Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Thursday, November 1, 2012

Cerpen : Curahan Status Facebook


Aku selalu memperhatikan perkembangan gadis ini yang berwajah manis dan imut. Keadaan yang semakin memburuk terlihatnya. Maksudnya keadaan dia bersama kekasih yang telah merebut dari kekasihnya yang lama.

“Bagaimanakah keadaan gadis ini menurutmu yang selalu berkata dalam status facebook-nya bahwa ia dalam kesendirian? Apakah benar-benar sedang jomblo? Ia pernah membuat status tentang pengharapan diberikan kasih-sayang oleh seorang cowo spesial.”

“Bila kamu memang mengagumi seorang yang bernama Alin yang keturunan Cina itu, kenapa kamu tidak katakan saja padanya. Kenapa mesti sama aku bila kamu bertanya tentang gadis ini?”

“Ah…Mana mungkin aku mengatakan ini padanya sedangkan aku sendiri pernah ditolak mentah-mentah sama dia. Khawatir, pertanyaanku membuat ia sedih.”

“Terus maunya gimana? Aku harus tanya gitu sama Alin?”

Aku hanya terdiam di saat semilir angin pantai terus-terusan mengoyak rambutku. Mengingat kisah yang menyedihkan tentang Alin.

Lagipula, aku pernah baca status Alin yang mengatakan bahwa dirinya masih teringat sama mantannya. Barangkali mantan yang menjadi korban perebutan pihak ketiga itulah yang sedang teringat olehnya. Aku berkeyakinan memang cowo itu.

Alin pernah bercerita bahwa alasan menolaku karena masih memiliki perasaan cinta yang kuat sama mantannya.Sangat beralasan bila mantan yang bernama Elan tu sangat begitu menyentuh perasaan Alin. Begitu kuat cinta Elan dan Alin walau sudah dihancurkan hubungan cintanya sama tiga cowo. Putus nyambung hubungan Elan dan Alin. Putus lagi, nyambung lagi.

Aku teringat curahan hati dari Alin yang ia tag ke facebookku lewat catatan facebook miliknya. Ia berkata bahwa ia pernah dilamar oleh cowo yang bermana Fie Can di saat masih berhubungan dengan Elan. Pada Akhirnya ia pun putus. Lalu kembali lagi bersama mantannya. Lalu ada cowo penghancur yang kedua yang bernama Dukon. Bersama Dukon akhirnya putus. Seperti biasa kembali lagi bersama mantan yang bernama Elan. Cowo ketiga yang bernama Next akhirnya berhasil membuat semuanya berantakan. Alin mengatakan bahwa ia sudah putus komunikasi sama Elan. Cerita yang menyedihkan untuk seorang alin berhati lembut.

Tetapi yang jadi aneh. Kenapa Elan tidak mampu mempertahankan hubungannya padahal ia seorang cowo yang punya tanggungjawab besar untuk mempertahankan hubungan. Aku makin penasaran mengenai kisah ini. Betapa bodohnya Elan.

Seberapa besar cintamu sama Alin, Gus? Sedangkan kamu bukanlah orang yang mudah jatuh cinta? Kamu pun tidak berhubungan langsung alias kamu belum  pernah bertemu dengannya.

“Apalah arti ukuran cinta bila tidak ada kebaikan dan kebahagiaan untuk diriku dan untuk orang yang aku cintai. Aku hanya berdoa, semoga Alin selalu diberi kebahagiaan sama Tuhan dan selalu bisa tegar di setiap masalah yang ia hadapi.”

“Lalu apa doa untukku, Gus?” Nita bertanya dengan serius sambil memegang erat tanganku. Aku makin heran akhir-akhir ini dengan Nita. Seakan ada perubahan dalam sikapnya.

“Semoga kamu mendapatkan mendamping hidup yang terbaik.” Kataku.

Lalu tanpa ada ucapan, ia pergi begitu saja.

“Nita! Kamu mau kemana? Kenapa pergi begitu saja? Kenapa kamu akhir-akhir ini berubah total sikapmu!”

“Pikirkan sendiri!”

Aku bergegas mengejarnya untuk memberhentikan langkahnya. Aku berusaha menghentikkan langkahnya.

“Lepaskan tanganku, Gus!”

“Tidak! Sebelum kamu jelaskan alasannya. Dan, kini kenapa kamu menangis? Kenapa?!”

“Dasar bego! Lepaskan!”

Aku melepaskan tangannya dengan perasaan terpaksa.

Aku bertanya dalam hati, “Apakah ia memiliki perasaan padaku. Ah biarkan saja. Lagi pula ia sudah berjanji tidak akan mengikat ikatan cinta denganku seolah tak perduli. Ah sudahlah. Tidak penting.”

Aku tidak mengejar Nita lagi. Biarkan saja ia pergi sesuai keinginannya. Ia pun mengakui memiliki kebebasan penuh alias hak asasi penuh alias hak liberal. Ia bersikap seperti itu merupakan wujud hak asasinya walau haknya melanggar hukum kesosoialan.

Kembali aku merenung dengan perasaanku dan menghayati keadaan dirinya. Sikap apa yang mesti aku lakukan? Apakah berdiam diri sampai perasaan ini menyakitiku sendiri? Apakah mengungkapkan apa yang aku inginkan pada Alin walau pasti menyakitinya?

Daripada aku memikirkan Alin dan perasaan cintaku, lebih baik aku fokuskan diri untuk mencari penghasilan yang banyak. Lagi pula, penghasilanku belum cukup untuk berusaha menghampirinya. Bila aku sudah kaya, aku bisa menghampiri Alin yang manis dan imut itu walau jarak yang tidaklah dekat.

“Tetaplah kamu jomblo sampai satu tahun lagi, Alin. Aku akan menghampirimu dan berusaha memilikimu. Tetapi bila ada yang mendahului, ya udah saja…”

Tetapi aku teringat kasus-kasus penipuan lewat facebook. Banyak para cewe yang tertipu dengan cowo yang ia temui. Sialan dan biadab para cowo itu. Apakah aku harus mengajak bertemu sama dia? Sangat rawan sekali. Khawatir kedatanganku bisa menjadi fitnah.

Waktu telah menyadarkanku setelah ini.

“Sudahlah, jangan menghayal terus. Masa saya ini Agus? Aku ini mantannya Alin yang sebenarnya dan bukan Agus.” Kataku membatin.

Jam sudah menunjukkan 13. 30. Saatnya untuk solat sehabis menghayal. Tapi makan dulu saja. Gara-gara menghayal jadi laper begini.

Pada awalnya, aku hanya memikirkan curahan Alin di status Facebook. Tapi karena otak penulis, malah aku membuat cerita baru. Lumayan untuk membuat cerita pendek. Nanti akan di tag ke facebook Alin.

Saturday, September 3, 2011

Cerpen Mawar Berdarah

Taman Blodog yang terlihat penuh dengan tanaman bambu hias dan juga bambu dengan batang yang menjulang tinggi. Berdampingan dengan mawar-mawar yang berawarna-warni. Dengan seonggok kisah. Kisah yang sedikit mencekam dan tak istimewa, tanpa aku sadari waktu itu. Waktu itu hari-hariku hanya dilalui rasa bahagia di taman Blodog ini dengan seorang kekasih yang aku cintai.

Terkadang suasana tarian bambu-bambu yang menimbulkan suara mirip hantu. Aku mendengarnya tanpa peduli. Kadang aku mencium aroma wangi mawar dengan aroma yang sedikit aneh. Yang sedikit membuatku merinding adalah waktu mendengar tangisan sembari menyerukan syair cinta. Persisnya seperti puisi kahlil gibran. Tetapi itu biasanya ada seorang pujangga yang memang bersyair di sini. Kejadian aneh itu biasanya di waktu sore hari.

Memang suatu pertanda buatku. Akan tetapi, aku tidak begitu memperhatikan kejadian itu. Aku hanya menikmati cinta di taman ini, sebagai satu-satunya taman sederhana tetapi cocok untuk memadu kasih bersama seorang yang aku sayang.

Seiring kejadian aneh yang terus-menerus diperlihatkan di depan mataku, membuatku semakin penasaran apa yang terjadi dengan semua itu. Sebuah kisah lama tentunya. Ya, kisah itu masih berkaitan dengan percintaan. Tentang percintaan yang sedikit mencekam itulah yang aku dapati dari para pencerita.

“Pantas, aku merasakan keanehan, Nov,” kataku.

“Keanehan apa? Aku tidak merasakannya.”

“Tentang hantu mawar berdarah,” kataku sewaktu aku sudah tahu kejadian sebenarnya.

Lalu aku menjelaskan yang aku tahu tentang cerita itu padanya. Rupanya Novi tidak pernah merasakannya. Kata seorang pengurus taman ini, katanya, lima tahun yang lalu ada seorang yang bunuh diri di tempat ini. Memang kejadian bunuh diri tidak begitu tragis dan dramatis. Pada akhirnya kejadiannya aneh sekarang ini pun tidak begitu mencekam.

“Lalu seperti apa bunuh dirinya? Karena apa ia sampai bunuh diri?” Novi mempertanyakan.

“Tidak tahu. Memang ini cerita klise. Cerita yang sudah umum dilakukan para pesimis sakit pada hidup. Aku tidak tahu,” kataku menjelaskan.

“Ah... tidak usah Mas bahas lagi. Tidak seram dan tidak seru. Paling cerita yang begitu-begitu saja.” Novi enggan mengetahui lebih dalam lagi.

Maklum aku tidak pernah tahu kejadian itu karena aku dan novi lebih intim pada kenikmatan-kenikmatan percintaan. Sampai aku melupakan masalah orang tua yang tidak menyetujui hubungan ini karena perbedaan agama. Tapi semua sirna karena kita tengah asik menikmati cinta. Hanya keanehan itu yang sedikit aku rasakan.

Setelah aku tahu yang sebenarnya tentang kejadian-kejadian aneh itu, aku sering melihat orang-orang berteriak-teriak. Anehnya, aku saja yang melihat kejadian itu. Padahal itu benar-benar nyata bagiku. Tetapi mungkin halusinasiku saja.

Aku menelan ludah saat mengetahui hal itu. Bukan masalah menakutkan. Tidak ada nuansa seram dalam kejadian ini. Yang aku pikirkan hanya tentang hubunganku dengan Novi. Aku hawatir hubungan ini putus di tengah jalan.

Aku teringat cerita kelanjutannya dari seorang yang pernah menjalin hubungan dengan seorang yang bunuh diri itu. Katanya, bila orang sudah mendengar kejadian aneh dan melihat sendiri lelaki yang berteriak-teriak, menangis dan lain-lain, tandanya akan terjadi keretakan pada hubungannya. Jelas ini hal yang aku takutkan.

