Showing posts with label Emansipasi Pria. Show all posts
Showing posts with label Emansipasi Pria. Show all posts

Saturday, July 11, 2015

Kepada Wanita Karir

"Kepada Wanita Karir: Maukah Kamu Yang Bekerja, Pria Jadi Bapak Rumah Tangga?"

Bukan bermaksud melarang wanita kerja, cuma ini zaman persaingan, dimana sudah penuh wanita bekerja sampai lowongan kerja untuk pria malah tersaingi (dugaan saja, mengingat 1:10 untuk jumlah wanita). Sampai masing-masing sudah hidup mapan, tetap saja salah satu tidak ada yang mengalah untuk tidak bekerja dan fokus dalam bekerja mengurus rumah tangga. Mengorbankan keluarga demi uang, katanya... Bagaimana mau mengalah, gaji sudah enjoy di saat sulitnya mencari kerja dan perjuangan belajar kerja.

Maka saya mengajukkan pertanyaan, "Maukah Kamu Yang Bekerja, Pria Jadi Bapak Rumah Tangga?"

Saya yakin sebagian besar wanita karir akan berpikir ulang untuk menetukan persetujuan. Dulu, alasan wanita bekerja karena wanita juga punya hak bekerja. wanita boleh bekerja. Mereka sampai berkata, "pria jangan egois, main enak sendiri, wanita juga berhak bekerja jadi jangan ngelarang-ngelarang.

Ya sudah sekarang, pria mengalah untuk tidak bekerja dan fokus mengurus rumah tangga. Pria dengan senang hati menerima asal jangan ada kata "Pria wajib juga menafkahi keluarga". Pria menjadi rumah tangga jangan pula dibebani tentang pemenuhan finansial. Kalau pun pria mencari uang, lewat dunia online, adalah bentuk suka-suka sebagai bukti, "Ngapain kerja di luar? Kerja di rumah saja jadi jutawan". Kalau pun wajib menafkahi, oke lah, tetapi wanita harus juga siap berkorban mengeluarkan modal untuk kepentingan membangun lapangan pekerjaan sendiri.

Saturday, May 16, 2015

Kasihan Deh, Wanita - Sekarang Pria Kerja Di Rumah

Fatka atau prasangka, sekarang dunia kerja, baik di perusahaan atau di lembaga sudah dikuasai para wanita. Lihat saja penyiar di televsi, kebanyakan yang menjadi peran utama siaran adalah wanita. Lihat di Tv One, setiap hari yang tampil adalah wanita. Lihat di MetroTv, pun dengan mata Najwa, wanita menguasai acara. Acara dangdut di televisi, lagi-lagi yang menjadi penyanyi hot adalah wanita.

Sekarang pria bagaimana? Tidak masalah. Ini kesempatan bagus bagi pria yang tidak "Sok Jaga Harga Diri". Pria yang sudah merasakan penat, lelah, stres, tidak punya banyak waktu dan segalanya dalam dunia kerja, akan memilih pada dunia kerja yang santai. Dunia kerja yang santai adalah membangun aset. Aset yang akan menghasilkan pundi-pundi uang secara otomatis tanpa kerja.

Ketika terjadi "Revolusi Emansipasi Pria", banyak pria lebih asyik menjadi bapak rumah tangga sambil membangun aset hasil memanfaatkan gaji istri, maka bagaimana dengan wanita? Maka tinggal berkata saja, "Kasihan Deh, wanita Kerja Di luar. Mau Tukeran?"

Pria sebagai bapak rumah tangga sambil kerja di rumah adalah solusi membuka peluang kerja baru. Karena bila sudah menghasilkan, maka itulah peluang kerja bagus untuk dirinya sendiri. Kalau kita mengandalkan pemerintah atau orang lain untuk membangun lapangan pekerjaan, maka sampai kapan kita menunggu?

Dan perlu dicatat: Jiwa pebisnis pria ternyata lebih hebat daripada wanita. Jadi, lebih bagus yang menjadi pekerja rumah tangga adalah pria agar bisa sambil bekerja membangun bisnis di rumah.

Monday, April 27, 2015

Emansipasi Pria Yang Membuat Wanita Iri – Teori Kelirumologi

Emansipasi Pria Yang Membuat Wanita Iri - Ada yang salah bahwa pria menjadi “Bapak Rumah Tangga”? Suami mengurus rumah tangganya, tanpa perlu mikir kerja di luar. Untuk bagian pokok mencari nafkah adalah usaha seorang istri. Walau bagaimanapun, seorang pria dalam berumah tangga tetap melakukan kemandirian dalam penghasilan, baik lewat kerja atau bisnis di rumah. Sehingga, seorang istri dalam hal ini bertugas untuk membantu permodalan sang suami. Setuju?

“Lah, kan itu tidak ada kesetaraan gender?” kata seorang wanita karir.

Mengambil teori “Iri”, seorang wanita yang menuntut kesetaraan dengan orang pria adalah wanita yang berusaha benar-benar sama dengan pria seperti bersama-sama bersaing menempuh karir, dll. Itukah hak seorang wanita? Lantas, hak seorang pria agar sama dengan serang wanita yang berstatus “Ibu Rumah Tangga” itu bagaimana? Apakah tidak boleh memiliki hak “kesetaraan dalam berumah tangga?” Pria juga punya hak untuk menyamakan dengan wanita, asal jangan rubah kelamin saja.

