Tradisi Budaya Islam Nusantara Versi Aswaja

Apa itu budaya dan apa itu tradisi? Agar tidak terjadi "Liberalisasi Makna", maka saya berujuk pada kamus bahasa Indonesia sebagai bukti "Cinta Tanah Air" Indonesia dan tidak paham bahasa Inggris karena saya tidak "Cinta Bara-T". Pakai bahasa Arab? Bahasa Arab tidak mesti Islam tapi Islam pasti serba bahasa Arab. Jadi saya "Cinta Islam" bukan "Cinta T-Arab. Sebuah kalimat permainan teka-teki :-)

Budaya:
1. pikiran; akal budi: hasil --;
2. adat istiadat: menyelidiki bahasa dan --;
3. Sesuatu mengenai kebudayaan yg sudah berkembang (beradab, maju): jiwa yg --;

Tradisi:
1. adat kebiasaan turun-temurun (dr nenek moyang) yg masih dijalankan dl masyarakat;
2. penilaian atau anggapan bahwa cara-cara yg telah ada merupakan yg paling baik dan benar: perayaan hari besar agama itu janganlah hanya merupakan -- , haruslah dihayati maknanya;

Nah, bisa disimpulkan bahwa tradisi adalah "pergerakan" dan budaya adalah "kendaraan". Paham? Bila kita mentradisikan budaya maknanya adalah menggerakkan kendaraan. Ada budaya fisik dan ada budaya non fisik.

Jadi, apa makna Tradisi Budaya Islam Nusantara? Maknanya adalah menggerakkan kendaraan keislaman yang ada di Indonesia, ciri khas Indonesia walau bukan (mengutip musik dangdut) asli 100% Indonesia.

Di sinilah ada dua versi Islam Nusantara.

Ada versi Aswaja (Ahlussunnah Wal Jama'ah) yang memiliki konsep yang jelas dalam hal kebenaran Islam Nusantara dengan panduan madzhab-madzhab Aswaja yang sudah terkenal sampai ke wilayah Indonesia. Versi Aswaja adalah mengislamkan dalam budaya Indonesia bukan mem-budayaindonesia-kan dalam Islam.

Ada versi liberal yang tidak jelas konsep Islam Nusantara, karena sifat liberalisme adalah memang ketidakjelasan (relatif) demi menuju titik "pluralis". Karena menurut mereka, tidak ada "Hukum Islam" yang ada adalah "Nilai Islam". Sehingga muncullah Islam Nusantara alias Islam Indonesia versi liberal.


Tradisi Islam Nusantara Versi Aswaja - Selayang Pandang Nisfu Sya'ban

Ternyata, Islam mengajarkan "Spesialisasi Waktu Amaliah". Nisfu Sya'ban adalah sebagai salah satu bukti "Spesialisasi Waktu Amaliah". Walau demikian, jangan "menspesialkan" amaliah di waktu tertentu (Nisfu Sya'ban) dan mengabaikan waktu yang lain karena waktu spesial tadi. Makna "Spesialisasi Waktu Amaliah" adalah sebuah upaya "Penguat Ketakwaan" bukan malah "Pengendoran Ketakwaan".

Dari nilai (salah satu) Nisfu Sya'ban inilah, muncullah tradisi-tradisi Islam Nusantara alias Islam Indonesia. Berikut beberapa tradsi waktu spesial dan tradisi simbolisasi di waktu spesial khas Islam Nusantara yang berpedoman Ahlussunnah Wal Jama'ah:

Tradisi Waktu Spesial:
- Tradisi Nisfu Sya'banan: biasanya membaca yasin 3 kali. Berdoa untuk mati Iman-Islam, Panjang Umur dan Kesehatan.
- Tradisi Muludan: Biasanya membaca solawat Nabi dalam bentuk syair, membaca sejarah Nabi, dan berbagi sedekah berkat (berkah).
- Tradisi Rajaban: Biasanya mengkaji tentang Isro Mi'roj dan berbagi sedekah berkat (berkah)
- Tradisi Takbir Berjamaah Atau Keliling Berjama'ah: Biasanya menghimpun jama'ah untuk mengadakan takbiran di saat dua hari raya: idul fitri dan adha.
- Dll, masih banyak lagi

Tradisi Simbolisasi Waktu Spesial:
- Siram Pengantin: Mengadakan pengajian untuk air siram pengantin, di kasih bunga untuk aroma terapi, dan memandikan sang calon pengantin sesuai syareat.
- Ngupati: membuat ketupat di bulan ke empat sebagai simbolisasi doa dan rasa syukur.
- Ngelolosi: sedekah bubur lolos (atau simbol licin seperti minyak), sedekah meminyaki rambut anak-anak, sebagai simbolisasi doa dan bersyukur.
- Dll, masih banyak lagi.

0 Response to "Tradisi Budaya Islam Nusantara Versi Aswaja"

wdcfawqafwef