Tuesday, May 31, 2011

Cerpen: Si Miskin Bersekolah

cinta segitiga

Peluh menetes deras di tubuh kurus sebagai saksi lelah raga. Mata lebam merah bara emosi sebagai saksi jiwa nestapa kerendahan. Baju lusuh, rumah tua sederhana, dan orang tua di masa pensiunan yang tak terurus mewah dari anak hasil didikanya, sebagai saksi betapa kemiskinan mewariskan kemiskinan. Dan itu hanya persoalan pendidikan, yang harus telunjuk itu menuduh untuk memberikan sebaris pertanyaan “kenapa?” pada istana kekuasaan pendidikan.

“Sudah pulang? Bagaimana jualannya?” seorang ibu yang sudah hampir setengah abad dalam umur bertanya padaku yang baru saja pulang berjualan buah mangga di pasar.

Aku diam. Lalu menengguk sejernih air tercemar bau kimia kota. Melihat kursi di meja. Duduk bersebelahan dengan ibuku?Ibu Samirah. Termangu seorang ibu menunggu jawaban sembari biji tasbih berputar tak henti seolah menandakan putaran kehidupan.

Keheningan lebih terasa di saat malam tiba. Di ruangan ini. Ditemani nyanyain jangkrik dalam memuji Tuhannya. Keheningan seakan menjernihkan pikiran yang kalut tersangkut masalah hidup daratan kota.

Aku lepaskan nafas dengan nada emosi, seakan ingin berusaha lepaskan kerendahan hidup. Walau kepasrahan masih saja menjadi tameng jiwa. Tenangkan segera bara di hati.

“Ibu mengetahunya. Ibu lebih berpengalaman.”

“Ya sudah. Yang sabar saja. Ibu mengerti. Istirahatlah, Nak,” ibuku mengetahui dari jawabanku.

“Ayah sudah minum obat?” tanyaku.

“Sudah,” singkat jawab ibu. Lalu komat-kamit mulut ibu lanjutkan kembali.

Aku menidurkan kepalanya di atas meja yang ada di dekatku. Dalam pejamkan mata, pikiran terbang mencari lembaran-lembaran kenangan untuk dibaca kembali sebagai perenungan. Aku menunda untuk terlelap tidur.

***

Aku hanya seorang anak miskin yang bertubuh kurus. Tak terbiayai daging dan susu karena sudah jadi hak anak kaya, katanya. Aku ber-bapak tani musiman, dalam bantu garap tanah majikan. Aku ber-ibu penjual kebutuhan rumah tangga di pinggir keramaian kota.

Setingkat SD aku dalam jenjang pendidikan. Berumur delapan tahun memulai menduduki bangku sekolah. Orang tua berkeinginan aku dalam kehormatan, di saat kemiskinan mencemooh kemajuan. Aku turuti mereka. Dan aku belum merasakan penderitaan mereka yang papa.

“Kau harus sekolah, Nak. Biar hidupmu pandai cari rezeki. Tidak seperti Ayah.” kata ayahku waktu itu.

“Biar kau jadi orang mulia, Nak,” kata Ibu.

“Baik, Ayah, Ibu?” kataku dengan nada tak mengerti.

Aku berangkat mandiri dalam langkah. Membawa kalimat harapan orang tuaku walau tak mengerti maknanya. Mentari tersenyum hangat menyambut langkah juangku. Buku catatan dan baju seragam hanya hadiah tetangga sebelah. Untunglah. Tak punya buku cetak hasil penerbit yang terjual mahal di saat banyak buku adalah jalan impian tercapai. Tak apalah. Aku dengan harap, tetap berlanjut dalam langkah meraih mimpi orang tuaku. Dan aku sangat bangga.

“Aku harus jadi orang yang pandai mencari rezeki, kata Ayah. Aku harus jadi orang mulia, kata Ibu. Asiiik,” gumamku sembari membayang kebahagiaan.

Ruang sekolah terlihat dekat. Aku berdiri mematung, memandang keasingan pergaulan. Dan aku disambut Pak Guru, “Pagi, Nak... Ayo masuk.”

“Gak?” kataku.

Orang tuamu nanti marah. Orang tua pesen apa, Nak? Hayoo… Pasti pesan biar kamu… pin-terrr.