“Kau jangan asal bicara!” Kataku kesal pada wanita yang mengaku mantan lelaki yang bunuh diri itu.

“Apakah saya butuh kepercayaanmu? Tidak butuh. Terserah kau mau percaya atau tidak. Coba pikir masalah apa yang tengah kau rasakan?” Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca sehabis membicarakan putusnya hubungannya dengan lelaki itu.

“Memang, aku sedang punya masalah. Orang tua kita saling tidak setuju. Tetapi aku tak mau berpisah. Aku takut sekali berpisah dengan wanita yang aku cintai,” katakuaku. Hanya menunduk.

Plok! Ia menepuk pundakku, membuat kepalaku bangkit dari posisi menunduk.

Ia berkata,“Kisahku lebih tragis. Persis seperti kisah Layla Majnun. Kau tahu kisah itu?”

“Aku tidak tau. Kau mau menceritakan kisahmu? Silahkan.”

Lalu wanita yang mengaku mantan lelaki yang bunuh diri itu bercerita. Ia hanya ingin mengenang penderitaan yang waktu silam ia alami. Sudah lama memang ia tak menjenguk tempat ini. Memang ia pun menderita kegilaan akibat putus hubungan dengan kekasihnya. Bukan tanpa alasan. Ia menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya padahal kekasih wanita itu sudah benar-benar ingin menikahinya. Bukan kebaikan yang ia peroleh, tetapi justru siksaan ranjang yang ia peroleh. Akhirnya ia mengaku, ia mengalami kegilaan dan kecintaan pada mantan kekasihnya.

“Lalu, bagaimana mantanmu bunuh diri sampai ada hantu hantu penasaran yang mirip dengan kekasihmu?”

“Ia menyuntikkan racun yang sangat berbahasa dengan dicampuri cairan mawar dan berdarah. Ia menuliskan sendiri kisahnya dan ditaruh di bawah pohon mawar. Ia bunuh diri kira-kira malam hari.”

“Kenapa ia menampakkan diri sore hari?”

“Karena sore hari adalah tepat dilaksanakannya akad pernikahanku dengan lelaki pilihan orang tua! Wanita itu berbicara sembari menunduk lesu sembari tetap mata berkaca-kaca.

***

Kisah yang sedikit mencekam dahulu telah aku rasakan sendiri sekarang. Aku tak ada pikiran yang waras. Aku hanya menitikkan air mata. Kenapa ini terjadi? Aku tidak berdaya apa yang harus aku lakukan. Tetapi aku tidak terima melihat pernikahan ini!

Bergegas aku hampiri acara akad pernikahan itu. Tanpa rasa malu, aku menuju mantan kekasihku. Entah ini cara gila atau cara cinta, yang jelas aku tidak terima ia milik orang lain. Aku tak mau lagi dalam ketidakberdayaan.

“Tunggu! Aku tidak terima ia menikah dengan orang lain! Dia kekasihku dan hanya menikah denganku!” kataku keras dan tak peduli.

Mata para pengunjung semua tertuju padaku. Termasuk keluarga mantan kekasihku dan calon suaminya.

“Hei! Manusia gila! Makasudmu apa?!”

Tanpa pikir, aku bergegas mendekat lagi dan mencoba merebut mantan kekasihku.

Keributan pun terjadi. Aku mencoba memukul calon suaminya, malah aku yang terkena macam pukulan. Aku lari. Aku coba meronta-ronta, mengacaukan suasana. Membanting tempat makanan. Berlarian menuju kursi para tamu. Lalu mengambil anak kecil dan mengancam akan membunuh bila ada yang berani melanjutkan akad pernikahan. Kebetulan saya membawa pisau. Aku tidak tega tetapi aku telah sangat gila.

“Siapa saja yang berani melanjutkan akan pernikahan, aku bunuh anak ini!” sembari pisau diletakkan di leher anak ini. Orang tuanya menjerit-jerit. Anak itu menangis ketakutan.

“Hei novi! Aku tahu, kau terpaksa menerima dia! Kau tak berdaya menerima cowo brengsek itu, karena orang tuamu itu orang miskin baru yang menjelma menjadi pengemis! Wahai bapak dan ibu Novi, lagi pula kau benci diriku sejak aku masih berhubungan. Sekarang aku mau membatalkan pernikahan,” kataku penuh luapan emosi.

“Kurang ajar! Cepat panggil polisi,” kata bapaknya Novi.

“Jangan main-main! Sekali polisi datang, pisau ini merobek leher anak ini,” kataku mengancam.

Suasana mencekam. Semua ketakutan. Termasuk anak ini, ia terus menerus menangis. Kedua orang tuanya pingsan karena tak tahan melihat ancaman ini.

“Nikahi aku sekarang juga pak penghulu! Tanya sama novi, pasti ia menerimanya,” kataku.

“Ya Tuhan, Nak Firman. Jangan begitu. Kami mengerti, kamu cinta sama anak kami. Tetapi agama melarang untuk bersatu. Pak penghulu, dia bukan dari agama kita,” kata ibunya Novi menjelaskan.

“Agama apa’an? Agama gila! Kalau kalian masih punya agama, jangan memaksa anaknya untuk dinikahi! Kalian telah memaksanya.”

Berlangsung cukup lama adu mulut tanpa terpikir untuk membawa kabur Novi. Aku hanya melampiaskan yang dulu hanya tersimpan di dada.

“Angkat tangan! Menyerahlah,” suara polisi mengejutkanku.

Sampai aku tak sadar. Aku tak memperhatikan. Sungguh tak memperhatikan. Aku fokus meluapkan segala emosi dan memikirkan novi yang aku cintai. Dan kini aku sudah dikuasai oleh para polisi dengan mudah. Aku langsung dibawa ke mobil polisi.

Aku dijebloskan ke sel tahanan untuk proses persidangan. Hari-hariku hanya melamun. Sampai akhirnya aku tidak lagi ditahan. Aku mengalami kegilaan. Sangat gila.

Penampakan hantu yang sembari membawa mawar berdarah mengajakku untuk bunuh diri. Tapi aku hanya termangu tak mengerti melihat sesosok hantu mawar berdarah itu. Kegilaanku membuatku tak mengerti dunia ini dan apa hidup ini. Aku hanya berimajinasi tentang cinta yang tak lagi aku pahami.

***


Cirebon, September 2011







Monday, August 29, 2011

Cerpen : Lebaran dan Manisnya Maaf

Satu bulan penuh menahan lapar, haus, dan tingkah nafsu-nafsu lainya. Satu bulan hati kita ditempa mengenai arti penyadaran diri.

Kita patut sadar, kita ini diliputi hawa nafsu yang siap bergerak tanpa di suruh tatkala ada rangangan. kita patut sadar, kita selalu lapar dan haus. Tatkala kita tak mampu mendapatkan segenggam beras, seliter air, kita akan merana menjalani hidup. Kita pun patut sadar, kita ini selalu dalam jalinan bersama keturunan Adam. Silaturahmi adalah kebutuhan jiwa dan raga. Dan kita patut sadar, bulan puasa adalah pendidikan kesadaran terbaik sehingga kita perlu memanfaatkannya.

Hari yang fitri pun kini hadir. Kini, malam bertakbir lantang di seluruh penjuru Indonesia. Khususnya di daerah Buntet Pesantren Cirebon. Bertakbir pula diri Furkon penuh derai air mata penyesalan akan kesalahan, perpisahan dengan bulan Ramadan, sekaligus penyambutan hari kemenangan.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallahu Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil Hamd.”

Furkon adalah orang yang soleh. Tapi ia adalah manusia yang tak lepas dari dosa. Ia khusyu bertakbir, sesekali ia dalam bayangan sebulan yang lalu. Tapi dengan sungguh-sungguh, ia berusaha melupakan sejenak demi menikmati manisnya bertakbir.

Satu jam sudah ia melantunkan takbir. Jam terlihat pukul delapan. Selesai bertakbir, ia rebahkan badan sejenak sekedar menghilangkan kelelahan. Nafsu pun seakan menagih janji pada Furkon untuk membayangkan kembali kisah sebulan yang lalu bersama tunangannya. Ia pun menuruti dengan hati penuh luka, penuh penyesalan.

Pikiran melayang, membayang pada calon kekasih. Kini, pertunangan dalam murka calon mertua. “Pantas lah mereka murka. Aku begitu menghina mereka dan tunanganku” gumam Furkon.

Kejadian itu seharusnya tidak perlu Furkon alami.

***

“Ibu dan Ayah pada kemana, Nad? Ini kan hari Minggu.”

“Pergi kondangan di acara pernikahan.”

“Kamu sendirian?”

“Jelasnya begitu. Mas, kan tahu, aku anak tunggal.

“Aku tahu. Tapi maksud aku… jika Nadia sendirian, lebih baik kita di luar saja. menghindari fitnah.

“Aku percaya sama keimanan, Mas. Tentunya kita harus di luar.”

“Walau pun sudah tunangan?”

“Apa bedanya Mas, masih pacaran atau sudah tunangan? Dalam Islam keduanya sama, masih belum halal.”

Furkon dan Nadia pun duduk di halaman depan rumah.

“Tentunya. Oh ya, Nad. Betapa buruk pergaulan remaja sekarang. Tahu tidak, menurut hasil penelitian, menghabarkan bahawa 80% siswi setingkat SMA sudah tidak perawan lagi.

“Masya Allah, yang benar Mas?”

Ya. Tapi Aku tidak tahu benar apa tidak. Tapi intinya, perzinahan sudah merajalela. Nafsu zina kini bergentayangan mendekati para pelajar, mahasiswa, maupun yang bersetatus suami istri.

“Makanya, aku tidak mau pacaran. Aku hawatir berzina.”

“Nadia salah satu pelajar yang beruntung, diantara pelajar yang sudah melakukan pacaran. Jika Nadia sudah selesai semester 1, aku mau melamarmu.”

“Benarkah? Berarti kelas tiga semester 2 aku sudah menjadi istri?”

“Ya, aku pun bertambah umur menjadi 26?”

“Dan aku masih tetap 18 tahun.”

“Nadia diam sembari tersenyum-senyum. Entah apa yang ada dipikiran Nadia. Membayang kehalalan berhubungan atau membayang kemeriahan acara pernikahan.

“Aduh, aduh, sakit,” Nadia merintih.

“Apanya yang sakit?”

“Perutnya Mas, keram. Aku lagi datang bulan.”

“Oh, datang bulan. Itu sudah biasa dialami cewe.”

Furkon diam dan Nadia masih menahan otot keramnya. Furkon berusaha tidak memandang Nadia yang sedang mengelus-elus perutnya. Tapi walau mata tak memandang, imajinasi-imajinasi kotor terlintas dalam pikiran dan menggodanya. Furkon berusaha menepik semua pikiran hina itu. Pemandangan indah halaman rumah, dilengkapi tanaman hias cukup menenangkan pikiran.

