Al-Qur'an Besifat Terbuka, Namun Ini Zaman Buka-Buka'an, Jadi?

Nanti dulu, sebelum menafsirkan Al-Qur'an sesuai konteks zaman, artikan dulu dan perhatikan dulu "Zaman itu buatan siapa dalam konteks kemakhlukan?" "Zaman yang seperti apa?" dan "Apa saja jenis zaman yang ada di zaman sekarang?". Sekarang zamannya "Buka-bukaan", apakah harus berganti hukum "Jilbab tidak wajib?" Nanti kalau zamannya tertutup, apakah mau mengganti "Jilbab itu wajib?" Hayo...

Terjadinya zaman buka-bukaan itu ulah siapa? Bukankah ini ulah orang yang tidak memiliki ajaran tentang menutup aurot? Lalu kalangan muslim meniru gaya seperti orang tersebut? Apakah penafsrian Al-Qur'an akan mengikuti konteks zaman yang seperti ini? Jelas, dungu sekali otak menus jenis ini.

Kalau pun memang mengikuti konteks zaman, apakah ada kesatuan jenis zaman? Di Indonesia sebelah sana mungkin membudaya buka-bukaan namun belum tentu di Indonesia sebelah sini yang justru menentang budaya buka-bukaan.

Di Indonesia sedang marak budaya "Hijabisasi" kok, kalau kita mau jujur menafsirkan dalam konteks zaman sesuai zaman yang ada di Indonesa. Di Indonesia juga sedang marak "Aktifitas Online" yang lebih bisa membudidayakan "Produktifitas Perumahan" untuk para wanita.

Lah, konteks zaman yang seperti ini kenapa tidak menjadi hal utama dalam penafsiran dan lebih memilih budaya "Barat" sebagai simbol nyata "Anti Arab"? Kenapa ini, konteks zaman tidak terpakai untuk penafsiran Al-Qur'an yang bersifat terbuka (namun tidak bebas orang membuka)? Jangan-jangan benar adanya, "Munafikun".

0 Response to "Al-Qur'an Besifat Terbuka, Namun Ini Zaman Buka-Buka'an, Jadi?"

wdcfawqafwef