“Iyah. Ayahku pesan, agar aku… pandai mencari rezeki. Ibuku juga pesan, biar aku, jadi, orang mulia…”

“Kalau begitu, yuk masuk.”

Aku pun masuk. Aku mengalungkan di leher sang pendidik berisikan isyarat impian; seakan isyarat impian itu menyuruh pendidik agar tak diam dalam beban berat sang miskin menggapai impian. Tetap memperhati impian yang berkilau-kilau.

Dalam ruang kelas, aku terduduk diam bertingkah sekecil anak. Menatap kosong goresan-goresan tulisan keterangan sembari mencatat mengikut goresan sang pendidik. Tiap goresan tulisan sebenarnya sebuah tanda tanya dalam pencapaian impian. Aku pun dalam dengar pada kata guru yang terlontar keluar, menyebar di sekumpulan pelajar. Aku termangu, tetap dalam lugu. Aku masih tak mengerti. Dan tetap bermain tingkah anak kecil.

Sesekali melihat beberapa teman: di depannya, di belakangnya, atau di sampingnya. Mereka berpenampilan bagus, bersih, dan rapih. Di bangkunya, bersanding pula buku seukuran mahal. Aku tetap tak punya kuasa, hanya harap mereka dapat memberiku buku.

Aku tengok ke samping. Gadis berwajah manis, berambut lurus, dan berhidung mancung melirikku. Segera aku berikan sebait kata, “Di beliin Mamah?”

“Apanya?”

“Buku."

Ia mengangguk sembari pancarkan senyum manisnya.

Dalam hati, aku memendam semangat haru biru. Dan dalam hati, tersimpan jua hati kemiskinan yang siap menghunus pedang, membunuh semangat.

***

“Tio... Bangun, Nak. Tidur lah kau dikamarmu….”

“Aku tidak tidur, Bu… aku cuma sedang mengenang masa kecilku dulu… Aku begitu lugu ya, Bu. aku belajar dengan rajin. Tapi aku tidak mengerti ilmu itu harus dimanfaatin bagaimana? Dan aku pun tak memikirkan hal tersebut.”

“Kau menyesal sekolah, Nak?”

“Sempat begitu… Orang tua berjuang mati-matian mencari duit untuk membelikan segala keperluan sekolah. Tapi, tetap saja nasibku begini, Bu. Selama dua belas tahun hanya mendapat suguhan pengetahuan yang mengawang. Aku bisa berjualan dari ilmu ibu… walau di pandang sederhana.”

Aku bercita-cita ingin mengerti ilmu Ekonomi agar mampu mengembangkan usaha Ibu. Pun, bisa ilmu Biologi biar bisa mengembangkan pertanian. Tapi terhalang oleh banyak ilmu yang harus aku jalani. Seharusnya aku tidak sekolah, dan tetap belajar kedua ilmu itu.

Aku bekerja di pabrik sepatu setelah setahun menganggur. Aku bekerja menjadi pegawai rendahan. Berbulan-bulan bekerja. Setelah itu masa kontrak habis. Lalu aku tidak bisa berkutik apa-apa. Ilmuku ikut menganggur bersamaku.

“Masuklah ke kamarmu,” ibu menghentikan pembicaraan. Menyuruh masuk ke kamar.

Aku menuruti permintaan ibu. Kuhembuskan nafas sesaat. Aku berdiri dengan memikul beban hidup. Berjalan melewati kamar adik kembar perempuanku yang tidur bersama, seakan mendengar candaannya. Keduanya masih SMA yang kini diasuh dan membantu di rumah orang kaya. Aku jadi teringat adik laki-laki pertama yang telah tiada.

Aku masuk. Aku rebahkan badan. Tiga tahun, aku sendiri dalam kamar. Aku lirik di atas meja. Buku kelam catatan pengetahuan diam membisu. Dan terbayang kisahnya.

***

Waktu terus berjalan mengikuti hukum keseimbangan. Kelulusan menyambut hatiku. Aku tumbuh keremajaan. Aku dalam berbangga ria, orang tua tak sia-sia.

Aku berniat masuk pada tingkat SMP. Kemiskinan tetap bertarung denganku. Tapi tetap menantang kembali berlanjut dalam menuntut pendidikan, yang katanya, “pendidikan adalah duduk mematung bartahun-tahun dalam sekolah”. Dan orang tua hanya lepaskan sedikit biaya. Aku bejalan dalam kemandirian. Sembari mengubah nasib di alam jalan raya. Dan enggan impian kembali terkalungkan.