“Nadia, sudah mengerti belum pelajaran haid?”

“Lumayan mengerti”. Tapi dibandingkan dengan teman-temanaku, aku yang mengerti. Tiap kali temenku datang bulan dan ada masalah haid yang tidak di mengerti, mereka bertanya sama aku. Tapi jika tidak bisa, aku serahkan sama Nyai Fatimah, guru mengaji Nadia”.

“Aduh, calonku sudah mulai menyaingi Nyai Fatimah ya?”

“Ih, ih, ada-ada saja. masa aku menyaingi Nyai Fatimah. Oh ya Mas. Suami itu perlu tahu juga walau ia tidak haid. barangkali istri tidak mengerti tentang itu. Suami harus tanggung jawab. Oh ya, aku tes Mas ya? Harus mau, hmm.. Awas kalau gak bisa, Nadia jewer, hehe…”

“Iya, Silahkan.” Furkon menyetujui dengan pasrah. Demi memenuhi sikap manja Nadia.

“Kalau, darah.”

“Aduh,” rintih Furkon memotong pembicaraaan.

“Kenapa Mas?”

“Giliran aku. Tapi ini mules. Ingin buang air besar. Aku, aku bagaimana ya? Di sini saja ya?

“Ya sudah di sini saja. Masa di rumah tetangga. Bikin malu aku aja.”

Tanpa banyak omong, tanpa ragu Firman masuk. Dia pun sudah mengetahui di mana letak kamar mandi tersebut. Jalan lurus melewati kamar Nadia, lalu belok ke kanan menuju kamar mandi. Tidak menunggu lama, Firman segera masuk ke kamar mandi. Lalu dengan kelegaan dalam persiapan, ia mulai dalam mengeluarkan kotoran.

***


Sedangkan di luar, Nadia menunggu Firman. Tak betah menunggu dalam kesendirian. Ia pun masuk rumah. Ia langkahkan kaki menuju kamarnya. Nadia masuk ke kamar. Lalu, dalam kamar, ada sesuatu yang perlu ia bereskan keadaan dirinya yang sedang dalam haid.

Setelah Furkon selesai ke kamar mandi. Lalu ia pun menuju keluar. Lalu tak sepengetahun Forkon, Nadia pun keluar dari kamarnya. Dan rupanya Nadia berniat menuju kamar mandi. Mungkin ingin mengganti pembalut. Dan,

Auh!! Nadia kaget dan sedikit mau jatuh.

Lukman pun dalam keadaan yang sama, kaget.

Mereka saling berbenturan badan. Dan tangan Furkon menahan Nadia yang hampir jatuh sampai ke dua wajah itu hampir bersentuhan. Furkon terpikat dengan wajah ayu dan manis Nadia. Furkon dan Nadia pun antara sadar dan tak sadar. Mereka hanya menikmati benturan cinta yang telah terjadi. Mereka melakukan hal yang mendekati zina. Sempat Nadia menolak, tapi hanya pencegahan yang lemah. Awalnya cuma bersentuhan. Tapi apa daya nafsu berbalut cinta sudah mendapat kesempatan. Nafsu pun memainkan perannya sampai melumpuhkan kuatnya keimanan. Mereka masuk ke kamar Nadia.

Tanpa ia sadari. Sepuluh menit kemudian orang tua hadir. Tapi kehadiran orangtua tidak di dengar mereka yang sedang asik dalam hina. Orang tua Nadia pun masuk. Dan setelah itu pintu Nadia diketuk, karena ada suara yang mencurigakan.

“Allah! Allah! masya Allaaaah, masya Allah,” ibu terkejut bukan main. Ibu hanya mampu mengucapkan kalimat Allah.

“Nadia! Forkon!, Manusia munafik! Penampilan saja kau soleh,” kata ayahnya Nadia sembari mendekat lalu di tamparnya wajah Furkon.

“Kau kurang ajar! Anakku kau hina dengan perbuatanmu yang ternyata kotor. Hatimu busuk! Keluar kamu, cepetan!

***

”Astaghfirullah! Astaghfirullah! Astaghfirullah! Kenapa aku larut dalam lamunan. Masya Allah, masya Alaah, ini malam hari raya. Aku berjanji pada diriku, ingin meminta maaf pada Nadia dan keluarganya malam ini juga. Aku harus! Harus! Aku tak peduli mereka masih marah apa tidak. Ya Allah, ampuni hamba,” gumam Furkon penuh jiwa perjuangan pengharapan maaf.

Tak menunggu lama, Furkon meniki sepeda motornya. Segera ia jalankan. Dan akhirnya motor melaju dengan penuh semangat. Ia menghampiri daerah Kendal, tempat tunangannya tinggal. Suasana Kendal pun sudah dirasakan olehnya. Air mata siap menyambut dihadapan calon mertua.

Pemandangan rumah sudah terlihat. Suasana masih sepi dari para tamu. Jam setengah sembilan ia mengetukkan pintu. Tak lama pintu dibuka. Ia disambut wajah cantik, manis Nadia. Tapi sambutan itu tak semanis wajah Nadia.

“Maafkan aku Nadia.”

Tanpa sepatah kata dari Nadia, ia pun kembali masuk.

Tanpa Furkon ketahui. Ayahnya yang hadir.

“Andai ini bukan di suasana Ramadan, dan hari raya, aku tampar kamu yang kedua kali. Mau apa kamu ke sini!”

Seketika Furkon pingsan. Dia tidak kuat menahan bayang-bayang dosa yang dahulu, tidak kuat menghadapi murka calon mertua, tidak kuat terputus pertunangannya dengan wanita yang ia cintai.

***

“Ya Allah. Ada di mana?” Kata Furkon sembari menatap kesana-kemari mengenalkan suasana.

“Masya Allah, Mas. Mas pingsan tadi, hik, hik, hik,” Nadia menjelaskan sembari tangis tersedu-sedu.

Furkon teringat, kalau kedatangan kesini untuk meminta maaf. Furkon menatap Pak Latif, Ayah Nadia. Seketika, ia langsung memohon ampun dengan posisi tubuh seperti sujud.

“Maafkan aku Pak, silahkan Bapak memutuskan pertunangan. Aku rela, aku rela. Silahkan Bapak merajamku seperti kasus orang yang berzina. Silahkan! Tapi maafka aku, Pak! Aku benar-benar menyesal,” kata Furkon sembari mencium kaki Pak Latif.

“Maafkan aku, Bu” kata Furkon pada ibu dengan menegakkan badannya.

Ibu Halimah, ibunya Nadia hanya menangis. Entah karena merasa kasihan atau karena hati sakit masih terasa padanya. Begitu pula Nadia. Ia menangis sembari meninta ampun pada kedua orang tuanya. Tak kuat melihat kesungguhan Furkon meminta maaf, Nadia pun masuk ke kamarnya.

“Aku sebernarnya masih sakit hati. Tapi apa daya, ini bulan penuh ampunan. Apalagi besok lebaran. Nadia sudah menceritakan semuanya…Yah, Terkadang kesolehan begitu lemah bila nafsu sudah diberi hidangan yang manis dan indah dunia.”

Sungguh aku tidak melakukan zina, Pak! Sungguh. Aku pun masih sempat sadar. Tapi tidak apa-apa bila aku dianggap zina! Aku pantas, Pak!”

“Sudah, sudah. Bapak dan Ibu mau memaafkan. Dengan satu syarat dan harus dipenuhi.

“Baik, Pak!”

Nikahi Nadia sehabis lebaran tanpa menunggu berbulan-bulan. Kalian sudah saling cinta. Dan kami pun sudah merasa cocok.

“Baik, Pak, Bu. Aku akan memenuhi. Terima kasih banyak, Ya Allah!

“Nadia, Nadia. Kemari, Nak.”

“Iya Bu,” sahut Nadia.

Nadia pun keluar dari kamarnya. Matanya terlihat sedikit lebam.

Ada apa, Bu? tanya Nadia.

“Sini duduk. Dan juga Furkon, duduk kembali di kursi,” Ibu Halimah memerintah.

“Nadia, Furkon, nanti kalian akan kami nikahkan sesudah lebaran usai. Itu sebagai syarat untuk mendapatkan maaf Ayah dan Ibu.”

“Yang bener, Pak? Itu mah syarat yang manis Pak. Mas Furkon pasti memenuhinya,hihihi.”

Furkon dan Nadia pun saling berhadapan dan mereka tunjukkan senyum manisnya.

***

Cirebon, September 2010

Tuesday, August 9, 2011

Cerpen: Secangkir Teh Manis

Aku tak menyadari kalau ini perjalanan ini hanya tipuan. Kenapa mesti dengan cara seperti ini ia memperlakukanku. Kenapa mesti melakukan ini? Apakah demi menghindar perjumpaan? Padahal nanti aku tak akan melakukan kejahatan apa-apa. Aku cuma ingin berjumpa. Kebaikan yang aku berikan padanya dengan tebaran keakraban tak ada artinya. Oh dunia, sungguh penuh dengan kebohongan-kebohongan. Kenapa aku mempercayai seratus persen perkataan temanku? Kenapa pula aku mempercayai supir angkot itu? Tapi aku harus bagaimana? Sudah mendapat kebohongan, ditambah dengan kebohongan lain.

“Ah, sialan! Kenapa nyampe ke Sumber?”

Aku menelepon temanku. Ternyata tidak aktif. Mungkin sengaja. Aku mengelus dada. Nafasku terasa sesak akibat kejadian ini.

Apa ada yang salah bila aku mengunjungi rumahnya? Seharusnya bila ia tak mau kehadiranku di rumahnya, ia bisa bicara padaku dengan sejujurnya. Bukan malah menyesatkannya. Tapi ini sudah terlambat. Aku sudah di luar daerahku.

Pemandangan terlihat ramai karena ini jalan raya. Laju kendaraan silih berganti. Membuat kepala sedikit pusing. Aku melihat kantor polisi. Membuatku ada pikiran untuk melaporkan kasus penipuan ini. Tapi itu konyol. Aku ambil nafas. Aku lanjutkan perjalanan ke arah utara. Entah apa yang aku lakukan. Yang jelas, aku tak segera pulang kembali ke daerah asalku. Aku tak mau menyia-nyiakan kepergianku.

Kaki terus melangkah. Jarak sudah terlampau jauh. Melihat di ujung Utara terdapat pemandangan yang indah, alam kehijauan. Hijaunya lahan yang membuatku tergugah untuk mendekati. Terlihat, di sepanjang jalan tertanam tanaman padi yang hijau dan subur. Tak lupa, terdapat pohon jagung, singkong. Memang bulan ini adalah musim penghujan. Banyak para petani yang memanfaatkan musim ini untuk bertanam padi dan yang lainnya.

