Bantahan Isra Mi`raj Secara Ilmiah - Sampai Ketawa dan Perut Mules

Bantahan Atas Kajian Isra Mi`raj Secara Ilmiah - Catatan penting sebelum membahas Isra Mi`raj sesuai teori ilmiah adalah Al'Qur'an untuk ilmiah bukan ilmiah untuk Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an, menjelaskan segala bentuk rumus kajian ilmiah. Dan bila kajian ilmiah untuk pemahaman tafsir Al-Qur'an, harus melihat berbagai sisi untuk kecocokan agar menghasilkan kebenaran. Di sini timbul saling berhubungan, melengkapi.

Nah, bila masalah Isro Mi'roj - sesuatu yang sebagai mukjizat - sumbernya dari Qur'an, jangan menyamakan dengan kajian ilmiah. Justru, seharusnya, kejadian Isro Mi'roj sebagai inspirasi timbulnya ilmu seperti teori cahaya dan sebagainya. Walau mungkin yang menemukan teori cahaya dan lainnya adalah orang yang tidak paham Al-Qur'an (orang non Muslim)

Sebagai contoh, dalam bahasa Al-Qur'an, tidak menjelaskan secara pasti bahwa bumi itu bulat. Lebih kepada datar bumi. Kenapa? Karena kondisi pengetahuan manusia saat turun Al-Qur'an masih menganggap bahwa bumi itu datar. Ketika menjelaskan bulatan bumi, manusia akan menjadi bingung. Sehingga kalimat tafsir si penafsir kala itu pun mengikuti apa yang dijelaskan Al-Qur'an dan dikaitkan dengan kadar empiris si penafsir. Ketika kajian ilmiah berkembang, menemukan fakta baru bahwa bumi itu bulat, maka mengalami penafsiran baru dalam Al-Qur'an untuk menyesuaikan, saling melengkapi. Ini baru kerjasama yang bagus.

Namun, kajian ilmiah tidak ada kaitannya dengan Mukjizat, termasuk Mukjizat Isro Mi'roj. Ini catatan penting yang harus diyakini. Mukjizat mutlak melawan arus alam sehingga tema kajian ilmiah tidak masuk di sini. Bila mukjizat disesuaikan dengan kajian ilmiah, bagaimapun tidak akan sesuai. Ketika bulan terlihat begitu bulat dalam satu bulatan, namun ketika mukjizat Nabi SAW datang dengan pembelahan bulan, maka bulan tidak bulat lagi. Ini artinya, fakta ilmiah biarlah menjadi fakta ilmiah, sebuah kejadian sesuai hukum alam. Mukjizat biarlah menjadi mukjizat, sebuah kejadian luar biasa yang melawan hukum alam.

Lalu bagaimana bila ada teori yang lebih - sepertinya - mendukung Mukjizat? Seperti "Teori Cahaya" dan juga teori "Lubang Cacing" yang diklaim untuk menguak keajaiban Isro Mi'roj. Maka hal ini pun tidak dijadikan "Penyamaan" antara kajian ilmiah dengan Mukjizat. Karena sangat jelas, kajian ilmiah punya tempatnya sendiri dan mukjizat punya tempatnya sendiri. Jadi, tidak bisa disamakan.

Adapun logika kita atas kajian ilmiah lebih mendukung untuk bisa menjelaskan keajaiban Isro Mi'roj, tentu ini hanya sebagai "perbandingan". Artinya perbandingan adalah, bila melihat fakta ilmiah saja begitu menakjubkan, misal benda-benda kasar ternyata terbuat dari energi Quanta, apalagi mukjizat Isro Mi'roj? Perbandingannya untuk menguatkan akidah, bahwa hal-hal yang menakjubkan memang bisa masuk akal walau bukan tataran ilmiah seperti Isro Mi’roj.