“Kau butuh kerjaan? Tanya gadis yang berwajah manis. Anisa namanya. Ia seorang anak supir angkutan umum.”

“Iya, kataku?”

Gadis itu hanya menanyakan. Ia teman sejak SD. Aku berkata padanya, kalau aku ingin berjualan. Aku ingin jadi tukang asongan. Ia pun memberi uang untuk membeli keperluan dagangnya.

“Tempat ini ramai. Tempat berhentinya mobil. Tempat para penjual. Tapi kau harus berani menghadapi keramaian.”

Sehabis sekolah aku berjualan. Dari siang sampai sore. Tak seberapa untung yang aku dapat, walau penjualan lumayan laku. Malam aku luangkan untuk belajar ilmu yang masih belum diketahui kegunaannya. Belajar hanya disambut uap kantuk, dan kelelahan raga. Aku lakukan setiap hari.

Pikiran di luar kesadaran pun datang. Apa mudah masuk tak ada pembatas. Aku pun tak berdaya menerima kejadian-kejadian dalam hidupku.

Seringkali godaan teman hadir. Dan itu di saat aku kelas dua. Aku pun menimbang-nimbang mana yang akan aku lakukan. Pikiran jelek sepertinya lebih menguasai. Aku berpikir, mengapa aku mempelajari ini? Untuk apa? Toh aku bisa bekerja. Akhirnya godaan dunia remaja datang menemani.

“Nah gitu dong,” kata teman yang mengajakku.

“Tapi aku tidak enak sama orang tua.”

Ah.. lo. Emang gue anak buangan? Gue juga punya bonyok. Tapi gue biasa-biasa saja.

Orang tuaku sudah tunjukkan wajah murka. Ia terus-menerus menasehati dengan penuh amarah.

“Kau tumbuh dewasa malah makin liar saja hidupmu!” Kata Ayah.

“Ibu tahu… kau masih menikmati dunia remajamu. Tapi luangkan waktumu untuk belajar,” ibu tetap tunjukkan nada halus penuh kesabaran padaku.

“Bu, lagian apa sih yang bisa diandalin dari pelajaran sekolah? Aku pun berjualan tidak pakai ilmu dari sekolah.”

“Manfaat ilmu itu nanti. Sekarang ini, kau belajarlah dulu.”

“Bu… tapi butuh uang sekarang. Aku bekerja demi membantu kesulitan Ibu dan kedua anak Ibu…belum lagi sekarang Ayah mudah sakit, tak kuat kerja….”

“Tapi buktimu mana? Hidupmu malah liar. Kau mau jadi anak durhaka? ohok, ohok,” kata ayah sembari batuk akibat gejala TBC.

“Ahh…lagian aku malu sama teman-teman. Aku dianggap kurang pergaulan.”
“Terserah kau,” kata Ayah.

“Ya, Allah,” kata ibu sembari melenguh.

Saat masih SD, aku begitu penurut. Aku mau belajar. Aku pun sering mendapat peringkat kelas walau di atas lima; peringkat itu masih belum diketahui apa manfaatnya.

Aku pun berkeliaran di gelap malam. Tinggalkan pengetahuan. Awalku merasa berat. Tapi aku malah menutup mata tentang belajar. Ditemani gadis yang selalu setia mendampingiku. Ia pun ikut bersamaku. Awalnya ia merasa canggung dengan perubahan sikapku. Tapi kini, ia malah yang sering memulai mengajakku main di malam gelap bersama teman lainnya.

Uang hasil penjualan lenyap termakan kehidupan remaja. Kini, bukan hanya meninggalkan belajar. Tapi uang untuk membeli buku pun tak ada. Untung saja, Anisa sering membantu keuangan dalam membelikan buku.

Hasrat cinta menggelora! Masa puber untukku. Dipancing pula hasil tontonan kotor yang tak layak di tonton. Tak ragu lagi, gadis itu yang menjadi tempat hasrat cintaku. Ia pun sudah lama menyukai karena ketampananku. Aku bercinta dengannya. Menikmati keindahan-keindahan cinta remaja. Sampai nafsu menguasai. Di malam sepi… di rumahnya, aku melakukan berbuatan keji. Dua tubuh menyatu dalam satu kasur. Sampai puncaknya. Tak puas, aku pun melakukan kembali. Lagi, lagi dan lagi. Sampai ia kandungkan buah cinta.

