramedia,
saya menemukan judul novel
Orang Catat Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetio.
Memang terlihat menyedihkan,
kenapa orang cacat tidak boleh sekolah?
Setelah membaca teks sampulnya,
ternyata bukan pihak sekolah yang melarangnya sekolah
tetapi di lingkungan keluarganya sendiri.

Atas dasar seperti judul di atas,
sekarang giliran saya memerintah,
“Orang cacat memang saya larang sekolah!”

Bila ada orang cacat yang membaca tulisan ini, tabahkan dulu.
Saya hanya melarang untuk sekolah.
Tetapi tidak melarang untuk belajar.
Tetapi bila memaksa, silahkan sekolah.
Karena nuansa pergaulan intelektualnya
lebih meyakinkan di sekolah daripada di jalanan.

Saya melarang orang cacat sekolah
karena belum saya tentukan cacatnya yang seperti apa.
Lalu, cacat yang seperti apa
yang akan saya larang untuk sekolah?
Cacat yang saya maksud adalah cacat batin:
tidak punya semangat, pemalas, berpikir buruk.
Pelajar itu hanya menghambur-hamburkan uang
tetapi jarang untuk belajar.
Bila pelajar cacat itu tetapi dilanjutkan pada perguruan tinggi,
ia akan jadi lulusan yang memalukan.

Dari pada melarang sekolah
pada anak yang punya cacat fisik
padahal punya semangat belajar tinggi,
lebih baik melarang anak yang punya cacat batin,
yang akan membuat keuangan habis sia-sia.
Tetapi, merasa kasihan, orang tua
tetap menyekolahkan si anak cacat batin.

Salam Cerdas!

Saturday, May 14, 2011

Inspirasi Terbalik: Ujian Nasional untuk Guru

Siapa saja yang pernah sekolah,
pasti pernah merasakan ujian
sebagai akhir jenjang pendidikan.
Walau pun dahulu dengan sekarang
sistem ujian berbeda,
tetap ada semacam ujian terakhir.

Bagi yang pernah mengalami Ujian Nasional,
terlebih sekarang, akan merasakan
detik-detik yang menegangkan.
Tragisnya, ini dialami oleh kebanyakan pelajar.

Merasa kasihan melihat pelajar
yang merasakan derita lahir-batin
karena Ujian Nasional,
saya pun memberi kesempatan
untuk para guru dalam rangka
ikut merasakan ujian nasional.
Tentu, bukan dalam rangka ujian memberi
kunci jawaban untuk pelajar.

Ujian Nasional untuk guru adalah
yang berkaitan dengan dunia pengajaran.
Bila ini diterapkan, saya jamin guru akan merasakan
ketegangan pikiran seperti ketegangan pelajar
waktu menghadapi detik-detik Ujian Nasional.

Siapkah guru diuji membuat silabus?
Siapkah guru diuji membuat RPP?
Siapkah guru diuji menjelaskan
dan mempraktekkan macam-macam metode?
Siapkah guru diuji menjelaskan dan mempraktekkan
macam-macam media?
Siapkah guru diuji menjelaskan tentang dunia pendidikan?
Dan siapkah guru menghadapi Ujian Naional?

Bila guru siap...baiklah,
saya akan laporkan masalah ini
pada Menteri Pendidikan
agar mengadakan Ujian Nasional untuk guru.
Saya pun akan mengajukkan padanya
bahwa di Hari Pendidikan Nasional
adalah hari dimana guru
menjalankan Ujian Nasional.

Salam Cerdas!

Thursday, April 28, 2011

Inspirasi Kata: Cinta Kekasih dan Cinta Ilmu

Putus cinta sangatlah menyakitkan
karena kehilangan kekasih yang dicintainya.
Tapi, mungkin hal terbesar
yang membuat sakit
karena merasa rugi,
tak mendapat apa-apa.

Peras keringat,
putar pikiran
dan keruk keuangan
selalu menyebut atas nama cinta, maka rela.
jalinan berakhir,
retak percintaan,
maka atas nama cinta, tak rela.
Menuntut balik apa-apa yang telah diberikan.
Tak ada kerelaan, maka pemberian cinta
patut dipertanyakan ketulusannya.

Wahai para pembelajar sejati.
Sering kita lalai dalam menuntut ilmu.
Lebih memperjuangkan
untuk pencari kekasih hati.
Sampai harta benda terkuras habis.
Waktu pergi dengan perasan tangis;
Tak dimanfaatkan dengan semestinya.
Tapi saat cinta itu terputus
ditengah jalan barulah dalam kesadaran.
Hati terasa sakit, ditinggal kekasih.

