Senin, 08 Agustus 2011

Penggalan Kisah, Dilema Santi Anak Bangsa

“Pak kiyai, kami minta izin untuk menitipkan anak kami, Umar, untuk belajar mengaji di pesantren ini. Bisa mengaji adalah yang kami harapkan. Entah lah Pak Kiayi, kami hanya sanggup menitipkan,” kata Pak Salihin, bapak aku, sewaktu berbicara kepada Kiyai Mansyur.

Bapak beserta ibu aku, Ibu Hamidah, datang jauh dari Jakarta. Mereka duduk tenang dalam ruang tamu. Lalu menguraikan maksud kedatangannya sembari pandangan sedikit menunduk kesopanan pada Kiyai Mansyur. Dan tak lupa mereka mengasihkan suguhan hadiah kehor¬matan untuk Kiyai Mansyur.

Aku diapit oleh mereka berdua. Aku pasrah saja apa yang mereka katakan. Mereka menginginkan aku belajar agama di pondok Pesantren. Walau antara setuju dan tidak setuju aku di suruh mondok di pesantren. Bukan aku tak suka belajar agama. Tapi aku tak suka dalam dunia kesantrian yang terbilang, ah, pokoknya aku tidak menyukai.

Waktu perjumpaan pun berlalu. Aku belajar di pesantren sembari sekolah di MA sudah berlangsung satu minggu. Walau baru satu minggu, pikiran sudah merasakan pusing dan perasaan merasakan jenuh. Aku pun belum bisa beradaptasi dengan santri senior. Aku sudah merasakan ketidakenakkan di pondok pesantren.

Kata santri seniorku yang bernama Sibawe, berumur 20 tahun, berasal dari Jakarta berkata, “Ah cengeng lu, gue udeh pernah ngerasain seperti lu. Nanti juga lu terbiasa.”

“Mungkin, buatku tidak.”

“Lihat nanti aje deh.”

Dan benar. Selama sebulan aku mondok di pesantren ini, aku tidak merasakan pusing dan jenuh lagi. Aku pun sudah bisa beradaptasi bersama teman-teman sekamarku yang berjumlah empat orang. Aku tidak mengkhawatirkan lagi bagaimana masa depan dipondokan ini. Aku sudah siap.

Tapi berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai akhirnya aku menyadari ketidakmampuanku membagi waktu, dan memahami dua dunia. Antara dunia pesantren dan dunia sekolah formal. Dan di antara kedua itu, tercekik impianku. Impianku yang ingin men-dalami dunia teknologi informasi dan tulis-menulis seakan merasa diasingkan oleh dua dunia itu.

Semenjak awal semester 2 di kelas X, aku menjadi gelisah dalam belajar. Tak karuan mengatur waktu, mengatur hidup. Apakah harus meninggalkan belajar pada ilmu-ilmu sekolah formal atau meninggalkan belajar pada ilmu-ilmu agama. Jika aku meninggalkan belajar pada ilmu-ilmu sekolah formal, predikat tidak lulus akan tertawa di saat UN nanti. Bila aku meninggalkan ilmu-ilmu agama, sudah barang tentu akan mendapat teguran keras dari Pak Kiyai, orang tua akan marah besar, dan tentu aku akan rendah derajat.

Lalu Sibawe yang sudah lulus sekolah itu menasihatiku, “Kuasai aja ilmu keagamaan lu, insya Allah dunia atau kebutuhan hidup akan lu peroleh. Otak lu bukan Aristoteles, atau Plato, atau Einsten, yang mampu mempelajari segala macam bidang keilmuan. Lu fokus ama ilmu agama aja biar impianmu mendapat tempat walau impianmu kehalang ama keadaan pondokan.”

“Iya sih Bang. Mana mungkin aku mempelajari semua.”

“Aku pun melakukan hal yang sama. Hanya fokus dalam agama. Untung waktu itu UN belum ketat seperti sekarang ini. Jadi, aku masih bisa lulus sekolah.”

Memang. Kecerdasanku tidak lah bagus. Menghafal kosa kata arab saja cukup sulit. Di tambah hapalan-hapalan yang lain. Apalagi untuk memahami kalimat arab di kitab, aduh aku mati kutu. Sehingga omelan Pak Kiyai, hukuman ketua asrama dan pengalaman buruk lainnya sering aku alami.

