Jejak #7: Saya Terjebak Impian

Impian lagi, lagi-lagi impian. Saya terkena dampak rutinitas tema akibat mendalami trik ide menulis dan menulis ide. Pada akhirnya saya menuliskan tentang impian lagi. Ide muncul kembali dari tulisan yang membahas tentang impian yang sudah dibahas.

Walau saya terjebak dalam jebakan pembahasan impian, tapi ada untungnya juga. Karena jebakan ini berguna untuk menjebak pikiran agar pikiran mau sadar tentang impiannya. Pikiran sadar bahwa yang namanya impian itu penting! Sampai-sampai impian itu harus dibahasakan dalam bentuk tulisan. Yang saya tulis dalam tips belajar tentang impian adalah Tips Membahasakan Impian.

Alasan saya menulis tentang membahasakan impian karena untuk menguatkan jiwa saya agar lebih berani menuliskan impian. Juga―bila pembelajar mau―untuk memberanikan jiwa para pembelajar. Tentunya, agar kita tidak mengabaikan impian. Bagi saya, impian adalah aset pertama yang harus dipertahankan. Kalau kita tidak membahasakan sama halnya seperti ingin melepaskan aset.

Tapi, masalah minat itu tidak bisa diabaikan begitu saja. Saya tidak berminat membahasakan impian seperti cara dari kebanyakan orang pintar dalam menuliskan impian. Saya tidak suka bila saya hanya menulis impian dalam beberapa kalimat lalu setelah itu di simpan/ditempel dalam ruang yang dianggap sakral: di dalam tanah, lemari, meja belajar atau di tempat lain (asal jangan di WC). Apakah para pembelajar berminat cara seperti ini?

Maka dari itu saya membuat alternatif lain dalam membahasakan impian. Saya lebih suka membahasakan impian dalam bentuk kalimat cerita atau bentuk artikel yang dirasa hidup dan bermanfaat. Dengan begitu, saya tetap menjalankan penulisan impian dan juga memiliki minat dalam menuliskannya.

Salam Cerdas!

0 Response to "Jejak #7: Saya Terjebak Impian"

wdcfawqafwef