Anisa ungkapkan masalah kehamilan dengan penuh derai air mata. Aku pun terkejut. Aku tak menerima keadaan ini. Ia berkeluh kesah tentang perlakuan ayahnya.

“Apa? Kau hamil? Siapa yang menghamili?” Kata Ayah Anisa yang berwajah asli Indonesia.
Anisa diam.

“Anak sialan,” tamparan ayah Anisa membuat Anisa makin diam. Dan hanya tangisan yang ia berikan.

“Jawab Anisa!” Apa pacarmu yang menghamilimu? Dasar anak haram! Ayahnya mendorong Anisa dan mengatakan kata yang menyakitkan.

Tak ada Ibu yang mendampingi Anisa. Ibunya sedang pergi ke rumah orang tuanya. Anisa menangis sendiri. Pun tetap tak menjawab. Ia sangat trauma depresi dengan keadaan ini. Mulut pun tetap terkunci rapat setelah tahu bahwa dirinya hamil.

Anisa pun menemui diriku.

“Kau harus tanggung jawab! Atau aku akan bunuh diri!”

“Aku tidak mau. Tidak mau! Tidak! Ini tidak mungkin! Tidaaak!”

Aku terbangun. Nafas terengah-engah. Dan berusaha tenangkan nafas.

“Astahfirullah. Mimpi. Benar-benar mimpi. Syukurlah. Oh Anisa, kau Hadir. Aku merindukanmu, Anisa. Huh… aku menghawatirkanmu. Kenapa bermimpi begitu? Apa yang terjadi dengan Anisa?”

Seharusnya aku tidak begitu. Memang aku sekolah, tapi tak sampai melupakan dunia pergaulan. Tetap hubungan pertemanan terjalin dengan baik. Memang aku berjualan di ramai terminal, tapi tak sampai melupakan belajar. Memang aku bergaul, tapi tak sampai melupakan aturan. Memang Anisa itu sahabatku, tapi tak sampai menidurinya sampai membuahkan hasil di perutnya.

***

Terlihat jam dinding menempel di tembok. Jam menunjukkan pukul lima pagi. Aku segera ke kamar mandi. Aku mandi. Aku jalankan salat. Lalu aku duduk di kursi. Dan termenung.

“Aku merasa kecewa dengan pendidikan yang aku raih. Dua belas tahun belajar tak nampakkan juga kegunaan ilmu yang cukup untuk menghadapi hidup. Semua ilmu pengetahuan aku lahap. Rutinitas sekolah dilakukan dengan kesungguhan. Lelah dan duka selalu menyelimut menyambut. Tapi, aku hanya orang rendahan yang tak pantas di sebut manusia berpendidikan. Aku kecewa, malu. Aku bersekolah hanya menguras tenaga tapi tanpa ada hasil nyata. Hanya ilmu hayalan sampah yang ada di kepala.

Tok.Tok.Tok.

Suara pintu di ketok. Sepertinya ada tamu. Ah, barangkali si kembar itu. Tapi tidak seperti biasa. Seperti orang lain. Tapi siapa?

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Bergegas aku menuju pintu. Aku rasakan penuh debar penasaran. Lalu aku buka. Dan…

“Hah... Kau kah? Kau Anisa? Aku tanya keheranan. Sembari melirik perut yang terlihat sedikit buncit.

Anisa tersenyum mengambang dan menganggukkan kepala. Ia terlihat membawa beban yang teramat berat tapi tetap tunjukkan bahagia. Aku pun membalas senyumnya.

Dua Tangan Anisa di belakang punggungnya. “Aku bawakan oleh-oleh dari tanah Arab. Buah kurma,” katanya.

“Kau hamil?”

Ia hanya tersenyum mengambang. Anisa menunjukkan tangannya dan memberikan bingkisannya. Aku bertanya-tanya dalam hati. “Apakah dua buah kurma?”

***


Cirebon, September 2010

Artikel Terkait

Saya seorang blogger yang senang berbagi. Sekarang saya sedang seirus mengurusi blog yang sedang anda lihat dan juga beberapa blog lainnya. Saya juga sebagai penulis Cerita Komedi Dunia Arafah Rianti