Suasana pondok pun tidak mendukung impianku yang ingin mendalami teknologi informasi dan mendalami dunia tulis-menulis. Sudah menjadi ketentuan, handphone tidak boleh dibawa di dalam pondok. Sudah barang tentu, laptop pun tidak tidak boleh dibawa di sini. Kalau pun boleh membawa laptop, alangkah tidak enaknya di hadapan teman-teman. Apakah pantas aku hidup enak sendiri dalam ruang kamar yang dihuni banyak orang?

Liburan datang dan aku pulang kampung ke Jakarta---sebenarnya orang tuaku asli orang Cirebon. Lalu aku menguraikan keinginanku pada orang tua.

“Pak, Bu, aku mau berhenti belajar. Aku tidak kuat belajar kedua-duanya sekaligus. Sekolah dan pesantren. Lebih baik aku pilih salah satunya.”

“Apa?! Kau sudah tidak kuat belajar? kata ibu.

“Iya Bu.”

“Kau pilih yang mana, Nak?” kata bapak bijak.

“Masih mending aku keluar sekolah dan fokus mengaji.”

“Bagus. Bapak setuju. Tapi Bapak tidak setuju kalau yang kau pilih itu sekolah. Kau tidak perlu khawatir tentang kerjaan. Jika ilmu agama bisa kau kuasai, rezeki akan mengikuti.”

“Tapi, aku tidak mampu menguasai ilmu agama, Pak!”

“Husss! tidak boleh bicara tidak mampu,” kata ibu menyela pembicaraan.

“Bapak sudah membelikan kau laptop. Laptop yang dulu sudah rusak.”

“Makasih, Pak, Bu. Tapi Bapak dan Ibu sudah tahu kan? Kalau di pondok itu tidak boleh membawa HP, apa lagi itu....”

“Kau mau kan? Kau paling suka menulis. Akali sendiri! Pondokan di situ kan terbuka,” kata bapak.

Setelah itu aku putuskan untuk fokus mempelajari ilmu keagamaan. Orang tua senang bila aku mendalami ilmu agama. Orang tua lebih memilih, aku mengerti ilmu agama dari pada ilmu umum dengan alasan yang cukup populer, yaitu “wajib”. Entah lah, ilmu umum dihukumi apa.

Tentu, agar impian pun dapat bernafas lega dalam menjalankan kehidupannya. Impianku berjalan kembali walau sedikit yang terlaksana. Tapi, Impianku masih cukup untuk mempunyai ruang gerak.

Sewaktu kelas XI berlangsung, aku malas-malasan sekolah. Saat awal kelas XII, aku hanya mengucapkan selamat tinggal kepada sekolahku dan teman-temanku. Dan orang tua pun tidak bermasalah dengan sikapku. Aku punya alasan, banyak lulusan se-tingkat SMA yang ilmunya tidak bisa digunakan untuk mencari uang. Solusi untuk menutupi ketidakbergunaan pun akhirnya masuk dunia perkuliahan sampai lulusnya.

Memang itu terlihat materialistis jika mencari ilmu untuk uang. Tapi kalau kita melirik ajaran agama, ada pernyataan, yang mungkin seperti ini, “Mencari dunia dengan ilmu”, “Carilah ilmu untuk mempertahankan hidup”, “Carilah ilmu agama untuk akhiratmu”. Jadi, kita normal mempunyai sikap bahwa ilmu itu untuk bekal mencari uang. Tapi kita mendapat murka kalau ilmu agama dijual belikan demi uang.

***

“Lalu sikap Mas untuk meneruskan keinginan orang tua dan melanjutkan impian bagai-mana, Mas?” Kata Sanusi, saudara sepupuku, membangunkan diamku sehabis menceritakan permasalahan padanya di siang terang.

“Entah lah. Lebih baik aku menginap sebentar di tempat kos ini, untuk berfikir. Kau sendirian kan disini?”

“Semenjak aku tidak sekolah lagi memang tumpukan ilmu sedikit terkurangi. Aku pun tenang dalam belajar ilmu agama. Impianku pun mendapat angin segar. Tapi, walau begitu keadaan pondok tetap ketat dalam aturan, tetap banyak dalam hafalan, dan juga tidak mampu memaksimalkan belajarku dalam dunia teknologi informasi dan dunia kepenulisan. Setelah awal tahun ajaran baru tiba, aku memutuskan untuk keluar sejenak. Dan di tempat kos ini, sementara atau jangka waktu lama, aku menjalani kesehariannya.

