Showing posts with label Hukum. Show all posts
Showing posts with label Hukum. Show all posts

Wednesday, April 15, 2015

Memvonis Murtad Asal2an VS Memvonis Orang Yang Diduga Memvonis Murtad

Memvonis Murtad Asal2an - Edisi dari inspiriasi ucapan Habib Syekh yang mengandung kegerahan bahkan dukungan. Dan saya Syekhers mendukung Habib Syekh, Penyair Sya'ir Tanpa Waton (Karya Gus Nizam bukan karya Gus Dur). Yang gak mendukung, monggo (dengan mengambil ucapan "itu kan pendapat ente"). Sayangnya, yang tidak mendukung, memvonis Habib Syekh juga. Sama-sama memvonis. Siapa yang salah? Kita!

Studi Kasus Cerita:

Si Rojul, "Orang yang tidak solat karena menganggap tidak wajib, dan lebih menyukai pergi ke gereja untuk berbaur dengan ibadah orang Kristen, kalau hari Natal suka ceramah sambil nyanyi halo-halo natal, maka dihukumi "Murtad". Siapapun, mau Si Gus, Si Cak, Si Habib, atau lainnya". Sekali murtad tetap murtad. Murtad harga mati! Maka harus tobat agar tidak menjadi kafir kekal!

"Ente jangan suka menghukumi orang. Ilmu ente sudah pantas belum untuk menyalahkan dia? Kamu nyindir Gus Dulah yang sering masuk gereja saat hari minggu ya?" kata pengikut Dulers.

"Ente sendiri sudah pantas belum ilmunya untuk membenarkan orang yang dimaksud? Ente paham kalimat hukum dan kalimat memvonis si tersangka sesuai hukum tidak?"

"Tadi ente bilang, orang yang tidak solat bla bla bla dihukumi murtad."

"Ya itu bahasa hukum. bukan bahasa vonis untuk tersangka atas pelanggaran hukum."

"Tapi ente sepertinya menyindir Gus Dulah. Kamu kan sering merasa risih dengan kelakuan Gus Dulah."

"Yang salah ente, kenapa sudah goblok berani memvonis tentang suatu ucapan dikaitkan dengan sesuatu. memvonis seseorng yang diduga telah memvonis orang menjadi murtad juga sebuah bencana besar. Memvonis seseorang yang telah diduga memvonis orang berbuat zina juga sama-sama hina. Paham ente?"

"Oh, paham. Jadi, Gus Dulah tidak murtad?!"

"Saya bicara hukum dan terlalu berat memikirkan aib orang lain tentang hal yang berat-berat seperti perbuatan kafir, bid'ah, dan perbuatan syirik."

"Ya sudah, maaf."

"Ya sudah, makanya ngaji mantik, biar tahu kaidah logika. Mana kalimat Umum dan mana kalimat Khusus. Belajar hukum, biar tahu mana hukum untuk seseorang dan mana vonis untuk seseorang atas pelanggaran hukum."

***

Hukum:

Bila ada kiai yang masuk gereja, ceramah, nyanyi halo-halo natal, dengan disertai keyakinan yang menyamakan akidah dan syareat Islam dengan agama lain, maka sudah dihukumi "Murtad", keluar dari Islam.

Hukum tetap hukum tidak memandang bulu, entah bulu jengkot, bulu kumis, bulu dada, bulu lainnya. Berlaku untuk siapapun orang, entah Gus, Habib, Kiai, dan sebagainya. Bila dikatakan "Murtad" sesuai aturan hukum maka harus berkata murtad untuk orang-orang yang memiliki ciri-ciri yang menandakan murtad, sesuai tata cara pemvonisan hukuman murtad.

Status Tersangka:

Untuk penetapan hukuman murtad pada seseorang, tidak semudah membahas masalah hukum. Sama dengan hukum-hukum yang sudah berjalan pada umumnya. Orang yang mencirikan sebagai orang murtad, masih berstatus "Tersangka". Status tersangka adalah praduga "Tak Bersalah".

Hati orang, siapa yang tahu? Iman ada di hati. Kalau pun mereka punya keyakinan yang sesat bahkan bisa dianggap sampai keluar dari iman, yang secara otomatis mempengaruhi hati iman mereka, tetap saja jangan mudah untuk menghukumi "Murtad". Harus ada proses pengadilan untuk menentukan hukuman murtad atau tidak pada seseorang. Itu pun ada serangkaian yang lain lagi.

Tidak memvonis kufur pada 1000 orang yang jelas-jelas kufur lebih ringan bahayanya daripada menyatakan seorang muslim sebagai orang yang kufur (keluar dari Islam),” oleh Sayidina Maulana Syeikh Taqiyudin al-Subkiy RA.