Wahai pembelajar sejati.
Cintailah ilmu.
Tapi bukan tak peduli kekasih hati.
Perjuangkan ilmu.
Biar tak hanya kekasih hati yang kau juangkan.
Sakit hati pada kekasih pun tak akan separah itu.

Inspirasi Kata: Pendekar Terpelajar Kena Tampar!

“Jangan terlalu pintar! Nanti botak kalo belajar terus.”
Apakah kita menjamin akan pintar
bahkan terlalu pintar bila giat mencari ilmu?
Apalagi tak giat mencari ilmu,
bisa kita tentukan sendiri hasilnya.
So, tekunilah pencarian ilmu
dan jangan pikirkan hasil.
Pendekar terpelajar hanya berhasrat pada pencarian.
Tentang hasil adalah kepasrahan hati.

“Serius amat baca. Dasar kutu buku!”
Justru itulah syarat menjadi pendekar terpelajar, yaitu kutu buku.
Mereka yang berkata kutu buku
karena menganggap pembelajar adalah keculunan sikap.
Mereka belum mencicipi menjadi pendekar terpelajar.
Sehingga ucapan tentang keilmuan
adalah makanan yang membuat alergi mereka.
Tentu, seorang pendekar terpelajar tak mesti berkacamata tebal,
tak mesti banyak menyendiri,
tak mesti ka’o bila diajak ngadu!
dan tak mesti dengan atribut-atribut keculunan sikap.

“Jangan sok tua! Sok mikirin masa depan.”
Kita tak akan bisa melepas tentang angan-angan masa depan.
Kita tak akan bisa melepas dari keinginan kebahagiaan,
kemuliaan, kemakmuran dan lain-lain.
Bila ada yang tak ingin masa depannya bahagia, mulia, makmur,
maka rumah sakit jiwa penawarnya.

Inspirasi Kata: Sekedar Permainan Bahasa

Katahuilah,
segala kata yang tertuliskan,
segala kata yang dibicarakan,
dan segala kata yang dilakukan
adalah bahasa yang merupakan
isi dari ilmu pengetahuan.

Tiap bahasa dari tiap kepala
akan beradu berbeda pendapat
atau sebaliknya.
Maka dari itu, saya katakan
bahwa ilmu pengetahuan
hanyalah permainan bahasa-bahasa.

Betapa banyak
ilmu pengetahuan yang telah ditemukan,
betapa banyak ilmu pengetahuan
dengan berbagai rangkaian bahasa yang berbeda,
tetap tak akan habis terkuras.
Pengetahuan masih bertebaran di alam semesta.
Karena memang, alam semesta selalu
memberikan bahasa yang terus berubah-ubah.

Orang yang pandai
memainkan bahasa,
maka ia mampu menguasai
ilmu pengetahuan.

Inspirasi Kata: Penyempitan Fokus Ilmu

Bagi pelajar, kebanyakan
bila belajar hanya ilmu yang ada di sekolah.
Bila mereka disuguhkan ilmu di luar sekolah
kebanyakan mereka akan enggan mempelajarinya.
Sebenarnya itu pembodohan.
Padahal sebenarnya,
ilmu itu tidak keluar dari pelajaran sekolah.
Hanya mengalami menyempitan fokus,
yang tidak dipelajari di sekolah.
Misal, Biologi dengan ilmu kesehatannya.

Hidup dalam dunia kerjaan
yang dibutuhkan adalah bentuk keterampilannya.
Ilmu bahasa dengan sastranya.
IPS dengan perdagangannya.
IPA dengan kesehatannya.
Matematika dengan arsiteknya.

Bila kita serius menekuni bidang keilmuan
dalam bentuk keterampilannya,
misal dalam ilmu sastra,
maka kita akan menemukan tantangan yang serius
dan pengeluaran biaya yang harus mencukupi.
Tapi jaminan dalam membentuk pribadi
yang berkompeten sekitar 80%.

Monday, April 18, 2011

Inspirasi Kata: Pelajar Belajar, Guru Mengajar

Sudah sepatutnya para pelajar
mempunyai guru dalam menuntut ilmu.
Sudah sepatutnya para pelajar belajar
dan guru pun siap untuk mengajar.
Berikanlah rasa bakti untuk guru
dan guru akan merestui anak didiknya
dalam usaha membuang kebodohan.

Guru senantiasa rela memberikan ilmu.
Karena memang, tugas guru adalah memberi ilmu.
Kerelaan adalah keharusan.
Tak ada kata penghabisan pada ilmu
walau dalam kerelaan memberikan.
Justru penambahan ilmu
bila memang memikirkan.

