Pacaran Mendidik Jadi Keledai

Mereka yang menggeluti pacaran, apa sih yang dicari? Pasti hanya pengalaman-pengalaman pahit, sakit hati, dll. Putus lagi, cari lagi pacar seolah mencari cinta sejati. Sudah dapat cinta sejati, eh ada pemaksaan menikah sehingga gagal lagi. Cari lagi setelah sudah remek hati. Dapet pacar lagi yang cocok, putus lagi karena terlalu ini dan itulah. Berkali-kali gonta-ganti pacar sampai hati remek menjalani dunia pacaran. Namun, akhirnya menemukan jodoh tepat, saling-cinta. Nikmat dunia terasa ketika sudah menikah.

Mereka bercerita kepada anak-cucu tentang ketidakenakan pacaran agar anak-cucu berhati-hati dalam berpacaran. Seolah menjadi pahlawan cerita, mereka pun menjelaskan alasan kenapa sekarang menjadi tulang punggung keluarga - cerai - karena ternyata mereka klaim salah memilih pasangan (pacar) untuk menikah - setelah sudah berkali-kali, gonta-ganti pacar untuk pengenalan.

Lalu si anak-cucu pun merasa penasaran dengan dunia pacaran. Terjunlah dalam dunia pacaran. Dan menyadari ternyata pacaran ini penuh ketidakenakan, pahit, sakit hati. Akhirnya membentuk pengetahuan baru - yang sudah dialami kakek-neneknya - bahwa pacaran jangan hanya memilih pacar. Harus melihat bibit bobot bebet seseorang untuk dijadikan pacar. Nanti, seperti nasib keluarga teman si anak-cucu yang salah pilih mencari pacar, mereka menyesal menikah setelah sangat cocok dan saling cinta hasil pacaran.

Perkenalan lewat pacaran yang ironi!

0 Response to "Pacaran Mendidik Jadi Keledai"

wdcfawqafwef