Logika sederana: Bila kedua orang tua sama-sama kerja, dari pagi sampai malam, lalu siapa yang mengurus anak-anak di rumah? Masak pembantu? Lah nanti jadi anak pembatu. Di sinilah makna keadilan gender. Keadilan gender memang bisa selalu sama, namun tidak harus sama dalam konteks perbedaan kebutuhan.

“Cari uangnya bisa tidak kalau dari rumah?”

Belajar adalah cara terbaik. Namun kalau sudah bisa, ya tinggal menjalankan. Kita buat karya, lalu karya kita dijual lewat internet. Cukup dari kamar atau di taman dekat rumah, kita bisa melakukan transaksi antar kota. Enak kan kerja dan bisnis di rumah?

“Terus, bagaimana mendidik anaknya?” katanya lagi.

Seperti layaknya seorang yang pria single alias duda, bisa saja mengurus anak-anak. Tentu mendidik anak bergaya seorang pria, bukan bergaya seorang wanita. Walau hasil yang didapatkan kurang bagus daripada wanita yang mengurus rumah tangga. Bila anaknya pria semua, wah, ini lahan investasi untuk membentuk pria-pria sejati. Kalau ternyata ada anak wanita, ya tinggal ada pendamping seperti “nenek” atau saudara wanita yang akan mendidik.

“Lah, pria kok masak?” sindir wanita itu lagi.

Siapa yang tidak kenal “Chef Juna” seorang yang berwajah lelaki tulen, bertato, omongannya ceplas-ceplos, tetapi masakannya enak. Chef Juna salah satu pemasak pria terbaik di Indonesia. Ini sebagai contoh, kegiatan masak tidak terpengaruh kodrat. Pria dan wanita memang bisa menjadi  pemasak di dapur. Cuma tinggal gaya memasaknya saja yang berbeda.

“Bosen di rumah saja, ngurus anak, masak dan melayani sex”

Catatan penting: hidup itu sederhana penuh rutinitas

Apakah wanita bekerja di kantor berbeda dengan pria yang kerja di rumah? Sama saja, sama-sama dalam ruangan. Bila memang pria menjadi rumah tangga, bisa asik-asikkan menunggu istri sambil menonton tv. Setiap hari bisa beraktifitas yang bermanfaat dan berkembang. Bila ingin pergi ke mal untuk sekedar belanja, maka tinggal pergi saja.

Bila rumah kita bagus, enak, makanannya enak-enak, buat apa kerja di kantor? Secara fakta, seenak-enaknya ruangan seorang direktur, ruangannya ya begitu. Setidakenaknya di ruangan rumah, yang jelas itu rumah kita sendiri.

Kalau Pria Bisa Kerja dan Bisnis Di Rumah … Upaya Menuju Bapak Rumah Tangga

Era online adalah era pemberdayaan kantor kerja dan bisnis di dalam rumah. Banyak para aktifis gender, aktifis wanita, kampanye pemberdayaan wanita hanya pada sektor “Luar Rumah”. Ini sudah ketinggalan zaman bila masih tidak memiliki sisi berat pada sekor “Dalam Rumah”. Mereka pun mengklaim, “Wanita pun punya dua tugas sekaligus, dalam dan luar rumah”. Gombal!

Di televisi, artis-artis penyanyi dangdut yang paling laris yang wanita walau ukuran menyanyi dibilang “Rendah”. Penyanyi yang muncul itu-itu saja. Di dalam acara berita yang selalu muncul adalah wanita, baik acara ngobrol atau pembawa berita. Di penjualan-penjualan produk memakai jasa sales promotion, yang paling laris ya wanita walau produk yang dijual adalah “rokok”, produk untuk pria. Banyak sekali sisi yang menoncolkan wanita namun masih saja kurang “Setara”, menurut aktifis wanita. Bahkan menuntut juga, sebagai rencana, “Khutbah Jum’at, Imam Solat” harus juga ada wanitanya. Ini serba wanita. Apa sih emansipasi wanita? Gimana ceritanya?

Di dunia kerja, para pria tersaingi wanita padahal kalau pria tidak bisa bersaing, kalah ekonomi maka si wanita akan berkata, “Ah, jadi pria kok tidak produktif”. Bukan masalah produktif atau tidak tetapi masalah sektor kerja yang sudah penuh dikuasai wanita gara-gara emansipasi wanita yang tidak memiliki sisi makna emansipasi dalam takaran keadilan gender: sama namun tidak harus sama.

Nah, era online mendapat angin segar untuk para pria yang lebih baik menjadi “Bapak Rumah Tangga”, sebaga upaya emansipasi pria juga. Di samping, kerja dan bisnis di rumah bisa dilakukan dengan mudah dan bisa membuat kebebasan finansial. Tinggal kita memanfaatkan “gaji istri” untuk bekerja di rumah mengurus bisnis pria itu sendiri. Mau para istri gajinya dimanfaatkan suami untuk mengurus bisnisnya sendiri?