Tapi sayang, ada saja seorang pelajar yang bertanya.
Memang seharusnya keaktifan bertanya
tertanam dalam diri pribadi pelajar.
Ia bertanya, “Saya harus belajar ya Pak?”
Pikirannya masih belum berkembang dengan baik.
Tak perlu ditanyakan pun yang bernama “pelajar” haruslah belajar.
Ia masih kekanak-kanakan dalam bertanya.
Oh, karena memang yang bertanya
seorang pelajar tingkat dasar.

Guru tersenyum dan menjawab,
“Nak, kamu harus rajin belajar.”
Guru pun tersenyum dan tak memiliki beban.
Tapi hati-hati guru.
Barangkali anak didik bertanya kembali.

Nah, pelajar kecil itu kembali tingkah.
Bertanya ia, “Kalau Pak Guru belajar gak?”

Ops...
Sudahlah. Jangan terlalu membahas tentang pendidik.
Takut ilmu yang diperoleh
tak banyak memberikan manfaat;
tak ada berkah pada ilmu kita di suatu saat nanti.
Sudahlah.

Inspirasi Kata: Sekolah VS Kuliah

Memang saya akui,
kuliah hanyalah pelarian
dari ketidakmampuan saya
mengamalkan ilmu.

Sekolah di Indonesia bagiku
adalah gudang ilmu pengetahuan.
Berbagai disiplin ilmu yang
berbeda haluan banyak diterapkan di situ.
Seharusnya, saya berkemampuan
dalam mengamalkan ilmu,
bukan hanya mengajarkan
ilmu pada orang lain.

Tapi saya sulit menangkap
ruang spesifik ilmu dari
berbagai ilmu pengetahuan.
Karena sekolah adalah gudang
berbagai disiplin keilmuan,
seharusnya aku memahami
ilmu teknik pergudangan.

Tapi, saya tak sempat
mempelajari ilmu pergudangan.
Malahan enggan mempelajarinya
karena bersifat keterampilan belaka.
Padahal itu suatu kunci menguasai
apa yang ada di gudang.

Laga-lagi, karena saya terpesona
melihat berbagai ilmu pengetahuan.
Dengan giatnya, saya mempelajari disiplin keilmuan.
Dengan bangga, bila aku mampu menguasai
berbagai disiplin pengetahuan.
Tapi dengan sikap seperti itu,
sampai saya melupakan teknik kunci
untuk persiapan pengamalan ilmu.

Mau tak mau, kuliah adalah sebuah solusi;
sebuah usaha menggapai keterampilan keilmuan.
Jurusan yang saya tempuh tak ada beda,
alias sama dengan jurusan ilmu di saat sekolah.
Tapi di perkuliahan, saya malah terjun
ke dalam jurang keilmuan!
Teknik kunci tak saya temukan.

Ternyata, dunia sekolah lebih baik
dari pada dunia perkuliahan.
Dalam sekolah, saya itu diberikan ilmu.
Tapi di perguruan tinggi,
saya melihat “gelar kehormatan”
yang patut dikasihani ilmu.

Apa daya, Akhirnya saya tidak ada rasa
dalam mempelajari jurusan yang saya ambil.
Aku memilih ilmu dalam dunia yang lain
dan aku menemukan teknik kunci yang aku inginkan.

Inspirasi Kata: 12 Tahun Belajar Pengetahuan

Memang saya akui,
niat saya terjun dalam aktifitas
menulis masihlah muda.
Sekarang tahun 2011
di saat tulisan ini saya rangkai.
Sekitar awal bulan di tahun 2009
saya memulai dalam menulis.

Itu pun tak memberikan ketekunan;
jarang melampiaskan sepenuhnya untuk menulis.
Apalagi, saya hanya berkarya sastra.
Malah hanya berprosa dalam kata.
Malas, bisa juga.
Tapi, ada hal-hal lain tentunya.

Tahun 2010 saat bulan
masih muncul dipermukaan.
saya lampiaskan menambahkan kontak baru.
Saya memulai belajar berpuisi.
Tak mengapa walau tak indah dibaca.
Mudah dipahami pun tidak.
Hanya cukup memuaskan.

Kini, bulan April
saat saya merangkai kata ini.
Apa yang terjadi?
Puluhan (30 lebih) cerpen aku dapatkan.
Seratus lebih puisi panjang.
banyak artikel saya dapatkan.

Tentu, bukan hanya kemahiran
dalam menulis yang saya peroleh.
Kemahiran berpikir, saya dapatkan.

