Saturday, April 11, 2015

Kaum SARUNGAN Sang Modernis Sejati - NU, Buktikan Disini

cinta segitiga

Kaum sarungan sering diidentikkan dengan kaum Nahdiyin NU walau sebenarnya tidak hanya NU, Islam Aswaja Indonesia pada umumnya. Sarung mensimbolkan tradisionalis dan kesederhanaan. Bila menjadi kalimat "kaum sarungan", maka artinya adalah orang yang mengikuti paham tradisional, yaitu yang tetap mempertahankan tradisi. Sehingga pendapat yang mengatakan kaum sarungan adalah kaum yang ketinggalan zaman, tidak modern, bisa juga benar adanya - pada perkembangan awal kaum modernis.

Tidak ada yang salah dalam sarung, ketika mereka menyerang NU dengan sebutan kaum sarungan. Yang mereka serang dibalik sarung adalah sikap tradisionalis mereka terhadap ajaran-ajaran - yang katanya - dari nenek moyang, tidak berdasar dalil yang soheh dan lainnya.

Islam Indonesia memang sudah dikuasai sudah sangat lama oleh kalangan Wali Songo. Sehingga, corak Islam Indonesia adalah yang sudah kita lihat dalam keseharian. Jadi, yang dimaksud kaum sarungan sebenarnya bukan kalangan NU saja. Melainkan kalangan warga Islam Indonesia. Hanya saja secara organisasi, NU lah yang paling menonjol menyuarakan untuk mempertahankan ajaran Wali Songo sehingga warga NU identik dengan kaum sarungan.

Lalu, bagaimana kaum sarungan adalah sang modernis sejati?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, apa sih makna modernisasi oleh kalangan modernis (pembaharu)? Saya lihat perkembangannya, justru kaum modernis bergerak sama dengan kaum tradisionalis dalam hal pembangunan pendidikan, dll. Dahulu ketika Indonesia masih dijajah, justru NU mendirikan sebuah lembaga-lembaga yang terbilang cukup modern di masanya. Bahkan sebelum ada NU, masih NW, pergerakan Islam tradisionalis cukup modern juga di masanya. Kalau konteks modernisasi adalah pengembangan ilmu dan budaya masyarakat.

Apakah makna modernisasi adalah menghilangkan konsep bermadzhab karena bermadzhab sudah terlalu kuno, tidak mengikuti perkembangan zaman? Lantas, itu ucapan siapa yang mengatakan konsep bermadzhab sudah ketinggalan zaman? Itukan ucapan sang pembaharu yang dulu, nenek moyang sang modernis sekarang. Sehingga kaum modernis yang sekarang justru mengikuti madzhab nenek moyang yang anti madzhab. Sang modernis sekarang membuat ramuan madzhab sendiri di dalam tubuh organisasi, bahkan lebih condong ke madzhab yang ektrim (membid'ahkan amalan NU).

Jadi, apa makna modernisasi oleh kalangan kaum modern? Pembaharuan? Pembaharuan yang bagaimana bila pembaharuan sudah basi beribu-ribu tahun?

Justru konsep modern yang diajukkan kaum modernis tidak sesuai fakta bahwa dirinya pun terikat sikap tradisionalis. Hanya saja sikap tradisionalis mereka berbeda dengan sikap tradisionalis kaum Nahdiyyin, NU. Kenapa demikian? Karena sama-sama mengikuti pendapat nenek moyang. Namun NU sendiri dengan tegas mengikuti salah satu dari 4 Madzhab bukan madzhab orang akhir zaman. Jadi, siapa yang lebih modern dalam berpikir dan ajaran kebenaran?

Apalagi ada dasar filosofi modernisasi yang pantas diterapkan dalam tubuh NU yaitu, "Mempertahankan Tradisi dan Mengambil yang Baru yang Lebih Baik" Tidak menghilangkan tradisi kebaikan namun juga tidak menolak pembaharuan yang baik untuk kemaslahatan.

Jadi, setujukah kaum sarungan sebagai kaum modernis sejati?

Salam Aswaja Lovers

Artikel Terkait

Saya seorang blogger yang senang berbagi. Sekarang saya sedang seirus mengurusi blog yang sedang anda lihat dan juga beberapa blog lainnya. Saya juga sebagai penulis Cerita Komedi Dunia Arafah Rianti