Ada sosok gadis desa yang sedang berdiri. Mungkin anak petani. Tapi, ia berdiri di sebelah barat samping jalan. Aku tak menyadari kalau ada gadis cantik memakai kerudung. Aku hanya fokus melihat hijaunya tanaman padi.

Ia melihatku. Wajar. Karena aku orang pendatang. Wajahku masih asing. Bahkan para petani pun melihatku. Aku melihat kembali ke arah gadis itu. Ia tersenyum. Oh, sungguh suguhan yang jarang terjadi. Manis sekali gadis itu tersenyum. Aku balas pula dengan senyuman. Aku tertarik untuk mendekatinya.

“Hei, sendirian?” Dengan percaya dirinya, aku menyapa gadis yang kira-kira berumur dua puluhan.

Ia tetap tersenyum. Tapi bukan ke arahku. Aku merasa heran. Tadi ia tersenyum padaku. tapi sekarang ia tersenyum tapi bukan untukku. “Ah, aku sok ke-pede-an banget. Aku jadi malu.” Ia melihatku dan kembali tersenyum, melihat ke arah petani.

Hei, boleh kenalan gak?” Tanyaku

“Mau apa?” Ia tanya balik dengan pandangan curiga.

Ternyata ia tak seperti yang aku kira. Ia sulit bergaul dengan orang baru.

“Aku tersesat. Aku merasa ditipu kenalanku dari dunia maya.”

“Maksudmu?” ia tanya lagi. Padahal pertanyaan pertama dariku belum dijawab.

“Ee, aku punya teman yang sudah dianggap akrab. Aku kenalan lewat Facebook. Aku berencana ketemuan dengan temanku itu. Ia cewe, tentunya. Tapi ia memberikan informasi palsu. Pas aku bertanya pada tukang ojek, ternyata ini daerah Sumber. Bukan daerah Babakan.

“Babakan bukan di sini!” ia langsung merespon. Mungkin agar pembicaraan ini cepat kelar.

Aku ingin kehadiranku di sini tidak sia-sia.

“Kau mengganggu kebahagianku! Kau perlu tahu. Kau merusak suasana bahagiaku. Kenapa mesti membahas masalahmu!”

Aku makin tak mengerti. Apa yang ia pikirkan tentang diriku? Aku dianggap telah mengganggu suasana bahagianya. Aku tak mengerti. Sehebat apa tingkah burukku? Aku cuma ingin berkenalan. Aku ingin kehadiranku di daerah ini tidak sia-sia.

“Kau kenapa? Aku cuma ingin mengkenalmu!”

“Terus setelah kau mengenalku, kau mau apa?”

Aku menelan ludah. Aku tenangkan diri. Jangan sampai sikap pemarahku muncul sama wanita ini. Sepertinya dia mempunyai masalah yang berat, atau punya kenangan yang pahit tentang lelaki. “Ah, tak tahu lah,” kataku menepis praduga.

“Maaf, aku mengganggu.” Dan aku melihat pemandangan ke arah para petani.

Aku berkata pada gadis yang terlihat kurus. Membahas tentang keindahan kehijauan. Mataku seakan mendapat kecerahan pandangan di saat melihat kehijauan. Mungkin ia tersenyum sendiri karena melihat suka-cita para para petani yang asik merawat tumbuhan hijau. Aku suka pemandangan ini. Tanah yang hijau bukan tanah yang silau.

“Sepertinya ini cara terbaik untuk menjalin pertemanan,” kataku dalam hati.

“Maksud tanah yang silau?” tanya wanita judes heran.

“Tanah yang silau adalah dunia perkotaan. Di sana hanya ada gedung-gedung, jarang ada penghijauan. Aku beri nama denan tanah yang silau, sebagai simbol tanah yang banyak gedung pencakar langit.”

“Kau orang kota?”

“Kota besar. Aku dari Jakarta. Tadi malam aku berangkat. Dan sampai ke Cirebon pagi buta. Saat matahari terbit.”

“Kau tidak ada maksud jahat kan mendekatiku?” Curiganya mulai terlihat.

“Aku juga telah tertipu. Kau tau sendiri maksudku.”

Aku ingin berusaha mengenalinya lebih dalam lagi. Sepertinya ia punya masa silam yang suram. Ia mungkin wanita penyendiri. Terlihat ia belum bisa beradaptasi dengan orang yang baru ia kenal.

“Maafkan aku telah mencoba mendekatimu.” Aku memulai pembicaraan saat larut dalam suasana diam.

“Tidak apa-apa, seharusnya aku tidak seperti itu. Tapi kau harus janji. Kau tidak ada maksud jahat padaku!”

“Rupanya kau tak mengerti maksudku. Aku saja telah dijahatin orang. Memalsukan informasi untukku,” kataku sembari senyum menghiasi suasana yang masih keruh.

“Ya sudah, aku mengerti. Matahari telah cukup menyengat kulit. Lebih baik kita ngobrol di rumahku. Deket kok. Tuh, lihat?” Ia menunjukkan rumahnya yang memang dekat. Langkah demi langkah, kami menuju arah Barat; menghampiri rumahnya yang terlihat sederhana, tapi cukup menyejukkan hati.

“Di luar saja ngobrolnya,” kataku.

Sudah masuk saja,” ia merelakan kehadiranku. Suasana keakraban mulai terlihat. Itu yang aku harapkan. Tak ada rumput, akar pun jadi.

Aku duduk dengan lega. Tak sia-sia hadirku di sini. Apalah arti teman penipu. Kini telah menemukan wanita yang baik hati.

Wanita yang kini mulai bisa beradaptasi, membawakan minuman dan cemilan biskuit.

“Ah, aku jadi merepotkan.”

“Tidak apa-apa.”

“Aku heran sama... Boleh jujur?”

“Silahkan.”

“Kau pertama lihat begitu manis. Kau tersenyum padaku. Aku merasa, mm... aku terlalu percaya diri.”

“Hahaha...” ia tertawa riang. Aku cukup senang memandang senyumnya. Manis.
Terus, sampai aku mendekatimu. Ingin mengenalmu. Tapi, kau nampak berubah. Kau nampak angker untukku, hehe.. becanda.”

Lalu ia mulai membukakan rahasia hidupnya. Aku penasaran apa yang akan dibicarakan. Memang pembahasan ini merupakan tantangan sendiri. Sekaligus, sebagai terapi mental. Ia memberikan pengalaman-pengalaman dirinya tentang orang asing. Memang, kejadian buruk itu bukan ia yang mengalami langsung. Tapi pada adiknya, Maya. Adinya satu-satunya. Adik yang sebagai temannya di sawah. Adik yang aktif menghibur keluarga sehingga suasana selalu meriah, bahagia! Tapi, kini ia telah tiada karena penipuan. Ada dugaan, adiknya telah dijual ke luar negeri. Ya, cuma dugaan. Yang jelas, ia telah tak ada.

Aku...aku tak terima!” Matanya berkaca-kaca.

“Aku turut prihatin. Tapi, kenapa keluargamu percaya sama manusia penipu itu?”

“Kau jangan tanyakan begitu! Apa kau tak pernah lihat?! Banyak kasus seperti ini! Apakah keluarga yang tertipu itu tahu kalau akan terjadi seperti ini?!” katanya marah.

“Maafkan aku! Sekarang aku mengerti. Kenapa kau begitu angkuh melihat orang asing. Tapi, waktu itu, kenapa kau tersenyum padaku?”

Ia lalu tersenym. Aku merasakan kesejukan hatinya. Betapa tidak. Ia menangis, tapi menyempatkan senyuman untukku dan melupakan kesedihannya.

“Kenapa?”

“Idih lebay! Siapa juga yang tersenyum padamu.”

“Ih, bohong. Pasti kau tersenyum padaku!”

“Nyebelin! Gak! Gini ya, aku teringat kenangan-kenangan dulu sama adikku di sawah. Pokoknya mulai dari menanam, menyanyi, menari, makan bersama saat usai menanam, semua kumpul dalam tanah kehidupan.”

“Tanah kehijauan,” tambahanku.

Aku membayangkan, betapa bahagianya keluarga sederhana ini. Dan membayangkan betapa teganya orang yang menghilangkan kebahagiaan dengan cara jahat! Penipu itu telah menghilangkan hadir dewi kebahagiaan di keluarga ini. Betapa sedih. Aku pun merasakan hal yang sama bila itu terkadi pada keluargaku.

Aku melanjutkan kembali meminum teh yang sudah terasa dingin di lidah.

***

Cirebon, Januari 2011






Cerpen>>Lelaki Si Jubah Hitam

Tentang lelaki itu... aku menatap sayu di depan halaman saat ia lungkan waktu di kala pagi menjelang, menyiram sekumpulan taman hias khas kesukaan perempuan di halamannya. Ia adalah lelaki berumur tiga puluhan dari kabar rahasiaku. Di balik hitam jubah yang sering ia kenakan, tiap hari yang terlewati, berkisah-kisah dalam menyambut padanya. Entah teriakan ancaman atau tepukan pujian. Entah, itu kebenaran atau dalam kepalsuan pikiran. Ia tetap tegar dengan dirinya sendiri, bersama lekat erat warna hitam jubah di tubuh. Walau sampai saat kini, aku masih tak mengerti apa arti dari hitam jubah yang ia kenakan.

Aku ingin hatiku ungkapkan rasa sebagai tebaran kepedulian, yang sampai saat ini ia masih sajalah sendiri sejak perpindahan tiga tahun yang lalu, disini. Aku ingin berhari-hari meluangkan waktu dengannya, hanya untuk ungkapan kosong, atau gosip murahan atau berbait-bait tanya penasaran. lebih dari itu, aku ingin mengikat dalam satu kehidupan. Ia adalah lelaki yang sejak setahun lalu membuatku sering tak mampu nyenyak dalam peristirahatan malam. Hanya nyanyian jangkrik malam, yang mampu menghanyutkan dalam dunia mimpiku. Apalah arti dari hal itu? Mungkin cinta telah bersarang di hatiku. Tapi yang pasti, perasaan melayang, terpatri hanya untuknya... Seakan perasaan itu menginginkan ia pun hadirkan cinta untukku.