“Orang tua Mas akan marah besar jika tidak melanjutkan mengaji di pesantren hanya karena ingin mencapai impian. Mas memang aneh! Menurut saya, Mas tetap mondok sembari melakukan keinginan Mas.

“Kau perlu berpikir. Aku ini anak putus sekolah. Tentu aku hanya lulusan setingkat SMP. Jadi aku harus mempunyai keterampilan agar tetap bersaing. Kalau aku tidak mempunyai keterampilan, aku akan terasingkan! Lalu kalau aku membagi waktu antara kegiatan pondok dan impianku, apakah bisa aku jalani?

“Kau perlu tahu, aku luangkan waktu untuk pergi ke warung internet, pergi ke rental komputer. Berjam-jam disitu. Berhari-hari melakukan itu. Uang habis banyak dalam sehari. Aku sempat dibelikan laptop. Karena khawatir ketahuan ketua asrama, akhirnya laptop itu dititipkan ke rumah teman. Tapi, malah hilang entah kemana. Dia beralasan katanya laptopku dicuri. Aku pun tidak mempercayai lagi tentang penitipan barang. Dan masih banyak lagi permasalahan.”

“Coba, jika aku terus di pondok. Berapa uang dalam satu bulan, berapa banyak pelajaran yang aku serap? Tentu banyak uang yang keluar, dan hanya sedikit pelajaran yang masuk.”

“Lalu akhirnya aku putuskan untuk keluar dari dalam pondok pesantren. Setelah aku mengetahui kau kuliah di Cirebon, aku pun kemari, sekedar menjernihkan pikiran. Kuliah belum aktif kan?”

“Belum.”

“Oh, kau perlu tahu. Aku belajar ilmu pengetahuan untuk kelangsungan hidupku dan aku tetap belajar ilmu agama untuk akhiratku. Hmmm… coba lihat di laptopku, Google menemukan pembahasan tentang keagamaan. Mudah bukan?”

“Mudah. Tapi harus hati-hati.

“Ya, aku mengerti.”

“Sanusi diam sesaat. Sembari melihat kesibukan kecilku dalam berselancar di dunia maya. Ia memperhatikanku penuh tanda tanya. Maklum kehadiranku ke sini membawa masalah. Cukup mengerutkan keningnya.

“Kenapa Mas dari awal tidak menyarankan pada orang tua untuk masuk ke sekolah kejuruan? Di situ ada juga jurusan yang dicita-citakan,” kata sanusi melepaskan diam.

Aku sudah menawarkan masuk sekolah kejuruan pada orang tua, tapi orang tua tidak mengizinkan. Mereka ingin aku mondok sembari sekolah MA.”

Kenapa Mas tidak pindah tempat pemondokan saja? Dan cari pesantren yang memfasilitasi cita-citamu.

Kau pikir saja. bila kau sudah sudah dekat sama kiyai, entah kedekatannya karena selalu di marahi atau dipercayai, lalu kau pindah tempat mengaji, perasaan apa yang ada pada kiayi itu? Aku tidak berani pindah. Lagi pula, setahu aku, semua pondok sama. Kalau pun ada, terus di mana? Buat apa cari cape-cape? Toh, mondok keinginan orang tua. Aku pasrah saja dan mene-rima. Dan aku di tempatkan di daerah itu yang waktu dulu ayahku juga di situ.”

“Ya sudah terserah Mas saja. Tapi nanti Mas harus bilang pada orang tua dan Pak Kiyai. Silahkan menginap di sini sampai kapan pun yang Mas mau.”

“Pasti aku bilang. Tapi tidak sekarang. Tapi juga tidak terlalu lama aku diam. Oh ya, kita join bayar kosnya. Adil kan?”

“Oke!”

Akhirnya aku jadi anak kosan. Kosan santri. Mengaji terserah diri sendiri. Belajar pengetahuan umum terserah diri sendiri. Tapi, orang tuaku bagaimana ya?


***

Cirebon, 2010


Bacaan Lainnya



0 komentar:

 

Copyright www.elbuyz.blogspot.com