Namun kajian Isra Mi'raj di luar sana, malah seperti menyamakan kajian ilmiah dengan peristiwa Isra Mi'raj. Hasilnya, Mukjizat yang dirasa luar biasa, melawan hukum alam, maka seperti bukan Mukjizat. Padahal, dengan rumus perbandingan, kajian ilmiah saja bisa menakjubkan (sesuai proses alam) sampai tidak masuk akal, apalagi Mukjizat yang merupakan keajaiban yang luar biasa karena kehendak Tuhan (baca: tanpa proses alam). Tentu penyamanan Isra Mi'raj dengan kajian ilmiah perlu kita bantah. Dan saya akan memberikan bantahan-bantahannya dibawah ini. Sumber: lampuislam.blogspot[dot]com (atas kutipan dari buku “Terpesona di Sidratul Muntaha”)

"Bukankah Muhammad juga seorang manusia biasa yang memiliki struktur sama dengan pilot (manusia, red) dalam ilustrasi tadi ketika ia melakukan perjalanan Isra Mi’raj tersebut? Lalu bagaimana jasmani Muhammad mampu menembus lapisan langit dengan bantuan kecepatan cahaya? Apakah Muhammad di-Isra-kan dan di-Mi’raj-kan dengan jasmani dan rohaninya sekaligus? Nah."

Kanjeng Nabi Muhammad SAW memang manusia biasa yang memiliki jasad selayaknya manusia. Namun jangan bertanya, "Lalu bagaimana jasmani Muhammad mampu menembus lapisan langit dengan bantuan kecepatan cahaya?" dengan maksud tidak percaya mukjizat. Karena kalau bicara Mukjizat, apapun bisa terjadi termasuk menembus langit bahkan menembus lintas alam (alam malakut) dengan jasad dan rohnya tanpa apapun. Masalahnya, percaya tidak dengan mukjizat? Bila percaya, paham tidak makna mukjizat? Jangan menyamakan makna mukjizat dari omongan "Artis" dengan omongan "Ulama".

Secara fakta, Sayyidina Muhammad pernah membelah bulan menjad dua bagian, menurut riwayat. Apakah ketika membelah mengalami proses alam? Kenapa tidak bertanya saja, "Lalu bagaimana jasmani Muhammad mampu membelah bulan?" Kenapa tidak bertanya seperti ini? Seolah mukjizat Sayyidina Muhammad hanya di Isro Mi'roj. Apakah tidak tahu (entah riwayat benar atau tidak), bahwa Nabi Muhammad ketika mau buang air kecil, bumi membelah membangun liang agar menutupi jasad Nabi SAW? Dan masih banyak mukjizat Nabi SAW selain Isro Mi'roj. Kenapa tidak ditanya semua seperti bertanya tentang Isro Mi'roj?

Seharusnya memang jangan banyak bertanya kalau masalah mukjizat, cukup meyakini, bahwa mukjizat peristiwa luarbiasa yang melawan hukum alam yang diberikan Tuhan untuk manusia pilihan.

Nah, proses pengubahan materi menjadi cahaya terjadi sesaat sebelum perjalanan Isra Mi’raj dimulai. Kejadian ini ketika Rasul disucikan oleh Jibril di dekat sumur zam-zam. Bisa dikatakan jika proses ini adalah proses operasi hati Muhammad dengan air zam-zam.

Apakah tidak tahu, makna membersihkan dengan air? Ketika baju kotor, kita basuh dengan air untuk membersihkan atau lebih bersih lagi. Lalu apa maksud operasi pembersihan hati yang dilakukan malaikat? Nah, bisa tertebak. Bila hati bersih bahkan sangat bersih, maka seolah memancarkan cahaya. Orang yang baik hatinya, adalah orang yang memancarkan cahaya. Artinya, orang baik memberikan kebaikan kepada orang lain agar orang lain menjadi baik.

Namun sebelum kisah pembersihan hati ketika sebelum Isro Mi'roj, perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad ketika umur 5 tahun pernah dibelah dadanya untuk dibersihkan hatinya dengan air zam-zam. Kenapa kok tidak berubah menjadi cahaya?