Tapi aku tak sanggup tampil, menerobos dari sekat-sekat gaib yang kini masih mengikat jiwaku di halaman rumah. Aku hanya mampu termangu dalam keadaan duduk lemah di kursi roda yang berjalan lambat. Belum lagi ketidaknormalan pikiran membuatku tersingkir dari hubungan dunia manusia. Seakan hak kita berbeda antara manusia normal dengan tak normal. Padahal aku tak gila dan tak mempunyai bakat gila. Tapi apa daya, inilah takdirku.
Tapi, sejuta warna kisah lelaki berbaju hitam tak luput dari cengkraman pikiranku. Karena aku masih punya hati yang mampu menggerakkan, berkelana di atas batas kenormalan. Hatiku berkuasa menembus batas dan menyimpannya dalam memori alam bawah sadarku. Akankah aku seorang Mama Loren sang peramal tersohor? Atau aku muridnya? Tidak. Aku hanya penikmat dari kisah yang aku peroleh. Aku tak berkisah pada orang lain. Aku juga tak mampu menguraikan selayaknya manusia normal.

Aku teringat bayangan pertama kali tentang kisah dirinya yang menembus batas sampai dipangkuan hatiku. Waktu itu aku sedang memandang dirinya dalam keadaan berdiri tegak mematung, termenung. Kisah itu tentang jiwa kesalehan dirinya. Betapa terbayang kewibawaan yang memancar terang, jauh sampai kelubuk hatiku. Entah apa yang aku rasakan setelah pencahayaan kesalehan dirinya menyelinap dikehidupanku. Yang jelas, kesedihan yang mendera terkikis oleh bayangan kesalehannya.

Ia adalah anggota masjid yang gemar mendengarkan pengajian. Ilmu agama sering ia dapatkan di tempat itu. Segala kegiatan sering ia ikuti. Sampai hatinya tergerak untuk memasuki wilayah kontemplasi berbalut jubah hitam. Ia mengikuti kegiatan yang mendekatkan pada Tuhannya. Dikatakan ia adalah pemuda masjid yang sangat taat pada Tuhannya. Berhari-hari, sampai hari terhimpun membanyak, membilang bertahun-tahun.

Lelah, payah ia rasakan. Penyendirian seakan membebani kehidupannya. Ia berontak. Tak pandang masa lalu yang sudah membinanya. Ia sedih sendiri di tiap malam saat membayang di belahan dunia lain banyak orang liar yang berhati suram, tak melihat jalan kebenaran, dan tak sadar ia tesesat dalam kehidupan. Ia tak hanya diam. Ia keluar dari sikap peribadatan pasif. Keluar mengejar belahan dunia itu yang berada pada jembatan layang dan yang lainnya.

Sempat ia menoleh pandang pada diriku. Ia pun tersenyum memancar. Seakan ia mengetahui keajaiban apa yang sedang aku peroleh. Tapi aku tetap diam membisu di halaman depan, di kursi roda yang membantuku.

Aku lelah mematung membayang keajaiban. Lalu Ibuku membawa masuk.

“Ayo, masuk. Masuk ya, sayang? Lihat, semua pepohonan melambaikan salam perpisahan”.

Pandangan terus mengalir di saat kuterhanyut dalam mimpi. Kisahnya terus berlayar pada dunia yang berbeda. Limpahkan kegiatan pada sekumpulan manusia liar yang berada dibelahan kehidupan. Ia seperti mendapati dunia yang berbeda. Dunia anak masjid berbanding dengan dunia anak liar.

Lalu ia melebur merasakan apa yang mereka rasakan. Mereka bercelana jeans dan memakai kaos, dia pun sama―tapi tetap berwarna hitam. Mereka bermain kartu, ia pun lebih pandai dari mereka. Mereka minum minuman syaitan ia pun menenggak sebotol minuman keras. Di saat mulai menyatu, ia pun menyelipkan bait indah syair kehidupan, yang berkilau mutiara ketuhanan. Menggugah syair itu, mereka terhanyut, dan mereka merasakan kehidupan yang dilakukan itu sia-sia. Lalu mereka bersyair bersama.

Ada yang murka. Tetua tak menginginkan perubahan terjadi. Lihat saja manusia liar yang hidup di bawah jembatan layang dengan gaya Punk, juga manusia liar yang hidup di keramaian terminal, mereka sudah terkuras hamper habis olehnya. Terbawa arus peraturan kehidupan. Tetua pun semakin sulit mendapatkan keramaian keliaran.

“Hei! Manusia bodoh! Kau jangan sok menjadi pahlawan! Kau telah melenyapkan keramaian tempat ini!”

“Bukankah dunia pada akhirnya kembali membutuhkan cahaya?”

“Ahhh biadab, ia memukul”.

Lalu dilanjutkan teman-temannya dalam usaha menghabisi nyawanya. Untung ia segera lari di saat ada celah untuk kabur.

Pagi datang. Pun, aku kembali memandang di depan halaman. Terlihat, ia sedang melihat bayang-bayang

Tiba-tiba aku gemetar. Oh tidak. Aku goyang-goyang badan. Berguman tapi tak dalam kejelasan.

“Ada apa, Nak?” Ibuku memanggil-manggil.

Pergi! Pergi dari dunia liar itu. Kembali ia pada kontinuitas kegiatan spiritual. Ia sempat abaikan kegiatan itu karena tak mau berjalan sendiri menuju kebaikan. Tapi dunia liar tetap lah liar. Ia hanya memberikan sekedar syair peringatan saja.

Andai ibuku tahu. Kini aku sedang membayang dalam kegelisahan. Aku ingat tentang kisahnya dulu. Aku tak akan lupa. Tidak! Aku tidak akan mengingat ini lagi. Tapi, pandangan Lelaki itu membuat diriku menarik kembali kisahnya dalam ingatanku. Tak membiarkan kisahnya terlepas dari ingatanku.

“Hua, hua, hua...,” aku meronta-ronta tak jelas.

“Nak, kenapa kamu, Nak?” Kamu lelah memandang dunia luar ya? Tapi biarlah kau menikmati seperti manusia normal lainnya”.

Kisahnya semakin membuatku tak tahan dalam kebisuan. Tak tahan. Benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Kisah itu semakin berbau sara.

“Ada apa di masjid kita?” Tanya Lelaki itu.

“Agama lain menyerang kita!”

Ia tak puas dengan jawaban itu. Ia beralih pandang. Ia lalui waktu dalam pencarian kebenaran. Ia mendapatkan jawaban dari agama lain yang ditunjuk.

“Kenapa selalu kekerasan yang ditonjolkan? Agama itu menyerang kita!”

“Agama-agama itu dari satu kekuasaan! Agama-agama itu dari satu zat! Tapi kini berpencar bermusuh-musuhan. Seolah kehilangan bimbingan dari pemiliknya. Aku harus menjadi kesatuan dari mereka!” Lelaki itu semakin berkobar dengan jubah hitamnya yang seakan berubah angker ketika melihat keadaan ini.

“Kesal sama lelaki itu! Aku marah sama lelaki itu!” amarahku.

Seakan ritual keagamaan buyar. Ia tak lagi dalam satu pendekatan diri pada Tuhannya. Tak lagi dalam satu keyakinannya. Ia relakan peribadatan untuk kesemuanya, untuk agama-agama.

“Aku tak mengagumi dia lagi!”

Setiap hari ia luangkan waktu untuk salat. Salat jum’at pun ia lakukan dengan khidmat. Menjelang hari Minggu, ia sempatkan waktu beribadat dalam khusyu di gereja. Tak lupa ia hadirkan raga, menyembah pada agama lain dengan penuh keyakinan hati. Semua peribadatan ia lakukan. Menurutnya benar. Kebenaran adalah menurut sudut pandang seorang yang memandang. Ia beranggapan berdasarkan pada kesatuan wujud. Semua berasal dari Tuhan.

Bukanlah masalah semakin mereda. Masalah tetaplah meradang. Telunjuk manusia-manusia mengarah pada lelaki itu. Lelaki itu sudah dikenal dengan permainan keyakinannya, tapi tetap mengenakan jubah hitam dengan penuh konsisten.

“Munafik! Kau Salat, tapi kau juga ibadah di gereja!”

Lalu datang lagi ke tempat lain.

“Dasar orang plin-plan! Aku tak butuh hadirmu dalam peribadatan ini!”

Perlakukan sama. Lalu pergi lagi ke tempat lain.

“Pergi! Agama kau kosong. Kosongmu blong (sangat)!”

Perlakukan masih lama.

Mengerikan. Lalu ia diusir dari pemukiman yang biasa ia tinggal. Ia pergi dengan penuh sendu. Tak ada sikap baik yang diberikan. Padahal ia bukanlah elit politik yang banyak bermain penghasutan, adu domba, umbar janji. Ia hanya seorang hamba yang mencari kedekatan pada Tuhannya.

Merasa tak dianggap hadirnya. Bahkan diusir. Ia pindah ketempat ini dalam lepaskan semua agama yang melekat. Walau hakikatnya tak ada yang lepas dari agama. Ia pun bermain dalam budaya masyarakat. Budaya yang katanya tak ada atau tak bisa diselipi dengan unsur keagamaan. Bahkan agama hanya mengikuti, mengarahkan budaya. Bagi budaya yang terkuasai agama, lenyap sudah kegiatan kebudayaan. Tapi entah lah, apakah benar atau tidak. Yang jelas banyak tubuh yang telanjang, melepas kain keagamaan dan bergoyang dalam melestarikan budaya.

“Ah… Aku malas mengingat-ingat tentang hal budaya”.

Ia lepaskan semua atribut keagamaan tanpa melepas kain hitam yang selalu melekat di tubuh kurus itu. Ia lepaskan dan kembali hanya pada hati. Ia tak perlu lagi simbol-simbol kegiatan peribadatan. Ia hanya manusia yang mencari kedekatan lewat jalur kesalehan hati.

Lelaki itu. Tetap berdiri dalam cobaan kehidupannya. Aku siap menjadi penyanggahnya di kala ia lemas tak berdaya dalam berdiri mengatasi cobaan. Tapi kulihat tak ada goncangan jiwa sama sekali. Hanya ketenangan berkelas wali yang selalu ia tunjukkan. Sampai aku tak sanggup menembus rahasia terdalam pada dirinya. Padahal lebih mendalam, lebih mengetahui hakekat hidupnya.

Tapi melihat dengan kaca mata awam, ia bukanlah seorang wali. Atau ia hanya seorang asketis yang salah arah? Sesat. Atau seorang yang berusaha melepas bentuk kehitaman hati yang selalu saja melekat di dalamnya. Entah lah, yang jelas ia sudah tinggal lama di daerah ini. Sampai kuterhanyut memperhatikan dirinya setiap hari.

“Aaah...,” dia melihatku, tersenyum padaku.

“Nak, ada apa? Ya sudah, kita masuk dulu Ya?”

“Ibu... Ibu... lelaki itu penuh rahasia, Bu... Ibu... aku ingin sekali tanya, kenapa ia selalu saja memakai pakaian hitam, Ibu...?”

***

Cirebon, 2010

Monday, August 8, 2011

Cerpen-Seringan Nama, Seribu Pembahasan

“Hei apa kabar? Sama siapa kau?”

