Islamisasi Akting Sinetron/Film

Saya tidak menjamin, ada sinetron/film yang "100% Islami" walau alur ceritanya sangat islami. Alur cerita mah, bisa dibuat sedemikian rupa tergantung keinginan sutradara dan bagaimana penulis naskah meraciknya. Namun yang jadi masalah adalah perjalanan pembuatan sinetron itulah yang perlu diperbaiki. Namun setidaknya, dengan mengislamisasi sinetron tidak terjadi "liberalisasi" terus-menerus sepanjang kemajuan (masa depan) zaman.

Sebagai contoh, salim (bahasa Buntet Pesantren: Sebah; Bahasa Indonesia: Salaman) anak dengan orang tua itu memang islami. Tapi lain ceritanya bila ini dikemas dalam sinetron, yang membutuhkan akting. Dalam dunia nyata, memang ini benar. Namun dalam dunia nyata aktifitas akting, ini yang menjadi masalah. Karena pemain yang menjadi anak dan orang tua belum tentu se-mahram (bukan muhrim karena muhrim artinya orang yang sedang ihrom).

Bila melihat cerita sinetron, rata-rata itu mengajarkan mengajak kebaikan dan menghindar keburukan. Ini yang sudah umum kita lihat. Dalam kasus ini, ini termasuk jenis sinetron yang islami walau tidak ada embel-embel ustad, ajaran agama, dll. Masalah ada berbagai kesalahan dalam memahami kebaikan, ini masalah pengetahuan si penulis. Dan, ini kan hanya "akting", salah atau benar, ya akting. Tinggal di awal-akhir cerita dituliskan, "Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka".

Jadi yang perlu diperbaiki adalah hasil atau aktifitas dalam akting sinetron. Seperti jabat jangan, ciuman, tidur satu kamar, mandi, dll.

Masalah jenis sinetron, kan sekedar cerita fiksi? Misal, akting menjadi "Abu Jahal", sah-sah saja (mungkin) bila kita berakting seperti Abu Jahal. Cuma karena berkaitan dengan hati (tetap saja walau akting, alam bawah sadar tidak kenal akting atau beneran), maka jangan dibuat seperti cerita Abu Jahal sesungguhnya.

1. Akting Salaman:

Walau akting menjadi anak dan orang tua, kalau bukan se-mahram, ya tetap haram. Karena tidak mengenal akting atau beneran dalam hal sentuhan. Cuma, zaman sekarang serba canggih dalam membuat ilustrasi jabatan tangan. Bisa saja tidak ada sentuhan namun dikasih "sensor" yang bertuliskan "Tidak Sentuhan". Atau bagaimana lah bisa diatur.

Kalau sinetronnya-nya berjenis komedi, lebih mudah lagi. Tinggal ada kalimat lucu,

"Nak, cuma akting, tuh lihat kamera. Jangan sentuhan dong"

"Eh iya mamah, lupa. Gak jadi deh... Ya udah, salaman ama kameramen, haha..."


2. Akting Berbusana:

Ilmu akting sudah canggih lah, bisa membuat akting berganti busaha tetap bagus walau tanpa perlu memperlihatkan kebugilan. Rata-rata sinotron di Indonesia, tidak menampilkan 100% ke-bugil-an. Hanya memperlihatkan dada, kepala, betis. Nah, kalau di islami lagi, maka tentu akan lebih bisa lagi.

Dalam berbusana, tentu harus memakai jilbab semua bagi pemain wanita yang terlibat walau cerita tidak menonjolkan 100% Islami. Walau menceritakan tentang kehidupan biasa, tanpa embel-embel agama, tentu tetap bisa menggunakan jilbab alias menutup aurot. Si pemeran antagonis, tetap bisa menggunakan jilbab, apalagi yang prontagonis.

Desainer sekarang sudah maju-maju dalam membuat rancangan baju menutup aurot sesuai karakter si pemilik dan kondisi wilayah.

Walau demikian, agak sulit sepertinya bila masalah busana. Karena, ada perbedaan agama pemain dan cerita sinetron. Perlu mikir panjang agar bisa melakukan hal ini.

3. Akting tidur bareng

Teknologi per-film-an sudah canggih. Seorang yang berakting menjadi kembar saja bisa berhadap-hadapan  dengan berbeda posisi. Ini tandanya bisa juga untuk digunakan akting tidur bersama. Hasilnya mah tidur bersama, tetapi tidak. Namun akting tanpa tidur bersama bisa dan sudah banyak yang melakukannya.

4. Akting Mabuk

Dalam sinetron "Preman Pensiun", tidak mengajarkan tentang minuman "beralkohol" dan "mabok". Masak, sinetron yang islami menonjolkan akting mabok? Lampiaskan saja ke kafe atau bagaimana lah, sambil seperti berekresi seperti orang yang sedang kepusingan menghadapi masalah. Jadi, tidak perlu pergi ke diskotik.

5. Akting pacaran dan berzina.

Namanya juga sinetron yang islami, masak menceritakan tentang dunia pacaran dan perzinahan? Realita mah realita, banyak orang pacaran dan berzina. Cerita pacaran dan perzinahan dalam sinetron bisa diatasi dengan "status" atau "cap" saja.

Apa ada adegan dua orang dalam kamar berdua sambil telanjang bulat? Saya rasa, KPI tidak bisa menyetujui sinetron yang seperti ini. Apalag sinetron yang islami, masak kalah sama sinetron yang tidak islami?

---

Dan masih banyak lagi. Saya rasa, islami atau tidak dalam akting sinetron, bergantung si pemuat filmnya bagaimana. Bila yang mau membuat seorang yang sadar agama, tentu akan memperhatikan baik-baik dalam menjalankan akting.

Lalu bagaimana membuat penonton melejit karena kebanyakan sinetoron yang islami kurang diminati? TONJOLKAN KUALITAS CERITA DAN MARKETING!!! Sudah, orang lihat tuh karena ceritanya dan karena terpengaruh marketingnya.

0 Response to "Islamisasi Akting Sinetron/Film"

wdcfawqafwef