Antara 2009 sampai awal
tahun 2011 adalah perubahan.
Dari akal kebodohan menuju akal keilmuan.

Andai saya menulis
semenjak masih kanak-kanak.
Andai kita memulai suatu bidang
tertentu saat masih belia,
12 belas tahun belajar
sangat cukup mencetak
keahlian pada ilmu pengetahuan tertentu.

Lantas, masihkah lulusan SMK/SMA
beralasan tentang ketidakmampuannya?
Lantas, masihkah berkata,
“Saya cuma lulusan SMA/SMK?”

Inspiarasi Kata: Kekuatan Kebijaksanaan

Gunakanlah kekuatan kebijaksanaan
dari awal kita meyakini
tentang suatu kesuksesan
sampai dengan pada kekuatan
kedamaian pikiran.

Lakukanlah terus evaluasi
untuk mengoreksi dari tiap usaha
yang kita lakukan.

Kita adalah dengan kesalahan kehidupannya.
Cari apa saja yang perlu
diperbaiki dari usaha kita,
maka tentulah akan bijaksana.

Upaya optimalisasi potensi diri kita
adalah usaha untuk meraih
hidup yang lebih bijaksana.

Kita selalu belajar
dalam peningkatan potensi diri kita.
Kita tak hanya omongan impian,
tapi kita adalah tindakan impian.
Setiap kali melangkah menuju istana kesuksesan,
kita berkeinginan, memikirkan
dan merasakan, tentang impian kita,
maka itu pula proses meraih kebijaksanaan.

Sunday, March 27, 2011

Inspirasi Kata: Ketenangan Hati dan Pikiran

Sudahkah kita yakin akan keberhasilan?
Sudahkah kita semangat karena keyakinan kita?
Sudahkah kita fokus pada impian kita?
Dan sudahkah keyakinan kita
semangat kita, dan fokus kita
membuat kita dalam ketenangan, tak menderita.

Sudahkah kita memperhatikan
ketenangan pada hati dan pikiran?
Apakah kita hanya berburu penuh nafsu
terhadap mimpi-mimpi sampai tak terkendali?

Sudah saatnya kita perlu
ketenangan hati dan pikiran
dalam perjalanan menggapai impian.
Janganlah sekedar keyakinan,
janganlah sekedar semangat perjalanan,
dan janganlah sekedar fokus impian.
Kita pun perlu ketenangan hati dan pikiran.
Sehingga, kita akan mengerti
bagaimana mengontrol diri.

Betapa akhir pencapaian
adalah kebahagiaan yang dirasakan.
Apapun impian kita, tentu perasaaan bahagia.
Bila tak ada ketenangan dalam perjalanan,
keberhasilan pun tak dirasa bahagia.
Tapi bila setiap langkah usaha
selalu dalam iringan hati dan pikiran ketenangan,
dalam tiap perjalanan pun
penuh aroma-aroma kebahagiaan.
Apalagi menui keberhasilan,
maka kebahagiaan sejati yang dirasakan.

Friday, March 25, 2011

Inspirasi Kata: Tali Pengikat Fokus Impian

Ingatlah!
bahwa fokus adalah tali pengikat.
Kita terikat pada suatu yang diimpikannya.

Keyakinan dan semangat kita
belumlah cukup menuai keberhasilan.
Karena hidup penuh godaan-godaan.
Kita tergoda berganti-ganti impian.
Maka, apa yang kita andalkan pada impian kita?

Tenangkan pikiran.
Ambillah beberapa impian.
Fokuskanlah sampai menuai keberhasilan.
Lalu bermimpi kembali
dan menuai keberhasilan kembali.

Inspirasi Kata: Fokus Impian dan Godaan Kehidupan

Kita adalah dengan berbagai
godaan-godaan kehidupan.
Terkadang godaan menggiurkan kita.
Terkadang pula godaan menyiksa kita.
Kita adalah objek godaan-godaan kehidupan.
Bersiaplah, godaan akan berkenalan dengan kita.

Kita adalah dengan sikap
pemilihan-pemilihan tentang sesuatu.
Pemilihan-pemilihan pada sesuatu
entah pilihan kebenaran
atau pilihan kesalahan.
Karena kita adalah dengan
sikap pemilihan-pemilihan.

Tatkala godaan hadir, berdampak
pada usaha pengalihan fokus kita.
Tetapkanlah pada fokus kita, pilihan kita.
Fokus kita, bila itu berasal dari hati nurani kita.
Memang bersikap egois, tapi keegoisan
yang bersifat bijaksana.