“Baik. Sendirian. Kau sendiri?” jawabku padanya sembari tanya.

“Sama Mama.”

Tak aku sangka, hari Minggu mempertemukan aku dengan cewe kutu buku.

Aku tetap dalam diam. Sembari mengingat tentang dirinya. Ia adalah kenalan baruku. Mmm… teman baruku, maksudnya. Aku dan dirinya satu kampus yang berada di Cirebon. Tapi kita berbeda jurusan. Aku jurusan IPS dan ia jurusan bahasa Inggris. Kita sama-sama semester satu. Baru masuk kuliah, tentunya.

Mau beli apa, Heri? Tanya cewe yang berwajah Indonesia, berambut lurus panjang dan sedikit kemerah-merahan akibat cat warna rambut.

Aku merasakan sentuhan pengakuan darinya. Ia lekat erat pada nama diriku. Tapi hatiku merasa tertusuk akibat ia menyebut namaku. Aku tak enak sendiri. Kenapa tidak? Aku tak ingat siapa namanya. Entah karena namanya begitu sulit atau karena aku mengabaikan namanya.

“Ah, biasa saja. aku hanya baca buku,” kataku sembari bulu kuduk terasa berdiri.

“Ow… sepertinya kau penggemar buku Psikologi,” cewe itu melihat-lihat judul buku yang sedang dibaca olehku.

“Ya, seperti kebanyakan temanku berkata demikian.”

“Benarkah? Tanya cewe yang masih tak diketahui namanya.

“Ya,” ujarku.

“Memang kita punya kegemaran yang sama. Kita sama-sama menyukai membaca. Mau kah setelah ini kita saling tukar pikiran? Kau terlihat mahasiswa yang pandai. Aku butuh orang sepertimu”.

“Ah, kau terlalu memvonis diriku pandai,” aku tetap dalam keadaan membaca buku.

“Ya sudah. Mau kah?” cewe itu memandangku seakan mengiba.

“E, e, ya, mau, mau lah. Kapan?”

“Satu jam lagi. Boleh kah? Kita baca buku sebentar. Kebetulan aku mau beli buku”.

“Baiklah.”

“Oh ya, aku belum punya nomer HP-mu. Berapa?”

Aku menyebut nomer HP-ku. Ia pun mentranfer nomernya. Dengan segera, ia langsung pergi tanpa menyebut namanya.

Betapa cewe itu pancarkan aura pengakuan. Ia begitu tulus mengakui hubungan ini. Ia terlihat tunjukkan pandangan keakraban. Tapi melihat keadaan diriku, semakin ia terus tunjukkan wajah keakraban, semakin berat aku menanyakan ulang nama dirinya. Seakan ada sesuatu yang menyumbat di dalam kerongkonganku.

Aku berpisah dengannya untuk sementara. Aku tetap di tempat ini. berada pada rak buku bagian Psikologi Perkembangan. Sedangkan cewe itu menuju rak buku bagian kuliner. Aku kembali dalam niat membaca buku.

Aku cari-cari buku yang menarik. Lama aku mencari-cari, akhirnya aku menemukan buku yang menarik. Buku itu rupanya kiat untuk membentuk pikiran dan jiwa agar bersikap besar. Aku buka buku itu. Kebetulan buku itu ada yang terbuka pembungkus plastiknya. Aku lihat-lihat daftar isinya. Saat membaca di bagian tiga, aku menelan ludah. Aku tak menyangka, di sini dijelaskan betapa penting menyingat nama. Mengingat nama salah satu untuk mempermudah mendapat teman. Mengingat nama adalah awal untuk membentuk persahabatan yang baik. Mengingat nama yang terlihat sepele, tapi itu cukup memiliki peran penting pada dunia pergaulan.

Membaca buku itu, perasaanku semakin tidak enak sama cewe itu. Ia mengingat namaku tapi aku tidak mengingatnya. Apakah nanti aku harus menanyakan kembali? Penjelasan buku itu mungkin hanya pada budaya Barat. Bukunya terlihat terjemahan dari bahasa Inggris. Atau, pembahasan itu juga berlaku untuk di Indonesia? “Ah, lupakan Heri, lupakan,” kataku membatin.

Hampir satu jam aku asik membaca buku di rak buku bagian Psikologi Perkembangan. Tepatnya pukul 11.10.

Tulililt, tulililit, tulililit. SMS datang.

Aku ambil ponsel dari kantong celana jeans. Rupanya dari cewe itu.

“Hei. Kau masih ingat??? Buruan dong kau ke bagian buku computer.”

Aku pun segera membalas. Dari nomer yang belum tercatat namanya.

“Masih. Baiklah, aku kesitu.”

Mataku melihat ke arah cewe itu. Aku segera ke bagian buku komputer yang diperintahkannya. Langkah demi langkah hatiku makin terbebani keadaan diriku yang lupa mengingat nama. Aku terasa gugup. Muka seakan pucat. Akhirnya dua raga sudah saling mendekat. Aku pandang mata cewe itu, ia pun memandang diriku.

Saat aku memandangnya, seakan-akan teringat tentang nama cewe itu. Tapi ingatanku kembali lumpuh. “Huh, sial.”

Aku memandangnya penuh rasa penyesalan. Kenapa aku tidak fokus mendengarkannya sewaktu menyebut nama. Sekarang aku hanya menunduk pasrah. Pasrah melihat sikap akhir cewe nanti. Apakah nanti ia tersinggung atau memaklumi kealpaanku.

“Hei, Her. Mau kah sekarng kita ke kafe? Kita ngobrol di sana.”

“Bo, boleh,” kataku gugup.

Bersamanya, aku melangkah menuju pintu keluar toko buku. Aku berjalan dengan santai. Kita Belum ada pembicaraan. Masih dalam perenungan tentang apa-apa yang mau dibicarakan nanti. Mungkin saja. Tapi yang aku rasakan memang demikian. Aku belum terbiasa diajak berdiskusi berdua dengan cewe. Semoga ia urungkan niat untuk berdiskusi. “Ah, masa iya, kita ngelakuin diskusi doang,” kataku dalam hati menepis kehawatiran.

Kami belok ke kiri dari pintu keluar toko buku. Kami lanjutkan dengan menaiki tangga. kafe itu terletak di lantai tiga supermarket. Kafe terihat biasa-biasa saja. tidak ada nyanyian yang mendampingi pengunjung.

Aku pasrahkan pada cewe itu saja. “Ahhh… aku hampir mengingat namanya. Ternyata kembali lumpuh ingatanku. Aduh.”

“Apakah kita cuma berdiskusi?” aku bertanya dengan posisi yang masih berdiri.

“Ya, mungkin saja. Aku lebih fokus untuk itu. Aku mau waktuku tak terbuang sia-sia. Aku harap kau jangan mengecewakanku. Silahkan duduk, Her,” ia duduk sembari menawarkan aku duduk.

“Terimakasih. Oh ya, kau nampak begitu akrab denganku. Padahal kita belum lama ber-hubungan.”

“Ah, sudahlah. Aku sudah terbiasa. Kau pantas diberi penghargaan sebuah keakraban, bukan? Dan aku pun membutuhkan keakraban. Terlebih pada cowo yang suka membaca. Kau mau minum apa?”

“Terserah kau,” aku masih termangu. Kata apa yang harus aku ucapkan nanti? Mungkin mulutku kikuk sewaktu berdiskusi.

“Pelayan.” Ia memanggil pelayan. Lalu pelayan pun menghampiri.

“Mau pesan apa?” Kata pelayan.

“Es Teh botol 2,” ia memesan minuman.

“Baik. Segera saya antar.”

Aku hanya menelan ludah sewaktu cewe itu memberikan penjelasan tentang keakraban dan menawarkan minuman untukku.

Ampun. Kenapa aku masih saja lupa? Apa pun perubahan sikap darinya, aku harus menerima. Yang jelas, sekarang aku tak akan tunjukkan wajah yang terasa pucat, dan perasaan yang gugup. Aku harus seperti dirinya. Aku tunjukkan wajah keakraban. Itu lebih baik dari pada menekuk-nekuk wajahku.

Tak lama kemudian pelayan kafe pun datang. Menyuguhkan dua minuman teh botol. Lantas kami meminumnya.

“Oh, kau pasti menemukan bacaan yang menarik, bukan?” Kata cewe yang terlupakan identitas pentingnya olehku.

“Lumayan. Yang pastinya, setiap kali membaca buku, aku menemukan kata-kata yang menarik, menggugah, dan lumayan untuk referensi pembicaraan.”

“Waw. Kau sangat ilmiah gaya berpikiranmu. Kata-kata untuk referensi pembicaraan, hmm….”

“Kau?”

“Aku menemukan buku microsoft word untuk mengatur pembuatan buku yang akan dipublikasikan. Ya, aku hobi menulis. Jadi aku perlu buku itu untuk dibaca. Dan aku pun membeli buku itu,” cewe itu berkata sembari mengemil kacang tanah yang tersedia di meja.

Aku menyedot es teh botol, “Kau hebat sekali.”

“Lumayan lah. Sebagai bukti kalau aku punya kemampuan. Kau sendiri?”

Aku menelan ludah. Aku termenung. Aku terjebak dengan perkataanku sendiri. Seharusnya aku tidak menjawab, kalau aku menemukan sebuah bacaan yang menarik. Pembahasan yang menarik, yang berkesan adalah tentang arti sebuah nama. Sungguh, aku terjebak dengan perkataanku sendiri. Apa jadinya nanti, bila aku sebut pembahasan itu padanya? Aku hawatir ia membahas tentang sikap negatif bagi seorang yang tak mementingkan nama.

“Kenapa harus bingung? Aku bisa mengatasinya. Aku sembunyikan pembahasan itu. Oh, tidak! Aku jangan menyembunyikan. Kapan aku tahu namanya kalau tak memanfaatkan kesempatan ini? Aku sudah tak tahan ingin bertanya. Aku harus siap tanggapan darinya,” kataku membatin.

“Hei, sudah menemukan? Sedari tadi kau melamun. Tapi aku menghormatimu. Mungkin kau sedang mengingat-ingat yang sudah terbaca.”

“Oh, ya, aku baru ingat. Aku menemukan pembahasan tentang arti penting nama. Ya, itu, hehehe…itu yang aku temukan. Maaf, aku, aku baru ingat.”

“Kau nampak gugup. Kenapa?”

“Aku hanya mengangkat kedua bahu.”

“Pembahasan arti penting nama. Bukankah ada pernyataan “Apalah arti sebuah nama”. Tapi kau malah menyebut nama sebagai suatu yang penting.”

Suasana semakin menyudutkanku. Pembahasan ini membuatku membuka keadaan hati yang sebenarnya.

