Sajak: Mencintai Bayangan (1)

Warna hidup kian memudar.
Irama nafas kian mendengkur.
Jiwa dan raga kian terlelap tidur.
Secercah asa kian hangus terbakar.
Dihadapanmu aku mengadu.

Aku berkata tentang cinta
dengan saksi deritaku:
Biarlah aku mencintai bayanganmu
di kala aku pun dalam tak berdaya.
Dan kau tahu itu, tentang diriku.

Biarlah aku mencintai bayangan.
Berharap pun, bayangan hanya
berucap dalam kepasrahan.

Aku menyingkir mencintai sang wujudmu.
Biar tak ada lagi emosi yang melayang dihadapan.
Aku tak mau deritaku menjadi korban cinta
yang membuatku tak berdaya.
Hanya nestapa yang kupunya.

Aku hanya derita.
Di kala dada terpenuhi cinta
padamu, sang pujaanku.
Tapi kau tutup mata.
Emosi penuh ego
yang menghilangkan rasa iba.

Biarlah aku hanya mencintai bayanganmu
Walau memang gila, gila!!!
Tapi lebih gila jika kucintai dirimu.

Bukankah dirimu lebih suka
diriku mencintai yang lain?
Dan yang lain hanya bayanganmu.
Kau tahu itu, aku mencintaimu.
Tak sanggup kulepas cintaku,
pergi mencari cinta selainmu.
Tapi mungkin tatkala kumencari,
yang kudapat hanya suguhan yang serupa denganmu.

0 Response to "Sajak: Mencintai Bayangan (1)"

wdcfawqafwef