Kita patut sadar lingkungan.
Keluarga, teman, dan masyarakat
begitu kuat pengaruh pada diri kita.
Pengaruhnya sampai larut
ke alam bawah sadar kita.
Kita pun sulit fokus impian yang terencanakan
bila pengaruh lingkungan yang tak mendukung.

Bila lingkungan tak mendukung.
Lalu Impian hanya luapan-luapan hati
dan tercurah pada teman pribadi.
Teman pun tak mau serius menanggapi.
Siapkan diri kita pada kegagalan.

Kita perlu kemandirian fokus.
Jangan harapkan dukungan,
bila tak ada dukungan.
Cukupkanlah kita sendiri
yang mendukung fokus impian kita.

Kita perlu kekuatan pikiran.
Kita perlu fokus sugesti impian
berisikan afirmasi-afirmasi.
Dan masukkanlah itu
ke alam bawah sadar kita.
Maka pengaruh lingkungan
yang tak mendukung
hanya ucapan-ucapan kosong,
tidak kita hiraukan.
Siapkan diri kita pada kesuksesan.

Inspirasi Kata: Terperangkap Target Goal

Banyak pemimpi yang terperangkap
target goal-nya sendiri, sampai mati rasa.
Tak ada rasa peduli akan kebahagiaan hati.
Dalam tiap laju ikhtiar mengejar,
mereka megharuskan semangat,
penuh keyakinan dalam target goal yang diraih,
apa pun yang terjadi,
walau sampai tak ada lagi
seorang yang peduli pada diri si pemimpi.

Mereka lupa, hati perlu merasakan bahagia
dalam tiap langkah usaha
meraih target goal yang didamba.
Sikap bahagia yang peduli hati
adalah sikap bahagia di tiap usaha-usaha.
Betapa hati tersiksa, capai bahagia di ujung cita.

Betapa hati haruslah dilibatkan
untuk merasakan kebahagiaan
di tiap laju usaha ke-hidup-an.
Bukan hanya kebahagiaan
dikala pencapaian itu terjadi.

Tuesday, March 22, 2011

Semangat dan Restu Raga

Semangat kita dalam restu.
Betapa semangat perlu adanya restu
dari kuasa raga. Kita perlu pikirkan itu.
Betapa tak akan bergairah bila raga kita
memberi suguhkan kelemahan.
Raga dalam terpaksa, tak mengizinkan
semangat hadir bergelora.

Yang ada hanyalah luapan-luapan energi
tak terlampiaskan dalam diri kita.
Terkadang, lamunan-lamunan menari-nari,
hadir hanya sekedar menghibur diri.

Jagalah raga kita. Kita perlu pikirkan itu.
Kesehatan adalah untuk kebangkitan.
Raga pun dalam restu; mengizinkan
kebangkitan semangat
hadir dalam meraih impian.

Semangat dalam Kepasrahan

Bersemangatlah kita meraih kesuksesan.
Semangat adalah hak kita,
bahkan itu adalah kewajiban.
Bersemangatlah di tiap langkah usaha.
Usaha dengan hati bahagia, itu yang utama
walau bayang-bayang kegagalan
terus menghina, “kau tak mampu!”
Lemparkan saja penghinaan,
dan tetap semangat langkah.

Tapi, tetap dalam waspada.
Hati-hatilah dengan semangat kita.
Karena semangat adalah energi
panas yang meluap-luap.
Janganlah semangat kita
membakar diri kita sendiri;
kita mencelakakan diri sendiri.

Berilah hati ketenangan.
Sikap keutamaan adalah
“semangat dalam kepasrahan”.
cukuplah efektif dalam sejukkan
hati dari energi panas semangat
yang meluap-luap.

Sunday, March 20, 2011

Yakin Semangat, Semangat Yakin

Memang ini hanya sebuah ungkapan
yang sengaja dibolak-balik.
Tapi tak sampai jungkir-balik.
Tak mengapa, yang penting bersikap baik.
Toh, kita membutuhkan penyatuan
dari beberapa wujud.
Memang, saya perlu mempertanyakan
tentang dua wujud.
Yakinkan saja dibaliknya
adalah manfaat-manfaat.

Mengapa banyak orang
tidak bersemangat
dalam meraih impian?
Perlu pemikiran jawaban.
Katakan saja seucap kita,
karena memang lemah keyakinan.

Mengapa banyak orang
tidak yakin dalam meraih impian?
Sekali lagi dari satu kali,
Dan katakan saja seucap kita,
karena belum ada semangat untuk yakin.

Mana yang lebih dahulu?
Maka perlu kita tentukan dahulu.
Mana yang mau kita tentang diper-dahulu-kan.