Dengan data yang sedikit lupa, aku pun menjelaskan.

“Maksudku…bila berkenalan dengan seseorang, kita harus mengingat-ingat siapa namanya. Bila kita tetap mengingat, terkesan kita serius dalam hubungan. Bila kita lupa dengan nama orang yang baru kita kenal, terkesan memiliki rasa tidak serius dalam hubungan. Artinya, kita tidak memandang penting orang lain.

“Kau perlu tahu. Manusia memiliki nama, hewan memiliki nama, kafe ini memiliki nama, mal ini memiliki nama, daerah ini memiliki nama, negara ini memiliki nama, dan semuanya memiliki nama. Nama memang sepele, terlihat ringan, tapi pembahasan tentang nama bisa sangat diunggulkan dan membutuhkan banyak pembahasan.

“Kita sering melihat nama warung makan yang tak indah dibaca. Kita merasa risih bila nama kita disebut dengan ejaan yang salah. Banyak pula perusahaan-perusahaan laris manis produknya hanya karena nama. Kira-kira begitu. Aku sedikit lupa.”

“Begitukah? Sungguh menarik pembahasan ini. Dulu aku pernah punya kenalan. Namanya Nela. Belum sempat akrab. Kami pun berpisah. Suatu hari, aku bertemu kembali. Lantas, aku lupa nama dirinya. Aku menanyakan ulang padanya dengan berat hati ‘Aku lupa nama kamu. Siapa ya?’. Dan ia menjawab ‘Tega banget sih gak kenal. Aku pun masih ingat namamu’. Lantas, Nela menunjukkan wajah yang terlihat sedih, atau lebih mirip seperti tersinggung. Aku merasa tidak enak sama Nela,” ia membahas panjang lebar.

Aku khusyu mendengarkan keluh kesahnya. Aku semakin merasa bersalah. Ia memiliki keadaan yang sama dengan diriku. Ia sudah mengalami ketidakenakkan karena lupa atas nama kenalan barunya.

“Tentunya kau tidak enak. Oh ya, aku ingin membicarakan sesuatu yang sedari tadi aku menyimpannya. Kita tunda dulu membahas arti penting nama. Aku benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Setelah aku bicara, aku pasrah saja apa yang akan kau lakukan.”

“Kau seperti katak dalam tempurung saja,” kata cewe itu terang-terangan mengejekku.

“Ya udah, terserah kau berkata apa.”

“Silahkan bicara, Heri.”

“Begini. Aku ingat pertama kali kita berkenalan. Waktu itu kita bertemu diperpustakaan. Kau meminta SMS. Haha... lucu. Kau mungkin masih ingat?”

“Aku sangat mengingat kelucuanku. Lalu, kau juga nampak begitu gugup waktu diajak berdiskusi denganku.”

“Tapi sekarang tidak,” aku sedikit menyembunyikannya.

Aku melanjutkan penjelasan. Mengenai aku dan cewe itu, pertama saling menyebut nama. Aku menyebut namaku, ia pun menyebut nama dirinya. Tapi waktu itu aku tidak begitu fokus mendengarkan saat cewe itu menyebut nama. Nama yang sulit diingat atau nama yang terabaikan olehku. Intinya benar-benar tak terbekas.

Lalu aku hanyut berbicara tentang diri kita. Menyebut tentang daerah asal kita, menyebut jurusan yang kita pilih, dan menyebut yang lainnya. Dan pada akhirnya kita saling mengetahui tentang sesuatu yang disukai. Ternyata kita memiliki kesukaan yang sama, yaitu dalam hal membaca buku dan berdiskusi.

Lalu kita berpisah, tepat pada waktu jam istirahat perpustakaan. Dan seiring perpisahan itu, lenyap sudah tentang nama cewe itu. Aku benar-benar tak mempunyai bayangan tentang nama. Wajah pun samar-samar ingat. Setiap bertemu dengan cewe yang kini sedang di depanku, aku hanya menyapa dan menyambut dengan senyuman. Obrolan pun baru dua kali bersama dirinya. Aku tidak enak menanyakan ulang nama di saat hubungan terlihat cukup dekat.

“Aku melupakan namamu,”

“Ow, ow, ow. Itu kah masalahmu? Kau benar-benar berpikir di dalam kotak.”

“Apa maksudmu? Tanyaku sembari otot mata sedikit menegang.

“Berpikir di dalam kotak alias katak dalam tempurung. Kau punya masalah tapi tidak terbuka masalahmu. Jadi, mata melihatmu seolah-olah baik-baik saja. Tapi kau memendam segudang permasalahan. Dan permasalahan itu tak sanggup kau ungkapkan.”

“Terserah kau berkata begitu.”

“Memang kenyataannya demikian. Kau tidak mengungkapkan sedari tadi, kalau kau lupa namaku. Apakah harus aku berkata, ‘Oh, Heri kau begitu terbuka tentang dirimu’. Aku yang aneh kalau begitu. Aku kasih tahu sekali lagi, namaku Syaima Wardani atau di panggil Sema”.

“Kau sepertinya marah sama aku. Maafkan aku. Aku benar-benar tak bermaksud melupakan namamu. Aku memang terganggu dalam hal ingatan. Tolong mengerti.”

Kau ini. Kenapa mesti marah? Tadi aku sudah bilang tentang pengalamanku dalam lupa nama. Cuma aku menyesal, kebersamaan di sini terhalang oleh keluh kesah dirimu. Sebarusnya kau berkata hal begini, nanti belakangan.

“Mari kita lanjutkan kembali.”

“Aku sudah tak memiliki keinginan berdiskusi.”

“Tapi, tadi keluh kesahku cuma sebentar.”

“Tapi keluh kesahmu, yang menjadi beban dirimu, kini sudah menjadi beban untukku. Kau menganggap aku ini apa? Sampai kau tidak enak mengatakan ulang siapa nama diriku. Kau anggap apa?”

“Aku anggap sahabat yang aku hormati. Kau pun tadi sedikit cerita tentang masalahmu. Kau hebat, berdiskusi dengan gaya cerita”. kataku yang sedikit memuji cewe itu, yang sebenarnya bernama Syaima Wardani.

Ia Hanya tersenyum mengambang menanggapi ucapanku.

***


Cirebon, 2010

Cerpen_Ada Apa Dengan Tradisi?

Gemuruh suara dari segala umur. Semua berkumpul dalam dalam acara ngerujaki (acara selamatan tujuh bulanan seorang bayi dalam kandungan). Bercampur pula dalam satu suara, mendendangkan syair Hujan Rejeki, “Bitawur. Selamet dawa umur. Umure pirang taun. Nyai-nyai dawa umur”. Sebuah syair sederhana yang bernuansa pengharapan rejeki, bernuansa doa, dan bernuansa tradisi. Melangkapi kemeriahan. Memang lagu Hujan Rejeki sudah menjadi ciri khas dalam menunggu tuan rumah melemparkan kepingan-kepingan uang logam.

Keramaian mulai terlihat. Putri Kiyai Mansyur telah usai dimandikan dengan air bunga. Airnya bercampur dari tujuh sumur pilihan dengan dicampuri bunga tujuh rupa. Lemparan demi lemparan uang logam pun terus menyerang, menyebar ke di sekumpulan orang. Orang-orang berebutan. Lantunan syair salawat dari ibu-ibu yang berada di dalam rumah tetap mengiringi kemeriahannya.

Tak lama, waktu membagi kegiatan. Waktunya azan berkumandang. Hari Jum’at. Para lelaki pun bergegas pergi ke masjid. Sendiri atau bersama-sama. Tak lupa, Kiai Mansyur bersama satu anak lelakinya yang masih kecil pun pergi ke masjid. Melewati jalan. Jalan yang berkelok tak beraturan.

Sampai akhirnya melihat bangunan masjid yang terlihat sederhana. Berumur tua. Berpondasi kayu jati. Terhalangi pagar-pagar kayu ukir, sebagai pembatas dari halaman luar. Tak ada tembok yang menutupi. Terlihat terbuka. Hanya ruangan bagian dalam yang tertutup tembok.

“Abah, Ical ingin salat di dekat kolam itu Ayah.”

“Jangan di situ. Berisik, Ihsan.”

“Tapi aku suka Abaaah.”

Kiai Mansyur pun menuruti kemauan anaknya. Beliau dan anaknya menuju ke arah utara masjid. Kiai Manysur dan anaknya menatap erat pada keramaian di sekitar kolam, tempat pengambilan air wudu---mengingat mengambil air wudu dengan cara tangan mencelup ke dalam air kolam. Lalu, mereka berdua duduk bersama, tak terpisahkan.

Azan kedua berkumandang. Sang khatib (juru dakwah) memulai berceramah. Tak lama, sekitar seperempat jam, ceramah selesai. Salat pun dimulai.

Berhamburan. Banyak anak-anak kecil, gadis-gadis dan para ibu mengelilingi kolam itu. Bersiap-siap untuk pengambilan air, dan mandi.

Sang Iman lantas membaca ayat suci. Ayat demi ayat dilantunkannya. Sampai pada ucapan ayat terakhir, serentak para jama’ah mengucapkan, “Aamiiiiin.”

Semua orang yang berkumpul di dekat kolam air ikut meramaikan, mengalahkan gemuruh suara para jama’ah. Mereka mandi, dengan hati seakan tak peduli. Suara-suara gemercikkan air yang menyatu terdengar gaduh seakan bagai kuda-kuda yang berlarian di atas tanah yang berair.

Kiai Mansyur terusik. Anaknya pun bermain pandang dengan mereka. Anaknya cekikikan melihat orang yang sedang mandi bersama.

Mata mereka seakan tak melihat, kalau ada orang salat yang terganggu. Mereka beralasan, mandi di saat kata “Amin” diucapkan seakan mudah mendapat berkah. Suatu keyakinan yang terlihat sudah menguat. Telah berlangsung puluhan tahun. Entah, siapa yang mencetus kegiatan ini. Tradisi “Mandi Jum’at” memang telah menjadi kebutuhan. Tidak lupa, mereka pun mengambil bekas air wudu untuk pencarian berkah dengan kegunaan yang bermacam-macam.

Mandi Jum’at sudah menjadi hal yang dianggap biasa. Toh, yang mandi bukan kaum lelaki. Sehingga para tokoh masyarakat sepertinya tak mempermasalahkan hal itu. Tapi, seakan tidak untuk Kiai Mansyur. Semenjak melihat anaknya ikut terhanyut dalam Mandi Jum’at, ia menunjukkan ketidaksetujuan tentang kegiatan itu.

“Apa mereka tidak melihat di sampingnya ada orang salat? lirihnya. Beliau diam sesaat.

“Kenapa kau tertawa waktu salat, San?” beliau melanjutkan kembali.