Tulisan di atas merekayasa bahwa pembersihan hati ketika sebelum Isro Mi'roj adalah sebuah upaya perubahan dari materi ke cahaya. Lah, teori darimana? Riwayat darimana? Bukankah makna membersihkan hati adalah agar hati itu bercahaya (tidak gelap), atau menjadi sangat bercahaya? Nah, peristiwa pembelahan dada ketika Isro Mi'roj adalah upaya untuk memberikan cahaya-cahaya kebijaksanaan, pengetahuan dan penguatan keimanan. Maksud cahaya bukan diartikan makna fisik tetapi makna batin. Tidak ada penjelasan bahwa itu proses perubahan materi Nabi SAW menjadi cahaya, kecuali itu khalayan tingkat tinggi :-)

"Dengan melakukannya pada malam hari, maka Allah telah menghindarkan Nabi dari interferensi gelombang yang bakal membahayakan badannya. Suasana malam memberikan kondisi yang baik buat perjalanan itu."

Ini pembahasan yang lucu, benar-benar lucu. Karena kalau dikaji secara ilmiah pun, siang dan malam adalah relatif bila sudah masuk ruang angkasa, bahkan tidak ada istilah siang-malam. Adanya siang atau malam adalah ketika kita berada di bumi, atau planet lain yang terkena sinar matahari. Padahal pembahasan ini bisa dicek dengan satelit, bagaimana bentuk matahari ketika malam atau siang. Bukankah tetap bulat dan sama pengaruhnya bila di dekat matahari? Kenapa tidak membahas, "Jibril melakukan banting stir agar terhindar dari matahari atau berjalan ke samping matahari"? Kok membahas malam dan siang hubungannya dengan "interferensi gelombang yang bakal membahayakan"?

Apa maksud interferensi gelombang yang bakal membahayakan? Bukankah tulisan di atas mengatakan bahwa Nabi SAW sudah berubah menjadi badan cahaya? Kok malah terkena interferensi gelombang yang bakal membahayakan? Kan tidak nyambung dengan pernyataan di atas.

Ia pun berkata, "Ketika di malam hari kita menyalakan radio, maka gelombang yang kita tangkap akan jernih dan lebih mudah dari siang hari."

"Sebab gelombang radio tersebut tidak mengalami gangguan terlalu besar yang saling bersinggungan dengan gelombang lainnya. Begitulah gambaran sederhananya, sebab waktu malam hari adalah waktu yang paling kondusif untuk perjalanan super spesial demi kelancaran perjalanan ini," katanya...

Jadi itu maksud interferensi gelombang yang bakal membahayakan? Haduh, bikin muyes peyut, pengen ketawa. Tinggal kasih helm cahaya anti raadiasi seperti pesawat canggih yang memiliki alat anti petir,haha...

Sebab, jika badan Rasul tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terurai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik, tidak beraturan lagi. Untuk itulah, keberkahan itu selalu ada; di setiap tempat di setiap keadaan, bahkan tak mengenal tempat, waktu, dan keadaan sekalipun.

Lah, seperti Nabi SAW dan Jilbril tidak punya Tuhan. Padahal, tinggal berdoa, "Ya Allah, tetap jadikan badan Nabi Muhammad badan cahaya sampai ke langit". Padahal ini peristiwa yang sungguh luarbiasa, eh sempat-sempat berkata, "Sebab, jika badan Rasul tiba-tiba berubah menjadi ‘badan materi’ lagi saat melakukan perjalanan berkecepatan tinggi itu, maka badannya bisa terurai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik"

Ini yang menulis itu, anak SMP atau anak SMA sih? Kok pembahasan Isro Mi'roj seperti orang yang sedang membuat komik doraeman? Semua penuh hayalan sesuai kehendak si penghayal.

Inilah kalau teori ilmiah digunakan untuk "Penyamaan" bukan "Perbandingan" atas peristiwa mukjizat, salah satunya mukjizat Isro-Mi'roj. Kalau menyama-nyamakan Isro Mi'roj dengan kajian ilmiah, malah akan seperti pembahasan lamunan di atas. Hasilnya cocok untuk dibuat kartun.

Penjelasan di atas, benar-benar lebih ke mencirikan orang yang tidak percaya mukjizat karena lebih ke perendahan Nabi SAW dan Mukjizat Tuhan. Aneh!

Silahkan koreksi ucapan saya, barangkali penjelasan Isro Mi'roj dari saya juga bisa bikin ngakak dan perut mules :-)

0 Response to "Bantahan Isra Mi`raj Secara Ilmiah - Sampai Ketawa dan Perut Mules"

wdcfawqafwef