Bukan Terapi Tertawa, Tapi Terapi Menangis

Banyak sekali hadist Nabi SAW yang menyatakan tertawa bisa menyebabkan bahaya, bisa membuat hati keras, bisa dianggap meludahi ilmu, dan sebagainya. Tentu, tidak semua tertawa bisa menyebabkan bahaya. Lah, bagaimana judulnya bila ada "terapi tertawa"? Tentu akan mengalami yang namanya tertawa yang disengaja, yang bisa jadi justru mengalami volume dan jumlah tertawa yang berlebihan. Kalau pun tidak dalam standar berlebihan, ya buat apa melakukan teori tertawa?

Padahal ada kaidah "Perbanyak menangis dan jangan perbanyak tertawa". Kaidah ini sebagai kaidah dasar dalam terapi kesehatan lewat menangis yang ditinjau dalam segi keislaman. Sekarang, coba melakukan kegiatan menangis dan terawa selama satu menit. Coba bandingkan, lebih segar tertawa atau menangis?

Setelah saya menguji-coba, ternyata saya merasakan bahwa lebih segar melakukan kegiatan menangis daripada tertawa walau saya mencoba dalam waktu yang sebentar. Kalau saya melakukan terapi tertawa dan menangis, akan mengalami ketegangan otot. Ternyata, efek dari ketegangannya berbeda. Tentu, ketegangan ini akan berpengaruh terhadap perasaan dan pikiran.


Study Kasus:
Si Rojul, Si Fulan dan Si Rijal sama-sama memiliki masalah besar yang cukup menggangu pikiran dan perasaan. Si Rojul memaksakan diri untuk tetap tertawa walau memiliki masalah besar. Berbeda dengan Si Fulan yang bereaksi menangis karena masalahnya. Namun untuk Si Rijal, tetap memenangkan pikiran seolah-olah tidak memiliki masalah besar.


Kadar Gelombang Pikiran:
1. Si Rojul: Tetap dalam kondisi gelombang Bheta (Tertawa) untuk mengatasi gelombang Bheta (Masalah)
2. Si Fulan: Berusaha untuk menurunkan gelombang Bheta (Masalah) namun tidak sanggup karena gelombang Bheta(Masalah) terlalu besar.
3. Si Rijal: Berusaha untuk menurunkan gelombang Bheta (Masalah) namun sanggup melakukannya karena memang sudah terbiasa.


Efek Samping:
1. Si Rojul: berusaha mengatasi masalah dengan menambah aktifitas pikiran yaitu melakukan tertawa, bergembira riang, walau hati sedang dalam masalah. Justru, akar masalah tidak sedang diatasi, yaitu masalah hati. Ketika tertawa dipaksakan di saat hati sedang dalam kondisi bermasalah, justru akan menambah beban hati. Tentu ini berbahaya karena mengalami kontradiksi. Itulah sebabnya, kenapa para komedian tidak menjamin bahagia.

2. Si Fulan: karena tidak sanggup dengan masalah besar yang dihadapi, membuat pikiran kacau-balau. Namun apa daya karena tidak bisa menenangkan pikiran, sehingga timbullah reaksi menangis atau bersedih saja. Reaksi sedih atau menangis adalah "Pertolongan Pertama" untuk orang-orang yang bermasalah. Perasaan sedih tidak kontradiksi dengan kenyataan yang sedang dialami.

Itulah sebabnya, ketika menghadapi orang punya masalah, jangan disuruh "Tertawa", tetapi menyuruh menumpahkan tangisan kalau memang mau menangis.

3. Si Rijal: Menghadapi gelombang Behta (Masalah) bukan dengan menambah gelombang Behta. Justru harus berusaha tenang menuju kondisi Alfa-Theta. Karena efeknya akan mengurangi beban dalam hati walau masalah yang sedang dihadapi belum juga hilang. Dengan ketenangan pikiran, tidak sedih dan juga tidak tertawa, maka pintu-pintu solusi akan keluar.

Itulah sebabnya, kalau terjadi masalah yang menyebabkan bertengkar, jangan dilanjutkan, tetapi dihentikan dan mencoba untuk saling memenangkan pikiran.


Fungsi Terapi Menangis:
Tentu, terapi menangis adalah salah satunya sebagai pertolongan pertama bagi orang-orang yang memiliki masalah besar namun tidak bisa menenangkan pikiran dan membahagiakan hati. Lakukan menangis atau reaksi perasaan sedih dengan maksud untuk menghilangkan ketikdaenakan dalam hati bukan untuk "meratapi". Reaksi menangis boleh, namun sekedar menghilangkan ketidakenakan. Karena, ada masalah atau tidak, hati harus tetap dalam keadaan "enak".

Fungsi lain terapi menangis adalah "Penjebol" hati yang keras dan hal yang negatf lainnya. Mengobati hati sombong, dengki, iri, susah dinasehati, rajin bermaksiat, dll, bisa dilakukan dengan terapi menangis dengan mengimajinasikan sesuatu yang membuat sedih akibat keburukan dirinya.

0 Response to "Bukan Terapi Tertawa, Tapi Terapi Menangis"

wdcfawqafwef