“Lucu Ayah. Ada teman SD Ical yang lagi mandi, hihihi.”

Kiai Mansyur hanya terdiam. Kening terlihat mengkerut. Pandangan mata sedikit merunduk. sorot matanya sedikit tajam. Ada sesuatu yang dipikirkan. Beliau terlihat tak lagi setuju dengan kegiatan Mandi Jum’at itu.

***


“Dulu saya paling suka bila mendapat air dari kolam masjid. Kakak saya yang membawakan air itu. Kata orang tua bila minum air itu, diharapkan menjadi orang yang pinter-bener, dan padang atine (cerah/bercahaya hatinya). Tapi sekarang saya tidak setuju bila kegiatan itu terus-menerus ada. Bukan masalah membenci tradisi. Tapi mengganggu itu loh,” perkataan Pak Mansyur dihadapan istrinya sembari rebahan dalam sofa.

“Terus apa yang akan dilakukan, Pak? Apakah Bapak akan sendirian menghilangkan kegiatan Mandi Jum’at tersebut? Bapak seperti satu melawan seribu. Dan seribu itu berisi ratusan ribu kekuatan keyakinan. Urungkan niat Bapak itu,” kata Ibu Fatimah menanggapi perkataan suaminya.

“Nanti saya akan berbicara dengan Pak Umar seusai salat Asar.”

Istrinya hanya memandang lesu. Ibu Fatimah sangat mengetahui, kalau waktu kecil suaminya gemar sekali meminum air dari kolam---di sebutnya Air Jum’at---yang diambil bertepatan dengan salat Jum’at. Karena memang, suaminya masih bersaudaraan dengannya. Anak dari buyut yang sama---dan sering bermain bersama. Ibu Fatimah pun tahu, Kiai Mansyur pernah menangis gara-gara tidak ada seorang pun yang mengambil Air Jum’at itu.

“Bapak ini aneh. Seperti melupakan kehidupan dahulu. Kita hidup terikat dengan sejarah, Pak. Bapak lupa?”

“Saya mengerti. Tapi ini bukan masalah kenangan dahulu. Ini hanya membahas perlu perbaikan tentang tradisi?”

Tapi kenapa sampai memarahi anakmu. Dia sama persis sewaktu Bapak kecil. Dia masih kecil, belum mengerti. Maklum saja ia tergoda. Tertawa-tawa melihat kegiatan Mandi Jum’at. Apa lagi ada temannya yang melakukan.

“Sudah! Itu hanya emosi saya. Tetap saya ingin membahas masalah ini nanti.”

“Ya sudah, terserah Bapak. Tapi jangan seenaknya sendiri. Kebiasaan Bapak yang selalu seenaknya sendiri, jangan ikut campur dalam pembahasan tradisi Mandi Jum’at.”

“Lihat saja nanti.”

***

Azan dikumandangkan. Dilanjutkan dengan tembang pujian ketuhanan untuk menunggu para jama’ah datang. Terlihat Kiai Umar melakukan salat sunat dengan khusyu. Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan salat Asar.

Waktu akhirnya memberikan kesempatan untuk Kiai Mansyur berbicara secara santai kepada Kiai Umar---mengingat Kiai Umar adalah teman Kiai Mansyur---sama-sama berumur lima puluhan. Kiayi Umar pun menyambut dengan nuansa keakraban.

“Tentang masalah Mandi Jum’at,” Kiai Mansyur menjelaskan dengan gaya yang terlihat santai.

“Lalu?” Kiai Umar menanyakan.

“Perlu dihilangkan atau diperbaiki. Itu mengganggu orang salat,Pak.”

“Walau terlihat kecil, sekedar mandi, tapi cukup kuat keyakinan dalam diri masyarakat yang melakukannya.”

Kiai Umar menjelaskan kalau kita jangan terbiasa menyingkir suatu tradisi yang memang sudah melekat erat. Apalagi tradisi Mandi Jum’at telah dibaluti dengan nuansa keyakinan keagamaan. Khawatir akan membuat luka. Berakibat timbul suatu kebencian terhadap masjid, lebih parah pada agamanya. Otomatis tradisi lokal pun akan terkikis habis. Terkikisnya tradisi lokal, berakibat terkikis tradisi nusantara.

Memang Mandi Jum’at dahulunya tidak ada, katanya. Hanya sekedar pengambilan air tepat di hari Jum’at. Karena memang bekas air wudu---apalagi bekas wudunya orang-orang saleh---banyak manfaatnya. Tapi kini, hari Jum’at bukan saja pengambilan air wudu tapi juga melakukan mandi, tepat di saat “amin” dari para jama’ah diucapkan.

“Saya tahu. Tapi itu sangat menggangu. Lebih parah, mengganggu orang salat. Sampai anak saya tertawa-tawa dan melalaikan ketenangan salat.”

“Lebih baik kita panggil teman-teman kita. Pak Nasir, Pak Haris, dan Pak Syifa. Itu saja.”

“Buat apa?”

“Lihat saja nanti.”

Lalu Kiai Umar menyuruh salah satu penjaga masjid untuk memanggil ketiga orang itu.

Kiai Nasir yang ahli dalam ilmu falak (perbintangan). Pernah diceritakan beliau mampu memperkirakan kapan lampu rumahnya akan pecah. Kiai Haris sebagai orang yang ahli dalam ilmu kebatinan, mampu melihat sesuatu yang gaib. Kiai Lukman sama halnya dengan Kiai Umar dan Kiai Mansyur yang hanya sebagai pembimbing spiritual.

Masjid terlihat lengang. Hanya ada seorang penjaga masjid. Suasana di luar nampak berwarna gelap. Terlihat para santri berlalu lalang, sehabis bermain atau akan akan bermain.

Tak lama, satu per satu mereka datang. Mereka sedang tak mempunyai acara. Memang hari Jum’at adalah hari istirahat mereka. Lalu mereka duduk dengan santai. Mereka berlima duduk bersama di ruangan bagian dalam yang terhalangi dinding.

Kita perlu membahas tentang masalah Mandi Jum’at. Ini usulan datang dari Pak Mansyur.

“Sangat setuju, Pak. Lagi pula, tradisi ini sudah menyimpang. Menyimpang bukan karena suatu yang menyesatkan. Tapi ini sudah mengganggu kegiatan salat,” tanggapan setuju diucapkan oleh Kiai Haris.

“Apakah, tidak ada pembahasan lain yang lebih penting? Kenapa mesti Mandi Jum’at yang kita bahas?” Sambut tidak setuju dari Pak Lukman.

Lebih baik, ada perubahan waktu. Lagi pula dahulu tak ada Mandi Jum’at. Dulu hanya sekedar mengambil air di hari Jum’at. Ya, perlu perubahan waktu agar suara gemercik orang-orang mandi tidak mengganggu para jama’ah. Tapi itu juga menyulitkan,” tanggapan yang terlihat demokrat terucapkan dari mulut Kiai Nasir.

Kiyai umar termenung. Seakan masih memikirkan solusi terbaik.

“Saya setuju pendapat dari Pak Haris dan juga Pak Nasir. Menurut Pak Lukman, apa yang penting untuk dibahas? Perkara yang mengganggu ketenangan salat harus segera diselesaikan,” kata Kiai Mansyur.

Kiai Lukman pun mengomentari perkataan Kiai Mansyur. Begitu banyak tradisi-tradisi leluhur yang dianggap sakral, bahkan diakui pemerintah sebagai suatu kekayaan tradisi Indonesia. Lantas sekarang dijauhkan kehadirannya. Banyak yang enggan mempertahankan tradisi tersebut. Mereka menilai sudah terlalu kuno. Lantas para pemuda sekarang beralih pandang pada tradisi kebarat-baratan atau weternisasi. Padahal kita wajib memelihara tradisi bangsa kita.

“Kalau masalah tradisi Mandi Jum’at, saya kira, itu hal yang sepele. Ada atau tidak ada tak dilihat pemerintah.”

“Pak Lukman dan Pak Mansyur mohon berhenti sebentar. Pak Haris diberikan kesempatan untuk berbicara. Bergiliran. Itu mencirikan sikap demokratis.

“Baik,” kata Pak Mansyur.

Kiai Haris pun menjelaskan dengan kaca mata gaibnya. Ia menerka-nerka dengan batinnya di suasana ramai kegiatan Mandi Jum’at. Sebelumnya beliau sudah melihat hasilnya. Hasil yang dahulu dengan yang sekarang itu sama. Ada energi negatif yang menyelimuti kolam tersebut seiring berkumpulnya sampai melakukan kegiatan mandi.

“Tapi saya tak tahu, apakah itu energi mahluk halus atau dari manusia sendiri. Saya sulit menerka, karena bersamaan juga dengan kegiatan salat,” kata terakhir dari Kiai Haris.

“Silahkan Pak Lukman.” Kata Kiai Haris.

“Tidak perlu saya lah.”

“Ya Sudah.”

Kini giliran Kiai Nasir berkomentar. Sebelumnya Beliau menerka-nerka. Seakan imajinasinya adalah rangkaian matamatis yang bersifat gaib. Ia ingin menangkap suatu perkiraan bagaimana dampak dari pergeseran waktu Mandi Jum’at.

“Tak bisa dirubah waktunya. Percuma. Kecuali dihilangkan. Tapi itu juga sulit. Perlu proses pelan-pelan dan membutuhkan waktu lama.”

“Saya mohon pendapat Pak Umar, kata Kiai Mansyur.”

Pak Umar termenung. Semua menunggu seucap kata Pak umar. Ucapan dari seorang imam masjid seakan menjadi pamungkas dalam membahas permasalahan Mandi Jum’at. Beliau lama termenung. Mereka pun harap-harap cemas tentang jawaban.

“Begini,” seucap kata Kiai Umar seakan mencairkan suasana.

Sepatah kata terucap. Lalu kemudian bermain dalam kata untuk suatu penjelasan. Lalu terlihat Pak Umar menundukkan kepala, seakan wawasan yang ia peroleh memberatkan kepalanya. Beliau berpendapat, tradisi Mandi Jum’at dan tradisi lain merupakan pengetahuan untuk anak-anak kita. Biarlah anak-anak kita diperkenalkan pada suatu tradisi bangsa. Mereka nanti tahu, toh manusia dahulu sanggup membentuk suatu tradisi yang membumi, sakral, dan menjadi suatu kekayaan bangsa.

Sehingga, anak-anak kita mampu membentuk suatu tradisi baru---tidak melulu manja pada tradisi lama. Dan tetap tradisi lama sebagai sejarah untuk dasar melangkah. Sehingga tradisi lama yang bercirikan kebangsaan kita sanggup masuk pada tradisi baru yang tercipta dari akal budi pemuda penerus bangsa.

“Begitulah.”

***


Cirebon, 06 Oktober 2010